Showing posts with label Masyarakat Literasi Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Masyarakat Literasi Yogyakarta. Show all posts

Saturday, June 11, 2016

Hati-hati dengan Buku, Kawan!



David Efendi
FB: David Efendi I @kejarlahmimpi I WA:081357180841

Tulisan ini diniatkan untuk berbagi dengan teman-teman pegiat komunitas Banggai Membaca yang merupakan penggerak literasi yang dimotori oleh teman-teman mahasiswa asal kebupaten Banggai yang sedang belajar di Yogyakarta. Saya menyambut gembira diskusi yang dilaksanakan menjelang berbuka puasa di asramah putra mahasiswa Banggai yang letaknya tak jauh dari rumah saya di daerah Krapyak, Bantul. Saya sering melewati padepokan orang-orang panting pewaris republik ini kelak. Kali ini saya ingin berbagi sekilas biorgrafi saya sebagai pembaca dan apa yang telah berhasil aku rebut dari peristiwa membaca, menyisikan waktu untuk membaca dari pada bekerja mencari uang, atau menggeser keinginan membeli baju untuk sebuah buku.


Awal mula saya membaca buku pelajaran yang sama sekali tidak menarik perhatian saya selain terror keseharian jika saya tidak selesai mengerjakan tugas-tugas isian yang ada di dalam buku pelajaran sekolah di saat menempuh sekolah dasar di salah satu desa di tepian bengawan solo, Lamongan. Karenanya, saya sangatlah membenci kegiatan di bangku sekolah dan lebih sering melarikan diri ke sawah, mencari belalang atau ikan, atau sekedar berenang di sepanjang sungai yang bermuara ke bibir bengawan solo. Sungai raksasa ini yang menghidupi kami semua, bukan negara atau industri lainnya.  Sampai kelas 5 SD saya baru mengenal ada majalah asik dibaca yang taka da terror di dalamnya. Majalah itu namanya majalah kuntum yang sampai hari ini terbit di Yogyakarta. Pertama yang mengenalkan majalah ini adalah mahasiswa yang sedang belajar di Yogyakarta dan Surabaya yang sering membawa majalah ini. Malam jumat, saya membaca majalah ini. Ada puisi, ada tebak-tebakan mang kunteng, juga ada banyak bahan untuk berpidato.

Sejak itu saya tahu, ada dunia perbukuan lebih baik ketimbang buku-buku di perpustakaan sekolah yang gelap dan bocor jika musim hujan. Perpustakaan itu lebih dekat dengan gudang dari pada tempat membaca buku. Itu kesan pertamaku tentang mahkluk bernama ‘perpustakaan’ atau ‘library’ yang konon hari ini dikenak sebagai rumah pengetahuan, atau jendela dunia.

Karya sastra dan karya penelitian juga menjadi penting untuk mendorong peradaban bergerak maju dan tidak ditengelamkan oleh banalitas modernism yang kadang tidak pandang bulu untuk merusak sebuah perdaban mulia. Daya saing literasi suatu bangsalah yang akan menjamin apakah bangsa ini akan menjadi bangsa yang progresif atau bangsa yang gagal. Pesan Malala Yousafjai, seorang penerima nobel perdamaian asal Pakistan, sangatlah kuat yaitu : one child, one pen, one book, and one teacher can change the world” (satu anak, satu bullpen, satu buku dan satu guru dapat mengubah dunia.” Optimism jenis ini perlu kita wujudkan kebenarannya dengan cara kita sendiri-sendiri dengan kekuatan yang ada pada kita. Prinsip penting pegiat literasi adalah berdiri di atas kaki sendiri—tidak disibukkan mengharap uluran tangan dari sesuatu yang kita tidak miliki .

Saya kira obor literasi bangsa kita telah dinyalakan  di berbagai penjuru tanah air seperti teman-teman literasi jalanan di Ternate, rumah belajar, perahu pustaka, akademos, urban campus literacy, peprustakaan bergerak di Indonesia bagian timur dengan segenap manusia-manusia unik yang berda di dalamnya. Di Sumatra, kita lihat vespa pustaka di Bangka selatan yang digerakakn seorang sarjana muda baru pulang dari Yogyakarta. Di JOgja ada beragam komunitas literasi yang “tak biasa” seperti rumah baca komunitas, podjok batcja, Indonesia boekoe, dll yang mana aktifisme literasi ini pasti dipicu oleh keyakinan manusianya bahwa buku dapat membangun kesadaran keloektif, bahwa buku-buku dapat menggerakkan perubahan.

Buku mengubahku!

Dari beragam ulasan sejatinya saya juga tidak bisa menyangkal betapa banyak manfaat membaca buku. Saya termasuk yang berkeyakinan dengan tanpa keraguan bahwa pekerja literasi, pecinta buku, pembaca buku adalah pekerjaan yang tak pernah sia-sia. Ini haruslah menjadi kekuatan mendasar bagi insan pekerja literasi. Kita bisa berkaca, taka da bangsa menjadi raksasa tanpa tradisi literasi yang kuat. Daya saing sebuah bangsa selain capaian ekonomi dan tekhnologinya, hal mendasar yang bisa dilihat adalah tradisi keilmuwan—yang sedikit banyak disimbolkan dari keberadaan pusat altar pengetahuan yaitu perpustakaan umum-nya.

Dari banyak studi yang dilakukan universitas ternama di dunia, ada beberapa list mengapa membaca itu menjadi bermanfaat antara lain adalah membaca dapat meningkatkan kapasitas intelektual, kemampuan orasi/verbal, mengurangsi stress, membangun imajinasi, meningkatkan empati, juga mengatrol kecerdasan. Saya merasakan temuan ini tidak ada yang keliru dan personally saya merasakan ada banyak kebaikan yang tak ternilai dari kebiasaan membaca, mendiskusikan bacaan, dan menguoayakan menuliskan apa yang kit abaca untuk dibagi dengan pembaca lain. Ini mungkin peluang zakat pengetahuan yang akan langgeng sampai hari kiamat kelak.

Beberapa buku yang sangat mempengaruhi hidup saya adalah tetralogi Pramudya Ananta Tour dan juga beberapa buku karya Pramudya lainnya yang sangat penting dalam hidup saya. Buku-buku yang mengajarkan kita percaya pada kekuatan sendiri, buku yang mengajarkan menolak tunduk dalam keterbatasan, …dan tentu saja tulisan pram merangsang saya untuk menuliskan sesuatu baik memasukkan gagasannya dalam artikel atau menancapkan kalimat bebas seperti puisi untuk membangun kekuatan jiwa dan berbagi kepada teman-teman. Ada juga buku-buku seputar ideology pendidikan Paulo friere juga sangat mempengaruhi cara pandang saya tentang dunia pendidikan sampai hari ini.

Membaca dan menulis nyaris tak dapat dipisahkan untuk memperoleh kekuatan maksimal maka kedua aktifitas ini menjadi penting diberdayakan, dikolaborasikan. Membaca dan menulis ini juga sekaligus menjadi fondasi dari tradisi riset. Untuk menjadi peneliti yang handal, tentu perlu memperkuat tradisi membaca dan menulis sejak dini.  

Hati hati dengan buku, Kawan

Mengapa harus hati-hati dengan buku? Ada tiga alasan penting mengapa mengasuh buku menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan kita. Bahaya itu bisa multitafsir karena seringkali apa yang kita lakukan adalah kebaikan sosial dan keshalehan individual terkait bacaan yang kita Imani, kita anggap sementara sebagai pengetahuan bermakna. Tapi, kadang tidak bagi Negara atau bagi kelompok ‘terbebani dosa sejarah’.

Pertama, buku buku mengajarkan kebebasan. Sangat jelas kekuatan buku ini dirasakan oleh manusia-manusia hebat yang pernah melakoni hidup bersama buku. Muhammad Hatta yang merupakan pendiri bangsa ini pernah mengutarakan bahwa “aku rela dipenjarah asal bersama buku karena dengan buku aku bebas.” Makna buku yang membebaskan berkait dengan imajinasi yang tumbuh subur dari kegiatan membaca serta kebebasan universal yang melekat dari insan-insan yang mampu membebaskan dari nafsu enak sendiri. Apa yang dimaknai kebebasan bukan hanya sekedar lepas dari jeruji besi namun ada dimensi kebebasan yang bisa dilahirkan dari resiko-resiko pilihan hidup.

Kedua, buku-buku sangat kuat mengajarkan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran. Embaca buku itu belajar jujur dan tidak puas dengan kebenaran yang sekilas didapatkan sehingga membaca atau proses belajar pada umumnya adalah never ending process atau unfinished learning. Makanya, sebagai pembaca yang ‘matang’ tidak gampang menghakimi pendapat orang atau mematikan inisiatif pembaca lain atau orang lain. Salah satu contoh, pembaca buku kiri sangat ‘tidak terima’ jika buku buku yang disukainya disita negara—karena mereka sedang menghayati manfaat buku tersebut dan belum puas dengan satu sisi sejarah yang dipaksakan oleh dominasi kekuatan tertentu (state terrorism atau power abuse). Hal ini sangatlah berbahaya di tengah sengketa sejarah bangsa yang tak kunjung usai. Jalan ini juga pernah ditempuh oleh Masyraakat Literasi Yogyakarta yang mengirim maklumat kepada publik belum lama ini, juga pegiat Rumah Baca Komunitas yang menyelenggarakan festival dilarang melarang untuk menyuarakan protes pada kebiadaban rezim penghancur buku.


Terakhir, buku-buku mengajarkan kita agar berpihak. Semakin banyak membaca semakin kuat kebeprihakan pada nilia-nilai yang ia yakini dan juga menjadi kompas untuk mengantarkan pegiat/pembaca pada jenjang-jenjang kearifan dimana kepentingan orang banyak menjadi utama dan juga kekuatan-kekuatan baru untuk berpihak pada kedaulatan lingkungan dan menghadang banalitas kekuasaan (rezim pembangunanisme). Jadi, membaca dan memilih buku bukanlah pekerjaan tanpa resiko. Bukan sekedar menyalurkan hasrat kepuasan pribadi tetapi pilihan untuk berada dipihak yang mana kita ada. Maka, hati hati dengan buku, Kawan!.

Ramadan Berbagi Kebahagiaan ala Pegiat Literasi

📚NgabubuREAD | R🚇TS | 
🚕Edisi Ramadan yuk perbanyak amalan Literasi kita untuk sesama. So, Silakan bergabung untuk volunteer, donasi buku, berbagi takjil (langsung ke TKP ya)

🚕 Perpustakaan Jalanan RBK buka sore sambil Ngabuburead sampai jelang berbuka puasa di 🎬 alun alun kidul yogyakarta ⏰15.30 SD 17.30WIB | 
🚕Di Perpustakaan jalanan ini semua orang boleh pinjam buku tanpa ada syarat---pinjam berapa saja boleh dikembalikan Kapan saja| semoga ini menjadi tindakan tindakan asik menggembirakan.

🎁Kita berbagi bahagia di ‪#‎ramadanbulanliterasi‬. Jangan lupa bantu hastag ‪#‎rots‬ ‪#‎NgabubuREAD‬ ‪#‎MasyarakatLiterasiBergerak‬ ‪#‎SemutPekerjaLiterasi‬
Update info di: @mabacakomunitaa | fb: Rumah Baca Komunitas |www.rumahbacakomunitas.org|
I
nilah testimoni "makna kegembiraan" mas Danang (mahasiswa UPY) bersama mas Rasyid yang mengelola kegiatan NgabubuREAD Perpustakaan Jalanan RBK: 
"Banyak hal yg menggembirakan yang saya dapat ketika rots atau gabung di perpustakaan jalanan, terutama dari seorang pengunjung guru ngaji yang mengatakan bahwa baru kali ini menemui komunitas yang mau sukarela meminjamkan buku dg cara segampang ini, ada juga ibu ibu yang rada menyesal baru tahu ada perpustakaan jalanan padahal rumahnya dekat, dan seorang bapak2 yang ketika pertama kali datang hanya seorang diri selanjutnya ketika datang lagi membawa anaknya. Banyak hal yang saya rasa indah saat kita menjalaninya. Ketika melihat mereka tersenyum dan mengucapkan terima kasih adalah hal yg luar biasa. Apalagi bl ada yg mendoakan kita. Luar biasa senangnya."

Semoga manfaat ini dapat disemai bersama.
Let's R🚕TS, ayo R🚇TS

Maklumat Masyarakat Literasi Bergerak atas ART|JOG 2016



Ada Apa dengan Art Jog 2016? Berikut maklumat kami sebagai masyarakat literasi bergerak yang terus menyuarakan kemerdekaan, keadilan, kemanusiaan, pro ekologi dan anti kekerasan, melihat kegiatan ART |JOG tahun 2016 ini dalam beberapa butir maklumat.

📋Menjaga medan seni rupa bersih dari lalu lintas kapital korporasi predator adalah satu-satunya cara mempertahankan otonomi seni. Keterlibatan Freeport Indonesia (PT. FI) sebagai partner medan seni rupa Art Jog 2016 patut dipandang sebagai ketakberhasilan refleksi dunia seni Indonesia menjaga otonominya. Kasus pelangggaran HAM, kasus pengrusakan lingkungan, serta eksploitasi alam yang dilakukan PT. FI harusnya menjadi pertimbangan penting mengapa seni tak boleh berintim dengan salah-satu wujud kapitalisme predator ini.

📋Praktik seni, adalah praktik menjaga harmonisasi antara manusia, alam, dan sesuatu yang disebut sebagai higher-being. Relasi dalam seni memang tak bisa dipungkiri melibatkan kelindan antara meta-kriya (rohani), energi, dan Industri. Seni yang digadai akan menjadi bukti bahwa seni tak punya raison d'etre. Maka seni yang diintimkan pada industri predator akan melegitimasi penumpahan darah manusia, dan pembunuhan alam.

📋ART|JOG 2016 yang disebut-sebut sebagai medan seni rupa terbesar di Asia Tenggara seharusnya menjadi cara memperlihatkan wajah seni Indonesia yang berdaulat. Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2008 dengan inisiasi Heri Pemad yang dikenal sebagai "pengendus bakat seniman". Tampaknya, ART|JOG 2016 memaknai "Infinity in Flux" (tema Art| Jog pada tahun 2015) yang merayakan "peleburan" dalam internal karya seni, menjadi peleburan interaktif antara karya seni dan kapitalisme. IIF harusnya menjadi momen peleburan seni dan rakyat; melalui interaksi antara bahan, tema, dan indera. Bukan dengan sesuatu yang eksternal semacam korporasi. Pernyataan Bambang Witjaksono bahwa Art Jog 2016 "membicarakan kondisi dunia hari ini", maka mungkin saja maksudnya adalah kondisi tak terelakkan lagi masyarakat seni dan korporasi predator.

 📋hilangnya rasa malu bersanding antara seni dan korporasi jahat memperlihatkan wujud sebenarnya Art Jog 2016 yang kontradiktif;  pembebasan (perlu diketahui, Art Jog 2016 juga menyajikan lukisan realisme-sosialis Djoko Pekik) yang didukung oleh agen kekerasan (PT. FI). Ini kontradiksi yang mengacaukan akal sehat.

📋 Pelaksanaan pameran tentu membutuhkan dana itu jelas, namun yang pertama-tama tidak boleh dilupakan adalah keberpihakan seni terhadap hidup yang adil, hidup yang baik. Bukankah seni itu wujud dari keindahan hidup. Bagaimana mungkin keindahan hidup akan terwujud ketika ketidakadilan sedang terjadi.

📋seniman-seniman di dalam pameran tersebut mengungkapkan kritik atas persoalan hidup melalui seni. Ketidakadilan, krisis lingkungan, krisis kemanusiaan. Lalu pelaksanaan pemeran justru menggunakan alasan yang sangat pragmatis, dengan menerima kucuran dana dari perusahaan yang selama ini telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap masyarakat Papua. (Silakan dibaca di website Kontras)

📋 Ada problem lebih mendasar daripada pendanaan yaitu warna seni itu sendiri, keberpihakan para pekerja seni itu sendiri. Jika pekerja seni itu sensitif terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat secara nyata tentu mereka sejak mula akan memiliki sikap terhadap keterlibatan PT. Freeport Indonesia. Seni harus dipertahankan agar tidak menjadi elitis dan tercerabut dari akar kebudayaan rakyat.

📋 ada tersedia sumber Dana dari Dana Keistimewaan di DIY yang melimpah seharusnya dapat menyelamatkan marwah serta martabat seni dari banalitas korporasi yang terus melakukan pencitraan dengan halalkan segala cara.

Demikian maklumat ini, semoga bisa menjadi tolak balak atas kerusakan iman kita pada kesenian dan kebudayaan.

Salam Literasi untuk semesta alam.

Yogyakarta, 11 Juni 2016 bertepatan dengan 6 RAMADHAN 1437H

Tuesday, May 17, 2016

TUJUH MAKLUMAT BUKU DARI YOGYAKARTA – #MAKLUMATBUKU

Indonesia bukan hanya dibangun dengan tetabuhan perang, tapi juga dipahat lewat kata-kata dan perdebatan. Maka kita saksikan dalam kaca benggala sejarah nyaris seluruh tokoh kunci pergerakan yang sidik jarinya menempel dalam traktat perumusan bangsa dan pembentukan negara adalah para penulis dan pembaca buku. Mereka datang dari berbagai alam pikir, multiideologi, ragam suku, dan dari rumah bahasa yang majemuk.
Lalu kita melihat Indonesia adalah panggung kata-kata dan sekaligus perdebatan. Indonesia adalah eksperimen bagaimana kebhinnekaan dihidupkan dari sebuah pencarian dan gesekan ideologis dan pengetahuan. Pancasila, untuk menyebut salah satunya, adalah temuan asas yang lahir dari panggung perdebatan multiideologi itu.
Pasca Indonesia lahir sebagai negara, kita telah melewati nyaris seluruh eksperimen dan percobaan; dari perdebatan dalam ruang dan penerbitan buku, brosur, dan koran hingga pelaksanaan kehendak lewat operasi bersenjata paling berdarah di beberapa faset sejarah.
Menginsyafi sejarah panjang kita berbangsa dalam kemajemukan ideologi dan bernegara di sabuk geografis yang luas mestinya kita bisa belajar tentang arti penghormatan pada keragaman dan pentingnya mengekspresikan keyakinan lewat perdebatan. 
Pemberangusan untuk membungkam pandangan yang berbeda dalam muatan atau isi buku justru bertentangan dengan semangat Pancasila yang menawarkan eklektisisme ketimbang keseragaman. Buku adalah ruang pengetahuan yang demokratis sehingga penyeragaman pandangan melalui pelarangan buku merupakan cara yang tidak demokratis.  
Pemberangusan buku akhir-akhir ini di berbagai kota yang dilakukan dengan dalih membawa pandangan dan falsafah tertentu yang berbahaya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah tindakan yang tidak perlu terjadi di dalam masyarakat terbuka dan demokratis seperti saat ini. Apalagi, di tengah menguatnya usaha pemerintah yang bekerja sama dengan pegiat literasi mengampanyekan Indonesia untuk memperkuat kultur membaca, peristiwa ini menjadi semacam anakronisme.


Menyikapi situasi terkini yang menekan dan meresahkan, kami, Masyarakat Literasi Yogyakarta (MLY) yang terdiri dari penerbit, lembaga percetakan, toko buku, pelapak online, asosiasi buku, pembaca, pegiat media komunitas dan literasi, perupa, media independen, dan organisasi kemahasiswaan menyampaikan 7 (tujuh) maklumat:
SATU. Kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat di hadapan orang banyak lewat berbagai media, termasuk persamuan seni-budaya dan penerbitan buku, adalah amanat Reformasi dan Konstitusi yang mesti dijaga dan dirawat bersama dalam kerangka kebhinnekaan sebagai bangsa.
DUA. Setiap perselisihan pendapat atas pikiran yang berbeda hendaknya diselesaikan dengan jalan dialog dan/atau mimbar-mimbar perdebatan untuk memperkaya khasanah pengetahuan dan keilmuan.
TIGA. Segala bentuk pelarangan atas penerbitan buku dan produk-produk akal budi seyogyanya dilakukan pihak-pihak yang berwewenang atas seizin pengadilan sebagaimana diatur oleh hukum perundangan yang berlaku dengan mengedepankan aspek penghormatan pada hak asasi manusia, demokrasi, dan keadilan. Prosedur hukum yang dimaksud salah satunya seperti termaktub dalam Surat Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang Pelarangan Buku Nomor 6-13-20/PUU-VIII/2010.
EMPAT. Mendesak kepada lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk membuka secara bebas arsip-arsip negara yang terkait dengan tragedi 1965 dan pelanggaran HAM berat lainnya sebagai bagian dari upaya kita belajar dan memperkaya khasanah pengetahuan kesejarahan.
LIMA. Mendorong pemerintah, baik pusat dan daerah, menciptakan iklim perbukuan yang sehat, kompetitif, dan memberi perlindungan pada kerja penerbitan, diskusi buku, dan gerakan literasi yang inovatif sebagaimana diamanatkan preambule UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
ENAM. Asas, kerja umum, dan kegiatan harian ekosistem perbukuan membutuhkan aturan main yang jelas dan mengikat semua ekosistem yang bernaung di dalamnya. Oleh karena itu, mendesak Pemerintah dan DPR RI untuk menggodok dan segera mengesahkan UU Sistem Perbukuan Nasional yang demokratis.
TUJUH. Mendesak Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sebagai salah satu dari asosiasi penerbit buku yang menjadi mitra pemerintah dan sudah berpengalaman dalam sejarah panjang perbukuan nasional senantiasa mengambil peran yang signifikan dan aktif-responsif untuk membangun komunikasi yang sehat dengan elemen-elemen masyarakat yang plural.
Demikian “Maklumat Buku” Masyarakat Literasi Yogyakarta yang disampaikan di Kota Yogyakarta (Kantor LBH Yogya), bertepatan pada Hari Buku Nasional, 17 Mei 2016.
13177288_10154115419972593_2526037603813251260_n
MASYARAKAT LITERASI YOGYAKARTA (MLY)
  1. 3G Production
  2. Achmad Munjid (Akademisi)
  3. Adhe Maruf (Octopus Publishing)
  4. Aguk Irawan M.N. (Baitul Kilmah)
  5. Afthonul Afif (Penulis)
  6. Ahmad Sahide (Komunitas Belajar Menulis/KBM)
  7. Akhmad Irham (Gerilya Buku)
  8. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jogja
  9. Aliansi Penerbit Alternatif
  10. Alissa Wahid
  11. Andres Busrianto (Anagard/Street Artist)
  12. Andy Seno Aja (Seniman)
  13. Arif Abdulrakhim (Doelz Idea)
  14. Baskara T. Wardaya (Sejarawan)
  15. Bimo Adimoelya (Satunama Yogyakarta)
  16. Bintang Nusantara
  17. Bonar Saragih (Editor)
  18. Bondan Nusantara (Jurnalis dan Seniman)
  19. BPPM Balairung UGM
  20. Budiawan (Penulis dan Akademisi)
  21. Buku Papua
  22. Buldanul Khuri (MataBangsa)
  23. Bunda Kata
  24. Combine Resource Indonesia (CRI)
  25. Darmawan
  26. Dipo Andy Muttaqien (Yayasan Indonesia Buku)
  27. Djaman Baroe
  28. Djendelo Koffie
  29. Dodo Hartoko (Pekerja Buku dan Penggiat Seni)
  30. Dongeng Kopi Jogja
  31. Dwi Cipta (Penulis dan Pegiat Literasi)
  32. Eka Saputra (Bloger dan Pembangun Web)
  33. Elga Joan Sarapung (Peneliti)
  34. Fairuzul Mumtaz (Radio Buku)
  35. Faiz Ahsoul (Apresiasi Sastra/Apsas)
  36. Faruk H.T. (Penulis, Pengajar Sastra, dan Pengelola PKKH UGM)
  37. Forum TBM Yogyakarta
  38. Fransisca Dwi Indah Asmiarsi (Penggiat NGO)
  39. FX Widyatmoko Koskow (Pengajar Seni)
  40. Gading Publishing
  41. Galam Zulkifli (Seniman di Bale Black Box)
  42. Gambang Buku Budaya
  43. Garin Nugroho (Sutradara Film, Calon Wali Kota Jogja)
  44. Genta Publishing
  45. Guntur Narwaya (Pusham UII)
  46. Gusdurian
  47. Hasan Basri (Lesbumi PWNU DIY)
  48. Hasta Indriyana (Penyair)
  49. Hendra Himawan (Pengajar Seni)
  50. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Yogyakarta
  51. Indonesian Visual Art Archive (IVAA)
  52. Indra Gunawan (Lebah Buku)
  53. Indra Ismawan (Narasi)
  54. Indro Suprobo (Penerjemah dan Editor)
  55. Info Seni Jogja (ISJ)
  56. INSIST Press
  57. Institut DIAN/Interfidei
  58. Interlude Publishing
  59. Iqbal Aji Daryono (Penulis/Gelar Pustaka)
  60. Irwan Bajang (Indie Book Corner)
  61. Jual Buku Sastra
  62. Kalatida
  63. Kampung Buku Jogja
  64. Katrin Bandel
  65. KBEA
  66. Kedung Darma Romansha (Penulis dan Pemeran) 
  67. Kiri Sufi
  68. Klub Baca
  69. Klub Buku Yogyakarta
  70. Komunitas Mata Pena
  71. KUNCI Cultural Studies
  72. Kuncoro Hadi (Penulis Sejarah)
  73. LBH Yogyakarta
  74. Lidahibu
  75. Listeno Audio Book
  76. Listia (Peneliti, Penulis)
  77. LPM Ekspresi UNY
  78. LPM Mata Angin UPN
  79. LPM Poros UAD
  80. Jadul Maula (Wakil Ketua PWNU Yogyakarta)
  81. Majelis Pustaka Muhammadiyah (Yogyakarta)
  82. Markaban Anwar (Editor)
  83. Mediasastra.com
  84. Metabook
  85. Mojok.co dan Buku Mojok
  86. Muhammad Nursam (Ombak)
  87. Muhidin M. Dahlan (Warung Arsip)
  88. Ong Hari Wahyu (Pekerja Seni)
  89. Ons Untoro (Penggiat Sastra dan Kebudayaan)
  90. Penerbit Cakrawangsa
  91. Penerbit Kakatua
  92. Penerbit Kendi
  93. Penerbit Oak
  94. Perempuan Mahardika
  95. PINDAI
  96. Planet Bookstore
  97. PPMI Dewan Kota Jogja
  98. Puisi Indo Jogja
  99. Pusham UII
  100. Pussaka Institute
  101. Rain Rosidi (Kurator dan Pengajar Seni)
  102. Rakyat Sastra Jogja
  103. Ruang Kelas SD
  104. Rumah Baca Komunitas (RBK)
  105. Sanggar Pertunjukan Sastra (SPS)
  106. Sangkal Indie Book
  107. Shoffan Hanafi (Bookshop Online)
  108. Social Movement Institute (SMI)
  109. Stand Buku
  110. Stiletto Book
  111. Suhadi (Akademisi)
  112. Sulistyo (Distributor Buku Satu Makna)
  113. Tikah Kumala (Penulis)
  114. Titis Prihatini
  115. Togamas Jogja
  116. Toko Budi
  117. Utama Offset
  118. WarningMagz
  119. Wawan Arif
  120. Wahyudi Anggoro Hadi
  121. Wiwin Siti Aminah (Penggiat Gerakan Perempuan dan Dialog Antariman)
  122. Wiwitan Buku
  123. YANTRA Jogja
  124. Yasser Muhammad Arafat (Penulis dan Penggiat Masjid Jend Sudirman) 
  125. Yoseph Yapi Taum (Akademisi dan Penulis)
  126. Yoshi Fajar Kresno Murti (Rumah Baca Cimot)
  127. Yusuf Efendi (Diandra Creativa)

Tulisan Terbaru

Populer

Hamka For RBK

Hamka For RBK

Sjahrir For RBK

Sjahrir For RBK