Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, February 6, 2016

Mantra-Mantra Rifki Sanahdi

Puisi-puisi Rifki Sanahdi

Tentang aku
Aku adalah hembusan angin musim semi
Berhembus syahdu melewati hutan hingga padang ilalang.
Menerpa daun-daun muda maupun kering
Menyemaikan benih senyuman di tanah tandus tak bertuan.
Aku adalah hujan di musim kemarau
Datang sekali namun berarti
Melenyapkan fatamorgana yang terlihat nyata namun semu
Menghadirkan pelangi yang melengkung seperti lengkungan senyummu.
(Yogyakarta, 5 februari 2016)

Wednesday, December 2, 2015

Puisi Agam Primadi

Agam Primadi:

Tuhan. Siapakah aku sebenarnya ?



Orang tuli kah ? Jika benar, kenapa aku bisa mendengar bajingan bajingan itu berbisik menyusun rencana busuk mereka.



Orang buta kah ? Jika benar, kenapa engkau pertontonkan aku fenomena fenomena penindasan yang mengiris hati ini hingga berdarah.



Siapakah aku Tuhan ?



Jika benar aku bisa mendegar, tolong haturkan kpd telinga ini tentang sebuah kebenaran.



Jika benar aku bisa melihat, tolong perlihatkan padaku tentang sebuah keadilan yang hakiki.



Sebagai hamba, aku lelah menjadi penikmat kemunafikan duniawi.




Trotoar alun alun utara. 2 oktober 2014

Monday, November 30, 2015

Tambang (serial Puisi mernolak Tambang)

Tambang
IGN
Tak hanya kau menggali tambang
Kau juga sedang menggali kuburan
Tak hanya kau dapati sumber kemakmuran
Kau juga kuras air mata duka
Kau kirimkan banjir bandang Sumber penderitaan
Tak hanya soal pasar
Tak hanya soal uang
Ini juga soal keserakahan
Tak cukup satu gunung kau ratakan
Tak cukup ribuan hektar kau bakar
Tak cukup lumpuhkan sawah sawah
Tak cukup apartemen mewah
Semua kau galikan kuburnya
Semua kau tumpas untuknya
Semua kau gelapkan keadaannya
Di hadapan manusia kecil
Kau seperti dewa kegelapan mencabut paksa akal sehat dan kewarasan
Doa doa pun telah dipanjatkan
Ruwatan massal sudah disemarakkan
Tinggal menunggu sang kuasa menjadi pengayom
Melibas keangkuhan
Negeri ini nasib baiknya ada di dalam relung hati petani
Bukan pada keserakahan pemodal, perusak lingkungan
Jadi, kalau negeri ini tak mau runtuh
Jangan buat petani marah. Itu saja pesan langit dari dua pertiga waktu.
Jogja, 29 nov 2015

Tuesday, November 24, 2015

Arus Menahan Pancaroba (Puisi)

Oleh: Iqra Garda Nusantara

Arus besar
Arus kecil
Arus laut
Arus kali
Arus lahir
Arus bathin
Wahai sang pencipta arus
Akulah arus kali
Arus penyemai kekuatan jiwa
Berdaya tahan segala pancaroba
Arus,

19 Nopember 2015

Pesan Ombak Kepada Pemuda Kalibedog (Puisi)

Oleh: Iqra Garda Nusantara

Deburannya adalah kehidupan
Arusnya mengirim harapan
Dan di dalam perutnya itu mengandung masa depan
Ombak menyapa bibir
Tak pernah jenuh
Mempertemukan mimpi
Ombak terus memberi dan memberi
Sambil menari
Ombak yang aku pandangi
Di batas senja di pelabuhan harapan
Menyeret memori
Masa lalu memang damai ditelan biru
Masa depan adalah harapan
Antara perang dan damai
Tak pernah usai

Jogokaryan, 19 Nopember 2015

Syair Syair Angin (Puisi)

Oleh: Hanafi Fie,

Angin aku selalu menikmatimu
Engkau memberikan kesejukan padaku
Angin engkau memberikan kenyamanan, dikala panas
menjadi beban ditubuh manusia
Angin kenapa kau tetap berhembus
Walaupun manusia lupa akan kebaikanmu
Dikala jiwa kita telah panas
Angin dicari cari,
Dikala kita senang Tuhan dilupakan
Disaat kesengsaraan melanda Negara
masyarakat rajin berdoa dan beribadah
Belajarlah dengan angin
Dia terbang dengan merdeka
Bebas dari segala perintah
Kecuali perintah Sang Pencipta
Angin memberontak dikala kezaliman tegak
Angin marah dikala hutan di rusak
Angin mengamuk dikala nurani berkecamuk
Angin menangis ketika tersisihkan
Wahai umat manusia..
Kenapa kau lupa tugas dan perintah Sang Pencipta jagad raya
Kau banggakan akal yang mudah tersesat
Kau banggakan Nurani yang belum
Tentu menjamin engkau masuk Surga, Lihat angin itu.
Dia merdeka
Tidak seperti manusia
Terjebak kehidupan materi di dunia
Angin selalu memanjatkan doa
Agar manusia tak lupa kepada
Sang Pencipta..

Jumat 20 November 2015

Kisah Kalibedog Dari Dekat (Puisi)

Oleh: Iqra Garda Nusantara

Kalibedog berkisah
Memendarkan nafas setiap yang bernyawa
Nafas itu harapan sang fajar
Di kali makna perjalanan dirangkai
Dari atas mengalir ke bawah
Dari pohon pohon dikirimkan layang layang
Pertanda hidup haru berjalan
Mengalir, berkelok, menghela nafas, mengumpulkan tenaga
Kembali berjalan seperti biasa.
Itulah nyanyian air kalibedog
Itulah nyanyian kehidupan

Tepi Bengawan Solo, 21 Nov 2015

Mafia (Puisi)

Oleh: Agam Primadi

Negeri yang aku hinggapi mulai tak ramah.
Orangnya orangya beringas, memangsa satu sama lain.
Mengigit, mengkoyahkan, menelan habis manusia disekitarnya.
Dan orang orang itu aku beri nama mafia.
Penampilannya elegan.
Rambutnya klimis.
Bajunya bermerek.
Retorikanya bak khatib di mimbar masjid.
Tapi dalam tubuhnya berbau busuk.
Busuk sekali,
Seperti bunga bangkai yang ku lihat langsung kemarin sore.
Menyengat hingga pelosok desa.
Mengalahkan fragmentasi getah karet para petani.
Tak sanggup aku menciumnya.
Tak sangup aku melihat lalat itu mulai menghinggapi mulut mungilnya.
Negeriku bukan untuk kau perdagangkan.
Negeriku bukan untuk memperkaya dirimu sendiri.
Wahai engkau para perusak.
Berhentilah sebelum kuasa-Nya yang menghentikan.
Berhentilah sebelum semesta memanggilmu.

Ozon (Puisi)

Oleh: Iqra Garda Nusantara

Di mikropon dari masjid di sudut kota
Kudengar berkali kali pembicara berteriak
"...bumi makin panas pertanda kiamat telah mendekat"
Nyaris, di dalam diriku, atau dirimu dan diri khalayak
Tak ada begitu khawatir soal kiamat dekat atau jauh
Kehidupan berjalan biasa saja
Yang gila lanjut dgn kegilaannya
Yang serakah lanjut saja keserakahannya
Yang galau tetap asik bergurau
Yang kaya makin kaya
Yang sudah bertambah susah
Tak ada yang istimewa
Semua berjalan biasa biasa saja
Ada pula di jumat lain
Khutbah bertenaga disampaikan
"Menurut pakar astronomi dan geofisika ada pemanasan global akibat ozon menipis akibat ulah tangan manusia. Ini sudah diingatkan oleg Allah bahwa kerusakan dibumi itu terbukti...."
Itu bukan kali pertama khatib bicara kerusakan. Beratus atau bahkan Beribu kali diteriakkan
Yang aku tahu setelah semua itu. Jamaah biasa saja bahkan bisa lelap di tengah khutbah.
Semua biasa saja tak ada yg istmewa.
Yang rokok tetap merokok
Yang buang sampah sembarangan tetap saja kelakuannya
Yang bisnis merusak mencemari lingkungan ya ajeg saja
Yang bakat bicara pun ya cukup bertahan sebagai pembicara
Kerusakan juga terjadi seperti telah menjadi kebiasaan
Aku menyaksikannya, dan aku juga biasa saja seperti apa adanya. Tak ada yang istimewa. Ya sebagai manusia biasa, mendengar ozon dan langit makin rendah aku biasa saja.
Tak ada yang benar benar istimewa. Semua akan berjalan biasa biasa saja.
Selamat datang ozon, selamat datang hari kiamat.

Panasbumi, 24 Nop 2015

Thursday, October 8, 2015

Perang Kota

Kota baru, kota para binatang

David Efendi

Tangis kepapaan menderu deru dari balik tembok kota
Tapi deru tangis itu kalah dengan mesin mesin motor
Tapi deru tangis itu kalah dengan getar alat alat berat pembunuh kota manusia
Di kota baru, manusia baru paling berkuasa. Manusia dengan spesimen berduit dan berkuasa yang menang. Kota pun disulap seperti kebun binatang. Orang orang susah layaknya binatang sirkus akrobat untuk mendapatkan belas kasih atau uang konservasi.
Benar. Orang susah tak dilempar kelaut tapi orang miskin adalah obyek belas kasih dan pelengkap penderita. Adalah benar pasar tradisional tak digusur, tapi penghidupan mereka direnggut dan dihimpit dibawa kaki gunung. Pelan tapi pasti nyawapun akan lepas dari sarangnya.
Kota tua kota istimewa berbudaya. Umurmu tinggal nostalgia. Memandang ke kanan ke kiri dadi balik gedung pencakar langit aku saksikan sendiri sekawanan binatang berpesta pora untuk menghancurkan manusia kota. Beragam cara digunakan untuk hilangkan oksigen dari ruang publik dan diubahnya menjadi AC AC raksasa di dalam gedung gedung mewah. Kematian pahit manusia kecil sedang disaksikan dari kamar kamar VVIP di sudut sudut kota. Orang miskin dilarang hidup di kota kecuali rela menjadi binatang sirkus dalam karantina.
Rintihan sesak tangis sesak napas tak seramai suara disko dan musik dari supermarket dan mega mall . Nestapa gulana tak mampu di dengar dari ruang rapat para pejabat karena pejabat sedang sibuk menghitung untung dari brangkas pemodal.
Kota ini tak lagi istimewa. Sungai menghitam dan air tanah asat itu adalah festival kematian kota yang menghibur pembaca media. Sudahlah, kita harus pulang segera menjemput langit yang tak lagi berair.
Jogja kematian ke sekian kalinya tapi belum kunjung terlahir kembali. Kota ini setiap detik adalah peperangan yang mematikan. Termasuk mematikan akal sehat.
Aku saksikan dalam nafas kegerahan. Kota yogyakarta tak ubahnya seperti zooPolitan--manusia saling berebut mengerdilkan orang lain. Saling memangsa hak satu sama lain, yang paling buas yang paling berkuasa. Kota telah lumpuh kebudayaan manusiawi. Birahi telah diletakkan lebih mulia dari rasa tepo seliro.
Kita sedang membangun warisan kota tak beradab bagi cucu cucu manusia jika kita diam tak berbuat apa apa.

Wednesday, August 19, 2015

Sajak-Sajak Ahmad Sarkawi

Bengkulu 17 Agustus2015, senja yang malu sore ini akhirnya menampakkan wajah dengan gagah dan perkasa. aku malu pada diriku sendiri karena aku sudah berprasangka kalau senja tak akan menampakkan wajahnya di sore yang indah ini, trimakasih senja akan ku persembahkan puisi untukmu :

Jemari diatas pasir 

berlari di atas langit ke tujuh, mengelepakkan sayap kebebasan
membuang kelelahan usia yang sudah berada di ujung senja
menatap langit jingga yang menandakan semangat para pejuang
senyum kemenangan tersungging di bibir pada angka 30

menghunus pedang yang sudah tak bermata
menjelma menjadi malaikat untuk para penguasa
sudah waktunya kumenutup mata menggenggam asa yang tertunda
meluruskan seluruh tubuhku diatas pasir
memainkan jari jemari menari diatas pasir
ternyata aku sedang merindukanmu wahai sang penyair

puisi ini kupersembahkan untukmu senjaku. dikala usia sudah mulai di ujung senja, aku berterimakasih kepada kalian semua yang bersamaku baik yang pernah berjumpa lewat dunia maya atau dunia nyata, di usia yang sudah senja kuberharap kita semua bisa hadir untuk merawat damai negeri ini meramu kasih diantara manusia sebagai modal hidup berbangsa dan bernegara. kita memang harus berbeda tidak mesti selalu sama namun kita harus selalu bersama menikmati perbedaan keberagaman dan keberagamaan kita semua.

hadir sebagai perawat kasih dan damai merupakan pekerjaan kita semua yang sedang hidup di negeri ini, berbagi cerita, ide dan gagasan merupakan ciri khas dari hidup yang dinamis. di akhir sebuah cerita saya sampaikan terimakasih telah mengucapkan selamat dan mendoakan perjalanan usia yang menemani jiwa dan raga ini.

Ahmad sarkawi, dari sudut Al-Farabi 

Tuesday, May 5, 2015

Suara-suara Iqra GN

Ekpresi manusia dapat berbentuk dan berbunyi apa saja. Di rubrik ini juga suara getir, sedih, dan suara-suara yang menguatkan iman kepada kemanusiaan yang adil dan beradab juga beragam bentuknya. Ini merupakan kumpulan sajak, puisi, ekpresi bebas manusia yang bernama pena Iqra GN. Semoga memberikan pencerahan bathin untuk penulisnya dan pembacanya. salam sastra!

[1] Nyanyian di bawah lumpur
IGN
Kunyanyikan ini untuk sederatan gunung, 
untuk ombak, bibir pantai, tanjung, teluk, tanah, air 
dan pengasuhnya yang menghidupinya
Kunyanyikan ini untuk manusia manusia, 
untuk yang kalah, 
untuk korban, 
untuk yang dilibas dan yang dihinakan, 
untuk juga yang tuna kuasa

Sebatang kara bernama gunung dan pegunungan, bumi, air, dan pepohonan
Digerus zaman kapital yang tak punya rasa iba setitikpun.

Seceruk air yang penuh limbah kotoran serakah manusia. 
Tak berpenghuni oleh hewan melata sekalipun,
dan manusianya hidup bernafas di bawah lumpur merkuri. 
Menunggu sangkakalah ditiupkan. 
ajal semesta alam. Qiamatlah

[2] Jihad Ekologi
------------------~ign
Ini bukan puisi
Juga bukan kutukan
Bisa dibilang ini adalah doa yang penuh kekuatan
Kawan,
Semua orang ingin hidup
Karenanya udara segar dihirup
Semua orang butuh oksigen tapi tak semua orang peduli hutan
Tak semua orang memproduksi oksigen
Karenanya hutan dibabat habis mereka tidur pulas di atas ranjang
Begitu juga perihal bencana. Tak seorangpun ingin ditimpa bencana. Tapi jauh lebih sedikit orang yang mau berusaha mencegah bencana. 
Karenanya, gunung dilubangi sawah dihancurkan dan sumber air dimatikan mereka hanya duduk makan di restoran.
Generasi yang pongah tak berdaya karena rabun matanya. 
Bagi kawan kawan yang terus bergerak merapatkan barisan. Tentu aku sangat ingin menjadi anggota barisan. Aku menolak diam!. Jihad ekologi adalah sebuah keniscayaan sebelum republik hancur berantakan. 
Untuk bergerak, tak perlu menunggu banyak! 
Salam ekoliterasi!

[3]Tamu di balik pintu
iGN
Matahari membela pagi
Menyusup dalam sukma bumi
Engkau masih bersenda gurau memeluk mimpi
Matamu mengigaukan sunyi meratap kelam
Bayangmu yang kerontang terdiam menatap lorong gelap
Kau seperti tamu dibalik pintu
Yang terus menerus menjadi misteri bagi panca Indraku.
Jogokaryan,7 Mei2015


[4]Lebaran
Lebar, lebur, luber
Padamu ada asa, padaku ada cita cita
Satu rasa untuk berbagi rona
Lebar, lebur, luber
Jiwa di setiap jasad
Menua, mati, ditimbun tanah
Memberi arti pada tulang tulang yang terpisah ruhnya
Memberi makna pada setiap laku jasad yang ada ketulusan
Berjalan di tepi sunyi malam
Memandang langit hitam di atas bahtera. Mimpi itu teramat indah.
De
Jogokaryan, 27 juli 2015 dalam sunyi

[5] Dengan puisi aku menyepi
IGN

Kata kata abadi,
Tak punah oleh angkara
Akan dewasa sesuai titih mangsanya
Aku melihat rembulan di balik awan
Menggernyitkan dahinya disembur cakrawala
Aku juga melihat dewa dewa dengan baju kebesarannya
Mati oleh kekuasaanya sendiri
Kuasa yang tak terjamah ada matinya
Kata kata abadi
Tak punah oleh air mata atau kuasa jahat para dewa
Dan....
Dengan puisi aku menyepi
Bersemayam di balik jerami ingatanmu
Monjali, 26Juli2015

[6]

Mudik; "Puisi Tadi Malam"

Oleh: Iqra Garda Nusantara

Estafet zaman yang tak tentu
Mengadu kepada Tuhan tak selalu ditempuh
kerana rasio telah menjadi senjata ampuh
untuk menangguhkan kekerdilan manusia
Lihatlah mesin menderu deru tumpah ruah di lintasan waktu,
menempuh jarak entah
dengan kepongahannya.
Jati diri mesin telah menjadi harga status manusia
Lihat, orang bergelantungan di rimba waktu
menyalurkan hasrat terberat: ingin disunting kegilaan dalam arus ketimpangan
Bulan sabit menggurat langit, pertanda musim mudik telah sempurna
anai anai jasad manusia kembali tertiup angin beliung nestapa waktu.
kemana jasad jasad itu akan berlabuh? duh, sankan paraning dumadi.
Seonggok daging dan tulang dalam gembala keangkuhan tiada terperi,
mudiklah menuju jalan jalan sunyi yang dirahmati, jalan yang dibalut dengan cinta dan keabadaian, yang dijauhkan dari keangkaramurkaaan. Al Fatihah.

hutan Ngawi, di dalam mesin waktu, 2 Agustus 2014.

Senja 


Senja kadang tak berasa
Senja kadang meninggalkan asa dan kecewa
Senja kadang berbui lara dan gulana
Senja kadang tak dirindukan


Tapi kawan,
Senja itu dapat merona ciptakan rona kehidupan
Senja juga menjanjikan elegi esok hari
Senja itu mampu menghilangkan dahaga
Senja yang tak terlupakan

Senja yang elok ditelan kegelapan
Tapi hari tak berhenti di sini
Pagi yang berganti menjadi orange sore ini,

Adalah siklus nafas kita
Berhenti berganti dan ditemukan kembali....

Terus saja hari berganti laiknya nikmatnya secangkir kopi hitam ini

Sebuah warung sore, 15 sept 2015

Thursday, April 30, 2015

Dari Azan sampai Merdeka : Tiga Puisi Ahmad Rizky Umar

AZAN

Dari kejauhan
 kudengar suara dauh bertalu
 beriring suara azan
Memanggil jiwa yang gelisah
 yang terasing di antara serpihan dunia
 rebah
 ingin rasanya sujud dan pasrah
 di hadapan yang maha indah
Berlagu muazin menyeru panggilan
 Bergegas pak tua datang ke sana
 dari kejauhan
Sementara aku
 yang kuat lagi mampu
 diikat waktu
 tak kuasa bersuci
 larut dalam tipu daya
Apalah artinya nama
 jika kata ditarik dari dunia
 dan kita bukanlah siapa-siapa?
Apalah artinya dunia
 jika tak ada cinta
 ketika hati gundah dan gulana?
Apalah artinya diriku
 Jika di mata-Mu
 berlumur hina dan dosa
Maafkan
 aku


WARNA

Mulailah berpikir tentang warna,
 bukan sebagai hitam atau putih.
Tetapi bagaimana ia bisa menjadi hitam,
 dan bagaimana ia menjadi putih.

Apa yang putih mungkin bukan putih,
 mungkin ia diputihkan oleh waktu-
 atau oleh air yang menghapus jejak gores dan noda

Dan yang hitam mungkin bukan hitam.
 mungkin ia dihitamkan oleh masa.
 atau oleh bercak tinta yang tercecer dari wadahnya

Bukankah di antara putih dan hitam,
 ada biru, ungu, jingga, kuning, dan bermacam-macam warna
 yang tak bisa digambarkan dengan kata dan mata

Bukankah di antara putih dan hitam,
 ada pelukis yang ingin mengurai seratus ribu makna?

Dan bukankah di antara putih dan hitam,
 adalah semua Tuhan yang mencipta?


MERDEKA

Kakanda,

Aku ingin
berpikir merdeka
Tetapi kekuasaanmu
merancang segalanya

Aku ingin
berkehendak merdeka
Tetapi kemauanmu
mengatur segalanya

Aku ingin
bicara merdeka
Tetapi mulutmu
membungkam segalanya

Aku ingin
bertindak merdeka
Tetapi tanganmu
Melarang segalanya

Aku ingin
menulis merdeka
Tetapi pensilmu
menghapus segalanya

Aku ingin
hidup merdeka
Tetapi uangmu
membeli segalanya

Benarkah ada kemerdekaan
Jika di sana-sini
Ada penindasan?

Di manakah kemerdekaan
Jika orang-orang desa
Hilang tanah untuk ditanam?

Sudah lupakah engkau, kanda
dengan ikrar kita
di suatu senja
Bahwa kita
akan sentiasa
berpikir dan berkehendak merdeka?

*) Ahmad Rizky MU sehari-hari menjadi pekerja riset

di Universitas Gadjah Mada

Monday, April 27, 2015

Karya-karya Puisi Hanapi

“tinta sederhana ini akan kuisi dengan kalimat-kalimat sejati sebagai perlawanan terhadap penindasan di negeri ini”.(Hanapi).

“Jihad Konstitusi”
Hijau itu berkumandang,
Arah bangsa telah dijalankan
Tauhid dan syariat ia arahkan sebagai landasan,
Ketika undang-undang menjajah
Ia berjuang di tengah sistem kapitalisme,
Fisabilillah adalah kalimat yang disegani,
Seluruh nyawa pasti rela
Demi lurusnya “kiblat bangsa”
Nyawapun mereka korbankan,
Akhirnya Tauhid menggetarkan peradaban,
Kalian Para Mujahid Modern, Para Mujahid Tanggu,
Kesucian gerak, nurani yang bersih, tindakan ikhlas
Hati para Syuhada islam.
Rabu, 6 Mei-2015



 “Mengenang Mahatma Gandhi”
By: Hanapi
Kau pahlawan sejati, kau ajarkan sebuah perjuangan tanpa kekerasaan
Kaum buat para imperium itu, bertekut lutut dihadapan rakyat suci
Ia tak berani melawanmu, hatimu tulus, ucapanmu lembut
Tapi jiwaku bergemetar hebat ketika mengenal sosokmu
Engkau pahlawan dari India, ajaranmu hidup dan sangat relevan untuk zaman
Bukanku dustakan Al-Qur’an dan Sunnah
Aku memujimu, dengan alasan yang filsofis
Engkau memahami agama dengan baik, ajaranmu seperti Rasulullah
Menegakkan kebenaran dengan kelembutan,
Gandhi namamu, Gandhi, engkau Mahatma Gandhi.

Senin, 27 April-2015





 “Literasi Rakyat”
By: Hanapi
Gelombang ini tak bisa dibendung
Ia berdiri atas ketulusan dan kondisi negeri yang memprihatinkan
Gerakannya menyinari pelosok-pelosok negeri
Para perjuangnya adalah kesatria langit yang turun ke muka bumi
Gelombang ini sangat kuat, ia berdiri ditengah-tengah arus kemiskinan intelektual bangsa
Ia hidupkan semangat untuk khasanah intelektual bangsa ini
Literasi, literasi rakyat memang dibutuhkan,
Demi tegaknya keadilan yang telah lama terbungkam
Cahaya-cahaya itu, perlahan menembus gelapnya dunia rakyat
Gerakan literasi rakyat, membangun semangat dan keadilan
Berkat keikhlasan dan semangat api yang membara
Negara berkembang bisa menjadi Negara maju
Gerakan ini bukan gerakan sosial berdasarkan kepentingan
Ia berdasarkan nurani rakyat, ia berdasarkan ketulusan para kaum cerdik-pandai
Hidup rakyat, hidup rakyat, hidup keadilan dan hak di Negeri Pertiwi.

Selasa, 28 April-2015

“Ibu Kartini”
Hanapi

Sejarah tak pernah lupa pada Ibu yang terhormat ini
Ia juangkan badan dan raga demi hak-hak yang hilang lama
Tetesan tinta tulisan-tulisan indah telah mencatat bukti bahwa ia kesatria
Surat-surat perjuangan kaum wanita
           Zaman telah berkembang namun harumnya tak hilang
           Perjuangannya penuh nilai luhur yang sekarang mulai gersang
           Ia tetap teguh walau hidup dalam sistem Patriarki
           Hak adalah yang dipunyai setiap orang, jika ia dirampas maka Ibu pasti membelanya
Keberaniannya telah menggoreskan catatan emas tinta sejarah bangsa
Kini namanya tak asing ditelinga para pemuda bangsa
Ia ibu, ibu kebanggan negeri, negeri yang penuh penindasan
Ia di zaman ketika krisis-krisis kehidupan
           Kaum wanita dilecehkan, kaum wanita dibelenggu oleh kepentingan penguasa
           Ibu Kartini datang bagaikan air hujan ditengah padang pasir
           Ia memperjuangkan kesetaraan gender
           Memperjuangkan agar wanita menjadi wanita yang terhormat
Ibu adalah tempat lahirnya para pemimpin hebat
Ia banyak mengajarkan arti hakikat kehidupan yang nyata
Semangatnya mengalahkan kerasnya petir halilintar
Ibu Kartini engkau adalah Pahlawan Sejati negeri bumi rakyat ini.

“Merpati Yang Terluka”

aku akan terbang setinggi-tingginya
melesat bagaikan kekuatan Illahi
kuat dan tahan diriku demi keadilan dan kemanusian
ku pilih sebuah wadah tempat katanya cendikiwan ber-Akhlak dan moral islam
             burung-burung hitam terbang dengan temannya
             ia melesat mendekati merpati putih yang suci
             tapi merpati dengan siagap dan gagahnya ia tetap tak gentar
             ia tetap pada tujuan dan pilihannya
ia bingung ketika elang-elang hitam itu adalah elang-elang putih
ia terguncang ketika kebaikan berubah menjadi kejahatan demi kekuasaan itu
sendi yang bernilaikan keesaan Tuhan dilupakan oleh elang-elang putih
telah berubah menjadi elang-elang hitam penggores lukanya
             kecepatan elang itu merebas sayapnya
             ia diserang dari segala sudut sisi
             namun berkat Karunia Illahi ia mampu lepas dalam jeratan-jeratan elang-elang hina itu

             kini ia telah memutuskan mengembalikan kedaulatannya sebagai merpati sakti.

“Di dalam Puisi ini ada iman, di dalam iman ada darah perjuangan, di dalam perjuangan ini ada hakikat kebahagian rakyat”.(Hanapi)

Tulisan Terbaru

Populer

Hamka For RBK

Hamka For RBK

Sjahrir For RBK

Sjahrir For RBK