Oleh Lutfi Zanwar Kurniawan
Lama rasanya tak membaca esai-esai renyah Emha Ainun Nadjib. Esai yang kerap menyajikan peristiwa harian yang luput dari tangkapan. Dan Emha berhasil memotretnya, menuliskannya dengan gaya yang terkadang jenaka, di lain waktu liris kontemplatif. Bacalah kumpulan esainya dalam buku Markesot Bertutur, di sana akan kita temukan campuran gaya itu.
Satu hal yang kerap saya temukan ketika membaca esai-esainya, selain gaya yang saya sebut di atas. Emha adalah esais yang mampu menangkap kemudian menampilkan realitas dalam tulisannya di luar kerangka rutinitas. Realitas yang ia tampilkan hampir selalu realitas dengan multi wajah, sehingga melahirkan beragam pemahaman dan pemaknaan. Realitas olahraga tinju misalnya. Melalui baku pukul dua manusia di atas ring Emha mampu memberi makna dan mengaitkannya dengan penindasan dan ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi yang diterima rakyat kecil.
Dunia tinju adalah dunia yang penuh kontroversi. Jika ada petinju sakaratul maut atau bahkan meninggal di atas ring akibat terkena hantaman lawan. Segera saja muncul di berbagai media analisis pakar dan pengamat dunia pertinjuan. Mereka berdebat, berpolemik, yang tak setuju tinju mengatakan bahwa olahraga ini tak manusiawi, menganggap manusia layaknya hewan yang diadu dijadikan tontonan. Yang setuju mengatakan tak ada yang salah dengan tinju, toh para petinju sudah mengerti konsekuensi yang mereka hadapi apa. Mereka jiga dibayar untuk itu, dan ada peraturan ya g ketat di dalam olahraga ini. Sakaratul maut atau kematian petinju adalah insiden bagi mereka yang setuju.
Lalu sebaiknya bagaimana sikap kita terhadap tinju? Kita semua terseret ke dalam perdebatan abadi itu tanpa pernah tahu kapan pernah selesai. Keterseretan kita, kesulitan kita menemukan ketepatan-ketepatan dalam mengambil sikap dikarenakan kita memandangnya sebagai pengamat dari jarak yang terlampau jauh. Itupun hanya dari media, dari koran, dari tivi tidak ikut bertungkus lumus, menceburkan diri, mengalami sendiri realitasnya.
Emha menceritakan suatu kali pernah menjadi ofisial darurat seorang petinju kelas ayam sayur. Petinju partai tambahan empat ronde yang setiap ronde petinju akan dihonori sebesar sepuluh ribu rupiah. Kalau petinju ndlosor di ronde pertama, ya sepuluh ribu saja perolehannya. Petinju kelas ayam sayur itu menang. Tetapi kemenangan itu membuat Emha menangis. Sebab, lawannya juga seorang suami miskin dengan istri dan dua anaknya yang menunggu di rumah. Tentunya tindakan yang ideal adalah memberinya pekerjaan di luar tinju. Akan goblok dan sadis kalau kita mengatakan kepadanya bahwa tinju itu biadab, memukul orang itu haram.
Karena kita selama ini mengetahui realitas itu dari koran, tivi yang pasti telah melalui proses pembingkaian. Sehingga kita tak pernah benar-benar tahu realitas yang lebih utuh seperti apa. Kita tidak akan pernah mengetahui mayoritas petinju yang nasibnya sekedar untuk pancikan (batu pijakan) para petinju top. Demi menghidupi keluarga mereka, anak dan istri yang menunggu di rumah.
Bertinju di ring masih lumayan moralnya. Mereka saling pukul dan dipukul karena suatu akad yang telah disepakati bersama. Ada yang "bertinju" lebih kejam dari itu, yakni mekanisme orang ditinju, dipukul, dan disakiti dalam berbagai bidang tanpa orang itu rela disakiti dan tak memiliki "kewajiban" apapun disakiti. Mereka yang disakiti juga tidak dilengkapi oleh "peralatan" atau instrumen dan "jurus-jurus" untuk melawan balik. Kecuali dengan protes.
Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts
Monday, June 13, 2016
Thursday, December 24, 2015
Demagogi
Rocky Gerung
(Majalah Tempo, 7 Jul 2014)
Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.
Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.
Dalam suatu rapat politik, Haji Agus Salim, salah seorang pendiri negeri, berpidato memukau. Lawan politiknya datang mengganggu dengan meneriakkan suara kambing: embeeek… embeeek. Teriakan itu jelas untuk menghina. Janggut Agus Salim memang mirip janggut kambing. Rapat jadi gaduh. Caci-maki memenuhi ruangan.
Tapi Agus Salim tak terusik. Dengan tenang ia berbicara: “Maaf, ini rapat manusia. Mengapa ada suara kambing?” Rapat berlanjut, setelah gelak tawa meledak.
Politik adalah kecerdasan. Haji Agus Salim tak mengejek balik. Ia hanya memakai otaknya untuk membungkam lawan. Ia memberi pelajaran. Politik adalah pikiran. Bukan makian.
ooo
Demagogi adalah ilmu menyiram angin demi menuai bau, yaitu mencari sensasi dalam psikologi massa untuk menikmati kebanggaan diri. Sang tokoh akan mencari penonton demagogis, mereka yang siap menelan angin, siap berjuang dengan modal angin. Dengan psikologi inilah politik mengepung publik. Demokrasi kita hari ini ada dalam situasi itu.
Duel politik tak lagi bermutu. Gagasan dihapus oleh hiruk-pikuk ejekan. Sensasi dirayakan, esensi diabaikan. Rasa gagah memenuhi dada ketika ejekan disambut gempita oleh sesama pendukung. Sahut-menyahut di ruang sosial melambungkan kebanggaan kubu. Semacam ketagihan massal, ejekan menjadi obat perangsang politik. Suatu sensasi aphrodisiac memompa adrenalin untuk memuaskan politik demagogi: “Aku mengejek, maka aku ada.” Megalomania di sana, hipokrasi di sini. Dua-duanya kekurangan pikiran.
ooo
Negeri ini didirikan dengan pikiran yang kuat: bahwa kemerdekaan harus diisi dengan pengetahuan, agar anak negeri tak lagi dibodoh-bodohi oleh kaum pinter dari luar. Kebodohan mengundang penjajahan.
Kemerdekaan adalah hasil siasat intelektual, oleh yang berbahasa, maupun yang bersenjata. Politikus dan pejuang tumbuh dalam kesimpulan yang sama, yaitu kemerdekaan adalah tindakan pedagogis.
Panglima Sudirman semula adalah seorang guru, lalu jadi jenderal.
Jadi, dari mana kita belajar demagogi?
Kendati suka memanfaatkan emosi massa, Sukarno bukanlah seorang demagog. Ia memang mengumbar retorika, tapi tetap dalam kendali logika yang kuat. Dalam sebuah pidato lapangan di depan barisan tentara, Sukarno mengucapkan kalimat kurang-lebih begini: “Saudara-saudara tentara, kalian adalah alatnya negara. Dan negara adalah alatnya rakyat. Jadi kalian adalah alatnya alat.” Bukan sekadar retorikanya bagus, Sukarno mengucapkannya dalam suatu silogisme. Suatu pelajaran logika, bagi rakyat.
Jadi, dari mana kita belajar mengejek? Tan Malaka memiliki kekayaan metafor. Sutan Sjahrir lihai membekuk pikiran lawan debat. Mohammad Hatta bersih dalam berkalimat. Begitu juga yang lain. Pendiri negeri tumbuh dalam tradisi pikiran. Pidato Sjahrir di Perserikatan Bangsa-Bangsa (1947), ketika mempertahankan kemerdekaan, disebut oleh New York Herald Tribune sebagai salah satu pidato yang paling menggetarkan. Jebakan diplomat Belanda kepada Dewan Keamanan PBB untuk memilih: “Siapa yang Saudara percaya, mereka atau orang-orang beradab seperti kami,” ditanggapi Sjahrir dengan enteng: “Mereka mengajukan tuduhan tanpa bukti, ketimbang membantah argumen saya.”
Debat adalah pelajaran berpikir.
Negeri ini dihuni oleh gagasan, karena kita bertemu dengan berbagai pengetahuan mancanegara. Filsafat dan ideologi sudah lama berseliweran dalam pikiran pendiri negeri. Rasionalitas dan teosofi beredar luas di awal kemerdekaan. Sastra dan musik disuguhkan dalam pesta dan konferensi. Suatu suasana pedagogis pernah tumbuh di negeri ini. Tapi jejak poskolonialnya hampir tak berbekas, kini.
Memang, ada yang putus dari masa itu dengan periode Orde Baru: kritisisme.
Teknokratisasi pikiran, ketika itu, melumpuhkan kebudayaan. Birokratisasi politik mengefisienkan pembuatan keputusan, karena tak ada oposisi.
Kritik yang pedas memerlukan pengetahuan yang dalam. Sinisme yang kejam datang dari logika yang kuat. Dua-duanya kita perlukan untuk menguji pikiran publik agar tak berubah menjadi doktrin, agar panggung publik tak dikuasai para demagog. Kita hendak menumbuhkan demokrasi sebagai forum pikiran.
ooo
Debat adalah metode berpikir. Titik kritisnya adalah ketika retorika mulai tergelincir. Titik matinya adalah ketika dialektika terkunci.
Itulah saat kita menikmati debat sebagai pelajaran berpikir, suatu peralatan pedagogis untuk mendidik rakyat dengan pikiran. Demokrasi adalah sekolah manusia, bukan arena sabung ayam. Hari-hari ini, kita tak melihat itu karena busa kalimat memenuhi ruang sosial. Busa kekuasaan, busa dendam, busa hipokrit. Sementara di belakang panggung para dalang mengatur siasat, penonton dijebak dalam psikologi: terlalu optimistis atau terlalu pesimistis. Tak ada yang kritis. Tan Malaka pernah memberi nasihat: “Kita tak boleh merasa terlalu pesimistis, pun tak boleh merasa terlalu optimistis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme.”
*) Pengajar Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Ketegaran di akhir tahun
David Efendi, Arya Dwiyoga, Lutfi Lupet, A. Sarkawi
Dua pekan di akhir tahun saya saksikan keteguhan, ketegaran, kreatifitas dirawat sedemikian asik di Rumah Baca komunitas. Keterlibatan anak anak kampung, warga kampung, Dan pegiat baru RBK memperkuat thesis mulia: kekuatan mikroba tak dapat dihindarkan. ITU mantra yang menggerakkan hati, pikiran Dan tangan manusia manusia kalibedog.
Belajar dengan diskusi, berbagi pengalaman menulis, mengapresiasi hasil penelitian, perpustakaan jalanan, memasak, menggambar, sablon, desain poster, membaca buku, menanam, berkarya apa saja untuk semua orang yang ada di Rumah Baca komunitas sampai ujung tahun ini. Minggu yang sangat dinamis. Penuh pembelajaran Dan penuh harapan. Lupet, seorang pegiat menuliskan kesan ini agak panjang:
"... seperti tari dan menggambar sebagai penemuan kemerdekaan. Begitu halnya diskusi. Ia tak hanya menyampai ulang apa-apa yang tercetak di buku maupun mengulang yang di dengar. Dalam membicarakan perihal sesuatu, seseorang tak sekedar mengulang tapi memaknai ulang, bebas menghadirkan penafsiran baru atas realitas. Baik itu yang diberitakan, dituliskan, dan didengarkan.
Kemerdekaan menghadirkan penafsiran yang baru itulah yang selalu membuat diskusi tak lekas membosankan. Walaupun hal itu kerap menyebabkan tak ada arah yang pasti dan tak lekas mencapai hasil.
Di zaman yang tiap menitnya kita dituntut hasil dan sesuatu yang kongkrit barangkali diskusi, ngobrol, bertukar pendapat, melatih pikiran tidak dianggap sebagai suatu hal yang berharga. Ketika sesuatu yang kongkrit itu menjadi acuan tunggal yang berharga dan tak berharga, maka kemerdekaan dan keleluasaan menjelejah horizon pemikiran menjadi suatu cemooh.
Tiga hari berturut-turut Rumah Baca Komunitas mengadakan diskusi untuk siapapun yang tak menghendaki suatu ukuran kebenaran tunggal."
"....hebat RBK bisa bertahan lama...", kesan Mas Iwan yang mengisi dejure pekan ini. Ada juga kesan Dicky Senda tentang RBK yang dinamai " komunitas Indie" (indigo?) Karena kehangatan di Rumah manusia. Lalu saya pun bertanya Tanya, APA yang menjadikan komunitas ini bertahan? Atau prasyarat APA yang akan mengawetkan komunitas ini ?
Ada banyak jawaban tentu saja. Sarkawi memberikan pendapatnya bahwa "Bergiat di komunitas butuh kejujuran, kepercayaan, keterbukaan. Butuh kekuatan untuk melawan penindasan, melawan kekerasan, diskriminasi. Saatnya tidak diam dengan kekerasan, diskriminasi serta penindasan. Diam adalah melanggengkan, bersuara adalah perlawanan."
Saya menilai ketahanan komunitas sangat dipengaruhi oleh ketersediaan serangkaian bahan Baku yaitu hati, pikiran dan perbuatan. Bergiat di dalam komunitas butuh turun tangan, butuh hati yang damai dalam ikatan Dan himpunan, serta keluarga, Dan bergiat di dalam komunitas butuh kepala (otak) yang terus belajar.
Arya Dwiyoga menambahkan bahwa ketahanan komunitas terbangun juga dari pemikiran “Aja mbedakake marang sapadha-padha”. Artinya Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia. dan sebuah tindakan yang berlandaskan “Rela lan legawa lair trusing batin”. Artinya Ikhlas lahir batin.
Selamat berkarya semuanya
Sunday, December 20, 2015
Komunitas yang Tidak Terjebak Formalitas
Oleh : Alhafiz Atsari
Sudah banyak kegiatan yang saya ikuti khususnya diskusi yang diadakan oleh banyak lembaga, baik komunitas, institusi perguruan tinggi.
Sudah banyak kegiatan yang saya ikuti khususnya diskusi yang diadakan oleh banyak lembaga, baik komunitas, institusi perguruan tinggi.
Ada sebuah fenomena yang menarik bagi saya. Ketika sebuah diskusi diadakan oleh sebuah lembaga atau komunitas tertentu yang mengundang pemateri ya katakan saja la lumayan punya track record baik dan mumpuni, begitu sangat dihargai dan sakin dihargainya sampai-sampai yang mengadakan diskusi tersebut terlupa akan subtansi dari sebuah diskusi yang pada akhirnya terjebak pada formalitas.
Mungkin anda dan juga saya sering mengikuti diskusi yang setelah narasumber menyampaikan materi kemudian lanjut ke sesi tanya jawab (diskusi). Disini la persoalan muncul. Hampir seluruh diskusi yang pernah saya ikuti pasti terjebak akan formalitas. Pertama, ok, baik, kita akan buka tiga sesi tanya jawab (moderator berkata). Setelah tiga pertanyaan terjawab, ok , kita buka sesi kedua, tiga penanya lagi. Namun, setelah sesi kedua selesai dijawab. Kalian mungkin akan sering mendengar “baik, karena waktu kita sudah sangat terbatas, sebenarnya sangat banyak lagi yang mau kita bahas dan topic ini sungguh menarik, sehingga diskusi ini akan saya tutup, semoga kita bisa membahas diskusi ini diluar forum ini” (moderator berkata).
Menurut saya, jawaban ini terlalu diplomatis, kita berdiskusi tapi diskusi ya mungkin saja yang berakhir tanpa solusi atau pelajaran yang dapat diambil. Sungguh realita yang menyedihkan, dimana kita sangat ingin menyelesaikan masalah dengan berdiskusi tapi kita sendiri sudah terjebak pada formalitas waktu, apalagi narasumber yang diundang merupakan orang penting, seakan dipuja-puja sehingga kita lupa ada persoalan yang ingin diselesaikan atau ada pelajaran yang harus dibagikan. Dan apakah anda tahu kalimat ini “semoga kita bisa membahas diskusi ini diluar forum ini”, inilah kalimat yang terlalu diplomatis dan munafik menurut saya. Kalimat penipu dan tidak terbukti kebenarannya.
Yang ada setelah diskusi seperti itu maka berakhir sudah pembicaraan tentang itu.
Yang ada setelah diskusi seperti itu maka berakhir sudah pembicaraan tentang itu.
Jadi, wajar saja apabila persoalan di negeri ini diselesaikan setengah-setengah dan pada ujungnya berakhir tanpa solusi dan merugi. Kita saja sebagai anak muda dan generasi muda katanya, yang katanya mau tidak mau akan memimpin bangsa ini sudah terkonstruksi dengan hal-hal buruk seperti itu.
Jadi, bisa kah kita mengubah itu?
PASTI BISA, saya yakin ada banyak komunitas yang tidak terjebak formalitas tapi tidak diketahui banyak orang dan kebanyakan orang lebih suka berdiskusi di lembaga yang sebut saja lah FORMAL tapi gak NORMAL dalam menyelesaikan masalah.
Salah satu komunitas yang tidak terjebak formalitas dalam berdiskusi adalah Rumah Baca Komunitas. Mungkin, ini la komunitas yang paling membekas di dalam hati saya. Ketika kita berdiskusi, akan ada banyak hal yang ditanyakan dan kita tidak bisa menduga-duga pertanyaan itu serta kita harus menguras otak dan mengeksplor seluruh kemampuan kita. Kalau diskusi di lembaga formal dan di kelas pada saat kuliah saja paling lama 1-2 jam, dan sebenarnya sangat kurang yang pada akhirnya memunculkan “kegalauan”. Berbeda dengan komunitas ini, komunitas ini tidak mengenal waktu 1-2 jam, jika materi diskusi akan memakan waktu 5 jam sekalipun dan sampai jam 1 malam sekalipun, diskusi akan tetap dilanjutkan sampai seluruh peserta tidak memiliki “kegalauan” lagi.
Mungkin tidak banyak yang bisa saya sampaikan, saya hanya ingin berbagi cerita dan tidak ada tendensi apa pun. Saya yakin ada banyak kegiatan seperti ini di luar sana. Tapi, mungkin kita masih malu untuk mengeksposnya karena berbagai alasan.
Saya ingin kita (generasi muda) berbenah ke arah yang lebih baik. Jika kita sudah terkonstruksi tidak baik, akan kah kita hanya terdiam dan mengikuti jalan sesat itu?
Yogyakarta, 20 Desember 2015, 10:37 WIB
Thursday, November 12, 2015
#ManusiaNONmanusia
IGN
Apa perbedaan manusia dengan yang nonmanusia? Percakapan filosofis yang paling penting untuk kita mengerti hari hari akhir bumi ini. Kenapa penting? Bukankah itu sudah basi? Kenyataannya manusialah yang merusak segalanya. Iya segala galanya.
51% manusia baik dapatkah mencegah keburukan yang ditimpahkan oleh 49%
manusia tidak baik? Atau extreemily 99% manusia atau rakyat baik
dapatkan mencegah kerusakan yang disebabkan oleh 1% kapitalis jahat si
sebuah kota atau negara.
Secara matematis itu tak bisa menjelaskan YES or NO. Jadi kita perlu lagi memahamkan keadaan sejatinya apa yang membedakan manusia dengan non manusia.
Salah satu pembeda terbesar antara manusia dan manusia adalah bahwa non manusia itu 100% mengikuti kodrat sebagai " makluk" non-manusia yang setiap gerak atau diamnya itu tidak menimbulkan "kerusakan". Ini tentu perlu penjelasan. Konstruksi benda non-manusia itu merusak adalah karena diukur dari kebutuhan dan "order" manusia bukan kehendak kesetimbangan alam semesta. Diam dan geraknya non-manusia sejatinya tak dapat dialamatkan kesalahan padanya.
Non-manusia itu selalu memberi dan memberi tak pernah meminta apalagi merebut paksa. Sebaliknya, diamnya manusia itu dapat menimbulkan kerusakan, dan gerak nafsunya itu mengundang bencana besar baik bagi manusia dan atau bagi kelas non manusia. Inilah sebabnya silent majority itu sangat mengerikan.
Dari penjelasan ini kemudian kita bisa paham pasca bencana besar dentuman besar dan zaman ice age sebenarnya menurut beberapa ilmuwan sudah tak ada lagi peristiwa purely natural disaster tetapi lebih pada "human-made disaster. Salah satu motivnya adalah persaingan ekonomi akibat meledaknya populasi manusia yang sudah 7 miliar dan akan menjadi 9,7 miliar pada tahun 2050 (beberapa sumber). Kompetisi bebas ini menyebabkan apa yg disebut Garreth Hardin (1968)sebagai tragedy of the commons. Bencana yang akan menimpah baik manusia baik, jahat, atau non manusia.
Hari hari terkahir ini kita saksikan kiamat mini semakin banyak. Sebanyak manusia yang kehilangan kebaikan dan sifat alami manusianya sebagai penjaga dan perawat kesetimbangan hidup. Hanya manusia yang bisa memikirkan ikhwal antisipatif dan emansipatif. Makluk lain tak ada punya. Ini juga salah satu pembeda manusia dengan non manusia. Kalau kita dengar term "manusia tanpa kemanusiaan", manusia tak manusiawi," atau mayat hidup itu adalah akibat faktual dari merosotnya peran manusia sebagai pelestari kebaikan dan selalu mengindarkan mara bahaya. Peran manusia kini digantikan oleh peran korporasi untuk seolah olah berbuat baik dab menjadi pelestari alam semesta dan dalam waktu bersamaan adalah menjadi panitia percepatan hari qiamat.
•Massage from your darkly future
Respon Fauzan A sandiah:
Alasan sederhana mengapa pembangungan dan pertumbuhan ekonomi itu nyaris tak signifikan di tengah krisis ril semacam kemiskinan serta kerusakan alam yang tak perlu jauh-jauh untuk ditunggu atau diobservasi. Uang, memberi nilai material-material tetapi tak pernah menjadi material itu sendiri. Itulah mengapa uang bisa menentukan nilai komoditas tetapi tak pernah bisa mengganti komoditas itu sendiri. Berapapun uang yang dimiliki, kalau tak ada yang menjual bagaimana bisa komoditas muncul?. Maka pertumbuhan ekonomi, tak dapat tunggal, dia harus mengajak kesejahteraan lain untuk duduk bersama, dan membuat sebuah kemungkinan. Terlampau optimis? cuma itu harapan yang membuat kita bangun pagi untuk membaca, menulis, berbagi sesuatu, berbuat sesuatu, dan memaknai kebersamaan yang manusiawi.
Saya jadi ingat kisah Tuan Keuner-nya Bertold Brech. Sebuah mini fiksi menarik soal optimis di tengah suasana yang begitu mencekam. Di mana sebuah bentuk "ketidakberdayaan" melayani fasisme dengan ramah dan berteriak "Merdeka" ketiak si fasisme akhirnya mati karena kemalasannya sendiri.
Secara matematis itu tak bisa menjelaskan YES or NO. Jadi kita perlu lagi memahamkan keadaan sejatinya apa yang membedakan manusia dengan non manusia.
Salah satu pembeda terbesar antara manusia dan manusia adalah bahwa non manusia itu 100% mengikuti kodrat sebagai " makluk" non-manusia yang setiap gerak atau diamnya itu tidak menimbulkan "kerusakan". Ini tentu perlu penjelasan. Konstruksi benda non-manusia itu merusak adalah karena diukur dari kebutuhan dan "order" manusia bukan kehendak kesetimbangan alam semesta. Diam dan geraknya non-manusia sejatinya tak dapat dialamatkan kesalahan padanya.
Non-manusia itu selalu memberi dan memberi tak pernah meminta apalagi merebut paksa. Sebaliknya, diamnya manusia itu dapat menimbulkan kerusakan, dan gerak nafsunya itu mengundang bencana besar baik bagi manusia dan atau bagi kelas non manusia. Inilah sebabnya silent majority itu sangat mengerikan.
Dari penjelasan ini kemudian kita bisa paham pasca bencana besar dentuman besar dan zaman ice age sebenarnya menurut beberapa ilmuwan sudah tak ada lagi peristiwa purely natural disaster tetapi lebih pada "human-made disaster. Salah satu motivnya adalah persaingan ekonomi akibat meledaknya populasi manusia yang sudah 7 miliar dan akan menjadi 9,7 miliar pada tahun 2050 (beberapa sumber). Kompetisi bebas ini menyebabkan apa yg disebut Garreth Hardin (1968)sebagai tragedy of the commons. Bencana yang akan menimpah baik manusia baik, jahat, atau non manusia.
Hari hari terkahir ini kita saksikan kiamat mini semakin banyak. Sebanyak manusia yang kehilangan kebaikan dan sifat alami manusianya sebagai penjaga dan perawat kesetimbangan hidup. Hanya manusia yang bisa memikirkan ikhwal antisipatif dan emansipatif. Makluk lain tak ada punya. Ini juga salah satu pembeda manusia dengan non manusia. Kalau kita dengar term "manusia tanpa kemanusiaan", manusia tak manusiawi," atau mayat hidup itu adalah akibat faktual dari merosotnya peran manusia sebagai pelestari kebaikan dan selalu mengindarkan mara bahaya. Peran manusia kini digantikan oleh peran korporasi untuk seolah olah berbuat baik dab menjadi pelestari alam semesta dan dalam waktu bersamaan adalah menjadi panitia percepatan hari qiamat.
•Massage from your darkly future
Respon Fauzan A sandiah:
Alasan sederhana mengapa pembangungan dan pertumbuhan ekonomi itu nyaris tak signifikan di tengah krisis ril semacam kemiskinan serta kerusakan alam yang tak perlu jauh-jauh untuk ditunggu atau diobservasi. Uang, memberi nilai material-material tetapi tak pernah menjadi material itu sendiri. Itulah mengapa uang bisa menentukan nilai komoditas tetapi tak pernah bisa mengganti komoditas itu sendiri. Berapapun uang yang dimiliki, kalau tak ada yang menjual bagaimana bisa komoditas muncul?. Maka pertumbuhan ekonomi, tak dapat tunggal, dia harus mengajak kesejahteraan lain untuk duduk bersama, dan membuat sebuah kemungkinan. Terlampau optimis? cuma itu harapan yang membuat kita bangun pagi untuk membaca, menulis, berbagi sesuatu, berbuat sesuatu, dan memaknai kebersamaan yang manusiawi.
Saya jadi ingat kisah Tuan Keuner-nya Bertold Brech. Sebuah mini fiksi menarik soal optimis di tengah suasana yang begitu mencekam. Di mana sebuah bentuk "ketidakberdayaan" melayani fasisme dengan ramah dan berteriak "Merdeka" ketiak si fasisme akhirnya mati karena kemalasannya sendiri.
Tuesday, October 27, 2015
5 Makna Daya-Tahan
Fauzan A Sandiah, Kurator RBK
kurang lebih tiga tahun yang lalu saat saya menemukan komunitas belajar (sekarang Rumah Baca Komunitas) saya berpikir tentang banyak hal. pertama, ini adalah sebuah pengalaman baru untuk belajar hal baru dari orang-orang di komunitas. Waktu itu saya mengenal Cak David dan Kak Wiek, dua makhluk tuhan ini berbaik hati membuka diri untuk berdiskusi banyak hal.
kurang lebih tiga tahun yang lalu saat saya menemukan komunitas belajar (sekarang Rumah Baca Komunitas) saya berpikir tentang banyak hal. pertama, ini adalah sebuah pengalaman baru untuk belajar hal baru dari orang-orang di komunitas. Waktu itu saya mengenal Cak David dan Kak Wiek, dua makhluk tuhan ini berbaik hati membuka diri untuk berdiskusi banyak hal.
saya hanya diam saja mendengar mereka bicara soal banyak hal. pelan-pelan saya belajar dari diskusi-diskusi itu. saya mulai berburu beberapa bahan bacaan baru, politik, sastra, filsafat, hingga soal komunitas. saya tidak sabaran dalam membiarkan kehausan belajar lama bersarang di dalam diri.
di kampus saya aktif dengan lintas organisasi kemahasiswaan, baik intra, atau otonom atau lintas kampus. di luar kampus juga pada awal-awal semester di S1 saya sempat menggagas komunitas belajar bersama beberapa teman. ternyata keasyikan membangun komunitas belajar itu menjadi kuat sewaktu bergabung dengan Cak David juga kak Wiek.
saya termasuk orang yang senang untuk membiarkan diri mencari makna hidup lewat pergaulan-pergaulan di jalan sunyi. bicara soal mimpi dan cita-cita, bergaul dengan kehidupan real. bergaul dengan manusia-manusia, dengan lingkungan. pergaulan itu membentuk daya-tahan bagi diri saya.
kedua, saya termasuk mahasiswa yang tidak memiliki apa-apa kecuali buku dan keinginan belajar yang mendorong saya terus-menerus. terkadang, berkorban jatah makan, untuk membeli buku itu sebuah kebahagiaan. menempuh perjalanan jauh dengan jalan kaki atau naik bis merupakan hal biasa bagi saya sejak sekolah dasar. maka sewaktu kuliah jika harus berjalan kaki itu soal biasa. not a big deal. saya terbiasa untuk tidak mengeluh.
sewaktu RBK masih di Onggobayan, terkadang saya harus merepotkan kawan-kawan untuk mengantarkan saya. kemudian sewaktu RBK pindah di Paris, lebih tertolong, saya bisa turun dari transjogja di depan museum perjuangan dan melanjutkan jalan kaki ke jl. parangtritis. ini tentu pekerjaan yang mudah. not a big deal.
selama tiga tahun menjadi pegiat di RBK, begitulah keasyikan yang saya alami. maka saya pikir makna daya-tahan bagi seorang pegiat itu:
1. daya-tahan itu selalu diuji, maka daya-tahan hidup seseorang selalu baru. kebaruan itu menciptakan energi positif bagi diri pribadi dan sesama.
2. daya-tahan itu berkaitan dengan "seni pengabaian". mengabaikan opini sosial yang melemahkan, mengabaikan keterbatasan fisik, mengabaikan hambatan, mengabaikan alasan-alasan yang melemahkan, mengabaikan yang harus diabaikan. go ahead.
3. daya-tahan itu murni muncul karena dorongan diri sendiri yang muncul karena dialektika dengan kehidupan. membaca buku, belajar dari berbagai macam orang, intinya belajar apa yang "real" sedang terjadi di dunia ini akan memunculkan daya-tahan.
4. daya-tahan itu mengharuskan kemampuan untuk melakukan. ide sebesar apapun harus mampu dilakukan. ide sekecil apapun yang dapat dilakukan akan membantu banyak hal. itu akan membangun sikap optimistik pada daya-tahan.
5. daya-tahan itu berkaitan dengan apresiasi kemenangan-kemenangan kecil. kemenangan bangun pagi, kemenangan menepati janji dengan orang, dan kemenangan kecil karena menyiram tanaman setiap hari, kemenangan telah berkata jujur. apresiasi terhadap kemenangan kecil akan menjadi sumber dari kebahagiaan yang maha besar, dalam Islam ini disebut bersyukur.
6. daya-tahan pribadi akan membantu menguatkan setiap orang dalam lingkungan komunitas. maka daya-tahan yang baik adalah yang apresiatif terhadap siapa saja. memperkuat kebersamaan, memperkuat kebahagiaan bagi sesama. sebaik-baik daya-tahan adalah yang memperkuat kemanusiaan.
sekian, selamat sore.
Tuesday, October 20, 2015
Dari Max Lane, Generasi Sekarang, dan Buku Kiri: Sedikit Jawaban Untuk Pertanyaan Papa
Oleh: Fauzan Anwar Sandiah
Lane dalam Unfinished Nation (2014) memberi sedikit inspirasi untuk membaca apa yang terjadi pada generasi manusia Indonesia pasca tahun 1990. Tesis utama Lane dalam bukunya tersebut memang membicarakan sebab-musabab kejatuhan Soeharto bukan oleh kontradiksi oligarki, atau semacam krisis Asia tahun 1997, melainkan apa yang disebut Lane dengan “Kepeloporan Politik”. Namun ada beberapa pembahasan dengan maksud reflektif, dan proyektif Lane memberikan beberapa inspirasi yang menarik. Misalnya seputar analisis mengapa ide-ide progresif kelompok massa yang meruntuhkan rezim Soeharto tidak berlanjut. Dan yang paling penting adalah membaca kondisi generasi sekarang sebagai kelanjutan dari proses historis yang panjang.
Konsep kepeloporan politik sempat beberapa kali menjadi perbincangan. Termasuk dalam massa Mahasiswa di kampus-kampus misalnya dalam demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Tetapi, konsep kepoleporan dan basis massa yang masif jarang terjadi. Amien Rais pernah menganalisis bahwa fenomena itu menunjukkan ketidakmampuan mahasiswa atau aktor intelektual untuk mengemas isu, dan yang paling utama adalah objektivikasi isu. Mahasiswa gagal menyadarkan masyarakat tentang proses-proses kapitalisme yang berjalan dalam kehidupan pasca reformasi. Lane juga tidak memungkiri hal tersebut, tetapi dengan nada optimis dia menyebut ini sebagai “Periode Baru Mobilisasi” (hlm.472).
Satu hal yang juga menarik, Lane menulis begini, “Saya sudah menjelaskan bahwa tak ada unsur-unsur yang tersisa dari aksi massa berideologi kiri 1900-1965, selain sentimen populis yang dicerminkan oleh kata rakyat dan Soekarno” (hlm. 489). Rezim Soeharto sudah berupaya mati-matian untuk menghapuskan kata “buruh” karena berkonotasi dengan perjuangan kelas dan menggantinya dengan “pekerja” atau “karyawan” serta menghapuskan ideologi dari percaturan diskursus. Hal itu bagi Lane menjadi jembatan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada hari ini. Termasuk apa yang terjadi pasca reformasi tahun 1998.
Satu hal yang jelas bahwa di era pasca reformasi, perilaku sewenang-wenang, pemiskinan, semakin kasat mata, dan dengan demikian tidak dibutuhkan alat bantu apapun untuk melihatnya. Tetapi mengapa populasi generasi muda tidak sadar dengan proses tersebut? atau mengapa justru generasi muda dengan tangan terbuka siap menjadi buruh dengan gaji berapapun asal bisa membeli gadget, menikmati liburan, dan seakan tanpa malu berfoto ria di kedai atau pusat perbelanjaan yang dibangun atas darah masyarakat lokal? Dan merasa telah berjuang bagi bangsa Indonesia karena demo menolak SPP naik atau karena melakukan kuliah kerja nyata di pedesaan, atau karena telah menjadi voluntir mengajar di daerah kumuh? Dan setelahnya kehabisan napas untuk berusaha kontemplatif?.
Generasi itu, generasi yang memuja komoditas olahan dan memuja “nilai tambah” barang daripada mempelajarinya atau memproteksinya sebab ekses masa depan yang menghancurkan. Maka kehadiran generasi muda lain yang sedang belajar untuk memahami realitas, mencoba upaya-upaya untuk diskusi, membaca buku, sebenarnya sedang menjalankan proyek yang paling tidak, sedikit mengerem kerusakan akut.
Anarkisme sangat kecil hidup dari generasi-generasi ini hanya karena mereka membaca buku kiri atau karena terlibat dalam aksi-aksi protes dengan petani rembang misalnya. Hanya karena tekun dengan Das Capital Karl Marx atau Anti-Duhrin Engels mereka tidak akan menjadi seorang anarkis, pemberontak, atau malas kuliah serta menolak menjadi karyawan. Lebih daripada itu, mereka menjadi generasi yang mencoba secara epistemologis menuju realitas melalui cara-cara yang variatif. Ide-ide tentang kesuksesan atau tentang kegagalan bagi generasi adalah soal hidup sebagai manusia, dan manusiawi.
Buku-buku itu bahkan mengantarkan mereka untuk membebaskan diri dari jerat pesimisme akut, dan memulai optimisme dari kehidupan-kehidupan kecil di sekitar mereka. Generasi itu terpanggil karena sekelompok ibu-ibu dipaksa kalah oleh penguasa. Beberapa mahasiswa yang menjadi pegiat di salah-satu rumah baca bahkan seringkalli saya temui berkelakar bahagia tentang mimpi membangun desa. Generasi itu belum membuktikan, tapi kita patut berharap.
Generasi itu beberapa ada yang senang ikut pengajian, aktif di organisasi keagamaan, dan hidup sebagaimana kehidupan formal publik dibentuk, mereka tentu saja masih senang berburu kuliner ke pelosok kidul atau lor kota. Sebagian menjadi dosen, karyawan, birokrat, pengajar, penjaga warnet, pengusaha, dan lain sebagainya. Sebab membaca buku-buku secara variatif, terbentuk kesadaran tentang transformasi sosial kecil-kecilan dan minim kontradiksi. Generasi itu tidak bersedih hanya karena kegiatan diskusi minim peserta, atau kejar-kejaran dengan tugas pokok.
Bagi generasi pembaca ini, kejadian di masa lalu adalah bagian dari sejarah, baik yang terjadi pada pihak kanan atau pihak kiri. Semua tidak dapat diacuhkan. Dengan membaca sejarah, mereka berusaha menemukan jalan keluar atas konflik-konflik di masa lalu. Dan mungkin saja menganalisisnya untuk kebutuhan di masa mendatang terkait dengan kegagalan dan harapan.
***
Pagi tadi lewat komentar di media sosial, Papa memberikan pertanyaan begini kepada saya: “Akhir-akhir ini buku literatur berbau pikiran komunis semakin merambak pasar dunia maya, apa ini sebagai indikator bangkitnya revolusi mental dan pikir era baru komunis di Indonesia? Entahlah kita tunggu gejala selanjutnya.”
Pertanyaan itu berkaitan dengan peningkatan jumlah penerbitan buku-buku tema “kiri” di Indonesia beberapa tahun terakhir. Buku-buku “kiri” itu termasuk naskah-naskah yang ditulis seputar penelitian sejarah, dan rekonstruksi teori-teori sosial. Beberapa tahun sebelumnya memang ada buku-buku yang dapat dikatakan sebagai kelanjutan kembali penerbitan buku-buku tersebut sama seperti sebelum tahun 1965. Naskah-naskah lain misalnya adalah terkait dengan objek-objek penelitian sengketa antara korporasi dan masyarakat. Bidang hukum, antropologi, dan sosiologi adalah beberapa bidang yang secara kritis membahas misalnya korporasi tambang versus masyarakat.
Memang cenderung sulit untuk memisahkan antara buku “kiri” dan buku dengan basis analisis kritis yang berpijak pada pertentangan kelas, intervensi ekonomi, dan kerusakan ekologi akibat ketidakmampuan fungsional korporasi. Sebagian kalangan memang memandang dua jenis buku tersebut terpisah. Beberapa kalangan mungkin akan senang hati membaca buku yang menggunakan analisis pertentangan kelas daripada membeli buku yang membahas ideologi kiri atau sejarah pemikiran tokoh Marxisme. Walau berbeda, dua buku tersebut sulit dipisahkan. Hal tersebut memang sudah wajar adanya. Bagi kelompok intelektual atau peneliti, buku pertama membantunya menganalisis realitas sosial menggunakan tesis radikal. Sedangkan buku kedua seringkali dianggap sebagai bahan bacaan saja.
Jenis buku lain, yang tidak masuk kategori “kiri” dan oleh penulisnya sendiri diingkari memuat bau Marxisme seringkali dianggap identik. Novel-novel karangan Pramoedya Ananta Toer misalnya akan digolongkan sebagai bacaan kategori kiri karena secara historis sang penulis berafiliasi dengan Lekra. Padahal sang penulis mengaku sama sekali tidak mengenal dan tidak akrab dengan teks-teks Marx. Bagaimana juga dengan buku-buku teori sosial baru semacam Giddens dan Bryan Turner?. Ide-ide komunal yang banyak bertebaran sekarang juga kerap dianggap dekat kategori kiri hanya karena diidentifikasi menyebut nama Marx, Lenin, atau Stalin, meskipun secara epistemologi sama sekali berlainan.
Berkaitan dengan soal generasi sekarang, merebaknya buku-buku kategori “kiri” mungkin dapat dimaknai sebagai rangka belajar. Generasi sekarang mau tidak mau tergugah hendak membaca buku-buku yang sebagian berkategori kiri sebab mereka kehilangan kontak dengan sejarah bangsanya sendiri. Dan era sekarang siapapun sekehendak hatinya dapat muncul di pasar perbukuan Indonesia. Misalnya kelompok penulis sastra relijius berbasis kelas menengah juga dapat menulis novel, atau kelompok penulis demokrat-liberal dengan hegemoni dunia perbukuan sejak tahun 1980-an. Meskipun kelompok penulis yang terakhir ini mulai kehilangan elanvitalnya sebab diskursus yang minim keberpihakan. Sedangkan kelompok pertama justru menemukan momentumnya seiring dengan gejala peningkatan kelas menengah.
Maka generasi sekarang pada beberapa sisi menyerap berbagai ide-ide yang nyaris sama tetapi berasal dari basis epistemologis berbeda. Misalnaya sebagian memaknai kata “berjuang untuk rakyat” melalui kegiatan berfoto bersama mbah-mbah yang membawa bakul di pasar. Sebagian memaknai kata “berjuang untuk rakyat” secara simbolis melalui kampanye kebebasan berpendapat. Sebagian yang lain memaknainya lewat kampanye-kampanye politik. sebagian yang lain menulis, membaca buku, belajar tekun, membangun bisnis, ikut rapat RT/RW, ikut kerja bakti, dan lain-lain. Generasi ini tidak akan anti dengan musik barat hanya karena mengagumi Marx atau Tan Malaka. Sebagian dari mereka tetap berkunjung ke rumah makan waralaba, dan berbahagia karena itu.
Generasi sekarang tengah menikmati proses belajar dari orang tua, filsafat, pemuka agama, ilmu pengetahuan, kejadian sehari-hari, dan buku. Sama seperti generasi-generasi sebelumnya. Hanya saja berbeda dalam dua hal, pertama, mereka berpotensi menjadi objek produksi atau konsumsi. Misalnya, secara politis generasi ini masih dianggap sebagai pelengkap primer kekuatan pemenang pemilu atau objek pasar produk, dan tentu saja sebagai objek yang diperjualbelikan. Kedua, sekuensi evolutif pada generasi sekarang sebagai proses yang alami dari perkembangan manusia.
Nyanyi Sunyi 50 Tahun Pasca 1965
Oleh: Fauzan Anwar Sandiah
Terlepas dari kontroversialnya data yang digunakan untuk menjelaskan peristiwa G-30-S, suatu urgensi lain mengemuka. Pasca runtuhnya rezim orde baru, hal apa yang seharusnya kembali dimaknai oleh rakyat Indonesia?. Hal itu yang mendorong saya dan kawan-kawan di Rumah Baca Komunitas untuk membicarakan tentang Gerakan 30 September sebagai dalih pembunuhan massal. Salah-satu alasan utama mengapa pembicaraan mengenai pembunuhan massal tidak dapat disepelekan ini berkaitan dengan proses rekonstruksi identitas kebangsaan. Meskipun begitu, suatu hal yang seringkali menguras tenaga adalah soal apakah dengan membahas pembunuhan massal 1965 seseorang termasuk dalam kategori Pro-PKI atau Anti-PKI (John Roosa, 2008).
Sebelum memulai pembicaraan yang reflektif, ada baiknya diungkapkan beberapa alasan mendasar mengapa penting untuk membahas peristiwa G-30-S. Alasan pertama, G-30-S bukan satu-satunya sejarah pemberontakan di Indonesia. Konteks historis mengenai perpolitikan di Indonesia menyatakan bahwa G-30-S bukan suatu peristiwa politik tunggal. Alasan kedua, ketika membahas mengenai G-30-S tidak serta merta menunjukkan posisi politis dan ideologis. Kajian yang melatarbelakang G-30-S digerakkan oleh sebuah pencarian identitas bangsa. Persis pada momen ini, kajian yang jujur terhadap G-30-S, meskipun tidak merupakan satu-satunya topik, tetapi menjadi salah-satu tangga penting untuk merekonstruksi identitas baru. Alasan ketiga, secara umum, model otoritarian yang laten dimiliki oleh PKI tidak dapat diterima menurut pertimbangan rasional, tetapi itu tidak serta menjadi dalih untuk membenarkan proses pembunuhan massal. Alasan keempat, generasi baru Indonesia, yang telah tercerabut dari sejarah bangsanya sendiri, penting untuk mengetahui tentang kebenaran tak tunggal dari informasi historis mengenai G-30-S.
Alasan kelima, sebagai sesuatu yang tidak kurang penting adalah mengetahui motif ekonomi politik di balik peristiwa pembunuhan massal. Dalih kudeta dan peristiwa misterius di balik kematian Dewan Jenderal apakah dapat diterima sembari kontroversi terhadap data baik di persidangan Mahmilub tahun 1970an atau dokumen sejarah Indonesia tidak dapat dijelaskan?. Lima alasan ini tidak berkaitan sama sekali dengan sikap politik atau ideologis untuk Pro-PKI atau Anti-PKI. Tetapi sebagai cara generasi baru untuk berdialog dengan sejarah bangsanya sendiri. Tentu saja, perkembangan diskursus, dan transformasi sosial tertentu telah menciptakan suatu ruang dialektika yang berbeda.
Menyanyi Sunyi Kembali?
Harapan bagi bangsa yang jujur dengan sejarahnya sendiri adalah kemampuannya dalam menciptakan kemungkinan terbaik bagi kemanusiaan. Pasca pembungkaman terhadap narasi sejarah misalnya diikuti oleh kontrol politik terhadap ruang dialektika, seperti pelarangan penerbitan buku Marxisme yang tetap bertahan hingga keruntuhan orde baru. Kematian petani yang mempertahankan tanahnya, perlakuan militer yang melangkahi batas kemanusiaan serta reproduksi kebencian terhadap kelompok marjinal apakah sebuah bentuk orkestra sunyi yang hendak dipertunjukkan kembali?. Terdapat lima topik yang berkembang selama kami berdiskusi di RBK dalam rangka merefleksikan pertanyaan itu.
Pertama, soal historiografi Indonesia. Topik diskusi yang pertama ini lebih banyak berkaitan dengan konteks bagaimana literatur sejarah Indonesia versi rezim membentuk kesadaran tertentu mengenai apa yang sebenarnya disebut sebagai “masyarakat baik” dan “masyarakat buruk”. Separasi antara dua kategori masyarakat ini banyak berasal dari bagaimana narasi sejarah membentuk kesadaran seorang warga negara dalam proses peleburan identitas diri dengan narasi sejarah. Apa yang terjadi hari ini merefleksikan bagaimana masyarakat memaknai sejarah yang melatarbelakangi proses kehidupan masyarakat lampau.
Kedua, soal menggali kembali nilai-nilai dan identitas bangsa. Topik ini sebenarnya banyak berkembang dari tesis besar Max Lane bahwa proses pembentukan identitas bangsa Indonesia belum selesai (Max Lane, 2014). Proses pembentukan Indonesia sebagai sebuah bangsa tidak dimonopoli oleh satu pihak. Proses pembentukan Indonesia dilakukan oleh aksi massa yang dilatarbelakangi oleh sikap antikolonialisme. Partisipasi rakyat di dalam proses pembentukan bangsa merupakan informasi sejarah yang tidak dapat diabaikan.
Ketiga, mempertanyakan secara kritis proses pembentukan identitas bangsa yang berubah sejak tahun 1965. Menurut Roosa, salah-satu hal penting yang tidak dapat dilupakan dari peristwa 1965 adalah pergeseran identitas bangsa. Roosa menyatakan sebelum tahun 1965, identitas bangsa Indonesia banyak dibentuk oleh sikap antikolonialisme. Bersamaan dengan itu, sikap anti neoliberalisme ekonomi menguat, dan pergerakan mendukung land reform di Indonesia berjalan massif. Peristiwa 1965, secara taktis dan misterius menjadi jalan untuk melenyapkan sikap anti neoliberalisme dalam kebijakan ekonomi serta proses gerakan land reform.
Keempat, mendorong ekonomi politik berkelanjutan sebagai tanggungjawab historis. Lenyapnya sikap anti neoliberalisme dalam diskursus ekonomi politik di Indonesia membawa dampak buruk tidak saja bagi perubahan struktur sosial. Melainkan juga membawa dampak langsung terhadap kerusakan alam. Industrialisasi yang telah merusak kualitas ekologis beberapa tempat Indonesia telah menjadi jembatan untuk mengawali eksploitasi kekayaan ekologis Indonesia di Papua. Hal ini disebabkan oleh sifat eksploitatif industri yang memandang alam sebagai instrumen pemenuhan kebutuhan manusia ekonomi.
Kelima, mencari model perdamaian partisipatoris. Rekonsiliasi adalah simbol dari kejujuran dalam menimbang masa depan bangsa. Rekonsiliasi merupakan salah-satu tangga untuk membuka kesempatan berbagai orang untuk mendeskripsikan dirinya secara bebas, adil, dan merdeka. Meskipun bukan satu-satunya persoalan kekerasan yang harus segera ditangani, rekonsiliasi terhadap korban 1965 akan mengubah cara pandang Indonesia terhadap masa depannya. Tentu saja ini tidak berurusan dengan soal “mari lupakan masa lalu, kita menatap masa depan saja”. Melainkan berurusan dengan, kenyataan bahwa proses kekerasan yang terjadi hari ini direproduksi terus-menerus melalui suatu kebencian terhadap label “komunis” atau “pemberontak”. Apakah dengan mengatakan “lupakan kekhilafan rezim masa lalu” dengan serta merta menutup mata bagaimana rakyat kecil menjadi tersangka atas proses penuntutan haknya sendiri?.
*Tulisan ini merupakan rangkuman Diskusi Jum’at Sore (DeJure) Rumah Baca Komunitas tanggal 2 Oktober 2015.
Orang-Orang mercusuar
Oleh: Fauzan Anwar Sandiah, Pegiat RBK
Seperti berteriak di atas mercusuar atau di sudut pasar. Di temani beberapa merpati yang melembut di cakrawala, atau di temani beberapa pendengar setia. Sudamardji menengok di sekelilingnya. Beberapa temannya sudah merantau ke kota. Sudarmadji tahu, melebihi segala yang diketahui oleh perangkat desa di tempatnya membesar—dan mungkin sebentar lagi dia akan dipaksa membusuk. Mereka pergi bukan karena ingin menguji kerasnya kota, melainkan kerasnya tanah di desa tak sanggup untuk air setetes. Sekeras-kerasnya kota, tanah desa yang membatu adalah kepedihan.
Sudarmadji tak bisa lagi berharap bak seorang pengkhotbah di mercusuar. Kawan-kawannya, si Ismail, Yono, dan Faisal berikrar untuk turun gunung. “Jangan kau cegah tekat bulat kami Dji. Pak Yos sudah ikut rapat bareng orang-orang kota itu. Sebentar lagi desa kita cuma sejarah, yang penting jangan lupa untuk cerita ke anak-cucu kita.” Si Faisal menjelaskan.
Matahari sejak pagi dan siang merambat sangat cepat. Panasnya membakar kulit cokelat Sudarmadji. Di antara tanah kering dia mencoba peruntungan. Menanam jagung dan Ubi. Ikhtiar yang sama dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya. Bantuan air dari pemerintah daerah tiga bulan lalu tak memecahkan persoalan. Itu hanya menghambat tanah meretak di desanya. Ketakutan meracuni pikirannya. Sudarmadji sebenarnya memiliki seorang sahabat bernama Kartubi. Pemuda itu, seorang lulusan SD yang dikenalnya sejak dulu berkoar-koar kepada kepada dukuh untuk menghalangi sebuah pabrik di dekat muara sungai desa.
Kartubi, seorang pemuda pendiam, tak banyak bicara. Bahkan dalam teriakannya pun hanya sayup dan kerongkongan tipis. Kepada para pemuda, termasuk Sudarmadji, Kartubi berulangkali berkata “kalau ada pabrik dekat sungai, nanti airnya jadi kotor”. Sudarmadji mengakui kesimpulan Kartubi saat itu, akan tetapi sembari mengajukan satu pertanyaan. “Ya, tapi mo gimana lagi Kar. Kamu ngak liat di TV kalo menurut seorang peneliti bahaya limbah pabrik itu ngak seberapa?”. Sudarmadji ingat betul saat itu Kartubi terdiam. Sorot matanya tajam menatap sawah di depan jalan. Dia tak mampu berkata. Mungkin saja dia merasa tak mampu menjawab perkataan si peneliti itu. Batin Sudarmadji. Toh, nyali Kartubi sudah menciut saat dirinya dituduh memberontak, seorang komunis hanya karena bicara soal sungai yang akan kotor.
Seolah-olah perangai baik Kartubi tak berkuasa di atas semua tuduhan itu. Seketika ada kelupaan kepada sang muadzin sekaligus imam sholat shubuh itu. Sudarmadji mengenang Kartubi sekali lagi. Ingatannya juga mengenang sahabatnya yang merantau ke kota. Dia merasa tengah berteriak di atas mercusuar. Hanya ditemani beberapa orang yang sekarang pergi. Dan burung yang tak mungkin ada. Serta air yang lupa pada warna beningnya. Kami seperti lelahnya teriakan orang-orang mercusuar.
Mereka Yang Berkesadaran; “Orang Lain adalah Neraka”
Oleh: Fauzan Anwar Sandiah
Bung Hatta waktu itu sudah bilang baik-baik. “Jepang dengan perantaraan Marsekal Terauchi di Dalat telah mengakui kemerdekaan Indonesia yang pelaksanaannya akan diselenggarakan oleh Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia besok pagi jam 10 di Pejambon”. Para pemuda yang terdiri dari Soebadio Sastrosatomo dan Soebianto tetap kekeuh. “Di saat revolusi, kami rupanya tidak dapat membawa Bung ikut serta. Bung tidak revolusioner” mereka berkata dengan kecewa. Dua pemuda itu berharap Bung Hatta dan Soekarno menyegerakan deklarasi kemerdekaan.
Cerita tentang dua pemuda itu mengingatkan saya tentang apa yang kita temukan hari ini dalam proses transformasi sosial. Pertama, soal apa yang disebut sebagai “revolusioner” dan apa yang bukan. Kedua, adalah soal bagaimana di saat-saat tertentu transformasi sosial tidak selalu mengemuka dalam bentuk “kesegeraan”. Ketiga, soal kealpaan terhadap apa yang disebut sebagai bersikap menghadapi realitas. Keempat, soal pentingnya membuka ruang bicara, yang diiringi oleh sebuah sikap reflektif. Tantangan keempat ini menurut saya adalah yang paling sulit.
Kutipan dialog di atas bersumber dari catatan Hatta yang ditulisnya menjelang akhir hidup. Sepanjang yang saya ketahui, Hatta adalah seorang penulis yang jujur. Dia adalah representasi seorang intelektual, filsuf, dan semacam pemikir yang terhubung secara rasional dengan tindakan. Hatta tidak pernah segan-segan menguji sendiri pemikirannya ketika berhadapan dengan siapapun. Saya kira sikap reflektif seorang intelektual seperti itu merupakan catatan penting untuk menjawab tantangan terhadap proses transformasi sosial nomor keempat yang saya nyatakan di atas. Sekaligus memungkinkan penemuan sebuah jawaban terhadap tantangan nomor satu hingga nomor tiga.
Hatta adalah seorang intelektual yang tidak pernah merasa dirinya adalah aktor yang paling “berkesadaran”. Analisanya murni dari sebuah perpaduan antara tindakan dan pemikiran, serta sebuah kesibukan untuk terus-menerus menelaah secara kritis tesis-tesis yang dikembangkannya. Sewaktu para pemuda menyatakan “Bung tidak revolusioner”, Hatta sama sekali tidak terpengaruh. Dia hanya tersenyum dan berkata “tindakan yang akan engkau adakan itu adalah Putsch, seperti yang dilakukan oleh Hitler di Munchen tahun 1923”. Tentu saja respon Hatta menyulut marah dan kekhawatiran bagi Pemuda. Di balik kemarahan pemuda, Hatta masih menyimpan ruang diskusi.
Diajaknya Soekarno, Subardjo, dan Boentaran yang sedang berkumpul di rumah Soekarno untuk membicarakan kehendak pemuda. Apalagi Wikana yang mewakili pemuda, beberapa menit yang lalu sempat memberikan gertakan kepada Soekarno. “Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan itu malam ini juga, besok pagi akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah” gertak Wikana. Tanpa takut Soekarno menimpali “Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu besok”. Wikana menurut catatan Hatta, terperanjat. Wikana meminta maaf dan menyatakan maksud yang lain. “bukan Bung yang saya maksud”.
Tidak sekali itu saja Hatta dihadapkan pada kondisi dicap “tidak revolusioner”. Salah-satu yang cukup terkenal terjadi antara Hatta dan Tan Ling Djie. Tanpa bermaksud untuk mengetengahkan posisi benar-tidak antara kedua orang tersebut, kita dapat mengambil salah-satu makna penting. Hatta adalah seorang yang mengaku bahwa dia “harus tahu diri” soal teori Marxisme. Meskipun itu sama sekali tidak menggambarkan bahwa Hatta benar-benar tidak mengerti soal teori Marxisme. Lebih daripada itu, Hatta adalah seorang pembaca Marxisme yang kritis dan disiplin. Kritis, sebab Hatta mampu memelihara sikap kritisnya di tengah kekagumannya terhadap Marx. Disiplin, sebab Hatta mampu jernih mendialektikan diri dengan Marxisme. Misalnya saat perdebatan dengan Tan Ling Djie, Hatta memberi keterangan soal Marxisme dengan jernih. Dalam proses perdebatan itu Hatta dalam sebuah karangan panjang berjudul Ajaran Marx atau Kepintaran Murid Membeo begitu jujur memahami keterbatasan-keterbatasannya.
Menjadi Superior
Kalau belajar jujur, disiplin, dan kritis seperti Hatta cukup sulit, minimal menjadi seseorang yang tidak berniat mendominasi. Pelajaran penting dari Hatta adalah soal menyadari bahwa antara tiap subjek tidak dapat saling menegasikan. Ilmu pengetahuan memang penting, tetapi menyadari bahwa manusia sebagai subjek yang mengenali memiliki peran dari sebuah narasi sejarah juga tak kalah penting.
Beberapa waktu yang lalu saat mendengar seorang aktivis mempresentasikan jalan politiknya, saya menangkap kesan superioritas. Saya kira, Alm Mansour Fakih cs tak pernah merasa begitu “berkesadaran” saat melakukan aktivitas penggorgansasian massa. Begitu juga dengan Hatta, sama sekali tak tersiratkan sebuah kekuasan yang berasal dari perasaan “merasa sadar”.
Pekerjaan menggorganisir bukan pekerjaan kekuasaan, itu semacam pengambilan dan pembagian peran. Tetapi tidak berarti antara tiap subjek yang mengambil peran merasa paling berkuasa atas “kesadaran” dari yang liyan. Di dalam konteks gerakan sosial saat ini, salah-satu tantangan yang muncul adalah demistifikasi agen. Di sadari atau tidak ini bagian dari sebuah pertanyaan Derrida soal keadilan dan hukum yang melampaui sebuah konteks waktu. Di mana, tiap perjuangan haruslah pada suatu waktu diuji apakah ia sebagai sebuah perjuangan berdiri di atas semua ruh masa lalu atau masa depan. Demistifikasi agen di dalam kerangka sosial merupakan suatu penunjuk bahwa sesungguhnya transformasi sosial tidak dibangun atas peran mereka yang merasa “berkesadaran”. Di dalamnya terdapat logika atau moral sosiologis dari tiap struktur sosial yang juga turut mengambil perannya masing-masing.
Demistifikasi agen sebenarnya merupakan suatu kritik yang alami muncul dari transformasi struktur sosial yang kian kompleks. Di mana, pertautan ideologi dalam kehidupan sehari-hari menjadi kian menipis, dan pembelaan terhadap eksistensi pertautan itu sendiri diisolasi ke dalam kerangka moral antropologis. Maka sudah menjadi wajar jika agen dalam transformasi sosial dipandang sebagai yang “terlalu berkesadaran” sehingga nampak tak menyatu dengan basis struktur sosial manapun. Hal ini memang dapat diperdebatkan sejauh asumsi mengenai pertautan antara tiap ideologi berbaur dalam berbagai setting politik ekonomi.
Maka wajar saja seorang teman yang juga merupakan seorang pegiat suatu komunitas berkomentar, “Mas, kok nampak rumit sekali ya proses transformasi sosialnya?”. Saya kira, pertanyaan itu tidak sesederhana bahwa subjek bertanya tak mampu mencapai posisi “berkesadaran”. Melainkan bahwa “berkesadaran” telah menjadi dawai yang mengatur ritme serta dan kekuasaan si agen terhadap subjek yang lain. Masalah di sini, dalam proses transformasi sosial pengertian tentang agen banyak didominasi secara sepihak sebagai “intelektual”, atau “cendekia” bukan lagi “aksi massa”.
Pergeseran bahwa si “berkesadaran” sebagai cendekia merupakan suatu proses yang telah menghapus “aksi massa” dari perbendaharaan aktivisme sekarang ini. “Aksi massa” dipandang sebagai konsekuensi logis dari kehadiran agen. Dan sebagai sebuah manifestasi kolektif atas eksistensi kesadaran agen. Melalui Hatta saya tidak menangkap suatu identitas superior atas apa yang disebut “kesadaran”. Meskipun sekarang, masing-masing agen atau gerakan sosial merasa berhak menjadi “payung” aktivisme gerakan sosial melalui pendakuan identitas di belakang gerakan seperti tambahan “Indonesia” dalam sintagma nama. Seakan-akan mereka yang “berkesadaran” adalah sebuah tangga penting untuk melepaskan neraka dari yang liyan. Mungkin, “Orang lain adalah neraka”, yang tak pernah mengerti jika tak dijelaskan, yang berdosa karena “bodoh”, atau yang tak terselamatkan.
Pelaku Pelaku Pandora
Oleh: Fauzan Anwar Sandiah
Pemeritah yang akhir-akhir ini banyak menyerukan mulai terdengar kosong. Kalau itu ibarat sirup merah, mungkin hanya ginju. “Agar kita tidak membosankan, selain banyak bicara, bekerja juga harus bisa.” Begitu kata si Kasmir kepada Bonijan karena kesal dengan seruan pemerintah untuk “menjaga lingkungan” di koran. Kasmir, pria tua yang sehari-hari senang melucu dan bahagia. Pakaiannya hanya tiga pasang; satu untuk keperluan sholat, satu untuk keperluan ke sawah—yang juga merangkap pakaian sehari-hari, dan satunya lagi sebuah kaos pemberian kawannya. Tiga-tiganya sebenarnya tak berbeda. Baju keperluan sholat adalah koko yang diperolehnya dari hadiah seorang sanak yang kebetulan berkunjung sekitar dua tahun lalu. Warna sebenarnya putih polos, tetapi belakangan ini sedikit krem.
Kasmir bukan pria tua yang miskin. Dia sebenarnya punya sedikit tanah, sebenarnya “banyak” kalau tak dirampas untuk keperluan area latihan militer. Musababnya pun dia tak ingat, waktu itu dia cuma dibilang “ini tanah sejak zaman dulu udah dipake untuk kamp tentara pak” oleh seorang anak muda berbadan tegap. Dia tak tahu menahu tentang kemiliteran. Apa pangkatnya, kontribusinya, serta mengapa mereka penting. Dia sama sekali tak tahu. Sepanjang yang dia tahu, militer mengambil tanahnya yang indah mencium ombak karena nyaris tepat di pesisir pantai.
Pasca pengambilan tanah itu, kehidupan Kasmir biasa saja. Meskipun ada perasaan ganjil dalam hati. Coba kalau Salim masih hidup, tentu dia bisa jadi teman curhat pikirnya. Salim, teman Kasmir tiga bulan lalu ke Jakarta bersama rekan-rekan yang lain. Mereka mengadu soal tanah yang dirampas untuk keperluan tambang. Salim adalah warga desa sebelah yang konon menyimpan kekayaan tambang di dasar bumi. Mengingat Salim, air mata Kasmir menetes. Diri periangnya tiba-tiba melankolis. “Oh Salim, coba para preman itu ngak bunuh dirimu. Kowe kuwi orang biasa wae kok dipateni” desah Kasmir. Bonijan yang sedari tadi menemai Kasmir minum kopi melihat air mata menetes dari Kasmir. Rasanya, Bonijan ingin terkekeh, sebab muka Kasmir sama sekali tak pantas untuk air mata. Wajah kotaknya lebih mirip seorang berhati keras.
Salim sebulan yang lalu meregang nyawanya. Si Topik sama Polim, dua preman desa menggebukinya sampai mati. Kasmir tak tahu kenapa dua preman itu bisa demikian kejam. “Wong karo wong kok iso main bunuh-bunuhan, koyok rak bakal mati wae” Lagi-lagi batinnya bergejolak tanya. Bonijan yang tak sabar menunggu Kasmir kelamaan merenung dan bersedih ikut angkat bicara.
“Pak, sebenarnya ini ada masalah apa?”. Kasmir menata Bonijan, pikirannya justru makin melayang pada suatu masa depan yang tak akan indah untuk anak muda seperti Bonijan. Dia berpikir sejenak, meskipun dia bingung akan bicara pesimis atau optimis.
“Ya, nanti juga kamu bakalan sadar, saya sendiri belum tahu ini rasanya gimana”. Kasmir, meneguk kopinya sedikit. Meski panas tak lagi bertuah di air. Kasmir benar-benar seorang tua yang tidak banyak tahu harus bilang apa jika ditanya. Satu-satunya yang disadarinya adalah bahwa, setelah si Salim wafat, beberapa tanah tiba-tiba sudah dipalang oleh tentaran. Anak-anak muda itu, yang berpakai loreng dan bertatap arogan tak mampu dilawannya.
Dia mengingat waktu seorang anak muda berpakaian loreng hijau itu mencoba menggertaknya, “kalau bapak macam-macam kita ngak segan-segan. Ini soal pertahanan negara pak. Negara sekarang sedang gawat.” Kasmir saat itu mengkerutkan dahinya. Entah harus bangga patriotis atau melemah meringgis. Itu tanahnya, kalau untuk kebutuhan negara, mengapa tidak minta baik-baik?. Lagipula, Kasmir tak tahu apa itu negara, yang dia mengerti bahwa ada seseorang yang disebut sebagai presiden, nah dia itu kepala Negara. Selebihnya dia tak merasakan efeknya.
Waktu dia nyaris mati karena terserang DBD, dia hanya minta tolong ke Mira seorang anak tetangga untuk memanggilkan mantri. Dia sulit menentukan mana yang telah menolongnya di masa gawat itu. Mira, atau Negara. Dia tambah bingung. Bonijan menunggu Kasmir lagi. Dan malam yang kian gerah itu seperti menjadi saksi kerumitan. Sebuah pandora yang tak jelas pelakunya.
Bonijan, “Pak, gimana pak?”. Kasmir bingung lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tulisan Terbaru
Populer
-
”Gerakan Membaca” merupakan suatu gerakan yang harus dipelopori oleh siapa saja dan lebih dari itu, sebagai visi pencerdasan bangsa maka ...
-
Oleh : David Efendi Direktur Rumah Baca Komunitas Anak-anak adalah manusia masa depan, Jika hari ini kutularkan virus mencintai kupu-...
Hamka For RBK
Sjahrir For RBK
