Showing posts with label pojok angkringan RBK. Show all posts
Showing posts with label pojok angkringan RBK. Show all posts

Saturday, February 6, 2016

Podjok Literasi

Pencarian Kebenaran

Lutfi Z Anwar, Pegiat Podjok Batja

Setiap konflik sosial punya akar dan musabab yang rumit. Silang sengkarut. Tapi kita beruntung karena selalu akan ada orang yang mau terjun ke lapangan melakukan penelitian mencari jawab dari informasi yang simpang siur. Setidaknya sanggup membongkar dan menstrukturkan, sehingga kita bisa mengenali pohon persoalan. Makin jelas mana yang akar, batang, dahan, dan ranting. Kadang-kadang warna daunnya pun bisa kita kenali. 
Konflik kemanusiaan di Sampang adalah isyarat bagi orang-orang yang mau berpikir. Apakah benar konflik yang terjadi di sana adalah murni bentrokan/konflik yang terjadi antara penganut Syiah dan Sunny? Apakah memang benar keyakinan terhadap perbedaan mahzab menyebabkan pengusiran warga syiah dari Sampang Madura? 
Pertama, setiap ada konflik yang melibatkan atau menggunakan simbol-simbol agama dan mengenai umat beragama, hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa setiap konflik (dan, sebetulnya, setiap peristiwa sosial) tidak pernah memiliki hanya satu sebab tunggal. Dan sialnya, tidak banyak perubahan di kepala kita yang mudah sekali mendakwa dan menyetempel 'Islam radikal', 'kolot", ketinggalan jaman", 'konflik agama', dll. Maka model solusinya selalu serupa: dialog keagamaan dan antar-iman. Daun persoalan yang dipangkasi. Padahal jauh daun dari akar.
Abdullah Zed Munabari melalui penelitian lapangan di Sampang Madura banyak menemukan fakta bahwa konflik kemanusiaan yang terjadi di sana tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal agama, bukan soal perbedaan tafsir dan ideologi. Namun diwarnai pula soal rebutan kekuasaan antar aktor-aktor lokal, adu kepentingan maupun rebutan jatah kue ekonomi yang menggiurkan. 
Dalam diskusi pagi itu Abdullah tak memberikan jawaban final dan pasti penyebab konflik. Lewat analisisnya pengaruh trikotomi kekuasaan negara, kyai, dan blater ia memberikan alternatif dalam memandang konflik di sampang. Mengajak kita memperluas cara pandang. Abdullah, lewat uraiannya yang cemerlang berhasil merangsang untuk mencari. Bukankah diskusi yang baik seharusnya begitu, tak berpretensi memberi jawab final namun merangsang untuk mencari, mempelajari. Sebab memang tak mungkin satu penelitian mampu menjawab persoalan dengan tuntas. Apalagi konflik yang selalu melibatkan banyak faktor dan begitu kompleks.
Tiga kali saya mendengar penelitiannya tentang konflik Syaih di Sampang, pertama di Podjok Batja, kedua di Rumah Baca Komunitas, ketiga di Taman Baca Mahanani. Penelitian yang melibatkan manusia, persoalan kemanusiaan selalu memiliki daya tarik tersendiri. Terlebih Abdullah memiliki kemampuan analisis tajam yang membuat saya tertarik untuk mencari tahu lebih jauh dan membaca buku-buku tentang konflik dan kekerasan.
Sore tadi saya berkunjung ke taman baca masyarakat Daar el Fikr Gelaran Jambu yang diasuh A Iwan Kapit. Di rak buku yang berderet di situ saya menemukan buku Orang-Orang Kalah yang disunting Roem Topatimasang. Buku yang memotret konflik yang terjadi di Maluku. Saya teringat uraian Abdullah tentang kompleksitas konflik di Sampang, berbagai macam faktor dan aktor yang terlibat. 
Di buku itu P.M Laksono di pengantarnya menyebutkan bahwa konflik di Maluku bukan sebatas konflik agama, tetapi konflik yang memiliki latar belakang sejarah panjang. Digambarkan di buku itu orang-orang Maluku adalah orang-orang yang kalah. Orang-orang yang menjadi korban tombak bermata tiga yang ditusukkan oleh duet pemodal dan kekuasaan politik. Antara lain ia menyebut pada tahun 1991 dalam rangka proyek pemukiman kembali suku terasing oleh Departemen sosial, dipindahkan ke Alakamat sekitar 23,5 kilometer dari Sekenima. Tujuan pemindahan itu "mulia" agar anak-anak orang Huahulu dapat bersekolah, memudahkan penyuluhan, dan pembinaan agar hidup mereka tidak "asing" dan lebih "maju". Sementara itu di Sekenima telah masuk bulldozer dan chainshaw milik PT Barata Jaya, pemegang konsensi Hak Pengusahaan Hutan di wilayah itu. Hubungan dengan perusahaan ini digambarkan oleh dua orang pemuka adat dengan memilukan. "Dulu perusahaan datang mengajak kami buka hutan untuk bikin kebun. Kami percaya saja, lagipula mereka punya alat-alat yang bisa bantu kita kerja cepat potong kayu. Ternyata itu cuma tipu, karena setelah itu kami malah dilarang bikin kebun di tempat bekas penebangan." 
Saya tertarik ingin membacanya dan memutuskan meminjamnya untuk dibaca di rumah. Begitulah saya merasa beruntung bertemu, kenalan, dan berteman orang-orang seperti itu. Mereka mengantarkan saya pada petualangan-petualangan baru yang mengasyikkan. Memasuki labirin pengetahuan yang tak pernah tahu di mana ujung dan pangkalnya.

Tuesday, November 24, 2015

Salam Sunan Drajat untuk Sunan Kalibedog

Oleh: DE

Julukan asik yang dilahirkan dan dirawat di rumah baca komunitas oleh para pegiatnya. Asal muasalnya adalah dari praktik kesunyian yang dilakoni penghuninnya. Saya rasakan, beberapa anak muda RBK ini seperti menjalani pertapaan di awal periode RBK kalibedog. Rumah kontrakan besar, tapi Sepi dan sunyi. Cocok untuk olah kanoragan atau belajar ilmu hitam. Tapi sayang, bukan itu yang ditekuni para pemuda ini.

Dari sejumlah pegiatnya, Ada manusia yang dipanggil kurator RBK itu menekuni dunia buku sebagai pencarian pengetahuan dan kebijaksanaan. Sehari hari buku menjadi teman dan anak asuh. Dalam kesunyian dan dingin yang menyusup, que sera sera: manungguling ilmu pengetahuan lan gusti (sunan kalibedog).

Kembali ke julukan sunan kalibedog. Ada dua makna yang dapat dipahami dari penamaan tersebut. Pertama, upaya untuk membangun ingatan dan kesadaran bahwa bergiat di jalan sunyi gerakan literasi adalah perjuangan hikmah: bukan mencari penghargaan, pujian, dan materi. Hal ini juga menjadi prinsip, bahwa merawat kebaikan sebagai kekuatan spiritual yang jangka panjang. Merawat kebaikan itu penuh derita kadangkala, tapi secara spiritual itu sangat menguatkan mental.

Kedua, pelekatan bana ini sebgai upaya mempertautkan kedirian dengan kalibedog sebagai sungai kehidupan. Ini juga yang dapat memperkuat gerakan ekoliterasi untuk menjaga alam.

Dengan pemaknaan ini, tentu saja suatu pekerjaan besar untuk terus melakukan antisipasi dari dampak degradasi ekosistem yang makin parah. Semoga para sunan diberkahi dan rahayu selalu.
Salam dari lamongan

Bumi Sunan Derajat.

Orang-Orang Bekerja Tanpa Sumpah

Oleh: David Efendi

Lahirnya tulisan ini hendak Merespon tulisan reflektif arya dan teman-teman kemarin yang baru aku bacai dini hari tadi. Yapszzz, refleksi singkat padat itu mengingatkan saya tentang buku robert Putnam "making democracy works..." Ihwal bagaimana kelompok voluntary association berkontribusi besar terhadap bekerjanya demokrasi di Amerika pada umumnya dan di beberapa negara lainnya. Kekuatan sukarela juga dianggap membersarkan jepang sampai menjadi negara maju.

Jepang punya keajaiban berkali kali termasuk saat hadapi dual disaster 2011 (tsunami dan nuklir).
Orang melihat jepang seringkali dari aspek teknologi dan kemajuan industri otomotif, tapi lupa membaca infrastuktur kebudayaan dan tradisinya. Membaca jepang lewat novel Mushasi, Twilight Samurai, dll adalah jalan mengerti jagad besar jepang. Saya membaca The Japan Miracle ihwal kekuatan ekonomi jepang yang dibalut kekuatan sosial dan tradisi. Jepang punya hasrat dan praktik kerelaan yang dahsyat.

Kelompok paguyuban yang kecil kecik tapi jumlahnya besar itu betul betul bekerja (its really matter) di mn kelompok ini menjadikan negara tidak mnjadi pelampiasan kemarahan publik karena komunitas telah berusaha memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Pecinta bowling, misalnya, mendapat ruang publik baru di arena bowling dan tak menuntut negara harus begini harus begitu. Masyarakat tidak dibuat tergantung kepada kekuasaan negara, pada program charity pemerintah.
Contoh lain dipaparkan Boyte dalam bukunya everyday politics| connecting citizen...bagaimana orang sipil berkelompok untuk memenuhi keinginannya dan yappss itu bisa dikakukan. Dengan demikian, negara harus kreatif memberikan sesuatu yang berdampak. Negara tak perlu banyak mengatur mungkin negara bisa mendorong, memfasilitasi, menguatkan peran kebaikan publik.

Sepuluh tahun terakhir ada upaya standarisaai pekerja sosial di muka bumi, termasuk di indonesia. Ada syarat kecakapan tertentu sehingga seorang layak disebut pekerja sosial. Tapi itu tak banyak berpengaruh pada "pekerja sosial" dilevel atau aras lain. Banyak kelompok atau individu "pembaharu sosial" atau abdi masyarakat yang banyak tapi tak butuh sertifikat "pekerja sosial". Pengasuh panti asuhan, jompo, anak jalanan atau rumah singgah, dan di panti rehabilitasi. Tapi, ada banyak pembaharu ekologi, ponpes ekologis, kyai ekologi, pemuda pecinta sampah, dsb tak hendak disertifikasi. Tapi ada sertifikasi mubaligh akhir2 ini menimbulkan efek geli.

Saya sedikit punya latar penelitian panti asuhan yang juga soal pekerja sosial anak. Memang iya, ada kebutuhan pembaharuan tata kelola asuhan anak yang perlu diperkuat kebijakan sosial. Ada kecenderungan pengelola panti menjadikan anak2 panti sebagai komoditas yg dibalut religiusitas. Banyak praktik dehumanisasi di lembaga panti. Salah satu upaya intervensi adalah dngan pendekatan apresiatif inquary untuk anak dan pengelola lembaga sosial. Pendekatan ini mencoba memperkuat apa yang telah ada sekaligus mengubah paradigma mengelola manusia yang notabene mereka punya jiwa dan punya emosi fikiran (bukan robot).

Kembali ke pengrajin sosial yang tak ada orientasi ekonomi material. Salah satu pembedah pekerja atau pegiat sosial ini adalah bekerja tidak dibawah sumpah. Pegiat literasi RBK tak punya sumpah jabatan atau SK amanah untuk bekerja paruh waktu part time worker atau sepenuh waktu, fulltime. Bergiat dan bekerja dengan cara dan gaya sendiri, tak ada dorongan dari siapa pun sebagai motive of atau motive for ( saya lupa istilah Max Weber soal motivasi tujuan dan sebab). Passion aktifisnya yang menentukan berbuat apa dan bagaimnana. Selalu mencari penyegeran baru (social innovators).
Berbeda sekali dengan para pekerja di bawah sumpah yang punya konsekuensi atas tidak atau dipenuhinya sebuah komitmen. Kita saksikan hari ini, Banyak organisasi berbasis agama juga kini biasa bekerja di bawah sumpah amanah jabatan. Pertanyannya, Apakah jika tanpa sumpah akan dapat bekerja? MUngkinkah seorang bekerja dgn sumpah jabatan menamakan dirinya sebagai abdi negara? Sebagai relawan sosial?

Contoh, MUI jelas punya sumpah untuk menyumpahi atau menyesatkan. Sama persis petugas front office lion air yang kalau ditanya mana bos atau manegemen atasan selalu bilang "maaf, atasan kami tidak ada ditempat." Seperti mesin yang bunyikan bell atau anda pasti ingat program karyawan ****mart atau ****mart yang disetel ngomong "selamat datang...dan terima kasih" pada para pembeli yang datang-pergi silih berganti.

Apa akhir dari pesan tulisan singkat ini? Tak ada yang istimewa barangkali hanya sedikit membangun kesadaran bahwa derajat kekuatan sosial dalam diri kita sebgai homo socius adalah seberapa daya tahan kita untuk bekerja tidak di bawah sumpah. Itu memperlihatkan komitmen seseorang akan arti kerelaan menjadi manusia yang bermanfaat. Ini bisa menjadi standar moral authentik untuk bekerja bukan karena kekuatan eksternal yang lebih kuat. Taruhlah contoh: menteri bekerja atas kekuatan memaksa sang presiden. Tanpa paksaan dan ancaman kadang kita saksikan para pekerja di bawah sumpah jabatan itu mlempem. Bagaimana kalau menteri dan presiden itu bekerja tanpa sumpah? Hanya tuhan yang tahu tapi perlu refleksi.

Sekian para pegiat, selamat siang semoga produktif berbuat kebaikan.

‪#‎janganbosanmerawatKEBAIKAN‬ ‪#‎pegiatRBK‬

RS Arsy, 22 nop2015

Tuesday, October 27, 2015

5 Makna Daya-Tahan

Fauzan A Sandiah, Kurator RBK

kurang lebih tiga tahun yang lalu saat saya menemukan komunitas belajar (sekarang Rumah Baca Komunitas) saya berpikir tentang banyak hal. pertama, ini adalah sebuah pengalaman baru untuk belajar hal baru dari orang-orang di komunitas. Waktu itu saya mengenal Cak David dan Kak Wiek, dua makhluk tuhan ini berbaik hati membuka diri untuk berdiskusi banyak hal.
saya hanya diam saja mendengar mereka bicara soal banyak hal. pelan-pelan saya belajar dari diskusi-diskusi itu. saya mulai berburu beberapa bahan bacaan baru, politik, sastra, filsafat, hingga soal komunitas. saya tidak sabaran dalam membiarkan kehausan belajar lama bersarang di dalam diri.
di kampus saya aktif dengan lintas organisasi kemahasiswaan, baik intra, atau otonom atau lintas kampus. di luar kampus juga pada awal-awal semester di S1 saya sempat menggagas komunitas belajar bersama beberapa teman. ternyata keasyikan membangun komunitas belajar itu menjadi kuat sewaktu bergabung dengan Cak David juga kak Wiek.
saya termasuk orang yang senang untuk membiarkan diri mencari makna hidup lewat pergaulan-pergaulan di jalan sunyi. bicara soal mimpi dan cita-cita, bergaul dengan kehidupan real. bergaul dengan manusia-manusia, dengan lingkungan. pergaulan itu membentuk daya-tahan bagi diri saya.
kedua, saya termasuk mahasiswa yang tidak memiliki apa-apa kecuali buku dan keinginan belajar yang mendorong saya terus-menerus. terkadang, berkorban jatah makan, untuk membeli buku itu sebuah kebahagiaan. menempuh perjalanan jauh dengan jalan kaki atau naik bis merupakan hal biasa bagi saya sejak sekolah dasar. maka sewaktu kuliah jika harus berjalan kaki itu soal biasa. not a big deal. saya terbiasa untuk tidak mengeluh.
sewaktu RBK masih di Onggobayan, terkadang saya harus merepotkan kawan-kawan untuk mengantarkan saya. kemudian sewaktu RBK pindah di Paris, lebih tertolong, saya bisa turun dari transjogja di depan museum perjuangan dan melanjutkan jalan kaki ke jl. parangtritis. ini tentu pekerjaan yang mudah. not a big deal.
selama tiga tahun menjadi pegiat di RBK, begitulah keasyikan yang saya alami. maka saya pikir makna daya-tahan bagi seorang pegiat itu:
1. daya-tahan itu selalu diuji, maka daya-tahan hidup seseorang selalu baru. kebaruan itu menciptakan energi positif bagi diri pribadi dan sesama.
2. daya-tahan itu berkaitan dengan "seni pengabaian". mengabaikan opini sosial yang melemahkan, mengabaikan keterbatasan fisik, mengabaikan hambatan, mengabaikan alasan-alasan yang melemahkan, mengabaikan yang harus diabaikan. go ahead.
3. daya-tahan itu murni muncul karena dorongan diri sendiri yang muncul karena dialektika dengan kehidupan. membaca buku, belajar dari berbagai macam orang, intinya belajar apa yang "real" sedang terjadi di dunia ini akan memunculkan daya-tahan.
4. daya-tahan itu mengharuskan kemampuan untuk melakukan. ide sebesar apapun harus mampu dilakukan. ide sekecil apapun yang dapat dilakukan akan membantu banyak hal. itu akan membangun sikap optimistik pada daya-tahan.
5. daya-tahan itu berkaitan dengan apresiasi kemenangan-kemenangan kecil. kemenangan bangun pagi, kemenangan menepati janji dengan orang, dan kemenangan kecil karena menyiram tanaman setiap hari, kemenangan telah berkata jujur. apresiasi terhadap kemenangan kecil akan menjadi sumber dari kebahagiaan yang maha besar, dalam Islam ini disebut bersyukur.
6. daya-tahan pribadi akan membantu menguatkan setiap orang dalam lingkungan komunitas. maka daya-tahan yang baik adalah yang apresiatif terhadap siapa saja. memperkuat kebersamaan, memperkuat kebahagiaan bagi sesama. sebaik-baik daya-tahan adalah yang memperkuat kemanusiaan.
sekian, selamat sore.

Thursday, September 3, 2015

Refleksi sekolah literasi: Memaknai Kehidupan

Ahmad Sarkawi, pegiat RBK

Proses yang dilakukan bersama dalam sekolah literasi sangatlah membahagiakan, membangun semangat berbagi merupakan ciri yang penting untuk tidak dilupakan. Dialog setiap manusia yang berada dalam ruang bersama sekolah literasi tentu saja memberi makna setiap kita, namun yang menjadi indah dalam sekolah literasi adalah tumbuhnya cinta dan kasih sayang antar sesama modal dari benih-benih kepercayaan antar sesama.

Dalam proses yang dilakukan pada setiap pelatihan atau sekolah kita sering mendengar kontrak belajar dan pemetaan kekhawatiran. Tetapi bila saya memfasilitasi yang disebut “kontrak belajar” saya selalu menggantikan dengan kesepakatan bersama sedangkan pemetaan kekhawatiran saya menggantikan dengan kekuatan kepercayaan. Sederhananya jika menggunakan pemetaan kekhawatiran itu berangkat dari asumsi kecurigaan sedangkan menggunakan kekuatan kepercayaan adalah berangkat dari asumsi kekuatan Trust yang ada pada setiap individu yang mengikuti proses berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama. Penggunaan kontrak belajar ini lebih pada pilihan kata saja sebenarnya namun saya punya alasan tidak mengunakan kata belajar, diajar dan sebagainya yang menggunakan kata dasar ajar. Karena menurut subjektif saya kata ajar menjadi relasi tidak setara. Maka saya menggunakan kata berbagi pengetahuan dan pengalaman, asumsi saya setiap orang mempunyai pengetahuan dan pengalaman dengan kekuatan berbagi maka pengetahuan dan pengalaman setiap individu bisa diramu menjadi pengatahuan dan pengalaman bersama sebagai proses berbagi dalam kehidupan.

Melalui sekolah literasi mengingatkan saya bahwa berbagi tidak mesti melihat ke siapa kita berbagi namun lebih pada proses refleksi terhadap perjalanan kemanusiaan kita semata. Misalnya seperti cerita masa kecilku : pada hari jumat hampir 20 tahun yang lalu seorang laki-laki datang menuju kerumah kemudian menyampaikan niatnya pada bapakku bahwa dia mau menginap dirumah padahal laki-laki itu belum ada yang mengenalnya di tengah keluargaku, semua anak-anak keberatan jika laki-laki itu menginap di rumah. Tapi saat itu bapak menyampai dengan suara yang tenang “laki-laki itu adalah malaikat yang akan menyempurnakan amal ibadah kita”. Akhirnya kita semua menerima, hampir satu minggu laki-laki itu menginap. Anehnya bapak tidak ada kekhawatiran sedikitpun, terus aku protes saat itu dengan berbagi kekhawatiranku namun bapak selalu menang. Bapak memberikan penjelasan kepadaku “kamu harus menghilangkan kekhawatiran dan kecurigaan kepada siapapun walaupun itu sangat kecil, belajarlah untuk percaya kepada semua orang bahwa semua manusia di dunia ini adalah baik”.

Sekolah literasi tidak sekedar mengenal tulisan dan bacaan namun lebih jauh dari itu semua, yaitu proses memahami setiap makna kehidupan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis kemudian melahirkan berbagi aksi nyata sebagai bentuk komitmen terhadap kemanusiaan kita.

Condang catur, 4 September 2015


Friday, August 14, 2015

Angkringan Literasi: Teratur Untuk Maju


Catatan dari rots by Unggul Sujati Prakoso
Teratur Untuk Maju
 
Menjelang peringatan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke -70 para masyarakat mulai sibuk bergotong royong kerja bakti membersihkan dan menata dan menghias lingkungan di sekitar kampung tempat mereka tinggal. Mulai dari mengecat beton pembatas trotoar dengan warna hitam putih kemudian membersihkan tugu atau gapura tanda masuk ke desa. Selain itu tak ketinggalan pula hal pemasangan umbul umbul dengan warna merah putih yang semakin menambah kesan heroik dalam peringatan HUT RI.
Dan yang acapkali ditunggu tunggu adalah lomba agustusan bagi para warga kampung. Berbagai macam jenis lomba di adakan untuk memeriahkan peringatan HUT RI. mulai dari panjat pinang, makan kerupuk, sepak bola, voli, dan banyak lagi.
Namun yang bagi saya hal yang menarik dalam peringatan kemerdekaan negara ini adalah upacara pengibaran dan penurunan bendera merah putih baik ditingkat negara, provinsi hingga kecamatan.
Para pasukan pengibar bendera atau yang biasa di sebut paskibraka yang tentunya telah berlatih keras dalam mempersiapkan momen penting ini. Bahkan latihan telah digelar jauh-jauh hari sebelumnya hingga menjelang tanggal 17 agustus untuk memberikan hasil yang terbaik.
Yang menarik dari pasukan ini adalah terdiri dari tentara, polisi dan pelajar SMA. Untuk menjadi bagian dari pasukan ini para pelajar tersebut tentunya telah melalui proses seleksi yang panjang dan ketat apalagi jika menjadi bagian dari paskibra di Istana Negara Jakarta. Pastinya hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pelajar tersebut dan juga keluarga mereka. Apalagi yang melatih mereka biasanya berasal dari anggota militer sehingga dapat dibayangkan materi latihan yang penuh kedisiplinan untuk membentuk keteraturan dalam baris berbaris.
Berkaitan dengan hal keteraturan dalam baris berbaris tentunya tidak hanya identik dengan upacara bendera tanggal 17 Agustus saja namun juga upacara bendera yang setiap minggu dilakukan di sekolah dan instansi instansi pemerintah. Lain lagi ceritanya bila seseorang yang sedari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas mengeyam pendidikan di sekolah negeri dan bahkan bila kelak ia menjadi pegawai negara maka bisa dibayangkan berapa kali upacara bendera yang telah diikutinya. Dan jika banyak dari warga negara indonesia yang menjadi abdi negara maka seharusnya upacara menjadi contoh pembelajaran yang baik dalam menciptakan keteraturan dalam kehidupan masyarakat dan tentunya membawa kemajuan bagi bangsa karena kedisiplinan yang baik. Tapi hal ini tentulah hanya ada dalam pikiran saya sebagai penulis karena kenyataannya tidak demikian. Karena sesungguhnya keteraturan yang di tanamkan sifatnya hanya badaniah semata dan belum mencakup aspek kehidupan yang mendetail dalam lingkup yang luas. Dan lagi negara negara yang punya predikat maju pun saya kira tidak menjadikan upacara bendera menjadi kegiatan rutin tiap minggunya.
Sementara itu keteraturan dalam berpikir akan melahirkan produk keilmuan dan budaya yang dapat menjadi sebuah prinsip dalam kehidupan sehari-hari manusia yang akan menjadikan kualitas hidup manusia menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Dalam pemahaman saya keteraturan tidaklah melulu harus di tanamkan dalam bentuk sebuah kotak yang kaku. Tetapi justru yang menjadi penting dalam memanamkan keteraturan adalah dengan memahami hakekat dan fungsi teratur itu sendiri karena sejatinya manusia hidup menjadi bagian dari keteraturan alam semesta raya ini. Namun akibat dari ketidakpaham hakekat dan fungsi tersebut dapat menciptakan kelainan dalam sistem kehidupan.
Dan dalam hubungan teratur dan kemerdekaan tentunya kita wajib bersyukur karena dengan status ini kita dapat dengan mandiri mengatur kehidupan kita tanpa perlu lagi diperintah oleh bangsa lain. Namun hal ini tentu saja dengan catatan yang sudah saya tulis sebelumnya bahwa kita sebagai manusia Indonesia sudah paham betul hakekat dan fungsi mereka sehingga dalam saling bahu - membahu bekerja sama dalam sebuah tempo yang selaras untuk menjadikan Indonesia yang beradab dan bergerak menuju kemajuan.
Kemajuan yang didambakan tentunya tak hanya melulu seputar teknologi semata namun juga dalam hal kebudayaan masyarakat yang positif yang saling mendasari gerak perkembangan kehidupan manusia. Sehingga timbullah suatu produk positif identitas kemajuan bangsa dan ini semua menjadi tugas kita bersama sebagai orang Indonesia untuk terus mengembangkan diri menjadi manusia-manusia yang berkualitas secara keilmuan dan budayanya sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Sunday, August 9, 2015

Pojok Literasi

Angkringan Literasi

Hanapi, Pegiat RBK

Saya selalu berfikir kenapa bangsa ini lambat bangkitnya padahal pergantian kepemimpinan di daerah telah berjalan cukup lama sedangkan kerusakan yang lama belum pulih, sekarang kerusakan semakin bertambah, Apakah kita bisa memperbaiki bangsa ini dalam waktu cepat??

 Beribu keyakinan ada di dalam hati dan pikiran ini tapi kenyataannya kerusakanlah yang terjadi semakin cepat, kerusakan ini terlihat dalam bidang politik di indonesia, mulai dari prilaku para politisi yang sangat pragmatis, politik telah dijadikan tempat untuk memperluas kekayaan, menjual aset negara ke tangan para pengusaha, bidang ekonomi, ekonomi dalam negeri telah dikuasai oleh etnis tertentu sehingga pengusaha pribumi kalah dengan etnis ini, media massa telah dikuasai oleh para kapital yang memberikan informasi untuk pencitraan politik, saya teringat kata Cak David bahwa kita hanya bisa memperlambat kerusakan yang terjadi sekarang ini.

Saya ingat bahwa Iran bisa bangkit dari jajahan asing dalam bidang kehidupan negaranya dengan adanya para aktivis yang sejati, yang tak takut mati demi memperjuangkan kehidupan yang islami untuk masyarakatnya, kalau melihat di indonesia aktivis yang cerdas, idealis banyak tapi mereka tidak pada struktur kekuasaan, kalau setelah struktur mereka terjebak dengan permainan politik seperti banyak yang dikatakan teman teman saya kuliah bahwa para aktivis yang dulu idealis sekarang telah hilang idealismenya, setelah saya melihat kekuatan literasi maka saya sadar bahwa semakin cerdas masyarakat suatu bangsa akan semakin tinggi harapan untuk menjadikan negara ini sebagai negara maju dan bangkit, kenapa harus literasi?

 Setelah saya berfikir, bahwa kegiatan literasi ini memberikan kesadaran masyarakat sehingga memunculkan sikap yang penuh nilai nilai kebaikan, humanisme, literasi ini akan memberikan informasi yang jelas dan teori yang berguna sehingga masyarakat bisa membaca situasi kehidupan negara, dengan Gerakan literasi maka akan terbangunnya budaya masyarakat yang beradab maka cita cita menuju masyarakat madaniyah lebih cepat terwujud, gerakan literasi ini kalau diwujudkan disetiap rumah dengan perpustakaan keluarga masing masing maka kita akan lebih cepat melahirkan tokoh tokoh cendikiawan muslim di indonesia, di tengah masyarakat yang mengalami pergeseran budaya maka akan terbentuk budaya budaya yang mencerdaskan dan budaya yang kreatif tanpa menyalahi Tauhid, gerakan literasi akan membangun sistem sosial yang islam, literasi akan membuat masyarakat tidak mudah ditipu oleh ulama ulama gadungan dan kapital yang menjual ilmu demi kesenangan dunia.

Gerakan literasi itu seperti dakwah kultural yang sangat lembut, dia hadir untuk mencerahkan, kehadiran gerakan literasi sangat jarang dibangun penguasa di abad ini tapi lihatlah peradaban islam terdahulu, budaya literasinya sangat tinggi sehingga maka peradaban islam berkemajuan. Setiap kaum muda harus menjadi pegiat literasi karena pemuda menanggung tanggungjawab secara konstitusional dan moral untuk membangun negara ini dijalan yang penuh khidmat agar cita cita semua masyarakat yang ada dalam mimpi menjadi nyata. Pentingnya literasi moral?



 Literasi moral bukan model dakwah tapi literasi moral ini lebih pada sikap dan prilaku kaum yang cinta terhadap buku, bisa disebut kaum yang tercerahkan begitulah masyarakat menyebutnya, literasi moral memberikan penekanan kepada pegiat literasi pentingnya sauri teladan, "penerus para Nabi itu bukan hanya ulama tapi juga orang berilmu". Karenanya, gerakan literasi harus menjadi budaya bahkan pada titik radikalnya harus fatwa, kalau memang penyadaran kolektif tidak bisa dilakukan dengan jalan kultural maka jalan politik dengan kebijakan penguasa yang mendukung, seperti kebijakan mewujudkan kota literasi.

Gerakan literasi dan literasi moral tak bisa dipisahkan dengan tujuan untuk mewujudkan negara yang berkemajuan. Takkan indah sinar bintang dan bulan tanpa budaya literasi, jangan bermimpi membangun politik humanis sebelum masyarakat gila literasi.

Jambi, 4 Agustus 2015.



RBK dan logika berpikir Yanto

Rubrik Angkringan Literasi edisi 1/Agustus/2015

Agam Primadi

Apa yg menggerakkan kalian ? Dapat apa kalian dari komunitas itu ? Tanya Yanto. 

Mendengar pertanyaan itu, Pozan hening lalu berlari menuju parkiran motor UMY dengan cepat tanpa memperdulikan jawaban apa yg akan disampaikan kepada Yanto. Sesampainya di parkiran, dia langsung menghidupkan motornya meninggalkan kerumunan orang yg sedang asyik berdiskusi ngalor ngidul.

Diperjalanan pulang menuju asrama, Pozan dihantui pertanyaan Yanto, focusnya sedikit terganggu dan hampir menabrak mobil yg sedang di parkir disisi jalan. Pertanyaan itu tidak hanya menganggu focus, tapi juga hampir merenggut nyawanya. .

Ah siaaal, gerutu Pozan dalam hati. Kali ini dia sedikit berhati hati dalam mengendarai motornya. Alon alon waton klakon, pepatah jawa yg tepat menggambarkan apa yg sedang ada di pikirannya saat itu. 

Sesampainya di asrama, Pozan langsung menjatuhkan badanya di atas kasur, lalu menyalakan TV dan kipas angin. Dia pun menjatuhkan pilihannya pada salah satu chanel yg menayangkan Film bergenre cinta dengan kolaborasi pendidikan. Anak muda sekarang menyebutnya FTV. Romantisnya skanerio Ftv siang itu ternyata tidak serta merta menghilangkan ingatannya pada pertanyaan Yanto tadi, pertanyaan itu seakan akan menghantui pikirannya. .

Seketika batinnya berucap menjawab pertanyaan Yanto, memang tidak ada yg kami dapatkan dari komunitas itu, kami juga tidak mengharapkan jabatan tinggi, kami sadar komunitas itu bukan alat untuk mendapatkan kekuasaan tinggi. Tapi ada satu panggilan jiwa yang menggerakkan kaki kami utk berjalan digaris revolusi. Buta huruf, sedikitnya bahan bacaan, dan kaum marjinal yg tidak mendapatkan akses buku adalah tanggung jawab kita semua waras. Generasi generasi terkontaminasi modernisasi, degradasi pola pemikiran semakin menjadi jadi. Itulah kenapa kami hadir ditengah tengah masyarakat. Ini semua kami lakukan karena budaya literasi adalah budaya menolak lupa. 

Karena dengan membaca maka kita akan tahu segala bentuk penindasan, secara itu pula memiliki insiatif untuk melawannya. Dengan membaca kita akan tahu kehidupan yg hidup dengan sebenar benarnya keadilan. 

Menjadi orang tua asuh buku adalah sesuatu yang menyenangkan Yanto. Kau harus tau itu, semoga kau tidak buta.

Bagi saya pribadi, perjuangan gerakan literasi adalah perjuangan menolak lupa. Untuk itu kita harus mengingat dan memperjuangkannya guna menjaga kewarasan

Wednesday, July 29, 2015

Reuni dan penyegaran kebudayaan


David Efendi, pecinta etnografi

Wah lebaran dah habis rupanya. Saatnya berbagi kisah. Sedianya aku tulis dalam cerita panjang ini. Kira kira judul kerennya itu : reuni dan penyegaran kebudayaan. Setidaknya cerita ini mengingatkan pada spirit bersaudara, silaturrahmi dalam bentuk yang paling kontemporer: reuni. Juga bagian dari aktualisasi makna mudik dan hari raya di kalangan anak muda terdidik baik yang sekolah atau yang bekerja di luar negeri (bahasa asing bagus dan well informed).
Yup. Kampungku memang dari tahun 60an sudah mngalami islamisasi luar biasa dan sangat homogen afiliasi partai dan ormasnya. Antusias sekolah ke kota tinggi dan juga bekerja keluar negeri bagi lulusan SMA atau bahkan guru pun berangkat ke malaysia tuk bekerja lalu pulang dan kembali menjadi guru. Kebudayaan malaysia terasa dekat dengan kami semua sejak kecil. Ratusan orang mudik ke kampung jelang puasa sampai habis lebaran. Tercatat tahun 2013 warga desa saya di malaysia 600an. Perkiraan sekarang 800 penduduk. Wajar saja, rumah sangat bagus2 dan bisa membiayai sekolah anak anaknya sampai perguruan tinggi. Tahun 1960akhir 6 orang desa saya masuk malaysia lewat cara illegal keluar masuk hutan, laut, rawa, dan akhirnya berhasil menjadi warga sana. Lambat laun generasi berikutnya ikut mencari sukses di sana.
Sejarah singkat itu dikemukakan oleh pak Hazim, ketua ikatan perantaian warga godog yang ada di malaysia, dalam sambutan acara reuni 2 syawal 1436 yang dihadiri dua bupati sekaligus yaitu bupati lamongan dan Bojonegoro yang ditempatkan di lapangan perguruan Muhammadiyah Godog. Kurang lebih 1000an warga hadir dalam acara syawalan pekerja di malaysia ini.
Kontribusi pekerja malaysia ini sangat besar rupanya. Bangunan sekolah, jalan, masjid, musholah, gapura, cakruk, alat pertanian, dll didatangkan dari malaysia dan atas derma warga desa pekerja disana. Bahkan, kepala desa dua periode ini dipimpin mantan TKI yang 19 tahun bekerja di malaysia. Dalam sambutan pak bupati lamongan, kepala desa kampung saya menyabet penghargaan kepala desa terbaik di lamongan. Gaya merakyat dan ndeso-nya menjadikan banyak orang "akrab". Ke rumah kepala desa bisa bertelanjang dada, tanpa alas kaki sudah sngat oke.
Bupati Bojonegoro, kang yoto pun memuji kadahsyatan desa Godog dan juga peran pekerja malaysia dari Godog. Kang Yoto pernah diundang ke malaysia oleh teman2 teman Godog yang ada di malaysia dengan bendera PRIM Kampung Baru. Keakraban pun terjalin langgeng dan bahkan kang Yoto mau menghadiri syawalan H+1 di desa Godog padahal beliau pasti punya banyak tamu di bojonegoro.
Anak anak muda dan tua, termasuk saya, sudah sangat akrab dengan istilah reuni sejak saya kecil. Setiap ramadan dan syawal isinya reuni dan reuni. Kadang reuni itu berupa buka bersama, jalan jalan wisata, makan ketupat dan syukuran dari rumah ke rumah. Untuk yang teman seangkatan yang sukses juga sangat antusias berbagi. Reuni bisa berlapis lapis: teman madrasah, aliyah, pondok, teman smp dan sebagainya. Anak anak muda telah menyesuaikan istilah pluputan atau silaturahmi dengan padanan kata lain yaitu "reuni" ---bersatu kembali.
Situasi lain dapat dilaporkan dengan singkat. Bahwa sawah sawah makin memyempit itu fakta. Bahwa geliat pertanian makin surut, hasil tani tak menggembirakan memang iya. Jalanan desa mulus, rumah dan kendaraan bagus bagus, mobil mewah banyak, gadis gadis dan anak muda wajahnya sangat terawat juga fakta. Anak anak mengalami dewasa lebih cepat ini perlu penjelasan yang ilmiah. Tolo baju dan peralatan kecamtikan ada. Seorang guru smp memakai baju lebaran seharga 1 juta lebih tidak menjadi "aib". Kesederhanaan telah mengalami pergeseran makna.
Suara sapi dan kembing tak lagi akrab di telinga. Nampaknya makin jarang memelihara ternak dan lebih memilih memelihara TV,motor, kulkas, mesin cuci, mobil, dan gadget mutakhir tuk anak anak yang masih TK. Ayam masih sesekali terdengar teriakannya. Inilah desa yang hilang "kedesaannya". Suasana menjadi kayak di kota dalam fasilitas. Syukur pasar tradisional masih bertahan dan tak ada indomart atau alvamart. Di desa desa sebelah dan jl kecamatan udah menjamur rupanya.
Wah dah lumayan panjang ini. Perihal reuni yang makin bermakna dah dibahas, tinggal apa ada ihwal penyegaran kebudayaan? Masih sedikit kali dibahas. Tapi memang itulah "faktanya", kita butuh terobasan baru untuk mendapatkan bentuk bentuk praktik kebudayaan yang segar dan memajukan. Misal, jika reuni bagian dari kontekstualisasi makna silaturahmi oke!. Bagaikana dengan cakruk, pasar trdisional, kyai kampung, sungai, sawah, makna terdidik? Apakah semua ini ada yang mencoba untuk menyegarkan ingatan dan praktik merawat kebajikan? Tentu etalase dan artefak kebudayaan desa harus diejawantahkan dengan suatu yang lebih segar. Misalnya filosofi "ono rino ono upo" (ada siang ada nasi) adalah bagian dari trimo ing pandom dan syukur yang bisa mengilhami kekuatan berbagi jika punya lebih.
Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah tentu merupakan mantra yang telah populer diajarkan di sekolah madrasah ibtidaiyah yang tak akan terlupakan. Etos memberi kaum terpelajar telah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari. Keluarga jawa juga demikian, punya rasa kepedulian dalam interaksi bahkan melalui pintu halaman rumah (Jan Newberry, 2013).
Dalam masyarakat yang mengais dan mendapatkan rizki dari negeri jiran nampak otonominya dalam urusan politik. Mereka sehari hari tidak terintegrasi langsung dari kebijakan ekonomi negeri sendiri tapi pleh negeri Malaysia. Walau hal ini tak sepenuhnya benar, tapi nyata krisis 1997-8 itu justru mnjadikan masyarakat Godog membelanjakan uang untuk membeli motor baru akibat ringgit menguat terhadap rupiah. Orang malaysia di godog ini tak kenal krisis 1997 yang ganas itu. Mereka juga tak was was rezim Suharto tumbang, lengser keprabon.
"Otonomi relatif" ini juga tak sepenuhnya punya kekuatan thd guncangan karena biar bagaimana pun perpolitikan dalam negeri telah melakukan exspansi di tengah masyarakat sehingga semua hal diharapkan terdampak dari centang perenang kebijakan negara (negaranisasi).
*Diketik di sela sela silaturrahmi lebaran 2015 di WA

Apa kata tentang RBK?

Cerita saja. Literasi itu menarik Perkenalan dengan Literasi


Hafidz Afandi
Dua atau tiga bulan, lalu saya bertemu dengan Cak David Efendi, salah satu mantan pentolan IPM yg kini jadi akademisi di UMY, beliau mengenalkan saya dengan gerakan literasi yang dirintisnya dan kawan-kawan, bernama Rumah Baca Komunitas
sebuah komunitas yang menarik, di dalam komunitas ini mereka mencintai buku dan ilmu di dalamnya dengan sangat mesra, di grup wa-nya hampir tak pernah absen setiap hari merekomendasikan bacaan-bacaan bermutu, Saya baru beberapa kali berkesempatan kesana, menarik semuanya serba sederhana tetapi penuh makna, obrolan-obrolan dalam setiap perjumpaan bukan sekedar beradu pengetahuan, melainkan hampir semua berusaha mengkontruksi dirinya masing-masing dengan buku,
ada keunikan-keunikan yang saya sendiri tak pahami dari kultur yang sedang dibangun komunitas ini, Dan, mungkin mudah untuk mereplikasi semangatnya tapi pasti berat mereplikasi prosesnya. Di mulai dari kecintaanya pada buku, teman-teman RBK beranjak untuk berbagi, bahkan berbagi harta yang paling dicintainya, yaitu "BUKU". Kutu buku, RBK lebih dari itu?
Saya, jadi ingat dulu sejak sma banyak kawan-kawan di PII yang gila buku, aku pun hampir sama, sejak sma dulu selalu bergelut dengan setumpuk buku-buku, di masa kuliah sama, rela, rela tak punya apa-apa asal masih sanggup beli buku, dengan perjuangan berat untuk dapat buku rasanya sayang kalau sampai hilang, ini bak harta terakhir saya, toch tetap saja dari berdus-dus kira2 hampir separonya melayang terutama saat di bawa ke acara basic training HMI, pasti melayang hampir separo.... tak ikhlas rasanya, tapi ya bagaimana lagi.
DI RBK, sebaliknya sejak awal si para empunya buku mewakafkan aset pribadinya untuk komunitas. ntah, jangan bayangkan sistemnya secanggih perpustakaan kampus. yang ada sistem demokrasi, pilih sendiri, catat sendiri bawa sendirim, kembalikan sendiri, aneh....! padahal di perpus betapa ribetnya pinjam buku belum denda yang membayangi kalau telat, saat pernah ku tanya, "kok bisa sebegitu mudahnya?", teman-teman menjawab, "kita belajar percaya dan melatih kejujuran saja, pembaca buku, penggila buku pasti orang pintar, seharusnya beretika", jadi malu dengan prinsip kami dulu yang niru-niru gus dur"orang bodo itu yang mau pinjemin buku, tapi lebih bodo lagi orang yang dipinjemi buku malah balikin,"
ada juga sharing bang dollah namanya, aktivis gerakan turun tangan ini berbagi via wa saat dia habis kumpul dengan anak-anak gerakan literasi lainya dia bilang (karena sudah ke hapus jd izin pake bahasa saya) "saya sebenarnya punya cita-cita merubah bangsa ini dengan dirikan partai yang revolusioner, ngapai hanya main-main dengan anak-anak yang sekedar pengen bagi-bagi buku.... tapi setelah bertemu dan sharing dengan penggiat literasi agaknya saya jadi berfikir, perubahan harus dimulai dari buku, biarkan anak-anak baca buku dari awal, hingga mereka lahir menjadi generasi yang sadar, tak mungkin cita-cita dirikan partai revolusioner tanpa generasi yang revolusioner, dan tak mungkin ada generasi revolusioner tanpa dimulai dari buku"
Nasib perpustakaan pertama ku Alangkah indahnya, saya jadi teringat pula dengan sosok pembimbing kami saat remaja di tegal, pak Ratmana Sutjiningrat yang saat itu selalu konsen dengan dunia buku, sastra dan pendidikan, beliaulah yang mendukung remaja masjid angkatan mas dan mbak ku dulu buat perpustakaan masjid yang menarik, isinya tak cuma quran dan fikih, tapi novel dan buku-buku pemikiran sampai komik, dari hasan al banna, sayyid qutub, yusuf qardhawi, ali syariati, ayatullah khomenei, iqbal, hingga marx, pram, anton chekov, sayang, seiring dengan semakin sepuhnya beliau saat aku beranjak remaja ia "lemari perpustakaan itu" sudah tinggal sisa-sisa, dan saat aku kuliah syukur ia masih digudang masjid, Tidak dibakar atau di loak.... semoga jd jariyah beliau yg terus mengalir di diri kami yang sempat menikmatinya, "alm. SN. Ratmana"
semoga gerakan literasi tumbuh berkembang dimana pun manusia indonesia ada, sehingga kelak kita bisa berharap punya satu generasi baru yang berkesadaran, #optimis...! #terima_kash_RBK yang Mengggugah kesadaran (entah kenapa tiba-tiba menulis ini panjang lebar daripada bebal edit proposal, itung-itung nebus dosa dan menghibur diri)

Wednesday, June 24, 2015

Jurus Merawat Komunitas

David Efendi, Pegiat Literasi di RBK

Tulisan ini merupakan salah satu bagian dari buku yang sedang saya tulis yang saya beri judul : Bagaimana Kekuatan Apresiatif Memperkuat Komunitas yang sedianya di penghujung tahun ini harus terbit. Hal ini saya anggap sebagai kewajiban untuk membagikan nilai-nilai yang diyakini oleh penulis dan juga pegiat Komunitas perihal bagaimana kita memulai langkah menciptakan Komunitas pembelajar (1), Komunitas yang emansipatif (2) dan juga Komunitas yang mempraktikkan nilai-nilai keseimbangan terhadap semesta (ekoliterasi) atau Komunitas yang pro-ekologi (3).



‪#‎MicrobaLiterasi‬
Ketiga paradigma tersebut di atas pada merupakan hasil dari refleksi pegiat Rumah baca Komunitas (RBK) yang usianya telah melintasi tiga tahun. Di awal periode kita banyak berorientasi pada pentingnya membangun Komunitas yang mempunyai spirit pembelajar (community learning) yaitu Komunitas yang senantiasi mendorong pegiat dan masyarakt untuk berani belajar hal baru dan melawan segala ketakutan akan keterbatasan akses terhadap pengetahuan. Pada periode ini kita berikan label sebagai RBK Madzab Onggobayan. Tahun kedua, RBK banyak berupaya untuk keep in touch dengan aktifis/Komunitas yang concern dalam bidang “kelompok marginal” sehingga madzab Paris ini dikonsepsikan dengan Gerakan Literasi emansipatif. Sementara memasuki tahun ketiga di markas baru di Kalibedog, RBK menyuarakan dan menggagas gerakan ekoliterasi yang ramah lingkungan dan apresiatif tehadap budaya dan kesenian nusantara. Madzab Kalibedog masih berdinamika untuk meneguhkan jati dirinya.
Pada bagian ini penulis berusaha sebisa dan seorisinil mungkin menceritakan apa sebenarnya yang menggerakkan pegiat RBK, bagaimana nilai-nilai memberikan konstribusi bagi denyut nadi kehidupan Komunitas, serta jurus-jurus lain yang dianggap mampu merawat dan menciptakan soliditas Komunitas. Tentu, ini hanyalah sepenggal ‘kemenangan kecil’ yang setiap hari pegiat RBK ukir bersama dan bila hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi Komunitas lain atau inisiator Komunitas baru tentu adalah suatu kegembiaraan tersendiri bagi saya, sebagai bagian dari Komunitas RBK. 
Perintah membaca dalam surat al-qalam tersebut ditafsirkan oleh Quraish Shihab sebagai aktifitas yang terdiri dari membaca, menyimak, memahami, dan meneliti. Artinya, dimensi perintah membaca ini lebih luas dari sekedar membaca secara tekstual tetapi adalah bagian dari perintah agar manusia menggali hasanah ilmu pengetahuan yang tersedia di alam semesta ini. 
Dalam surat berbeda, kalau tidak salah dalam surat Thoha:114 berbunyi; “ dan katakanlah (olehmu Muhammad, “ya tuhanku, tambahkanlah diriku ilmu pengetahuan.” Ini semakin membenarkan bahwa perintah membaca adalah sama dan sebangun dengan perintah untuk memperkaya ilmu pengetahuan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena manusia adalah khalifah dimuka bumi, maka sudah sepatutnya dalam jiwanya ada kebijakan untuk membina hubungan baik dengan sesame dan juga upaya sungguh-sungguh untuk melestarikan keseimbangan ekologi (hubungan dengan lingkungan). Bulan Ramadan benar-benar menjadi media untuk reflektif asal-muasal penciptaan ilmu pengetahuan dan juga bulan untuk diisi dengan kegiatan yang dapat mendayagunakan pengetahuan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya untuk kehidupan. 
Hal ini dapat diartikan bahwa membaca adalah manifestasi dari keimanan (teologi) maka seharusnya membaca itu harus diperkuat dengan semangat theologis—membaca bukan aktifitas lahiriah semata tetapi menjadi bagian dari ibadah yang sangat penting. Ibadah yang didasari oleh ilmu pengetahuan tentu akan jauh lebih berkualitas. Dan kita pun harus memamahi paradigm al-quran, bahwa membaca itu bukan hanya memahami apa yang tersurat (eksplisit; tekstual) tetapi juga memahami dimensi yang tersirat (implisit) yang jauh lebih luas. Dengan demikian, aktifitas membaca atau gerakan literasi mempunyai pijakan ideology yang inklusuf karena ilmu pnegetahuan itu sejatinya mempersatukan beragam keyakinan theologi. Sangat mungkin, rendahnya budaya membaca bangsa Indonesia mempunyai korelasi dengan kehampaan theologis terkait pentingnya membaca. 
Mengamini Pratiwi Retnanigdyah yang menuliskan bahwa “Budaya membaca menjadi salah satu sebab negara seperti Jepang, Amerika atau Australia menghasilkan berbagai inovasi” tentu kita kemudian menganggap buku adalah sumber pengetahuan yang sangat berharga. Hal ini kemudian mengantarkan kita bahwa aktiftas di dunia literasi merupakan public values atau hal yang sangat bernilai bagi suatu bangsa. 
Paradigm beragama yang kritis (di atas level kesadaran magic dan Naif) akan mengantarkan kepada aktifitas yang mampu menyatukan antara yang transeden dan yang profane, antara keberpihakan kepada nilai-nilai ajaran agama dengan kemanusiaan. Hal ini pun berlaku dalam konteks aktifist literasi yang mana nilai-nilai perjuangan adalah sebuah keniscayaan. Di RBK saban hari kita diingatkan oleh (1) pentingnya nilai-nilai kemanusiaan (humanism) atau meminjam bahasanya Paulo Friere yaitu Komunitas yang mampu dan berusaha memanusiakan manusia. Tidak ada atasan dan bawahan, kalau pun struktur pembagian tugas ada tidak berarti salah satu bagian menjadi subordinasi lainnya dalam pola industrial yang eksploitatif; (2) nilai-nilai menghargai sesame pegiat sehingga pola relasi menjadi nyaman dan menggembirakan; (3) nilai-nilai kejujuran sejak dalam pikiran; (4) nila-nilai dan praktik yang pro-lingkungan sehingga dalam kehidupan sehari-hari. 
‪#‎menghimpun‬ kekuatan (yang ada)
Komunitas yang sehat menurut hemat saya adalah Komunitas yang mampu memberdayakan kekuatan sendiri, kemampuan pegiatnya, dan juga kekuatan jaringan yang sudah dimiliki. Mental berdikari yang pernah diajarkan oleh Bung Karno dalam Trisakti merupakan nilai-nilai kekuatan yang layak kita pertahankan. Hal ini menjadikan kita terus menerus percaya terhadap nilai-nilai kerelaan (voluntary) sebagai modal sosial sekaligus kekuatan moral yang tidak mudah dipatahkan oleh godaan materi dan ketenaran.
Doc/rbk/reboan di FE UII

Seringkali ada pertanyaan mengenai dari mana sumber dana untuk mengoperasikan beragam kegiatan di RBK. Dan tentu saja ini tidak mudah memberikan penjelasan karena kadang kita bicara kerelaan di zaman sekarang menjadi klise dan utopia sehingga seringkali saya harus sedikit hati-hati untuk menghindari ‘lebay’ ketika kita menunjukkan bahwa di Komunitas ini masih hidup ‘jiwa kerelawanan’ dan peduli kepada Komunitas. Jujur, RBK belum pernah mengajukan pendanaan ke lembaga pemerintah maupun swasta. Selama tiga tahun, RBK dihidupi oleh pegiat dan simpatisannya. Oleh pengurus dan keluarganya. Karenanya, terima kasih tak terkirakan atas dukungan kepada keluarga pegiat di mana pun berada. 
Mengapa kita tidak menjalankan saran orang agar kita ‘menjual’ proposal ke lembaga tertentu untuk mendapatkan dana? Salah satu alasannya adalah kita ingin menjadi gerakan rakyat yang tumbuh alamiah dan tidak bergantung kepada Negara. Negara bukan musuh kami, tetapi pegiat RBK ingin memberikan sumbangsihnya dengan terus menerus memperkuat apa yang kita miliki, apa yanga da di pikiran, jiwa, dan raga penggiatnya.
‪#‎Spirit‬ Microba (Bersahabat dengan siapa saja)
jika dalam tanah terdapat jasad renik yang disebut microba yang jumlahnya tak terhitung yang bertugas mengubah berbagai polutan kurang berbahaya menjadi lebih atau sangat berbahaya maka microba literasi juga mempunyai tugas mengubah energi positif anak bangsa melalui buku-buku untuk menjadi kekuatan baru yang lebih berbahaya untuk memagari republic ini dari kerusakan. Energy positif berupa microba literasi lambat laun, karena kekuatan berlipatganda, akan mentsransformasikan bangsa menjadi bangsa yang berdaya dengan rakyat yang berdikari.jika literasi menjadi endemic tentu benih-benih pohon kebangsaankita akan tumbuh dengan suburnya. Ini adalah spirit yang menjadi motivasi sekaligus kekuatan dalam diri.
Pekerja dan pegiat literasi tak boleh merasa kesepian walau faktanya dunia literasi adalah dunia sunyi tanpa sorakan. Tetapi dinamika dalam Rumah sunyi sebanarnya adalah suara adzan untuk menyiapkan generasi yang tercerahkan menghadapi zaman yang terus menerus menggerus kekuatan sosial. Dengan terus menerus menjaga pertemanan, jejaring, dan komunikasi melalui beragam media adalah bagian penting agar gerakan literasi tak mati sebelum berkembang. “siapa saja dapat menjadi penggerak literasi.”, pesan singkat Dauzan Farook (aktifis literasi asal Kauman) yang mendedikasikan dirinya sampai usia senja dalam membangkitkan minat membaca masyarakat Yogyakarta. 
Kekuatan persahabatan adalah ‪#‎microba‬ literasi yang sangat vital. Gerakan literasi baru hendakanya tidak membangun sentral yang menjadikan gerakan kecil lainnya kehilangan optimismenya. Gerakan literasi baru nan segar harus berani mengatakan bahwa untuk menjadi pegiat literasi itu tidak sulit, untuk membangun dan mengembangkan Komunitas literasi itu sederhana dan muda. Jadi ada dilemma, kalau kita terlalu maju sebagai sebuah Komunitas, belum tentu orang akan antusias mengikuti apa yang kita lakukan. Menjadi Komunitas yang kreatif di bidang literasi artinya gerakan kita nyata, dinamis, dan mudah direplikasi di tempat lain.

‪#‎Memberikan‬ Penghargaan
Komunitas informal dapat mengadopsi beragam pengetahuan yang inofatif untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Ilmunisasi Komunitas atau pengilmuwan Komunitas adalah suatu keniscayaan bagi gerakan literasi. Dalam kegiatan obrolan “renstra” RBK pada tahun 2014, awal di Kalibedog, kita memperkenalkan secara detail pendekatan Apresiatif Inqury (AI) yang digagas oleh Cooperider (2005) dalam merawat dan mengelola Komunitas. AI ini dapat berfungsi sebagai metode penelitian sekaligus menjadi praktik interaktis dalam mengelola Komunitas “sosial.” Dalam kasus Eropa dan beberapa Negara lainnya, metode ini kerap kali dipakai oleh pekerja sosial untuk mendapatkan beragam pembaharuan sosial (social innovation). Contohnya untuk meyakinkan kepada pemerintah bahwa penjarah bukanlah tempat yang terbaik untuk anak-anak pelaku “kriminal”. Begitu juga panti asuhan (institutional Care). 
Pendekatan apresiatif merupakan pendekatan yang berbasis pada kekuatan organisasi/Komunitas (strength-based) dimana sebuah managemen perubahan dimulai dari menghargai capaian/situasi apa yang ada (appreciate), kemudian membayangkan apa yang bisa diperkuat dari yang ada (imagine), lalu berikutnya adalah membayangkan apa yang seharusnya (determine), dan berakhir pada upaya sungguh-sungguh untuk menciptakan hal baru yang dimimpikan (create). Pola ini menurut penulis sangat mungkin dapat dipekerjakan di alam Komunitas yang mengedepankan aspek voluntarism. Membangun dari kekuatan yang ada itu berarti tidak mengeluhkan apa yang tidak ada dan seharusnnya ada tetapi spirit optimis. Dari pada terus menerus mengutuk kegelapan dan persoalan, akan sangat baik untuk memulai menyalakan api (walau kecil). Inilah ilham terbesar dari gerakan literasi di RBK yang dipelihara dengan nilai-nilai apresiatif. 
sharing is caring dan Sharing is power. Mantra itu seringkali diungkapkan dalam beragam poster dan tulisan di RBK sebagai pengingat bahwa tugas seorang aktifis pembaharu sosial adalah terus menerus memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada sesama. Tidak pernah lelah untuk menyumbangkan pengetahuan, energinya, dan segala yang kita miliki untuk memajukan masyarakat. Di RBK, kekuatan sharing ini mewujud pada pola pinjam meminjam buku, perpustakana jalanan, penitipan buku di RBK, dan arisan tulisan yang ada di website www.rumahbacakomunitas.org. kekuatan sharing adalah kemenangan yang seharo-hari kita peroleh. 
Dalam pengelolaan Komunitas, sharing beragam kekuatan dan ide gagasan merupakan hal yang sangat berharga. Hal ini yang akan memberikan konstribusi akan munculnya beragam ide segar, kebaruan, dan praktik yang menunjukkan kekompakan Komunitas. Sharing adalah bagian dari refleksi yang juga hal sangat mendasar dalam menjaga Komunitas bekerja dengan penuh makna/nilai di dalamnya. 
Selain itu, tugas dan kewajiban kaum intelektual terdidik adalah belajar dan belajar untuk rakyat. Pengetahuan yang kita peroleh adalah modal besar yang kita meliki untuk senantiasa berdiri dan berpihak kepada rakyat. Itu yang musti kita lakukan jika tidak mau menyandang sebagai pengkhianat intelektual. Sebagai penutup, bagi pegiat literasi dan siapa saja penting untuk melihat spirit berbagi RBK: “Jika kita tak mampu memberikan buku kepada khalayak ramai, setidaknya kita bisa mengantarkan buku-buku sampai kepada orang tua asuhnya, para pembacanya. Inilah yang bisa kita lakukan hari ini dan selamanya.”. Demikian sharing ini. Teirma kasih dan selamat berdiskusi dengan gembira. ‪#‎ayoMoco‬ dan ber#Microba
)* Tulisan berupa draft ini disampaikan dalam diskusi Reboan sebagai pemantik di arena Podjok Batca bekerjasama dengan RBK di FE UU 24 Juni 2015.
Referensi/bacaan lanjutan
Cooperrider, D.L. And Whitney, D. 2005. Appreciative Inquiry: A Positive Revolution in Change. In P. Holman and T. Devane (eds.), The Change Handbook, Berrett-Koehler Publishers, Inc., 245-263.
Homat, George. 2011. Mencipta Kenyataan Baru: Panduan
Visioning dan Perencanaan Pemenuhan Hak Dasar: Pendekatan Appreciative Inquiry. Kupang, Perhimpunan Pikul.juga dapat diakses di http://www.perkumpulanpikul.org/…/mencipta-kenyataan-baru-p…
Retnaningdyah, P. artikel. Meningkatkan Minat Baca Ala sekolah Austrlian dari sumber http://www.radioaustralia.net.au/…/meningkatkan-min…/1408053 diakses tanggal 21 Juni 2015.
Whitney, Diana dan Trosten-Bloom, Amanda. 2010. The Power of Appreciative Inquiry. Berrett-Koehler Publishers

Thursday, April 30, 2015

RBK Goes Wild

Oleh: Unggul Sujati Prakoso
Pegiat RBK, Mahasiswa Farmasi

Kali ini merupakan edisi 17/4/2015 ekoliterasi yang melaporlkan cuilan catatan perjalanan di taman nasional Bantimurung Bawakraeng.

Asri nan sejuk itulah gambaran mengenai taman nasional bantimurung bawaraeng (TNBB) yang ada di sulawesi selatan. Ini merupakan kali pertama bagi saya mengunjungi tempat ini yang juga sekaligus sebagai tempat penangkaran dan konservasi berbagai jenis kupu - kupu. Taman nasinal ini berada di kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Perjalanan ke TNBB memakan waktu lebih kurang 2 jam dari kota makassar.

Perjalanan dari kota makassar menuju TNBB menyuguhkan pemandangan alam yang indah khas pedesaan di sulawesi selatan yang mayoritas peduduknya berasal dari suku bugis. Begitu keluar dari kota makassar, yang terlihat di kanan dan kiri jalan adalah sawah yang menguning karena bertepatan dengan musim panen padi. Selain itu terdapat panoraman lain berupa gunung gunung kapur yang menjulang tinggi dan terdapat aktivitas penambangan batu kapur sebagai bahan baku pembuatan semen sehingga akan terlihat pada salah satu bagian pengunungan kapur akan seperti bagian yang "krowak". Terlihatnya bagian pegunungan kapur juga sebagai penanda bahwa perjalanan hampir sampai ke TNBB.
Begitu tiba di kawasan TNBB, pengunjung akan disambut oleh sebuah gapura besar bertuliskan Taman Baca Mata Aksara Nasional Bantimurung berbentuk setengah lingkaran yang menjulang tinggi. Selain itu ada juga sebuah patung besar berbentuk kera berwarna cokelat dan dikanan serta kiri jalan terdapat hamparan rumput yang tidak begitu luas yang menjadi ladang pangan untuk sapi sapi penduduk sekitar sehingga menambah keasrian kawasan ini. 

Setelah sampai di tempat parkir kendaraan pengunjung akan di sambut kembali dengan kios kios penduduk yang menjajakan aneka suvernir khas TNBB berupa kupu kupu yang telah diawetkan dalam berbagai bentuk hiasan. Bagi saya yang lama tinggal di yogyakarta, kawasan TNBB seperti tidak asing karena hampir hampir mirip dengan kawasan wisata air terjun yang ada dikaliurang dan bukit bukit kapur yang ada di gunung kidul. Namun yang penataan kawasan yang baik menjadikan taman nasional ini menjadi lebih asri dan sejuk.
Didalam area TNBB juga terdapat sebuah museum kupu kupu tempat pameran jenis kupu kupu yang ada di kawansan taman nasional. Namun ketika saya tiba disana sayangnya musem belum dibuka karena masih dalam proses pembangunan. Suasana menjadi semakin asri dan alami dengan adanya aliran air yang di alirkan pada saluran di sebelah kanan dan kiri jalur pengunjung yang berasal dari air terjun yang ada di kawasan ini. Derasnya air terjun bahkan terdengar begitu memasuki pintu masuk kawasan ini sehingga menambahkan kesejukan udara tnbb.

Air terjun yang berasal dari sungai bantimurung ini begitu deras terasa karena masih berada pada musim penghujan. Sungai yang berada di atas air terjun terbentang panjang hingga masuk cukup dalam kedalam hutan di tnbb. Penelusuruan sungai bantimurung dengan melewati hutan, pengunjung akan di suguhkan oleh suasana yg cukup lembab dan dingin karena lebatnya pepohonan yg tumbuh. Jalur penelusuran hutan cukup tertata dengan baik karena telah tersedia jalan setapak yang telah dikeraskan. Selagi berjalan di tengah hutan, suara yang berasal dari satwa yang hidup di kawasan ini sangat menghibur dan indah ketika mendengarnya.
Diujung jalan setapak, terdapat sebuah goa yang merupakan tempat yang biasa digunakan oleh bawakraeng bantimurung seorang raja dari kerajaan goa tallo untuk merenung dan menyendiri. Pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu dari masyarakan yang tinggal di sekitar kawasan tnbb. Pemandu yang akan menjelaskan secara detail sejarah dari goa tersebut mulai dari tempat dimana lambang kerajaan goa tallo diambil hingga tempat sang raja duduk bersemedi dan bersembahyang. Namun yang sangat disayangkan adalah banyaknya coretan tangan tangan yang tak bertanggung jawab sehingga mengotori keasrian gua ini.
Bagi penulis yang baru pertama berkunjung ketempat ini, keindahan dan asrian tnbb membuat ingin berkunjung kembali suatu saat nanti dan menikmati suasana alam khas pedesaan di sulawesi selatan yang hijau nan menentramkan hati bagi siapa saja yang berkunjung kemari walaupun aktivitas industri penambangan gunung kapur sedikit mengusik keindahan alam dan kurang terawatnya beberapa fasilitas umum yang tersedia disini seperti taman yang mulai di tumbuhi rumput liar, gedung pertemuan yag terkesan tak terawat, banyaknya coretan dari orang orang yang tak bertanggung jawab.
Ya semoga saja seiring waktu keasrian dan keindahan alam TNBB dapat selalu terawat dan terjaga sehingga dapat dinikmati oleh siapa saja yang memburu keindahan yang telah disediakan oleh alam.
Salam hijau. [17/4/2015]

Tulisan Terbaru

Populer

Hamka For RBK

Hamka For RBK

Sjahrir For RBK

Sjahrir For RBK