Showing posts with label komunitas. Show all posts
Showing posts with label komunitas. Show all posts

Friday, December 25, 2015

Apresiasi Kerja Butet Manurung

Oleh Lutfi Zahwar

                                                        "Apa artinya manusia tanpa refleksi? Pasti serba teknis. Robotik. Mekanis. Kering.   Klise. Miskin budaya. Tidak bahagia.

                                                      Refleksi pintu bagi manusia untuk keluar sekaligus melampaui realitas formal yang beku, lalu menemukan dunia nilai alternatif. Di situ, daya cipta terpompa dan melahirkan kreativitas. Manusia pun menemukan kebahagiaan kultural yang jauh lebih bernilai daripada kesenangan material."

Seorang teman dalam catatan facebooknya menuliskan, "meninggalkan respon setelah membaca tukisan bagus adalah adil. Bagi diri sendiri, bagi si penulis sebagai bentuk penghargaan, dan bagi maksud-maksud kemanusiaan yang ditujunya." Teman saya itu, Fauzan Anwar Sandiahmemilih menulis untuk meninggalkan kesannya yang mendalam ketika membaca tulisan Butet Manurung, Apa Yang Salah Dengan Volunter? Ia menangkap apa yang ditulis Butet setidaknya tiga mantra yang menguatkan. Ia mempunyai alasan tersendiri kenapa menyebutnya dengan mantra, barangkali dipengaruhi pengalaman personalnya terlibat di komunitas. "Kenapa saya sebut mantra? Alasannya sederhana, karena diperlukan ritual khusus antara praktik dan refleksi untuk memahaminya. Hanya bisa diresapi lewat dua hal itu." Fauzan benar, tak sebatas untuk menghargai penulis, respon itu menguatkan diri-sendiri.
Membaca ulang tulisan Butet Manurung di Harian Kompas itu memberi kita kekuatan untuk tak gampang patah. Khususnya mereka yang selama ini terlibat, membenamkan dirinya di kerja-kerja kerelawanan. Bagi siapapun tulisan itu membuka mata siapa saja bahwa hidup itu tak selalu berarti mengejar kepentingan diri. Kisah Butet Manurung, lulusan Australia yang memilih masuk hutan untuk mengajar anak-anak Rimba di sana adalah kisah pengorbanan yang radikal. Tentu saja ia bisa memilih posisi yang lebih "nyaman" untuk dirinya. Tapi Butet mengartikan kenyamanan itu lain, berbeda dari kebanyakan orang. 
Dalam kisah pewayangan, kita banyak disuguhkan epos tentang pengorbanan. Tokoh Bhisma dalam Mahabharata juga sebuah tauladan pengorbanan. Sebagai putra mahkota ia berjanji tak akan naik takhta, juga tak akan kawin dan punya anak, demi kebaikan ayahnya. Kita segera tahu Bhisma mengorbankan dirinya, masa depannya untuk seorang yang sedarah, orang tuanya. Butet Manurung lain, ia berikan hidupnya, pengetahuannya, cinta kasihnya untuk keselamatan dan kebahagiaan makhluk lain yang tak ia kenal. 
Apa yang dilakukan oleh Butet Manurung memasuki hutan, mendirikan sekolah untuk anak-anak rimba membuat rasa kemanusiaan kita tersentuh. Bukan karena apa yang dilakukan Butet itu sama sekali baru. Di dunia ini banyak kisah lain yang juga menyentuh. Kisah-kisah itu menjadi menyentuh karena apa yang Butet dan relawan-relawan lain lakukan tak dianjurkan dalam materi pendidikan di bangku sekolah atau kuliah, dan tak diatur hukum. Justru ia melampaui hukum, melebihi moralitas, dan teori-teori di sekolahan. Butet mampu mencapai apa yang disebut Goenawan Mohamad sebagai dasar yang etikal, yakni semacam kebaikan budi atau cinta kasih, yang memberikan segalanya, menanggungkan segalanya demi liyan: bagi yang bukan bagian diriku, bukan kaumku, melainkan ia yang terpuruk di luar pintuku, yang tak kukenal, yang tak akan memberikan apapun kepadaku, tapi terancam ketakutan, tertindas, dan menderita. 
Barangkali tak terlalu tepat jika laku Butet itu disebut laku pengorbanan. Baginya itu adalah sebuah laku kemerdekaan. "Sulit digambarkan perasaan saya ketika mendengar kata pertama yang berhasil dibaca oleh murid saya, lalu di lain waktu melihatnya membantu orangtuanya di pasar menghitung hasil penjualan produk hutannya. Bantuan kecil kita bisa jadi besar maknanya bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Saya merasa dibutuhkan. Butuh dan dibutuhkan menghasilkan perasaan yang berbeda. Letaknya jauh di kedalaman hati, membuat kita merasa berharga, menghargai hidup dan akhirnya bersyukur. Bekerja, apa pun itu, termasuk pekerjaan sukarela, menurut saya selalu dimulai dari menghargai diri sendiri, menghormati hidup kita sendiri. Bahwa kita begitu berharga, bermanfaat, dan berarti, sehingga kita ingin membagikan anugerah yang kita punya kepada orang lain melalui segala daya dan kreativitas. Melalui penghargaan kepada diri sendiri, kita akan menemukan banyak hal menarik dan berguna yang bisa dilakukan. Ini memang terlihat seperti pengabdian terhadap orang lain. Tapi tidak, karena sebenarnya kita mengabdi kepada kemanusiaan yang sejati."
Butet tak bertolak sebagai "aku" yang merumuskan solusi dan tahu segalanya, bagaimana menyelesaikan persoalan di sana. "Kita hanya perlu lebih banyak melihat dan mendengar langsung. Langsung itu artinya dari luar layar monitor HP, tablet, atau laptop-mu! Ada banyak hal yang tak berada di tempatnya. Datang ke sana, diam, dan amati dengan rendah hati. Rendah hati artinya kita datang dengan pertanyaan, bukan jawaban. Sekalipun ada perasaan dibutuhkan, kita datang bukan untuk jadi pahlawan, bukan untuk menggurui, tapi mempelajari, mengenali, sambil mencari apa yang bisa kita bantu. Lalu biarkan hatimu mengatakan apa yang harus kamu lakukan."
Melalui tulisan Butet kita menjadi tahu bahwa lakunya tak digerakkan kalkulasi pahala dan dosa seperti yang sering difatwakan orang yang mengaku taat beragama. "Bayangkan jika suatu hari, di usia 75 tahun, tiba-tiba kita merasa hampa dan baru tersadar bahwa kita belum melakukan apa-apa untuk menghargai satu kali hidup kita."

Refleksi Limolasan (2 habis)

Oleh : Lutfi Zahwar Lupet

Kedua, malam itu muncul kegelisahan bahwa pemerintah Kota maupun Kabupaten Kediri selama ini dirasa kurang memberikan dukungan dan kurang menyediakan ruang dalam kerja-kerja kebudayaan. Pemerintah melalui dinas-dinas terkait kurang memberi perhatian pada keberadaan komunitas-komunitas yang aktif bergiat di kerja-kerja kebudayaan. Mereka jarang sekali melibatkan komunitas-komunitas di acara-acara kebudayaan yang diadakan pemerintah. Tidak menjadi tuan rumah di rumah sendiri. 
Dalam pertemuan kedua Sekolah Literasi Podjok Batja, Fauzan Anwar Sandiah secara garis besar membagi gerakan literasi menjadi tiga model: model literasi-preneurship, model literasi formal (state minded), dan model literasi organik. Saya hanya akan menyinggung dua model terakhir yang cukup relevan dalam percakapan sarasehan malam itu. Melalui peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 23 tahun 2015 tentang budi pekerti menjadi afirmasi baru dalam soal definisi dan praktik formal gerakan literasi. Melalui kepala Badan Bahasa Kemendikbud istilah gerakan literasi berarti, ”kegiatan membaca buku selama 15 menit sebelum belajar…[serta] kegiatan menulis. Dalam arti ini, gerakan literasi merupakan aktivitas membaca dan menulis di lembaga pendidikan.
Model gerakan literasi formal atau ala negara ini merupakan salah satu wujud dari pemaknaan umum mengenai literasi sebagai aktivitas membaca dan menulis. Narasi soal gerakan literasi juga dekat dengan proyek pemberantasan buta huruf, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta konsekuensi lanjut dari proyek pembangunanisme global yang dianut PBB. Tampaknya gerakan literasi bagi negara adalah bagian tanggung-jawab atas tuntutan eksternal dalam isu-isu pembangunan global yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Proyek-proyek semacam Literacy Initiative for Empowerment, Education for Sustainable Development, atau 21st Century Skill. 
Segera terlihat bahwa negara yang diwakili oleh pemerintah atau birokrasi memiliki kepentingan-kepentingan atau agenda-agenda yang sangat mungkin berlainan dengan idealisme komunitas-komunitas akar rumput. Tidak terlibatnya negara di satu sisi memberikan keuntungan bagi komunitas akar rumput untuk memperjuangkan agenda sesuai dengan idealismenya. Mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh negara. Memunculkan wacana tandingan negara yang begitu dominan berkiblat pada idealisme pasar, pembangunanisme. Ruang-ruang kosong ini, yang tidak digarap negara yang seharusnya digarap oleh komunitas-komunitas akar rumput. Agenda-agenda tentang lokalitas, agenda pro lingkungan, dan pendidikan kritis, menjadi sedikit dari banyak hal yang bisa dikerjakan komunitas-komunitas akar rumput. Tidak menutup kemungkinan dukungan dari negara disertai dengan beberapa syarat yang mengharuskan komunitas-komunitas akar rumput menyesuaikan agenda mereka dengan agenda negara.
Tidak bisa dipungkiri di satu sisi bantuan dari negara memunculkan relasi problematis antara negara dengan komunitas-komunitas akar rumput. Negara memang tidak secara langsung ikut mengendalikan, menguasai, atau menjadi memiliki komunitas yang didukungnya. Meskipun harus dicatat bahwa pemilikan atau penguasaan tidak selalu ditandai dengan kepemilikan dan penguasaan secara administratif struktural. Namun mempengaruhi model berpikir dan cara kerja komunitas akar rumput. Pengaruh itu bisa saja menjadikan komunitas akar rumput bersifat atomistik, administratif, dan birokratis. Bahwa dalam mengadakan kegiatan yang terpenting dan paling utama adalah laporan pertanggung-jawaban. Sehingga ruang gerak komunitas akar rumput menjadi relatif tidak sebebas sebelumnya. 
Menurut Jauhari atau yang biasa dikenal dengan sebutan Penthul, “mengadakan kegiatan bersama itu bukan sekedar pentas kemudian selesai kita pulang. Tetapi bersama-sama mempersiapkan dari awal. Bareng-bareng mempersiapkan dekor, pencahayaan, panggung, dan kebutuhan-kebutuhan lain. Menggodog ide bersama-sama, tidak datang hanya ketika semuanya sudah siap. Kerja bersama itu mengandaikan semuanya terlibat.” Ditambahkan oleh Hanif, “saya membayangkan acara Limolasan bukan hanya menjadi milik Mahanani, tetapi menjadi milik banyak orang, banyak komunitas.”
Apa yang disampaikan oleh Jauharun atau Penthul dan Ha Nifmerepresentasikan kesadaran model organik. Menurut Fauzan, “kesadaran organik dapat digambarkan sebagai rasionalitas yang melekat atau sejalan dengan proses tumbuh kembang antara pegiatnya dengan komunitas. Komunitas yang menganut model ini pada umumnya dicirikan atas apresiasi yang besar terhadap proses pencarian makna dalam aktivitas manusia-manusianya.” Kesadaran organik berangkat dari kebebasan orang-orang di dalam komunitas dalam mencipta gerak, pola pikir, dan orientasinya menurut apa yang dianggapnya sebagai sesuatu yang baik. Dalam model organik perumusan gerak dan orientasinya tidak sedang diintervensi maupun didikte oleh pihak yang memiliki kekuasaan atau kekuatan yang lebih tinggi. Model ini mengandaikan relasi setara, egaliter antar orang-orang yang terlibat. Keputusan ditentukan bersama melalui wicara.
Tentang ruang-ruang pementasan yang terbatas, barangkali impian Jauharun untuk membawa Limolasan dan acara-acara semacamnya ke ruang-ruang publik patut dan perlu dicoba.

Refleksi Sarasehan Limolasan (1)

Oleh Lutfi Zahwar

Selalu saja ada cerita menarik di balik gelaran Limolasan yang penting dan perlu untuk dijadikan refleksi.
Malam itu, 23 Desember, di Taman Baca Mahanani digelar Limolasan yang kedua. Sebelumnya diadakan dua bulan lalu dengan nama Padhang Mbulan. Pergantian nama Padhang Mbulan menjadi Limolasan tentu saja bukan tanpa alasan. Padhang Mbulan selama ini sudah terlalu lekat dengan Jamaah Maiyah dan Cak Nun. Pergantian nama itu dipilih untuk membedakan supaya tak rancu dan membingungkan. Banyak orang mengira gelaran Padhang Mbulan di Mahanani ada kaitannya dengan agenda kegiatan Jamaah Maiyah, padahal tidak. Kemudian dipilihlah nama Limolasan, sesuai tanggal pelaksanaan. Tanggal lima belas bulan Qomariyah.

Sebagai ruang berkesenian yang baru, sejak mula Limolasan diniatkan menjadi ruang bagi siapa saja untuk mengapresiasi seni dan sastra. Mengingat di Kediri apresiasi seni dan sastra semacam ini masih jadi sesuatu yang langka dan pinggiran. Di Limolasan mereka yang dapat tempat tak harus sastrawan, penyair, seniman yang "sudah jadi", siapapun dapat tempat. Limolasan mengusung semangat bahwa setiap orang adalah seniman dengan ekspresinya masing-masing. Keyakinan bahwa seni dan sastra sebenarnya menjadi bagian penting hidup keseharian yang kemudian melahirkan Limolasan. Bayangkan betapa kering kerontangnya jiwa manusia yang hidup tanpa seni dan sastra. Hidup menjadi sangat mekanis, robotik, serba kalkulatif. Berkesenian dan berkesusastraan dalam bentuk dan eskpresinya masing-masing menjadi pintu bagi manusia untuk keluar sekaligus melampaui realitas formal yang beku, lalu menemukan dunia nilai alternatif. Di situ, daya cipta terpompa dan melahirkan kreativitas. Manusia pun menemukan kebahagiaan kultural yang jauh lebih bernilai daripada kesenangan material.

Di Limolasan, setiap kali pertunjukkan panggung selesai, mereka yang tak buru-buru beranjak dipersilakan untuk mengikuti sarasehan. Siapapun mendapat kesempatan untuk bicara apa saja, urun rembug. Pemain teater, pembaca puisi, pegiat literasi, seniman gravity jalanan, wartawan, guru, mahasiswa yang tak kunjung lulus, mahasiswa DO duduk bersama meriung melingkar di atas karpet mendiskusikan perihal kurangnya ruang-ruang untuk mengekspresikan kesenian di Kediri.

"Tak banyak ruang-ruang bagi kita-kita untuk menampilkan dan menyuguhkan seni khususnya teater kepada masyarakat. Masyarakat belum terlibat dan masih berjarak pada kesenian-kesenian semacam ini. Begitu juga halnya pemerintah, perhatian mereka pada para pekerja seni masih sangat kurang. Untungnya ada Mahanani yang menyediakan ruang itu. Tapi sampai kapan kita harus bergantung terus pada Mahanani? Sampai kapan Mahanani akan menjadi satu-satunya alternatif tempat untuk kita berkarya bersama? Kita tentu saja tidak menginginkan itu, kita harus perbanyak, gandakan ruang-ruang itu." Pada saat itu saya tak sedang memegang pena untuk mencatat apa yang ia sampaikan, kira-kira itu tadi uneg-uneg yang terlontar dari pemain Teater All-Size yang saya lupa namanya.

Pembukaan itu kemudian disambut dengan berbagai komentar dari peserta sarasehan yang lain. Bahwa memang penting diadakannya rembug-rembug semacam ini yang tidak hanya berhenti malam itu saja. Harus ada pertemuan lanjutan. Pertemuan perwakilan beberapa komunitas di Kediri untuk membahas dengan lebih detail poin-poin yang telah disampaikan malam itu. "Saya sudah bosan dengan acara yang diadakan pemerintah, yang ditampilkan itu-itu saja. Selama ini kita tak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah yang difasilitasi itu-itu lagi, itu-itu lagi. Kita harus merebut itu, mengisinya dengan sesuatu yang baru," kata salah satu peserta sarasehan.

Masih banyak hal-hal yang disampaikan oleh teman-teman. Saya tidak mengingat semuanya. Namun ada beberapa poin yang ingin saya refleksikan melalui tulisan ini. Pertama, Pekerjaan kebudayaan tak bisa dilepaskan dari kerja-kerja aksi dan refleksi (diskusi, tukar pikiran, membaca, dan menulis). Pekerjaan kebudayaan selalu membutuhkan aksi dan refleksi. Yang satu tidak bisa meniadakan yang lain. Mengatakan bahwa banyak bicara, banyak membaca, banyak menulis itu tidak penting dalam kerja-kerja kebudayaan, yang penting adalah aksi, saya pikir terlalu berlebihan.

Saya merasa kita sedikit trauma dan antipati dengan kegiatan-kegiatan membaca, berdiskusi, dan menulis. Toh itu tak menyelesaikan permasalahan apapun. Permasalahan yang mendesak diselesaikan dengan aksi bukan dengan membaca dan berdiskusi. Diskusi terus kapan aksinya? Kapan masalah selesai? Sudah seperti politikus saja. Trauma atau antipati itu menjadi beralasan ketika yang mereka lihat adalah politikus-politikus yang suka mengobral janji atau pengamat-pengamat yang sering tampil di televisi.

Kerja-kerja kebudayaan adalah kerja-kerja jangka panjang yang seharusnya dibarengi dengan konsep yang matang. Mengebawahkan refleksi (kerja-kerja membaca, diskusi, dan menulis) atau sebaliknya mengebawahkan aksi tentu saja menjadi kontraproduktif. Aksi tanpa refleksi hanya akan membuahkan sesuatu yang dangkal, riuh, nyaring, ramai tapi kosong. Refleksi tanpa aksi juga tak akan menghasilkan apapun selain angan-angan melayang yang tak menjejak tanah. "Teralienasi dari masyarakat," ungkap salah satu peserta.

Malam itu kita tidak sedang merumuskan model kebudayaan kelontong. Istilah “kebudayaan kelontong” ini saya sitir dari Muhidin M Dahlan yang ia tulis dalam esainya yang berjudul, Jokowi dan Kebudayaan Kelontong. Kelontong merujuk pada warung yang menjual apa saja yang sedang laku, sedang dicari, dan dibeli banyak orang.

Model berpikir kelontong adalah berpikir praktis dan pragmatis. Kedalaman menjadi sesuatu yang asing dan tak lalu. Apapun asal laku, apa yang sedang digemari masyarakat banyak, itu yang kemudian disuguhkan. Kerangka berpikir kelontong jelas, yang tak membawa nilai ekonomi kini dan di sini pasti diabaikan. Dalam kebudayaan kelontong, siapa saja yang tak praktis, tak segera menghasilkan yang kongkrit, segera bisa diaplikasikan pasti terbuang dan tak penting. Dalam kebudayaan kelontong, mereka yang melakukan kerja-kerja reflektif harus siap-siap gigit jari.

Pada awalnya, permasalahan apapun diselesaikan melalui wicara, komunikasi. Banyak orang menyebutnya diskusi, ngobrol, koyah, dan mungkin disebut maido. Wicara adalah sesuatu yang elementer, sesuatu yang mendasar yang dibutuhkan oleh manusia untuk mengatasi masalah bersama untuk menciptakan tata hidup lebih baik yang dikehendaki. Dalam kebebasan berekspresi setiap orang sangat mungkin memiliki preferensi yang baik dan yang buruk berbeda-beda. A untuk kelompok ini baik, sedangkan menurut kelompok itu buruk. Hanya melalui wicara, beragam kepentingan tadi dapat dipertemukan untuk menjalin konsensus/kesepakatan preferensi bersama. Tanpa itu tentu saja kepentingan-kepentingan beragam tadi amat sulit dipertemukan. Maka tidak bisa tidak dalam merumuskan kerja-kerja kebudayaan di Kediri dibutuhkan kerja keras bersama melalui dialektika ganda, aksi dan refleksi yang tak pernah selesai.

Thursday, December 24, 2015

Ketegaran di akhir tahun


David Efendi, Arya Dwiyoga, Lutfi Lupet, A. Sarkawi

Dua pekan di akhir tahun saya saksikan keteguhan, ketegaran, kreatifitas dirawat sedemikian asik di Rumah Baca komunitas. Keterlibatan anak anak kampung, warga kampung, Dan pegiat baru RBK memperkuat thesis mulia: kekuatan mikroba tak dapat dihindarkan. ITU mantra yang menggerakkan hati, pikiran Dan tangan manusia manusia kalibedog.
Belajar dengan diskusi, berbagi pengalaman menulis, mengapresiasi hasil penelitian, perpustakaan jalanan, memasak, menggambar, sablon, desain poster, membaca buku, menanam, berkarya apa saja untuk semua orang yang ada di Rumah Baca komunitas sampai ujung tahun ini. Minggu yang sangat dinamis. Penuh pembelajaran Dan penuh harapan. Lupet, seorang pegiat menuliskan kesan ini agak panjang:

"... seperti tari dan menggambar sebagai penemuan kemerdekaan. Begitu halnya diskusi. Ia tak hanya menyampai ulang apa-apa yang tercetak di buku maupun mengulang yang di dengar. Dalam membicarakan perihal sesuatu, seseorang tak sekedar mengulang tapi memaknai ulang, bebas menghadirkan penafsiran baru atas realitas. Baik itu yang diberitakan, dituliskan, dan didengarkan.
Kemerdekaan menghadirkan penafsiran yang baru itulah yang selalu membuat diskusi tak lekas membosankan. Walaupun hal itu kerap menyebabkan tak ada arah yang pasti dan tak lekas mencapai hasil. 

Di zaman yang tiap menitnya kita dituntut hasil dan sesuatu yang kongkrit barangkali diskusi, ngobrol, bertukar pendapat, melatih pikiran tidak dianggap sebagai suatu hal yang berharga. Ketika sesuatu yang kongkrit itu menjadi acuan tunggal yang berharga dan tak berharga, maka kemerdekaan dan keleluasaan menjelejah horizon pemikiran menjadi suatu cemooh. 

Tiga hari berturut-turut Rumah Baca Komunitas mengadakan diskusi untuk siapapun yang tak menghendaki suatu ukuran kebenaran tunggal."

"....hebat RBK bisa bertahan lama...", kesan Mas Iwan yang mengisi dejure pekan ini. Ada juga kesan Dicky Senda tentang RBK yang dinamai " komunitas Indie" (indigo?) Karena kehangatan di Rumah manusia. Lalu saya pun bertanya Tanya, APA yang menjadikan komunitas ini bertahan? Atau prasyarat APA yang akan mengawetkan komunitas ini ?

Ada banyak jawaban tentu saja. Sarkawi memberikan pendapatnya bahwa "Bergiat di komunitas butuh kejujuran, kepercayaan, keterbukaan. Butuh kekuatan untuk melawan penindasan, melawan kekerasan, diskriminasi. Saatnya tidak diam dengan kekerasan, diskriminasi serta penindasan. Diam adalah melanggengkan, bersuara adalah perlawanan."

Saya menilai ketahanan komunitas sangat dipengaruhi oleh ketersediaan serangkaian bahan Baku yaitu hati, pikiran dan perbuatan. Bergiat di dalam komunitas butuh turun tangan, butuh hati yang damai dalam ikatan Dan himpunan, serta keluarga, Dan bergiat di dalam komunitas butuh kepala (otak) yang terus belajar.

Arya Dwiyoga menambahkan bahwa ketahanan komunitas terbangun juga dari pemikiran “Aja mbedakake marang sapadha-padha”. Artinya Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia. dan sebuah tindakan yang berlandaskan “Rela lan legawa lair trusing batin”. Artinya Ikhlas lahir batin.
Selamat berkarya semuanya

Wednesday, December 2, 2015

Catatan Penghuni RBK

Lupet

Bangunan Rumah Baca Komunitas yang sering kita sebut dengan Rumahnya Manusia, seperti kita bersama tahu bukanlah bangunan megah dengan fasilitas serba lengkap. Tak ada air conditioner ataupun lemari es. Ruang penyimpanan buku sekaligus ruang berdiskusi nampak sederhana, apalagi dapur dan kamar mandinya tak mengkilap, tak dipenuhi dengan berbagai peralatan memasak masa kini. Arsitekturnya biasa saja, tak menyolok, terletak di ujung gang buntu, dan di sekitarnya rumah-rumah masyarakat yang juga sederhana. Hanya saja lantainya bersih, kebun tanaman di halamannya terawat dengan baik, koleksi bukunya ribuan, dan terpenting ia mempersilahka dan menerima dengan hangat siapa saja yang datang, tanpa membeda-bedakan.



Barangkali ia bukan tipe bangunan yang layak dipotret untuk dijadikan contoh orang-orang yang ingin membangun rumah. Kecuali bagi mereka yang tahu sejarahnya yang berharga. Bahkan di musim penghujan,  air masih bisa menerobos atapnya yang berlubang di sana-sini. Air hujan yang melewati celah atapnya ditampung di ember yang ditaruh persis di bawah tempat jatuhnya air. Setiap datang  pagi ia disapu, halaman depannya yang penuh dengan tanaman disirami pakai air bekas wudhu atau bekas cuci peralatan dapur. Tentang ini, diilhami oleh filosofi bahwa konsep menghemat bukan hanya menghemat komoditas.



Bangunan itu dikontrak dengan harga yang tak terlalu mahal untuk ukuran bangunan yang tak terlalu kecil dan dipelihara juga dengan ongkos yang murah. Dengan demikian terbebas dari ketergantungan pada penyumbang-penyumbang kakap. Ia bisa terus hidup tanpa diperhatikan pejabat-pejabat kakap. Sampai saat ini ia tak pernah berniat untuk mengajukan bantuan. Ia dihidupi dengan iuran pegiatnya atau siapapun yang bersimpati padanya.




Rumah Baca Komunitas bukan tipe-tipe gerakan literasi yang berharap banyak pada proposal ke perusahaan dan negara. Ia tak berniat menghimpun banyak dana, karena dikawatirkan akan merusak nilai-nilai kerelawanan yang sedang dan telah diperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Kurang dari sebulan saya tinggal di sana, bukan bangunan dan fasilitas fisik yang jadi perhatian utama. Karena ia berdiri tak bertujuan untuk kasih unjuk apapun selain "membangun" manusia.

Pada awalnya saya tidak terpikir untuk pulang selama ini, sudah hampir tiga minggu di Kediri. Karena sakit yang tak kunjung sembuh menyebabkan rindu ibuk di rumah akhirnya memutuskan untuk pulang. Rencana awal sekitar seminggu, balik ke Jogja setelah acara pernikahan sepupu. Tak ada niat meninggalkan Rumahnya Manusia sampai berminggu-minggu.



Baru sebulan tinggal di Rumahnya Manusia, saya merasa belajar banyak hal tentang kesederhanaan hidup yang selama ini tak saya dapat di tempat lain. Contoh kecil, tentang air bekas wudhu ataupun bekas cucian perkakas dapur yang selalu dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Jika selama ini saya diajar tentang menghemat sesuatu adalah menghemat komoditas, dan air kran bukan bagian dari komoditas maka air itu tak perlu dihemat. Lalu tentang hasrat untuk membeli atau mengkonsumsi, selama tinggal di RBK, saya merasa hasrat-hasrat itu ditekan kuat. Bukan oleh alasan-alasan moral kesalehan yang lebih sering terdengar klise dan normatif. Tapi melalui praktik hidup keseharian.



Selama ini ketika haus, lapar, ataupun ingin ngemil, dengan segera pergi ke alfamart, indomaret, warung burjo, ataupun angkringan. Beli es teh, nasi telor, teh botol kemasan atau merk minuman lain yang dengan mudah kita dapatkan dengan mengeluarkan sejumlah uang.



Di RBK saya belajar untuk memenuhi kebutuhan itu sendiri. Saya pemalas untuk terlibat di urusan dapur. Daripada ribet membuat teh, lebih praktis saya pergi saja ke angkringan, burjo atau alfamart indomaret, tak ribet dan beres urusan. Di sana banyak pilihan dan kerap lebih nikmat daripada buatan sendiri. Tapi ada beberapa hal yang tak saya sadari, sebagai individu saya semakin tergantung dan tak berdaulat dalam memenuhi kebutuhan.



Dalam hidup tak mungkin kita bisa sendiri, selalu butuh kehadiran yang lain. Tapi tak lantas semua kebutuhan kita gantungkan pada yang lain. Di RBK saya belajar bahwa berdaulat itu bisa dimulai dari hal kecil, untuk minum kita bisa memproduksi sendiri tanpa harus beli air kemasan. Ketika menginginkan teh, kopi, saya belajar membuatnya sendiri di dapur RBK. Tentu tak semuanya bisa saya penuhi sendiri, setidaknya di RBK saya belajar memulai untuk memenuhi kebutuhan dengan mau repot-repot. Menyeduh teh sendiri, merebus air untuk minum. Barangkali kecil, tapi hal kecil itu membentuk kesadaran bahwa hidup berdaulat, tidak tergantung itu, dimulai dengan kemauan untuk repot dan hidup yang tak praktis.



Lalu apa hubungannya dengan pulang lama? Saya sedang menikmati dengan perasaan yang bahagia menerapkan apa-apa yang saya peroleh di RBK. Bahkan Ibuk terkaget-kaget melihat perubahan anak lelakinya yang tak seperti biasanya. Saya jadi terbiasa terlibat di urusan dapur, mengulek sambal, mengupas bawang merah, bawang putih, mencuci piring bekas makan.  Membuat kopi dan teh sendiri, padahal biasanya saya langsung ngacir ke toko, tinggal beli yang diinginkan. Di rumah saya tak lagi minum air kemasan, merebus air sendiri. Menungguinya sampai dingin kemudian baru memasukkannya ke cerek tempat minum. Hal-hal kecil itu, yang  tak seberapa itu, yang barangkali bagi orang lain sepele, tapi dari sana saya belajar mandiri dan berdaulat. Dan saya ingin sanggup repot-repot memasak.

Tuesday, December 1, 2015

seri Merawat Komunitas

  • Siapakah aku dan peranku dalam Komunitas?
    1. Karena komunitas itu adalah keluarga, aku sangat gembira diakui sebagai warga komunitas.
    2. Bentuk penghargaanku adalah dengan aku memberikan peran, energi, untuk menguatkan komunitas;
    3. Aku terlibat secara aktif karena aku gembira melakukannya
    4. Aku tak perlu menunggu orang lain untuk melakukan kebaikan kecil di komunitas. Ketika lampu belum nyalah, tanaman kering, banyak sampah, aku memggunakan jasadku untuk mengurusnya.
  • Abdullah Zed Munabari
    11/15, 2:44pm
  • Rumah Baca Komunitas
    11/15, 2:47pm
    Rumah Baca Komunitas
    5. Tak pernah mengharapkan pamrih untuk melakukan kebaikan
    6. Keberadaanku, seharusnya memperkuat komunitas untuk berkarya bukan malah memghambatnya dgn kelakukanku yang gak penting amat
    7. Menghargai orang itu sangat mulia, karena dari sana saya merasa bermakna
    8. Belajar komitmen sosial itu adalah hal samgat penting, apalagi komitmen yang bertumpuh pada kerelawanan bukan kontraktual (pekerjaan bergaji)
  • Rumah Baca Komunitas
    11/15, 2:49pm
    Rumah Baca Komunitas
    9. Seperti air memgalir, kebaikan yang kutanam akan tetap menjadi kebaikan. Juga, upaya menempah diri menjadi manusia yang bermakna. Menjadi manusia yang sadar dari, mau kemana akan berlabuh

Tuesday, September 8, 2015

"Semesta Mendukung" RBK

Agam Primadi
(Pegiat Rumah Baca Komunitas)

Gerakan membaca merupakan suatu gerakan yang harus dipelopori oleh siapa saja dan lebih dari satu, sebagai visi pencerdasan bangsa maka negara pun tidak boleh absen dari dari gerakan ini. Secara histori, gerakan ini berdiri bersamaan dengan peringatan hari pendidikan nasional yaitu  pada tanggal 2 mei 2012. Gerakan Iqro bermula dipelopori organisasi pelajar di Yogyakarta IRM/IPM beberap tahun silam kemudian dilanjutkan dengan nama Rumah Baca Komunitas. Komunitas ini muncul berangkat dari keprihatinan atas betapa miskinnya bahan bacaan masyarakat, dan tidak meratanya distribusi buku, semakin ke daerah tertinggal buku semakin mahal, dan semakin jarang ditemui. Ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan pengetahuan di negeri ini sehingga apa yang disebut Taufik Ismail sebagai "Tragedi Nol Baca" harus kita akhiri (baca:RBK)

"Semesta mendukung"
Kata "Semesta Mendukung" sebenarnya adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap pertolongan alam yang mendukung gerakan ini berjalan hingga berusia kurang lebih empat tahun. Adalah David Efendi, kami biasa memanggilnya dengan sebutan Cak David.  dari mulut lulusan Amerika tersebut kata itu pertama terlisan dengan sangat sederhana tapi penuh dengan makna. Lalu kemudian kanda Fauzan Anwar Sandiah mencoba menangkap dan menguraikan terhadap saya apa tafsir dari kata "semesta mendukung". Dia memaparkan dengan santai, "saya menangkap makna dari kata semesta mendukung yang dilontarkan cak David adalah pada intinya apabila kita berbuat baik dan memiliki niat baik. Alam dengan senang hati pasti mendukung, alam pada konteks ini diganti dengan kata "Semesta".
Pemaparan tersebut mengingatkan saya pada suatu perkataan bijak "siapa yang menabur angin, maka dia akan menuai badai", bila kita kaji lebih lanjut, ini adalah suatu penjabaran dari hukum sebab akibat yang bisa diartikan apabila kita ingin mendapatkan akibat hasil yang baik, kita harus berbuat sebab yang baik. Sebaliknya apabila perbuatan kita buruk atau telah melakukan sebab yang buruk akibatnya tentu akan buruk juga.
Kemudian perkataan bijak tadi diperkuat dengan Firman Allag SWT dalam Surah Al-Isra (17):(7)  :
" jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri"
Ada beberapa fenomena rill yang saya potret dengan sengaja, mungkin juga ini sebagai bukti nyata alam mencintai komunitas ini.

Pertama, Akses jalan yang diperbaiki
Hijrahnya Rumah Baca Komunitas dari jalan parangteritis menuju kalibedog bukan tanpa alasan, tapi mungkin alasan itu tidak begitu penting untuk dipaparkan secara detail. Setiba saya di Rumah Baca Komunitas, ada semacam kekhawatiran untuk rumah tinggal yang baru jendela ilmu (buku) yang beralamatkan dusun Sidorejo, kalibedog. Kekhawatiran tersebut mengingat akses jalan menuju Rumah Baca sangat memprihatinkan, penuh lobang dan sangat jauh dari sentuhan tangan pemerintah. Namun optimisme para pegiat yang menguatkan fondasi gerakan ini tidak mudah goyah. Dua bulan kemudian, entah siapa yang menggerakkan, tiba-tiba para warga Rt 08 berbondong-bondong datang untuk bergotong-royong memperbaiki jalan tersebut, tak jelas berapa jumlah warga yang terlibat, taksiran saya ada sekitar belasan warga yang bersama dengan para pegiat memperbaiki akses jalan tersebut. Alhasil sekarang akses jalan menuju rumah baca komunitas tersebut mulus dan rapi. lobang yang dulu menganga, seketika menghilang oleh timbunan semen yang bercampur dengan pasir. 
Kedua, Revitalisasi Pinggiran Alun Alun Selatan

RBK on the street yang familiar dengan sebutan perpustakaan jalanan adalah salah satu program Rumah Baca Komunitas. Program ini sebagai bentuk komitmen Rumah Baca Komunitas yang konsen terhadap isu-isu literasi di Indonesia. Bertempat di Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Kegiatan ini biasanya dimulai pada pukul 06.30 pagi sampai dengan pukul 11.00 WIb. Sejak direalisasinya kegaiatan ini pada pertengahan 2013 lalu, berbagai problem ringan datang silih berganti.  Misalnya,  ketika lapak hendak dibuka, debu dan rumput yang tumbuh dengan subur menjadi pekerjaan rumah yang harus di atasi terlebih dahulu guna menciptakan suasana nyaman para pengunjung yang menghampiri lapak baca perpustakaan jalanan.  Namun problem itu ternyata tidak berjalan lama, tiba-tiba Dinas Pekerjaan Umun memasang papan kontrak pertanda pekerjaan akan dilaksanakan secepat mungkin. Kabar akan di percantiknya pinggiran alun alun membuat haru sebagaian pegiat yang setia melawan kantuk setiap pagi demi membuka lapak baca, Artinya, persoalan rumput dan debu akan teratasi.

Ketiga, Kehadiran manusia lain di Rumah Baca Komunitas (KKN 06 UMY)
Saya ingat betul waktu pertama kali bergabung dengan Rumah Baca Komunitas, komunitas ini berdiri dengan tidak banyak orang, namun penuh dengan gagasan yang inovatif.  Seiring waktu berjalan dengan sangat cepat, satu persatu orang datang untuk kemudian bersedia dengan senang hati tanpa pamrih menjadi relawan Rumah Baca Komunitas. Tidak hanya itu, moment yang sangat menyenangkan adalah pada awal bulan september yang lalu, kemunculan anggota kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN 06) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berjumlah 18 orang memberikan warna tersendiri untuk kecerian di rumahnya manusia. Ada semacam kegembiraan di raut wajah beberapa pendiri Rumah Baca Komunitas, Ahmad Sarkawi, Fauzan Anwar Sandiah, David Efendi, dan Sakir misalnya.  Hadirnya manusia baru dirumahnya manusia menyelipkan seuntai kegembiraan bercampur haru diraut wajah para laki-laki ini. Saya berkhusnuzon, mungkin inilah kemenangan kaum literasi yang absolut yang di tunggu-tunggu sejak lama oleh pendiri Rumah Baca Komunitas.


Sunday, September 6, 2015

Cerita di bawah Pohon Mangga (1)

Fauzan A Sandiah, pegiat RBK
Tepat setengah tahun yang lalu sewaktu bicara soal perpustakaan jalanan, tidak terpikirkan nama "Alun-Alung Kidul". Beberapa teman pada awalnya menawarkan Sunmor sebagai alternatif tempat membuka perpustakaan jalanan. Waktu itu saya ingat Indra dan Mascu bilang "sunmor itu nanti kita bisa sekalian jogging gitu, di sana juga rame banget..".
Pembicaraan malam minggu itu sedikit lama soal lokasi perpustakaan jalanan buat esok pagi. Kopi aceh, gorengan, dan kacang-kacangan sisa kerja bakti pagi hari masih tersedia. begini ceritanya bisa nekad buka perpustakaan jalanan di Alkid. 
Indra: "perpustakaan jalanan itu bisa jadi jalan biar RBK dikenal"
Mascu: "kalau saya sih ngak penting bisa dikenal, tujuannya itu yang penting lho ndra...kira-kira kita nanti bentuknya mau gimana?"
Saya: "iya, tujuannya itu yang penting..tujuannya kan biar buku-buku ini dekat sama pembaca..."
Indra: "Oh iya, biar buku ketemu orangtuanya gitu kan? hahaha"
Saya: "nah begitu juga oke"
Mascu: "indra ikut-ikut pak david aja..trus gimana cara nge-disain perpus jalanannya?"
Indra: "kita butuh banyak orang nih..besok sunan-sunan bisa bangun pagi ngak?..kita butuh banyak personel"..
Saya: "kamu nanti ngak usah tidur ndra, ini dah jam 2..kita nonton trus jam pagi berangkat ke sunmor"
Mascu: "Bang, sunmor itu kejauhan ngak?. dah pasti susah ngumpulin sunan-sunan RBK yang lain ntar pagi.."
Indra: "lho kok gitu, aku dah nyiapin sesuatu buat di sunmor"
Mascu: "tapi itu kejauhan..di Alkid aja gimana bang?" 
Indra: "Alkid cuma banyak lari pagi aja..tapi boleh juga sih. soalnya di Alkid juga kan jarang orang buka stand selain buat jualan..hehe.."
Saya: "aku ikut kalian berdua aja..enaknya gimana..yang jelas, kita yang harus siap di sana dulu baru bisa kontak teman-teman biar ngak kelamaan. nanti juga siapa tahu andan, cak david sama kak wiek bisa ke Alkid..".
Indra: "kita foto aja trus kirim ke WA"..
(Bersambung).

Thursday, September 3, 2015

Refleksi Sekolah Literasi (Bagian 1)


Lutfi Zahwar, pegiat Podjok Batca

Sekolah Literasi pertama yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Komunitas (selanjutnya disebut RBK) berakhir senin 31 Agustus 2015 dengan materi Praksis Advokasi Gerakan Literasi Terhadap Kaum Tertindas yang difasilitatori oleh Kang Dwi Cipta dari Gerakan Literasi Literasi menorehkan bekas yang dalam pada diri saya. Bekas yang mendalam itu yang kemudian membuat saya memutuskan untuk membuat refleksi singkat tentang Sekolah Literasi yang saya ikuti di RBK.
Menyesal rasanya tidak bisa mengikuti Sekolah Literasi dari pertemuan pertama tanggal 21 Agustus karena masih berada di Kediri. Tetapi beruntung saya bisa mengikuti kelas kedua sampai kelas terakhir. Sekaligus saya mendapatkan kesempatan yang tidak terduga untuk menjadi salah satu fasilitator di kelas ketiga karena David Efendi yang seharusnya menjadi fasilitator mengikuti konferensi di Davao, Filipina.
Menjadi fasilitator tentu saja memberikan banyak pelajaran bahwa saya masih harus banyak belajar. Untung saja waktu itu ada Ahmad Sarkawiyang membantu menjelaskan dengan cukup detail latar belakang lahirnya RBK serta nilai-nilai apa yang diperjuangkan. Menurut Om Wiek, panggilan Ahmad Sarkawi di RBK lahir karena adanya semangat untuk berbagi. Membuka akses seluas-luasnya bagi siapapun untuk bisa mengakses pengetahuan. Menjadikan buku sebagai kepemilikan pribadi menjadi milik bersama di komunitas. Buku yang sebelumnya privat disosialkan.
Om Wiek juga menjelaskan bahwa dalam perjalanan keberadaan RBK yang saat ini sudah berumur tiga tahun. RBK sempat mengalami beberapa transformasi gerakan untuk menemukan formula gerakan yang lebih pas guna menjadi gerakan literasi yang transformatif. Di periode kedua ketika di Jalan Paris (selanjutnya disebut mahzab paris) RBK mengorientasikan keberpihakannya pada kaum-kaum marjinal yang disisihkan oleh masyarakat. RBK membuka diri seluas-luasnya kepada kelompok-kelompok waria, anak gelandangan, dan pekerja seks komersial untuk mendapatkan bahan bacaan, akses pada ilmu pengetahuan. Sedangkan di saat yang sama perpustakaan negara melakukan diskriminasi terhadap mereka. RBK ingin memperlakukan mereka sebagai layaknya manusia, tidak melakukan diskriminasi.
Kemudian apa yang membedakan RBK dengan taman baca-taman baca pada umumnya. Dalam diskusi di Podjok Batja, Cak Daviid pernah menyinggung bahwa gerakan yang diinisiasi di RBK adalah model gerakan baru yang memberikan nafas baru dalam gerakan literasi. Ia menyebutnya sebagai gerakan post taman baca yang hanya menyediakan buku. RBK dengan mengusung dan memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan, anti diskriminasi, anti kekerasan, berpihak pada mereka yang tertindas tidak saja menyediakan buku untuk bisa diakses. Namun juga secara rutin mengadakan diskusi rutin dua kali seminggu, Diskusi Reboan dan Diskusi Jumat Sore (DeJure) yang banyak mengangkat isu-isu tentang nilai-nilai yang diusungnya.
Tentang Gerakan Post Taman Baca yang disebut oleh David Efendi.Fauzan Anwar Sandiah dalam kelas kedua dalam Sekolah Literasi yang mengangkat topik Dinamika Gerakan Literasi. Sayang dalam pertemuan itu saya datang terlambat sehingga tidak bisa mengikuti dari awal penjelasan menarik dari Fauzan tentang dinamika gerakan literasi. Namun beruntung malam harinya saya berkesempatan mengulang materi yang disampaikan sambil berbincang santai di kafe. Fauzan membagi dinamika gerakan literasi menjadi tiga bagian penting. Pertama gerakan literasi yang berfokus pada meningkatkan minat baca masyarakat. Kritik Fauzan Anwar Sandiah terhadap gerakan ini selain karena tidak kontekstual dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat, bahkan kerap kali dijadikan lahan basah proyek bagi yang berkuasa untuk mengeruk keuntungan. Kedua, gerakan literasi yang berorientasi pada pengembangan dan peningkatan skill, misal saja pelatihan komputer, membaca dan menyusun laporan keuangan.
Tentu saja gerakan itu bagus apalagi jika sesuai konteks dan kebutuhan masyarakat dalam sistem ekonomi yang berkembang seperti sekarang. Namun lebih penting lagi jika tahap kedua itu dilanjutkan ke tahap ketiga, gerakan literasi kritis transformatif. Sebab kalau tidak gerakan literasi model kedua hanya akan menyediakan tenaga terampil yang akan menjadi penopang sistem kehidupan yang instrumentalistik industrial. Gerakan literasi model ini tidak hanya berorientasi, meminjam istilah Karlina Supelli, memproduksi manusia yang semata-mata mampu survive, beradaptasi dengan lingkungan demi keselamatan diri. Melainkan menumbuhkan pemikiran baru, merangsang pemikiran kritis. Ini adalah kemampuan khas manusia untuk mengkreasi budayanya, menangani realitas, menambahkan hal-hal baru, bahkan mengubahnya.
Sebagai model gerakan literasi post taman baca, RBK ingin menjadi tempat disemainya model pendidikan dan pembelajaran gaya baru. Seperti dikatakan David, gagasan sekolah literasi yang diadakan RBK bukan didesain untuk teknikalisasi atau fabrikasi komunitas yang rentan dengan proses mekanistik yang tidak apresiatif kreatifitas dan proses evolusi ilmiah. Mendesain dan mempraktikkan model belajar manusiawi dengan interaksi non doktriner serta menghargai keragaman peserta belajar. Sekaligus membuat Model gerakan literasi seperti itulah yang dalam pandangan saya akan membuka dan menumbuhkembangkan pemahaman kritis mengenai permasalahan apa yang terjadi, kenapa bisa terjadi, dan bagaimana kemungkinan upaya pemecahan yang bisa dikerjakan dalam dunia ini terus berubah. Sekaligus membuat dunia tempat kita hidup mendapatkan kehadiran seseorang yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya.

Proses seperti ini akan menjadikan gerakan literasi model baru seperti RBK sebagai tempat berdialog dengan realitas, bukan semata-mata pengalihan pengetahuan tentang realitas. Pemahaman dialogis ini juga berarti pelibatan subyek di dalam membentuk sejarahnya sendiri. Melalui proses berdialog dengan realitas, seseorang akan mampu merekonstruksi dan merevisi kepemahamannya mengenai dunia secara terus menerus. Ia akan lahir sebagai mahluk yang terus menerus mencipta diri, atau secara sederhana, mahluk pembelajar seumur hidup. Dari proses inilah lahir subyek otonom yang tidak lepas dari konteks sosial-kulturalnya, dan konteks kehidupan secara menyeluruh.

Tulisan Terbaru

Populer

Hamka For RBK

Hamka For RBK

Sjahrir For RBK

Sjahrir For RBK