Showing posts with label catatan ethnografi. Show all posts
Showing posts with label catatan ethnografi. Show all posts

Sunday, September 6, 2015

Cerita di bawah Pohon Mangga (1)

Fauzan A Sandiah, pegiat RBK
Tepat setengah tahun yang lalu sewaktu bicara soal perpustakaan jalanan, tidak terpikirkan nama "Alun-Alung Kidul". Beberapa teman pada awalnya menawarkan Sunmor sebagai alternatif tempat membuka perpustakaan jalanan. Waktu itu saya ingat Indra dan Mascu bilang "sunmor itu nanti kita bisa sekalian jogging gitu, di sana juga rame banget..".
Pembicaraan malam minggu itu sedikit lama soal lokasi perpustakaan jalanan buat esok pagi. Kopi aceh, gorengan, dan kacang-kacangan sisa kerja bakti pagi hari masih tersedia. begini ceritanya bisa nekad buka perpustakaan jalanan di Alkid. 
Indra: "perpustakaan jalanan itu bisa jadi jalan biar RBK dikenal"
Mascu: "kalau saya sih ngak penting bisa dikenal, tujuannya itu yang penting lho ndra...kira-kira kita nanti bentuknya mau gimana?"
Saya: "iya, tujuannya itu yang penting..tujuannya kan biar buku-buku ini dekat sama pembaca..."
Indra: "Oh iya, biar buku ketemu orangtuanya gitu kan? hahaha"
Saya: "nah begitu juga oke"
Mascu: "indra ikut-ikut pak david aja..trus gimana cara nge-disain perpus jalanannya?"
Indra: "kita butuh banyak orang nih..besok sunan-sunan bisa bangun pagi ngak?..kita butuh banyak personel"..
Saya: "kamu nanti ngak usah tidur ndra, ini dah jam 2..kita nonton trus jam pagi berangkat ke sunmor"
Mascu: "Bang, sunmor itu kejauhan ngak?. dah pasti susah ngumpulin sunan-sunan RBK yang lain ntar pagi.."
Indra: "lho kok gitu, aku dah nyiapin sesuatu buat di sunmor"
Mascu: "tapi itu kejauhan..di Alkid aja gimana bang?" 
Indra: "Alkid cuma banyak lari pagi aja..tapi boleh juga sih. soalnya di Alkid juga kan jarang orang buka stand selain buat jualan..hehe.."
Saya: "aku ikut kalian berdua aja..enaknya gimana..yang jelas, kita yang harus siap di sana dulu baru bisa kontak teman-teman biar ngak kelamaan. nanti juga siapa tahu andan, cak david sama kak wiek bisa ke Alkid..".
Indra: "kita foto aja trus kirim ke WA"..
(Bersambung).

Sunday, August 9, 2015

Pernahkah anda mendengar tentang Rumah Baca Komunitas (RBK)?


Oleh Neng, KKN 06
Seperti apakah kegiatan yang dilakukan para penggiat Rumah Baca Komunitas (RBK)?
Penulis menemukan sesuatu yang unik pada salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Rumah Baca Komunitas (RBK).

Pagi itu dimana kebanyakan orang masih terlelap dalam tidurnya setelah menikmati malam yang panjang bagi sebagian orang pada umumnya, sekumpulan mahasiswa memulai harinya pada satu kegiatan yang mulia. Para penggiat menamakannya RBK on the Street. Kegiatan yang mengusung tema perpustakaan jalanan ini, memuat harapan para penggiat Rumah Baca Komunitas bahwa membaca tidak hanya duduk dalam ruangan kemudian membuka lembar demi lembar buku yang sedang dibaca. Tetapi membuka peluang untuk seluruh lapisan masyarakat dari mulai anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua yang ada disekitar area RBK on the Street ini untuk membaca bahkan meminjam buku tersebut. Pada awalnya sekumpulan mahasiswa ini merasa pesimis dengan kegiatan tersebut.
Bermodalkan pengetahuan seadanya mengenai RBK on the Street ini, berangkatlah sekumpulan mahasiswa ini dengan beberapa dus buku menuju lokasi yaitu Alun-alun Kidul. Ketika semua buku yang dibawa kelokasi (Alun-alun Kidul) telah tersusun rapi beralaskan tikar, muncul dalam benak “adakah orang bersedia mampir bahkan hanya untuk melihat-lihat saja?”.
Kemudian seorang ibu bersama anaknya mampir dan melihat-lihat, sekumpulan mahasiswa pun terkejut “oh ternyata ada yang mampir” dalam benaknya. Ternyata pengunjung tersebut sering mampir ke RBK on the Street ini. “Loh, ini orang-orangnya kok beda ya? Kenapa baru buka lagi?
Saya sering kesini tapi malah tidak buka, padahal saya mau mengembalikan buku yang saya pinjam” ujar Ibu itu sembari memilih-milih buku untuk dibaca bahkan mungkin untuk dipinjam juga. Salah satu mahasiswa kemudian menjawab pertanyaan ibu tersebut, “oh iya bu, kemarin habis libur Idul Fitri jadi pada mudik orang-orangnya makanya ini kami baru buka lagi”. Setelah selesai memilah buku, Ibu itu berkata “saya mau pinjam buku ini kalau semisal saya meminjam bukunya tidak hanya satu tidak apa-apa?”. “Oh iya bu, tentu saja disini ibu bisa meminjam berapa banyakpun buku tanpa perlu meninggalkan kartu identitas apapun” ujar salahsatu mahasiswa tersebut.
Tiba-tiba datang pula seorang bapak dengan anaknya, terlihat dari gerak-geriknya anak tersebut ingin membaca buku hanya saja bapak tersebut menganggap bahwa kami sedang menjual buku. Salah seorang dari mahasiswa menghampiri dan bertanya pada anak kecil tersebut, “adek sedang mencari buku seperti apa? buku cerita atau kisah 25 para Nabi?.” Bukannya sang anak yang menjawab tetapi sang bapak yang menjawab “dek ini buku nya dijual, mba/ mas nya sedang jualan”.
Tentu saja apabila sekilas lewat mampir tanpa membaca banner yang terpasang di tembok belakang, orang-orang sangatlah wajar mengira bahwa sekelompok mahasiswa tersebut sedang menjual buku-buku nya. Diperlukan penjelasan secara singkat untuk bapaknya bahwa inilah perpustakaan jalanan, membaca ditempat maupun untuk dibawa pulang (meminjam) sangatlah diperbolehkan karena itu memang tujuannya sebagai salahsatu upaya meningkatkan minat baca. Beragam macam pengunjung yang mampir membaca dan meminjam buku pada saat RBK on the Street waktu itu. Dari mulai yang berasumsi bahwa buku-buku tersebut dijual, meminjam buku harus meninggalkan identitas, sampai pada waktu ada seorang anak kelas 4/5 SD yang mampir ke RBK OTS ini. Secara tiba-tiba anak tersebut berkata “ini semacam perpustakaan ya?” sembari membaca banner yang terpasang didinding belakang. Anak tersebut mengakui kalau dia sering dan suka membaca buku.
Hal yang membuat kaget sekelompok mahasiswa yang cenderung membaca apabila mendekati hari-hari ujian. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari RBK OTS pada waktu itu, kegiatan yang mulia mengajak semua untuk membaca dan tidak terpaku pada tempat karena dimanapun kita selagi ada buku yang kita pegang disitulah kita bisa membaca.
)*catatan perpustakaan jalanan minggu lalu, 2 agustus 2015

Thursday, August 6, 2015

Kegelisahan Anak Muda

Hanapi, Pegiat RBK
 
Saya selalu berfikir kenapa bangsa ini lambat bangkitnya padahal pergantian kepemimpinan di daerah telah berjalan cukup lama sedangkan kerusakan yang lama belum pulih, sekarang kerusakan semakin bertambah, Apakah kita bisa memperbaiki bangsa ini dalam waktu cepat?? Beribu keyakinan ada di dalam hati dan pikiran ini tapi kenyataannya kerusakanlah yang terjadi semakin cepat, kerusakan ini terlihat dalam bidang politik di indonesia, mulai dari prilaku para politisi yang sangat pragmatis, politik telah dijadikan tempat untuk memperluas kekayaan, menjual aset negara ke tangan para pengusaha, bidang ekonomi, ekonomi dalam negeri telah dikuasai oleh etnis tertentu sehingga pengusaha pribumi kalah dengan etnis ini, media massa telah dikuasai oleh para kapital yang memberikan informasi untuk pencitraan politik, saya teringat kata Cak David bahwa kita hanya bisa memperlambat kerusakan yang terjadi sekarang ini.
 
Saya ingat bahwa Iran bisa bangkit dari jajahan asing dalam bidang kehidupan negaranya dengan adanya para aktivis yang sejati, yang tak takut mati demi memperjuangkan kehidupan yang islami untuk masyarakatnya, kalau melihat di indonesia aktivis yang cerdas, idealis banyak tapi mereka tidak pada struktur kekuasaan, kalau setelah struktur mereka terjebak dengan permainan politik seperti banyak yang dikatakan teman teman saya kuliah bahwa para aktivis yang dulu idealis sekarang telah hilang idealismenya, setelah saya melihat kekuatan literasi maka saya sadar bahwa semakin cerdas masyarakat suatu bangsa akan semakin tinggi harapan untuk menjadikan negara ini sebagai negara maju dan bangkit, kenapa harus literasi??? 
 
Setelah saya berfikir, bahwa kegiatan literasi ini memberikan kesadaran masyarakat sehingga memunculkan sikap yang penuh nilai nilai kebaikan, humanisme, literasi ini akan memberikan informasi yang jelas dan teori yang berguna sehingga masyarakat bisa membaca situasi kehidupan negara, dengan Gerakan literasi maka akan terbangunnya budaya masyarakat yang beradab maka cita cita menuju masyarakat madaniyah lebih cepat terwujud, gerakan literasi ini kalau diwujudkan disetiap rumah dengan perpustakaan keluarga masing masing maka kita akan lebih cepat melahirkan tokoh tokoh cendikiawan muslim di indonesia, di tengah masyarakat yang mengalami pergeseran budaya maka akan terbentuk budaya budaya yang mencerdaskan dan budaya yang kreatif tanpa menyalahi Tauhid, gerakan literasi akan membangun sistem sosial yang islam, literasi akan membuat masyarakat tidak mudah ditipu oleh ulama ulama gadungan dan kapital yang menjual ilmu demi kesenangan dunia.
 
Gerakan literasi itu seperti dakwah kultural yang sangat lembut, dia hadir untuk mencerahkan, kehadiran gerakan literasi sangat jarang dibangun penguasa di abad ini tapi lihatlah peradaban islam terdahulu, budaya literasinya sangat tinggi sehingga maka peradaban islam berkemajuan. Setiap kaum muda harus menjadi pegiat literasi karena pemuda menanggung tanggungjawab secara konstitusional dan moral untuk membangun negara ini dijalan yang penuh khidmat agar cita cita semua masyarakat yang ada dalam mimpi menjadi nyata. Penting nya literasi moral???? Literasi moral bukan model dakwah tapi literasi moral ini lebih pada sikap dan prilaku kaum yang cinta terhadap buku, bisa disebut kaum yang tercerahkan begitulah masyarakat menyebutnya, literasi moral memberikan penekanan kepada pegiat literasi pentingnya sauri teladan, "penerus para Nabi itu bukan hanya ulama tapi juga orang berilmu" gerakan literasi harus menjadi budaya bahkan pada titik radikalnya harus fatwa, kalau memang penyadaran kolektif tidak bisa dilakukan dengan jalan kultural maka jalan politik dengan kebijakan penguasa yang mendukung, seperti kebijakan mewujudkan kota literasi. Gerakan literasi dan literasi moral tak bisa dipisahkan dengan tujuan untuk mewujudkan negara yang berkemajuan. 
Takkan indah sinar bintang dan bulan tanpa budaya literasi, jangan bermimpi membangun politik humanis sebelum masyarakat gila literasi. 
 
Selasa, 4 Agustus 2015

Interaksi di dalam Pasar

Oleh Unggul Sujati Prakoso

Sebagai anak laki laki dalam keluarga sudah menjadi tugas saya rutin hampir setiap minggu mengantar ibu untuk berbelanja ke pasar kecamatan dan kebetulan sayalah yang tinggal dirumah karena adik saya tinggal di asrama sekolah, praktis saya harus siap sedia jika diminta mengantar ibu ke pasar.

Ada dua pasar berbeda yang biasa kami datangi untuk berbelanja kebutuhan sehari hari. Yakni pasar Godean dan pasar Gamping. Kedua merupakan pasar yang ada di kabupaten Sleman Yogyakarta. Keduanya berjarak sekitar 5 km karena posisi kecamatan tersebut hanya bersebelahan. Saya kami biasa berangkat pukul 6 pagi menuju pasar karena untuk mendapat sayur mayur, ikan, daging dan kebutuhan lainnya masih banyak pilihan dan kualitasnya masih sangat segar dibanding jika datang agak siang hari.
Layaknya pasar tradisional pada umumnya. Pedagang banyak yang menggelar lapaknya hingga keluar area pasar hingga masuk area parkir sehingga betapa ramai dan padatnya aktivitas jual beli dan distribusi bahan makanan serta aktivitas parkir kendaraan. Begitu masuk kedalam area pasar akan bertambah ramai lagi aktivitas jual beli bahan makanan dan kebutuhan lainnya. Belum lagi ditambah suasana pasar yang sempit dan aroma pasar yang khas menurut saya.

Hal inilah yang menjadi perhatian saya selama aktivitas mengantar ibu berbelanja dan membopong kebutuhan yang sudah dibeli. Banyak hal hal yang memang tidak bisa dilepaskan dari pasar tradisional yang menjadi ciri khas tersendiri. Memang dewasa ini ekspansi pasar modern begitu cepat khususnya di daerah kota jogja. Jual beli merupakan hal yang biasa dijumpai baik di pasar tradisional maupun modern namun budaya yang melekat di pasar tradisional tak akan di jumpai dalam pasar modern. Dalam proses tawar menawar misalnya banyak diantara pembeli dan pedagang yang melakukan dalam suasana bercanda dan akrab sekali kelihatannya padahal mungkin mereka baru saja bertemu serta harga yang sudah ditawar bahkan bisa menjadi murah. Hal ini tidak jarang menjadikan pembeli untuk menjadi langganan tetap. Selanjutnya dalam hal kualitas bahan makanan utamanya sayur mayur dipasar tradisional biasanya sangat segar alias baru saja di petik dari ladang yang kadang ditandai dengan sayur mayur yang masih ditempeli akar dan tanah.
Namun hal ini justru menjadi daya tarik yang membuat dagangan tersebut secara otentik sudah memiliki bukti kesegaran yang sesungguhnya perlu embel-embel tambahan lagi berupa tulisan atau sebagainya.

Hal lain yang membuat saya selalu menarik ketika berbelanja dipasar adalah daya ingat sang penjual ketika melayani pembeli. Dalam satu lapak dengan dagangan sayur saja ada banyak macam dan jumlahnya. Belum lagi pembeli yang lalu lalang berjubel membeli sayur tersebut namun sang penjual yang rata rata tersebut dengan santainya menghitung harga sayur yang dibeli oleh pembeli tanpa dibantu alat hitung atau alat tulis untuk menjumlahkan, semuanya sudah ada dalam pikiran mereka untuk menghitung harga harga tersebut padahal mungkin saja dari para penjual di pasar yang pendidikannya hanya biasa biasa saja atau bahkan rendah namun kemampuan berhitungnya sungguh luar biasa cepat.

Interaksi yang dilakukan antara penjual dan pembeli atau bahkan antar pembeli tidak melulu tentang harga bahan namun bahkan bisa sampai ke aktivitas sehari hari. Biasanya kebutuhan awal yang dibeli oleh ibu saya adalah ikan laut segar.

Di tempat penjualan ikan ini biasanya lumayan ramai oleh pembeli dan penjual seperti biasa akan bergantian dalam melayani penjualan disamping membersihkan ikan yang telah dibeli. Disela sela kegiatan menunggu itulah biasanya antar pembeli akan secara spontan saling bercakap-cakap akrab membahas berbagai macam hal. Bisa tentang kenaikan harga, menu makanan olahan ikan, biaya sekolah anak dan macam macam.

Dari proses dan hal hal tersebut saya menyadari bahwa dalam proses perdagangan terdapat hal lain yang begitu menarik yakni interaksi sosial dan saling berbagi cerita antar hubungan sesama manusia yang saling mengisi tidak terbatas hubungan jual beli. Karena melalui proses ini keakraban, kekeluargaan dan nilai nilai positif lainnya terkadang dapat ditemukan. Sesuatu yang sedikit demi sedikit telah tergerus oleh kemajuan zaman yang didominasi oleh pengumpulan kekayaan materi semata yang semakin menggerus habis sifat baik manusia untuk saling berbagi dalam kebaikan dan kebahagiaan.

Pasar Ilang Kumandange

Lutfi "Lupet" Zahwar, pegiat literasi di Podjok Batja

“…… kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange ……. “
(sungai kehilangan lubuknya, pasar kehilangan gemanya, wanita kehilangan rasa malunya …..)

Teks di atas merupakan kutipan dalam salah satu karya R.Ng. Ranggawarsita yang berjudul “Jangka Jayabaya”. Pasar ilang kumandange, hilang atau tergerusnya interaksi sosial yang terjadi di pasar barangkali lebih pas menggmbarkan suasana yang terjadi di "pasar modern" daripada "pasar tradisional". Membandingkan keduanya akan segera terlihat adanya ekses dari perbenturan "ide modernisasi" yang percaya pada angka-angka, mantra, dan mukzizat dari hal-hal yang disebut "profesional, efektif dan efisien". Berhadapan dengan "kebijakan hidup lama" yang tak mengenal rumus-rumus seperti itu namun telah terbukti menghidupi masyarakat dan membuat mereka sejahtera.

Dalam mantra-mantra profesional, efektif, dan efisien terkadang hubungan kemanusiaan dan interaksi sosial dikesampingkan, jarak personal makin lebar. Meminjam ungkapan F Budi Hardiman, orang-orang menjadi ahli dalam teknik separasi antara utilitas dan personalitas. Utilitas ingin dinikmati habis tanpa menyentuh personalitas. Mantra profesional, efektif, dan efisien memungkinkan itu. Begitu barang atau jasa dibayar, kontak personal, interaksi sosial, dan hubungan kemanusiaan diminimalkan sampai nol.

Bagi sebagian orang pasar tradisional bukan sekedar tempat mengumpulkan materi dengan kegiatan jual beli. Lebih dari itu pasar tradisional dipercaya sebagai pusaran hidup dengan nilai yang begitu kompleks. Ada semangat, nafas hidup, serta kebijakan-kebijakan kuno masih langgeng terdapat dalam praktek keseharian. Terjalin suasana guyub ketika seorang pedagang tak sungkan saling mengerok atau menggosok minyak angin ketika salah satu temannya sakit atau masuk angin. Dalam keadaan pasar yang tak begitu ramai dikunjungi pembeli tidak jarang pula terlihat mereka saling memijat sambil menceritakan masalah hidup yang mendera sehari-hari.

Gambaran itu bukan saya dapatkan dari cerita orang lain melainkan saya saksikan sendiri ketika mengantarkan ibuk belanja di pasar tradisional ketika saya di Kediri. Sudah menjadi kebiasaannya sejak lama, daripada belanja di supermarket atau swalayan ibuk lebih senang belanja di pasar tradisional. Menurut cerita yang saya dapatkan dari ibuk walaupun pasar tradisional tak sebersih, serapi, dan seharum kondisi pasar modern. Di pasar tradisional lah ibuk bisa mempraktekkan nalurinya sebagai perempuan dalam urusan tawar menawar yang alot. Katanya, itulah seni berbelanja, sebagai pengelola keuangan rumah tangga ibuk harus memastikan dengan anggaran belanja yang sederhana namun bisa menyediakan hidangan yang istimewa.

Semenjak sering membaca teks-teks sosial, kebiasaan mengantarkan ibuk ke pasar menjadi sesuatu yang tak lagi membosankan. Saya menjadi tertarik melihat pola perilaku manusia di dalam pasar. Bagaimana mereka berinteraksi sesama penjual maupun dengan pembeli. Seperti diceritakan Unggul Sujati Prakoso, salah satu pegiat Rumah Baca Komunitas dalam catatannya yang berjudul, Interaksi di Dalam Pasar. Interaksi yang tidak hanya terbatas pada jual beli.

Menurut Bhre Redana, pasar tradisional sebenarnya memang ekspresi kehidupan tradisonal. Pendapat seperti itu barangkali bukanlah sesuatu yang asing bagi yang menggeluti sosiologi. Tak ada persaingan antar pedagang dalam alam pasar tradisional. Persaingan di situ adalah persaingan antara penjual dan pembeli, di mana yang terjadi bukan sekedar transaksi ekonomi tetapi transaksi kejiwaan. Harga hanyalah sebuah simbolisme di mana pedagang dan pembeli memperebutkan hari masing-masing, yang kemudian akan menentukan sebuah dagangan menjadi murah atau mahal.

Gejala itu akan segera digantikan berbagai gejala baru dari pasar modern sepertibyang dirumuskan oleh Cyril S. Belshaw. Kalau dalam pasar tradisional begitu banyak faktor-faktor ekonomis yang mencuat dalam transaksi sedangkan dalam pasar modern yang semata-mata berlaku adalah faktor ekonomi. Persaingan dalam pasar modern adalah persaingan antar pedagang. Harga yang berlaku adalah harga pas, tak perlu lagi tawar-menawar karena itu hanya menghabiskan waktu. Tak efektif, tak efisien, tak sesuai dengan mantra modernisasi.

Dalam perbenturan antara yang "modern" dan yang "tradisional" mungkin kita bisa melihat yang surut bukan hanya relasi sosial dan personal yang terjadi antara penjual dan pembeli tetapi juga komitmen terhadap orang-orang kecil itu yang semakin terjepit oleh pemodal besar.
Kediri 4 Agustus 2015

Wednesday, July 29, 2015

Reuni dan penyegaran kebudayaan


David Efendi, pecinta etnografi

Wah lebaran dah habis rupanya. Saatnya berbagi kisah. Sedianya aku tulis dalam cerita panjang ini. Kira kira judul kerennya itu : reuni dan penyegaran kebudayaan. Setidaknya cerita ini mengingatkan pada spirit bersaudara, silaturrahmi dalam bentuk yang paling kontemporer: reuni. Juga bagian dari aktualisasi makna mudik dan hari raya di kalangan anak muda terdidik baik yang sekolah atau yang bekerja di luar negeri (bahasa asing bagus dan well informed).
Yup. Kampungku memang dari tahun 60an sudah mngalami islamisasi luar biasa dan sangat homogen afiliasi partai dan ormasnya. Antusias sekolah ke kota tinggi dan juga bekerja keluar negeri bagi lulusan SMA atau bahkan guru pun berangkat ke malaysia tuk bekerja lalu pulang dan kembali menjadi guru. Kebudayaan malaysia terasa dekat dengan kami semua sejak kecil. Ratusan orang mudik ke kampung jelang puasa sampai habis lebaran. Tercatat tahun 2013 warga desa saya di malaysia 600an. Perkiraan sekarang 800 penduduk. Wajar saja, rumah sangat bagus2 dan bisa membiayai sekolah anak anaknya sampai perguruan tinggi. Tahun 1960akhir 6 orang desa saya masuk malaysia lewat cara illegal keluar masuk hutan, laut, rawa, dan akhirnya berhasil menjadi warga sana. Lambat laun generasi berikutnya ikut mencari sukses di sana.
Sejarah singkat itu dikemukakan oleh pak Hazim, ketua ikatan perantaian warga godog yang ada di malaysia, dalam sambutan acara reuni 2 syawal 1436 yang dihadiri dua bupati sekaligus yaitu bupati lamongan dan Bojonegoro yang ditempatkan di lapangan perguruan Muhammadiyah Godog. Kurang lebih 1000an warga hadir dalam acara syawalan pekerja di malaysia ini.
Kontribusi pekerja malaysia ini sangat besar rupanya. Bangunan sekolah, jalan, masjid, musholah, gapura, cakruk, alat pertanian, dll didatangkan dari malaysia dan atas derma warga desa pekerja disana. Bahkan, kepala desa dua periode ini dipimpin mantan TKI yang 19 tahun bekerja di malaysia. Dalam sambutan pak bupati lamongan, kepala desa kampung saya menyabet penghargaan kepala desa terbaik di lamongan. Gaya merakyat dan ndeso-nya menjadikan banyak orang "akrab". Ke rumah kepala desa bisa bertelanjang dada, tanpa alas kaki sudah sngat oke.
Bupati Bojonegoro, kang yoto pun memuji kadahsyatan desa Godog dan juga peran pekerja malaysia dari Godog. Kang Yoto pernah diundang ke malaysia oleh teman2 teman Godog yang ada di malaysia dengan bendera PRIM Kampung Baru. Keakraban pun terjalin langgeng dan bahkan kang Yoto mau menghadiri syawalan H+1 di desa Godog padahal beliau pasti punya banyak tamu di bojonegoro.
Anak anak muda dan tua, termasuk saya, sudah sangat akrab dengan istilah reuni sejak saya kecil. Setiap ramadan dan syawal isinya reuni dan reuni. Kadang reuni itu berupa buka bersama, jalan jalan wisata, makan ketupat dan syukuran dari rumah ke rumah. Untuk yang teman seangkatan yang sukses juga sangat antusias berbagi. Reuni bisa berlapis lapis: teman madrasah, aliyah, pondok, teman smp dan sebagainya. Anak anak muda telah menyesuaikan istilah pluputan atau silaturahmi dengan padanan kata lain yaitu "reuni" ---bersatu kembali.
Situasi lain dapat dilaporkan dengan singkat. Bahwa sawah sawah makin memyempit itu fakta. Bahwa geliat pertanian makin surut, hasil tani tak menggembirakan memang iya. Jalanan desa mulus, rumah dan kendaraan bagus bagus, mobil mewah banyak, gadis gadis dan anak muda wajahnya sangat terawat juga fakta. Anak anak mengalami dewasa lebih cepat ini perlu penjelasan yang ilmiah. Tolo baju dan peralatan kecamtikan ada. Seorang guru smp memakai baju lebaran seharga 1 juta lebih tidak menjadi "aib". Kesederhanaan telah mengalami pergeseran makna.
Suara sapi dan kembing tak lagi akrab di telinga. Nampaknya makin jarang memelihara ternak dan lebih memilih memelihara TV,motor, kulkas, mesin cuci, mobil, dan gadget mutakhir tuk anak anak yang masih TK. Ayam masih sesekali terdengar teriakannya. Inilah desa yang hilang "kedesaannya". Suasana menjadi kayak di kota dalam fasilitas. Syukur pasar tradisional masih bertahan dan tak ada indomart atau alvamart. Di desa desa sebelah dan jl kecamatan udah menjamur rupanya.
Wah dah lumayan panjang ini. Perihal reuni yang makin bermakna dah dibahas, tinggal apa ada ihwal penyegaran kebudayaan? Masih sedikit kali dibahas. Tapi memang itulah "faktanya", kita butuh terobasan baru untuk mendapatkan bentuk bentuk praktik kebudayaan yang segar dan memajukan. Misal, jika reuni bagian dari kontekstualisasi makna silaturahmi oke!. Bagaikana dengan cakruk, pasar trdisional, kyai kampung, sungai, sawah, makna terdidik? Apakah semua ini ada yang mencoba untuk menyegarkan ingatan dan praktik merawat kebajikan? Tentu etalase dan artefak kebudayaan desa harus diejawantahkan dengan suatu yang lebih segar. Misalnya filosofi "ono rino ono upo" (ada siang ada nasi) adalah bagian dari trimo ing pandom dan syukur yang bisa mengilhami kekuatan berbagi jika punya lebih.
Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah tentu merupakan mantra yang telah populer diajarkan di sekolah madrasah ibtidaiyah yang tak akan terlupakan. Etos memberi kaum terpelajar telah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari. Keluarga jawa juga demikian, punya rasa kepedulian dalam interaksi bahkan melalui pintu halaman rumah (Jan Newberry, 2013).
Dalam masyarakat yang mengais dan mendapatkan rizki dari negeri jiran nampak otonominya dalam urusan politik. Mereka sehari hari tidak terintegrasi langsung dari kebijakan ekonomi negeri sendiri tapi pleh negeri Malaysia. Walau hal ini tak sepenuhnya benar, tapi nyata krisis 1997-8 itu justru mnjadikan masyarakat Godog membelanjakan uang untuk membeli motor baru akibat ringgit menguat terhadap rupiah. Orang malaysia di godog ini tak kenal krisis 1997 yang ganas itu. Mereka juga tak was was rezim Suharto tumbang, lengser keprabon.
"Otonomi relatif" ini juga tak sepenuhnya punya kekuatan thd guncangan karena biar bagaimana pun perpolitikan dalam negeri telah melakukan exspansi di tengah masyarakat sehingga semua hal diharapkan terdampak dari centang perenang kebijakan negara (negaranisasi).
*Diketik di sela sela silaturrahmi lebaran 2015 di WA

Tulisan Terbaru

Populer

Hamka For RBK

Hamka For RBK

Sjahrir For RBK

Sjahrir For RBK