Showing posts with label RBK On the Street. Show all posts
Showing posts with label RBK On the Street. Show all posts

Thursday, September 3, 2015

Catatan RBK on the street 9/8/2015

By Rahayu Dwiningsih, KkN 06 UMY Pendampingan RBK
Alhamdulillah program RBK on the street berjalan lancar. Kegiatan ini diadakan setiap hari Minggu mulai pukul 06:30 hingga pukul 11:00. Ada beberapa tambahan yang dijalankan. Pertama, kami membuka ruang mewarnai gambar bagi pengunjung anak-anak dan memamerkan karya mereka di area hotspot. Bagian ini mendapat sambutan yang cukup baik dari para pengunjung. Terlebih karena kami juga menghadiahkan para peserta sebatang pensil dan 5 bungkus permen.
Kedua, kami juga menyediakan beberapa koran harian. Kami berasumsi bahwa dengan disediakannya bacaan koran-koran, orang-orang menjadi lebih berminat mendekati titik RBK on the street. Dan faktanya, orang-orang memang berdatangan menyerbu dan mengakses informasi yang berkaitan dengan RBK, termasuk masalah-masalah teknis seperti soal keanggotaan, peminjaman buku, dan lain-lainnya.


Pengadaan perpustakaan jalanan atau RBK on the street juga membagikan brosur berisi informasi mengenai RBK pada yang lalu lalang dan mereka yang menyambangi area RBK on the street. Kami merasa optimis bahwa program ini sangat bermanfaat terutama bagi mereka yang memiliki minat pada dunia literasi.
Peminjaman buku yang gratis dan tanpa tenggat waktu, tanpa menyerahkan kartu identitas sebagai jaminan, tanpa ada kewajiban mengembalikan buku yang sudah dipinjam saat hendak kembali meminjam, membuat respek para pembaca pada RBK on the street menjadi tinggi. Semua barangkali karena pihak RBK menerapkan azas percaya—azas yang tak kenal syak wasangka. Dan kami, kelompok KKN 06 UMY, merasa terhormat dan bangga menjadi yang dipercaya mengelola. Meskipun, terus terang saja, kami menaruh sedikit cemas sebab bagaimanapun juga buku-buku yang kami bawa adalah amanah dari pihak RBK.
RBK on the street kali ini agak sedikit berbeda. Sebab, pelaksanannya bertepatan dengan kegiatan 17-an di Dusun Sidorejo, tempat kami live in selama KKN. Karenanya, saat itu kami membagi dua energi: sebagian kelompak KKN 06 standby di Alkid, sebagian lainnya segera kembali ke Dusun Sidorejo untuk berpartisipasi dalam kegiatan 17 Agustusan.
Hal menarik lain dari RBK on the street adalah bahwa pada pelaksanannya, kami kerap berdiskusi tentang banyak hal dengan para pengunjung. Pada kegiatan ROTS minggu kedua ini, misalnya, kami kedatangan salah satu tamu tak terduga. Tubuhnya sudah tak tegap. Sulur-sulur keriput memenuhi wajahnya. Uban di kepalanya pun tampak seperti kopiah haji yang menutupi. Usianya pasti tak kurang dari 70 tahun.
Kami berdiskusi tentang lanskap kota Jogja dari mulai sejarah politik, sosiologi, hingga kuda yang sampai kini masih menjadi salah satu alat transportasi. Sesi yang paling menarik adalah saat ia mengisahkan kota Jogja semasa mudanya: Jogja yang lengang namun hidup dan semarak, Jogja yang minim petugas kebersihan namun justru lebih ramah lingkungan.

Membengkaknya laju pertumbuhan penduduk memang membawa banyak persoalan. Kita memang belum mengalami krisis pangan. Namun masalah hunian, macet kendaraan, kebersihan, ketertiban, kenyamanan, atau angka kriminalitas yang terus meningkat, memaksa kita untuk berpikir ulang tentang tata kelola sebuah kota. 
Jogja yang sekarang tidak sebagus dan senyaman jogja yang dulu tetapi beliau masih tetap mencintai jogja dikarenakan jogja menyimpan banyak kenangan tentang masa mudanya.
Sekian dulu cerita ROTS minggu kedua ini, kita tunggu cerita dari kejadian-kejadian menarik yang terjadi selama pelaksanaan ROTS di minggu-minggu selanjutnya yang tentunya kita akan menceritakannya kembali, sekian dan terimakasih.


Catatan ROTS


Fauzan A Sandiah, Pegiat RBK

Memperjuangkan ruang terbuka adalah pekerjaan yang asik. RBK On The Street (rots) tidak dirintis lewat diskusi satu malam. Rots bukan legenda tentang sebuah bangunan bersejarah yang diceritakan dalam legenda muncul begitu bangsa Jin membantu aristokrat.
Rots dirintis dari diskusi kecil tentang mimpi. Lewat pahit kopi tanpa gula. Lewat cerita membeli buku yang mengesankan. Juga lewat diskusi gerakan literasi selama 4 tahun rbk.
Rots Hari INI merupakan perjalanan panjang dari mimpi kecil yang dibentuk bersama lewat bentuk yang awalnya terlihat "Tak konkret".

Orang boLeh bertanya apa yang dilakukan RBK hingga Hari INI. Biasanya mereka bertanya "apa yang konkret RBK telah lakukan?". Pertanyaan itu tidak pernah mengganggu Saya. Seperti yang mereka lihat, ketika bicara soal mimpi, segala "yang konkret" seketika ITU berkuasa. Kita terbiasa dengan yg konkret, sampai sampai bicara mimpi seperi bicara tntang tidur Siang yang panjang. Itu berbeda.
Dari rots Hari INI Saya menangkap banyak Hal. Tentang pentingnya sebuah kesabaran Dan mimpi. Tentang pentingnya bersikap asik. Dan yang paling adalah kebahagiaan dalam setiap kondisi. Bukan karena suka membuat keramaian makanya rots dibentuk. Melainkan karena keramaian selama INI telah menjadi sesuatu yang jauh dari manuSia sebagai seorang seniman. KEtika Kita menerima rasa damai Dan kesabaran dalam setiap perjuangan, Maka keramaian adalah konsekuensi yang Tak perlu dipersoalkan.

Rots mngajarkan Saya bahwa hidup adalah bertanya reflektif di antara keramaian atau kesunyian. Tentang apa Arti penting pergerakan yang ramai karena tepuk tangan atau ramai karena kebersamaan kecil. Tentang bahagianya kemenangan kecil. Menabung kemenangan.
Hari INI tentu saja Kami masih sedih dengan kehadiran tukang parkir yang menggunakan troatr depan tikar plastik rots. ITU tentu saja memang menyesakkan. Tetapi mnjdi bukti baHwa Kita perlu melihatnya sebagai bagian dari perjuangan yg terus reflektif. Kenyataannya korporasi melakukan penindasan yg lebih Daripada tukang parkir. Jdi bukan perkara besar jika tukang parkir menceplok lahan terbuka. Karena kelas menengah Juga mencari peruntungan di tengah masyarakat "kecil".
Rots semoga kau mnjadi semacam kebahagian dI Hari minggu yang menyenangkan.


Wednesday, August 19, 2015

Kegembiraan dalam Perpustakaan Jalanan


RBK on the street 9 agustus 2015

Rahayu Dwiningsih, Mahasiswa UMY

Alhamdulillah program RBK on the street berjalan lancar. Kegiatan ini diadakan setiap hari Minggu mulai pukul 06:30 hingga pukul 11:00. Ada beberapa tambahan yang dijalankan. Pertama, kami membuka ruang mewarnai gambar bagi pengunjung anak-anak dan memamerkan karya mereka di area hotspot. Bagian ini mendapat sambutan yang cukup baik dari para pengunjung. Terlebih karena kami juga menghadiahkan para peserta sebatang pensil dan 5 bungkus permen.
Kedua, kami juga menyediakan beberapa koran harian. Kami berasumsi bahwa dengan disediakannya bacaan koran-koran, orang-orang menjadi lebih berminat mendekati titik RBK on the street. Dan faktanya, orang-orang memang berdatangan menyerbu dan mengakses informasi yang berkaitan dengan RBK, termasuk masalah-masalah teknis seperti soal keanggotaan, peminjaman buku, dan lain-lainnya.
Pengadaan perpustakaan jalanan atau RBK on the street juga membagikan brosur berisi informasi mengenai RBK pada yang lalu lalang dan mereka yang menyambangi area RBK on the street. Kami merasa optimis bahwa program ini sangat bermanfaat terutama bagi mereka yang memiliki minat pada dunia literasi.
Peminjaman buku yang gratis dan tanpa tenggat waktu, tanpa menyerahkan kartu identitas sebagai jaminan, tanpa ada kewajiban mengembalikan buku yang sudah dipinjam saat hendak kembali meminjam, membuat respek para pembaca pada RBK on the street menjadi tinggi. Semua barangkali karena pihak RBK menerapkan azas percaya—azas yang tak kenal syak wasangka. Dan kami, kelompok KKN 06 UMY, merasa terhormat dan bangga menjadi yang dipercaya mengelola. Meskipun, terus terang saja, kami menaruh sedikit cemas sebab bagaimanapun juga buku-buku yang kami bawa adalah amanah dari pihak RBK.
RBK on the street kali ini agak sedikit berbeda. Sebab, pelaksanannya bertepatan dengan kegiatan 17-an di Dusun Sidorejo, tempat kami live in selama KKN. Karenanya, saat itu kami membagi dua energi: sebagian kelompak KKN 06 standby di Alkid, sebagian lainnya segera kembali ke Dusun Sidorejo untuk berpartisipasi dalam kegiatan 17 Agustusan.
Hal menarik lain dari RBK on the street adalah bahwa pada pelaksanannya, kami kerap berdiskusi tentang banyak hal dengan para pengunjung. Pada kegiatan ROTS minggu kedua ini, misalnya, kami kedatangan salah satu tamu tak terduga. Tubuhnya sudah tak tegap. Sulur-sulur keriput memenuhi wajahnya. Uban di kepalanya pun tampak seperti kopiah haji yang menutupi. Usianya pasti tak kurang dari 70 tahun.
Kami berdiskusi tentang lanskap kota Jogja dari mulai sejarah politik, sosiologi, hingga kuda yang sampai kini masih menjadi salah satu alat transportasi. Sesi yang paling menarik adalah saat ia mengisahkan kota Jogja semasa mudanya: Jogja yang lengang namun hidup dan semarak, Jogja yang minim petugas kebersihan namun justru lebih ramah lingkungan.
Membengkaknya laju pertumbuhan penduduk memang membawa banyak persoalan. Kita memang belum mengalami krisis pangan. Namun masalah hunian, macet kendaraan, kebersihan, ketertiban, kenyamanan, atau angka kriminalitas yang terus meningkat, memaksa kita untuk berpikir ulang tentang tata kelola sebuah kota.
Jogja yang sekarang tidak sebagus dan senyaman jogja yang dulu tetapi beliau masih tetap mencintai jogja dikarenakan jogja menyimpan banyak kenangan tentang masa mudanya.
Sekian dulu cerita ROTS minggu kedua ini, kita tunggu cerita dari kejadian-kejadian menarik yang terjadi selama pelaksanaan ROTS di minggu-minggu selanjutnya yang tentunya kita akan menceritakannya kembali, sekian dan terimakasih.

Sunday, August 9, 2015

Pernahkah anda mendengar tentang Rumah Baca Komunitas (RBK)?


Oleh Neng, KKN 06
Seperti apakah kegiatan yang dilakukan para penggiat Rumah Baca Komunitas (RBK)?
Penulis menemukan sesuatu yang unik pada salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Rumah Baca Komunitas (RBK).

Pagi itu dimana kebanyakan orang masih terlelap dalam tidurnya setelah menikmati malam yang panjang bagi sebagian orang pada umumnya, sekumpulan mahasiswa memulai harinya pada satu kegiatan yang mulia. Para penggiat menamakannya RBK on the Street. Kegiatan yang mengusung tema perpustakaan jalanan ini, memuat harapan para penggiat Rumah Baca Komunitas bahwa membaca tidak hanya duduk dalam ruangan kemudian membuka lembar demi lembar buku yang sedang dibaca. Tetapi membuka peluang untuk seluruh lapisan masyarakat dari mulai anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua yang ada disekitar area RBK on the Street ini untuk membaca bahkan meminjam buku tersebut. Pada awalnya sekumpulan mahasiswa ini merasa pesimis dengan kegiatan tersebut.
Bermodalkan pengetahuan seadanya mengenai RBK on the Street ini, berangkatlah sekumpulan mahasiswa ini dengan beberapa dus buku menuju lokasi yaitu Alun-alun Kidul. Ketika semua buku yang dibawa kelokasi (Alun-alun Kidul) telah tersusun rapi beralaskan tikar, muncul dalam benak “adakah orang bersedia mampir bahkan hanya untuk melihat-lihat saja?”.
Kemudian seorang ibu bersama anaknya mampir dan melihat-lihat, sekumpulan mahasiswa pun terkejut “oh ternyata ada yang mampir” dalam benaknya. Ternyata pengunjung tersebut sering mampir ke RBK on the Street ini. “Loh, ini orang-orangnya kok beda ya? Kenapa baru buka lagi?
Saya sering kesini tapi malah tidak buka, padahal saya mau mengembalikan buku yang saya pinjam” ujar Ibu itu sembari memilih-milih buku untuk dibaca bahkan mungkin untuk dipinjam juga. Salah satu mahasiswa kemudian menjawab pertanyaan ibu tersebut, “oh iya bu, kemarin habis libur Idul Fitri jadi pada mudik orang-orangnya makanya ini kami baru buka lagi”. Setelah selesai memilah buku, Ibu itu berkata “saya mau pinjam buku ini kalau semisal saya meminjam bukunya tidak hanya satu tidak apa-apa?”. “Oh iya bu, tentu saja disini ibu bisa meminjam berapa banyakpun buku tanpa perlu meninggalkan kartu identitas apapun” ujar salahsatu mahasiswa tersebut.
Tiba-tiba datang pula seorang bapak dengan anaknya, terlihat dari gerak-geriknya anak tersebut ingin membaca buku hanya saja bapak tersebut menganggap bahwa kami sedang menjual buku. Salah seorang dari mahasiswa menghampiri dan bertanya pada anak kecil tersebut, “adek sedang mencari buku seperti apa? buku cerita atau kisah 25 para Nabi?.” Bukannya sang anak yang menjawab tetapi sang bapak yang menjawab “dek ini buku nya dijual, mba/ mas nya sedang jualan”.
Tentu saja apabila sekilas lewat mampir tanpa membaca banner yang terpasang di tembok belakang, orang-orang sangatlah wajar mengira bahwa sekelompok mahasiswa tersebut sedang menjual buku-buku nya. Diperlukan penjelasan secara singkat untuk bapaknya bahwa inilah perpustakaan jalanan, membaca ditempat maupun untuk dibawa pulang (meminjam) sangatlah diperbolehkan karena itu memang tujuannya sebagai salahsatu upaya meningkatkan minat baca. Beragam macam pengunjung yang mampir membaca dan meminjam buku pada saat RBK on the Street waktu itu. Dari mulai yang berasumsi bahwa buku-buku tersebut dijual, meminjam buku harus meninggalkan identitas, sampai pada waktu ada seorang anak kelas 4/5 SD yang mampir ke RBK OTS ini. Secara tiba-tiba anak tersebut berkata “ini semacam perpustakaan ya?” sembari membaca banner yang terpasang didinding belakang. Anak tersebut mengakui kalau dia sering dan suka membaca buku.
Hal yang membuat kaget sekelompok mahasiswa yang cenderung membaca apabila mendekati hari-hari ujian. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari RBK OTS pada waktu itu, kegiatan yang mulia mengajak semua untuk membaca dan tidak terpaku pada tempat karena dimanapun kita selagi ada buku yang kita pegang disitulah kita bisa membaca.
)*catatan perpustakaan jalanan minggu lalu, 2 agustus 2015

Monday, May 11, 2015

ROTS: "Ikhlas berbagi"


Catatan  oleh Agam Primadi, Pegiat RBK

Tadi pagi (10/5). Ya,,, waktu itu nampaknya memang ingin disebut pagi. Sekumpulan orang yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama RBK sedang mempersiapkan seluruh perlengkapan perpustakaan jalanan yang digelar di  alun alun kidul, Jogjakarta. 

Setelah semua perlengkapan dipersiapkan, berangkatlah para pegiat Rumah Baca Komunitas yang dikomando oleh Sakir menuju alun alun kidul. Sesampainya disana beberapa orang tadi langsung menggelar tikar, memasang spanduk perpustakaan jalanan, serta menyusun buku buku untuk segera dihidangkan kepada semua orang yang berada di alun alun kidul saat itu. 

Pukul 07.30, perpustakaan jalanan resmi dibuka. Tak lama kemudian satu persatu orang berdatangan menghampiri lapak baca. Ada yang bersama keluarga, istri, pacar, teman. Kegiatan perpustakaan jalanan ini seperti biasa rutin diadakan setiap minggu pagi yang dimulai dari pukul 07.00 hingga 11.30 siang. Pagi ini juga sama dengan hari minggu biasanya, buku yang dihidangkan juga bervariatif, mulai dari novel, komik, seni, sampai buku-buku politik pun ada. Itu sebabnya, bagi sebagaian pengunjung perpustakan jalanan RBK menjadi salah satu tempat nongkrong yang nyaman untuk bersantai sembari menghirup udara pagi Kota Jogjakarta. 

Tidak hanya menjajakan buku, komunitas ini juga menerima jikalau ada yang ingin mengikhlaskan bukunya untuk diasuh oleh Rumah Baca Komunitas. Seperti halnya pagi ini Rumah Baca Komunitas menerima sedikitnya 8 buku yang dihibahkan oleh ibu Tri, dan bapak Totok. Pak Totok dan Bu Tri adalah orang yang sering pergi kelapak baca perpustakan jalanan bersama keluarganya untuk sekedar meluangkan waktu pagi dengan membaca. Selain membaca, beliau juga sering mengikhlaskan bukunya untuk dititipkan di Rumah Baca. Senyum manis terpancar diwajah beberapa pegiat ketika menerima hibah buku tersebut. 

Monday, April 27, 2015

Hari Berbagi dan Perpustakaan Jalanan

IGN

"..ini mas untuk tambahan." Demikian pesan singkat seorang bapak sambil menjulurkan tangannya kepada Salah satu relawan di RBK on the street siang ini (26/4). Kesan saya sangat mendalam mengenai peristiwa ini. 
Bapak yang usianya sekitar 40an tahun ini sudah beberapa kali meminjam buku di perpustakaan jalanan di alkid dan selalu mengajak anaknya yang sekitar 7 tahun umurnya. Anak yang selalu antusias dengan buku yang baru dipinjamkan ayahnya. Dan hari ini ayah yang hebat ini mengajarkan kepada anaknya dan kita semua untuk berbagi buku kepada sesama. Ada sekitar 10an buku yang disumbangkan ke RBK "sebagai tambahan". Tentu ini akan sangat penting sebagai gerakan donasi buku. Tak perlu menyumbang banyak, tak perlu juga menunggu rak buku pribadi penuh baru mengeluarkan buku dari rumah. 
Begitu juga bagi relawan, jika tak bisa menyumbangkan buku setidaknya kita bantu buku buku menemukan orang tua asuhnya untuk memeluknya dan mengambil makna/pengetahuan darinya. Inilah spirit microba literasi ala Dauzan Farook. Dan pagi ini juga kita lihat spirit itu masih utuh, untuk selama lamanya. 
Di Yogyakarta sendiri dapat dibilang komunitas tumbuh subur dengan keunikan yang luar biasa. Nama-namapun unik sekali misalnya Komunitas sedekah kreatif edukatif, akademi berbagi, MAP Corner, Turun tangan, Klinik Skripsi, Jogja atap buku, Jogjaluru ilmu, dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu persatu. Rumah baca Komunitas juga terus menerus tanpa lelah untuk senantiasa mengajak masyarakat untuk berbagi. Malam hari atau beberapa hari sebelum hari ahad tiba (jadwal lapak buku di Alkid digelar) ada beberapa broadcast yang ringan-ringan untuk mengingatkan kepada warga dunia maya akan adanya hari berbagi di alun-alun kidul tersebut. tanggal 24 Kemarin ada broadcast demikian:

Kepada sahabat dan semua simpatisan gerakan literasi,
Kami selalu ingin memberikan kabar baik, bahwa tiga tahun telah terlewatkan oleh Rumah Baca Komunitas. Banyak pelajaran dan pemikiran terus tumbuh dari kekuatan komunitas yang didukung oleh banyak orang dan semesta serta ridho Allah. Kami tak mungkin mngucapkan satu persatu kepada pihak pihak yang telah memberikan nafas bagi perjuangan di bidang literasi (pengetahuan, keadilan, anti kekersan dan anti diskriminatif).
Kami selalu merasa kuat dan tak pernah merasa sendirian atau kesepian. Selalu ada dorongan untuk berbagi dan menguatkan apa yang kita miliki dan yang bisa kita lakukan. Semua orang adalah (bisa mnjadi) penggerak literasi. Demikian Dauzan Farook menyemangati kami semua. 
Walau demikian, karena banyak komunitas yang membutuhkan support dan kontak RBK, kami tergerak untuk membantu menghidupi teman teman pegiat melalui berbagi buku dan perlengkapan perpustakaan komunitas di Surabaya, Sulawesi selatan, Gunungkidul, Kota Jogja, Kulonprogo dan Bantul. Apa pun bantuannya akan sangat berguna. Rak buku, buku, perlengkapan tulis, papan tulis, komputer yang bisa dipakai, dan sebagainya. 
Bantuan dapat di drop di RBK on the street ahad pagi di alun2 kidul jam 7.30 sd 11.00 wib. If you care, you share. |T: @mabaca|FB: rumah baca komunitas|www.rumahbacakomunitas.org|C.p. Rifki sanahdi 0877 39750162|

Semangat RBK adalah Spirit dauzan Farook! Selamat membangkitkan kesadaran literasi, selamat berakhir pekan. Makin peduli, makin berarti hidup!

Berbagi Masa Depan untuk Semua

GERAKAN membaca merupakan gerakan yang harus dipelopori siapa saja, termasuk Rumah Baca Komunitas. Komunitas ini hadir karena keprihatinan atas betapa miskinnya bahan bacaan masyarakat, dan enggak meratanya distrubusi buku di di daerah.


Bulan bulan Mei 2012, Rumah Baca Komunitas mengawali langkahnya dengan satu kegiatan yaitu Rumah Baca on the street. Rumah Baca on the street adalah gerakan sangat sederhana.
Komunitas beranggotakan anak-anak muda Jogja ini menggelar tikar di alun-alun selatan jogja tiap minggu pagi, kemudian membawa buku-buku untuk dibaca bersama di tempat. Bisa juga buku tersebut dibawa pulang.
“Kami ingin semua orang dapat terlibat membaca atau meminjamkan bahan bacaan. Terlebih bisa menjadi kegemaran untuk membaca bagi siapa saja,” papar David Efendi,salah satu pendiri Rumah Baca Komunitas
Komunitas ini paham betul, bahwa membaca dapat membuka jendela dunia. Mengoleksi buku adalah harta yang berharga untuk di teruskan ilmunya kepada orang lain. Dengan cara dipinjamkan ataupun membuat referensi rutin untuk di upload di web rumah baca.

Komunitas ini sepakat untuk mengumpulkan buku-buku. Diawali dari anggota mengumpulkan buku-buku koleksi mereka untuk di share bersama. Dan jadilah perpustakaan mini rumah baca komunitas. Awalnya hanya terkumpul puluhan buku seiring berjalannya waktu saat ini terkumpul empat belas ribu buku yang siap untuk dipinjam dengan gratis setiap minggu pagi di alun-alun selatan.
Komunitas Rumah Baca ini menyediakan berbagai jenis/ragam bahan bacaan baik buku, majalah, e-book yang merupakan koleksi komunitas dan anggota yang dishare secara saka rela. Jenis buku meliputi buku bacaan umum seperti buku psikologi, social, ekonomi, motivasi, seri remaja, anak-anak, life skill, dan sebagainya.
“Tidak harus menjadi kutu buku yang tiap hari harus membaca buku. Tapi komunitas ini terbuka untuk siapa saja. Yang ingin berbagi ilmu tentang buku, atau ingin menjadikan membaca adalah hobi barunya.” Rifki Sanahdi, mahasiswa asal sumbawa.

Jika pengunjung request buku tertentu, juga akan diusahakan oleh pengurus komunitas. Jam bukupun fleksibel mulai jam 8 pagi sampai jam 11 siang setiap hari dan apabila pengunjung sudah mengantongi kartu anggota komunitas berhak datang setiap waktu di markas Rumah Baca Komunitas di Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Rt 08.

Meski di luar masih banyak yang enggan untuk membaca. Fakta tersebut menjadikan tekad rumah baca komunitas untuk membangun sebuah komunitas mandiri di tengah masyarakat.
Terus menumbuhkan minat untuk membaca. Komunitas ini rutin menggelar kegiatan seperti bedah buku, malam apresiasi puisi yang di gelar rutin setiap bulannya.

Rumah Baca Komunitas selain mengumpulkan dari gerakan hibah juga merupakan buku sharing dimana semua orang dapat menitipkan buku/bacaan disini tanpa mengubah status kepemilikan bahkan secara alamiah akan merasa berbagi dengan sesama dengan bacaan/pengetahuan.

Kelebihan kedua adalah bahwa rumah baca ini sebagai tempat belajar alternatif yang buka 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Buku yang disediakan mencakup berbagai segmen usia dan pekerjaan.
“Gemar menabung saja tidak cukup untuk mengurai bobroknya negeri ini. Kita musti bersatu untuk perangi tragedi nol baca insyaAllah bangsa ini akan lebih baik,” pungkas Efendi dengan harapannya. (rin/ mag)
sumber: http://www.radarjogja.co.id/blog/2015/03/17/berbagi-masa-depan-untuk-semua/

Perpustakaan Jalanan dan Ikhwal Podjok Batca

Perpustakaan Jalanan dan Ikhwal Podjok Batca

Oleh Luthfi ZK, pegiat literasi Podjok Batca & RBK

Kemarin, Minggu 26 April adalah kesekian kalinya aku bergabung bersama teman-teman relawan Rumah Baca Komunitas dalam kegiatan Perpustakaan Jalanan (RBK on the street) di Alun-alun Kidul. RBK on the Street merupakan salah satu program Rumah Baca Komunitas yang untuk memberikan akses bacaan kepada siapa saja dengan cara mendatangi pembaca. Membuka lapak pinjam buku gratis tanpa jaminan apapun kecuali rasa saling percaya.

Pada awalnya aku merasa sanksi dengan kegiatan RBK on the street. Aku curiga kegiatan ini tidak akan berlangsung lama karena buku-buku yang dipinjamkan hilang atau tidak kembali. Sebab peminjam buku tidak meninggalkan jaminan apapun, kalau mereka tidak mengembalikan buku pinjamannya tidak bisa dilacak, ya sudah berarti hilang. Perkara itu pernah aku tanyakan, "apa tidak takut kalau nanti buku Rumah Baca Komunitashabis karena tidak dikembalikan oleh peminjamnya?" Kata Relawan Rumah Baca Komunitas, "kalau takut terus nanti kapan bergeraknya, gerakan literasi tidak akan berjalan kalau terus dihantui ketakutan. Nanti kita akan ragu-ragu terus dan buku-buku hanya dinikmati oleh segelintir orang saja."

Kenyataannya dimulai dari akhir tahun 2014 sampai saat ini RBK on the Street konsisten melakukan kegiatannya setiap minggu pagi. Bukunya bukannya berkurang justru bertambah. Barangkali benar jika ada yang mengatakan bahwa ketulusan itu menular. Pelanggan buku di RBK on the Street bukannya tidak mengembalikan buku pinjamannya. Mereka malah memberikan buku-buku koleksinya untuk dikelola RBK, disosialkan. Seperti kemarin, RBK on the street menerima dua puluhan buku dari peminjamnya untuk dikelola. Kesanksianku ternyata meleset.

Terjalin hubungan yang akrab dan rasa saling percaya antara relawan dengan pelanggannya. Aku menyebut pelanggan bukan karena relasi yang terjalin adalah relasi jual beli, perdagangan. Susah menemukan padanan kata lain untuk menggambarkan peminjam buku di RBK on the Street. Sebab mereka tidak hanya berkunjung sekali-dua saja. Sebagian rutin datang ke RBK on the street. Seperti bapak yang aku lupa namanya, ia sudah cukup berumur yang terlihat dari keriput mukanya dan uban yang menutupi kepalanya, selalu datang ke RBK on the street menggunakan sepeda tuanya untuk mengembalikan buku pinjaman serta meminjam lagi. Para relawan RBK on the Street hafal, bapak ini pengagum berat Pramoedya Ananta Toer. Hampir semua koleksi Rumah Baca Komunitas tentang Pram, ia lahab habis. Setiap minggu selalu ada hal baru yang bisa diambil pelajaran darinya.

Ada lagi ibu beserta anak perempuannya yang juga rutin pinjam-mengembalikan buku-buku di RBK on the Street. Bahkan pernah suatu kali, dengan jenaka si ibu "marah-marah" karena RBK on the Street tidak membuka lapaknya. Si ibu terlanjur datang ke sana bersama anak perempuannya. Sesampainya di Alun-alun Kidul bukan lapak RBK on the Street yang didapatinya melainkan segerombolan pemuda penuh energi yang meraung-raungkan knalpot motornya -- bertepatan dengan konvoi PPP.
Tak hanya sampai di situ. Virus ketulusan Rumah baca Komunitas menyebar sampai Condong catur. Jika biasanya virus itu melemahkan bahkan mematikan. Virus ketulusan Rumah Baca Komunitas malah semakin menguatkan niat dan tekad segerombolan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia untuk melakukan gerakan literasi yang kurang lebih sama dengan RBK on The Street. 

Awalnya segerombolan anak muda itu dihinggapi ketakutan dan keragu-raguan, bagaimana kalau nanti buku-buku yang mereka pinjamkan rusak atau hilang. Sampai kemudian segerombolan anak muda itu berkunjung ke RBK on the Street. Berdiskusi ringan ihwal kegiatan RBK on the Street serta orientasi yang melatar belakanginya. Mendengarkan cerita mereka, segerombolan anak muda itu mantep untuk segera mengeksekusi idenya.

Eksekusi ide itu berwujud Podjok Batja. Lapak pinjam buku gratis tanpa jaminan dan pojok kumpul untuk berdiskusi, membacakan puisi, prosa, maupun sekedar lihat-lihat buku saja, setiap hari rabu di FE UII.

Tuesday, November 18, 2014

Kemenangan Kaum Literasi

Oleh: David Efendi
Pembina dan Pegiat RBK

RBK on the street, sebuah aktifitas yg makin akrab terdengar bagi pegiat literasi beberapa bulan terakhir, adalah sebuah konsep perpustakaan jalanan yang lahir dari komunitas anak muda di Kali Bedog (Rumah Baca Komunitas).
Salah satu visi utamanya adalah bagaimana buku itu menjadi muda diakses bagi setiap orang tanpa disekat status sosial. Ibaratnya air, buku adalah kehidupan bagi semua manusia. Tanpa setitikpun pengecualian.
Pada kegiatan RBK on the street #7 ini semakin menguatkan imajinasi para konseptornya. Kegiatan ini mampu menggerakkan kesadaran dan sekaligus kreatifitas pegiatnya. Ya, "kreatifitas tanpa batas", kata Indra yang berjibagu siapkan acara RBK di alun alun kidul.
Pegiat yang mengamalkan ajaran apresiatif ini semakin terbiasa dengan serangkaian kegiatan di akhir pekan. Malam menyiapkan buku, souvenir seadanya, spanduk untuk kampanye literasi dgn cara manual. Tantangan terberat adalah, keharusan bangun pagi di minggu hari. Ini serasa berat sekali pada awalnya.
Edisi kali ini mengambil tema, ramoco ramulyo dgn gambar Tirto Adisuryo. Seorang pegiat literasi di masa pra revolusi kemerdekaan Indonesia.

Artinya, salah satu cara memuliakan sebuah bangsa adalah dengan cara membangun kesadaran literasi, kesadaran akan nilai nilai kemerdekaan, kesetaraan, dan spirit pembebasan. Dengan kekuatan ini, bangsa kita layak diperhitungkan oleh bangsa bangsa lainnya terutama menjadi teror bagi kesewenangan kaum penjajah. Kini, penjajahan fisik itu lebih pada hegemoni dan dominasi kebudayaan. Karena itulah, media tv yg tidak edukatif, diskriminasi, budaya inlander haruslah menjadi common enemy para pekerja literasi.
Dgn gambar Tirto Adisuryo, menuntut kita harus dedikasikan diri kita untuk belajar keras, membaca menulis dengan militan, dan bekerja keras untuk kebaikan rakyat sbg kelanjutan dari revolusi literasi Tirto.
Aksi pembebasan ini dicatat oleh Agam, salah seorang pegiat RBK dalam notes BBM. Dia menulis demikian:
"...Setelah perut terisi, sambil menghisap dalam rokoku, datang seorang bapak berpostur tinggi, memakai kaos lengan panjang dan celana pendek, merapatnya ke lapak baca tentu tanpa panggilan. Keberadaannya dilapak baca hari ini menurut cak david adalah fenomena yg belum pernah terjadi sebelumnya, bisa disimpulkan beliau adalah pemecah rekor tukang becak pertama yg mengharimpi lapak baca. Sambil ditemani gus ind, dia melihat-lihat koleksi buku yg kami sajikan, tanpa berlama lama si tukang becak tadi menjatuhkan pilihannya pada buku anak-anak, entah apa yg mendasari beliau memilih buku anak-anak tersebut, kami mencoba utk meminta alasan kenapa beliau memilih buku itu ? Dgn tegas dia menjawab "anak saya pasti senang sekali kalau saya bawa buku ini untuknya". Subhanallaah, aku dan gus ind terdiam haru.
Ternyata buku selain memberikan pengetahuan, juga bisa membahagiakan hidup seseorang. Tidak hanya itu sebagai bentuk apresiasi atas keikhlasannya, cak David langsung memberikan 1 baju dewasa, 1 baju anak" hasil dari karya para pegiat literasi ,
"Terima kasih, terima kasih, anak saya pasti senang sekali saya bawakan buku dan baju ini, " celetuknya sebelum meninggalkan kami dan tumpukan buku."
Dia mempertegas pengalaman "etnografi" ini bahwa RBK telah memberikan bukti hilangnya sekat sekat kelas sosial dalam gerakan literasi. Buku sebagai media komunikasi lintas kelompok kepentingan. Saya setuju dengan kesimpulan ini. Hari ini ada banyak ragam menusia mampir di lapak "moco gratis" mulai dari wartawan, penulis buku (memberikan buku karya sendiri), pegiat pendidikan dari AJI, temannya teman, mahasiswa, dan masyarakat umum lainnya.
Ada beberapa pengunjung juga menghibahkan bukunya di RBK pada moment on the street.
Beberapa peminjam buku masih juga ada yang kaget tentang kegiatan pinjam buku boleh bawa pulang gratis ini. Ada dua "pelangggan" pinjam buku meminta maaf belum bisa pulangkan buku yang dipinjam.
"kemanusiaan saya tersentuh" nyaris terguncang, adalah sebuah penghargaan besar mereka (ada yang bapak bapak juga ibu) datang ke "TKP" hanya menyampaikan permohonan maaf karena belum selesai membaca buku dan masih dipakai bahan menulis. Para peminjam buku ini memanusiakan para pegiat RBK dengan kesantunan meminta maaf. Dan senyum terkembang dari wajah penjaga lapak ini.

Parkir dan Kemenangan
Walaupun say sudah nego dengan petugas parkir dan mendapatkan keringan, sampai pada akhirnya saya minta pendapat di komunitas sosial lain: "sudah empat bulan tak pernah diparkir, pagi tadi para pegiat gerakan literasi didatangi pak parkir agar bayar parkir.
Diantara peminjam buku adalah tukang becak dan siapa saja tak bs disebutkan satu satu."
Kegiatan sosial saja diparkir, apa negerri ini sudah kehilangan kearifan lokal? jika ada jamaah group ini yg tahu otoritas parkir alkid,dan bisa membantu untuk pembesan parkir dilapak moco buku gratis boleh dibawa pulang ini kami akan gembira sekali."
Adapun hasil nego pagi ini adalah motor pegiat RBK tidak ditarik parkir dengan dinaikkan ke atas sisi jalan. Saya pun gembira. Tapi ada kegembiraan lainnya, bahwasanya pegiat RBK tak ada yang menggerutu gara gara harus bayar parkir. Bahkan ada salah satu pegiat yang sudah banyak berbincang dan kenal dengan "abang parkir" itu. Satu hal yang saya khawatirkan adalah pengunjung/pembaca enggan mampir kalau harus membayar parkir.
Overall, suasana hati dan perbuatan telah kita menangkan hari ini. Kita bukan masuk golongan orang yang kalah dan marah! selamat untuk teman teman pekerja literasi. Kemenangan kecil kita sudah raih setiap hari, kita akan perjuangkan lahirnya hari raya kemenangan besar.




Tulisan Terbaru

Populer

Hamka For RBK

Hamka For RBK

Sjahrir For RBK

Sjahrir For RBK