Showing posts with label literapedia. Show all posts
Showing posts with label literapedia. Show all posts
Thursday, June 16, 2016
Saturday, February 6, 2016
Minat Baca Buku Terkendala Perilaku Instan
RBK-Multimedia dinilai memengaruhi perilaku dan minat siswa untuk membaca narasi secara utuh. Siswa cenderung membaca serpihan naskah secara instan melalui situs berita dan blog ketimbang membaca buku secara tuntas.
Upaya sekolah mengadaptasi naskah buku dari versi cetak ke digital pun ternyata tidak serta-merta menggairahkan minat baca siswa terhadap teks yang terstruktur dan sistematis.
Di SMA Negeri 78 Jakarta, misalnya, perpustakaan melakukan digitalisasi sejak 2013. Hal itu memungkinkan siswa dan guru mengakses buku koleksi sekolah dengan komputer jinjing dan telepon pintar. Namun, siswa belum antusias memanfaatkan fasilitas tersebut.
Sebagai contoh, untuk menggali bahan bacaan tentang suatu teori atau konsep, siswa lebih cenderung mencari bahan dari situs tertentu melalui mesin pencari data/informasi ketimbang membaca buku versi cetak ataupun PDF.
“Tentang Teori Evolusi Darwin, misalnya, rasanya lebih mudah mencarinya dari situs web ketimbang membaca bukunya,” kata Cornelia, siswi kelas XI IPA SMA 78, Rabu (3/2).
Paramita (17), siswi kelas XII IPS SMAN 29 Jakarta, pun merasa nyaman memelototi gawai ketimbang buku cetak. Visualisasi di situs lebih atraktif sehingga menarik dibaca. “Lagi pula, tulisan di web tidak terlalu panjang, berbeda dengan buku,” ujarnya.
Bahkan, Rama (16), siswa kelas XI IPS SMAN 4 Tangerang Selatan, lebih memilih membuka situs video digital ketimbang membaca buku. Menurut dia, video di kanal digital lebih mengasah kreativitas dan bakat dirinya.
“Visualisasi video amat konkret terhadap suatu keadaan. Berbeda dengan membaca buku yang lebih imajinatif,” katanya.
Instan
Pegiat pendidikan Amanda P Witdarmono menilai, siswa kini cenderung menyimak informasi secara instan sehingga bacaannya pun selintas. “Karena terbiasa membaca tulisan pendek, minat untuk membaca naskah yang runtut dan sistematis tidak tumbuh,” ujarnya.
Pegiat pendidikan Amanda P Witdarmono menilai, siswa kini cenderung menyimak informasi secara instan sehingga bacaannya pun selintas. “Karena terbiasa membaca tulisan pendek, minat untuk membaca naskah yang runtut dan sistematis tidak tumbuh,” ujarnya.
Pakar pendidikan dari Universitas Terbuka, Dodi Sukmayadi, mengatakan, cara kebanyakan guru menerjemahkan Kurikulum 2013 belum menumbuhkan kebutuhan siswa untuk membaca. Upaya siswa mencari informasi di luar jam sekolah dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban.
“Siswa hanya mencari teks informasional untuk disalin karena tugas sekolah. Mereka tidak berusaha memahami informasi itu lebih dalam karena merasa tidak membutuhkannya,” kata Dodi.
Tradisi verbal
Bagi Dodi, masalah utama adalah membaca belum menjadi budaya bangsa. Tradisi verbal, seperti berkisah dan mendongeng, jauh lebih kuat dibandingkan dengan menulis dan membaca. Karena itu, kebutuhan membaca harus dibangun dengan cara menyesuaikan bahan bacaan dengan ketertarikan.
Bagi Dodi, masalah utama adalah membaca belum menjadi budaya bangsa. Tradisi verbal, seperti berkisah dan mendongeng, jauh lebih kuat dibandingkan dengan menulis dan membaca. Karena itu, kebutuhan membaca harus dibangun dengan cara menyesuaikan bahan bacaan dengan ketertarikan.
Program 15 menit
Direktur Jenderal Kebudayaan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, program 15 menit membaca sebelum pelajaran sekolah dimulai menjadi salah satu momentum penanaman nilai moral dan jati diri atau identitas bangsa. Program tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.
Direktur Jenderal Kebudayaan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, program 15 menit membaca sebelum pelajaran sekolah dimulai menjadi salah satu momentum penanaman nilai moral dan jati diri atau identitas bangsa. Program tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.
Pemilihan bahan bacaan untuk menunjang hal itu hendaknya berupa karya sastra dan naskah-naskah tua asli Tanah Air. “Kita sebelumnya tidak pernah dikenalkan secara lengkap karya-karya tertulis yang pernah diciptakan di Tanah Air,” kata Hilmar.
Dengan demikian, minat baca tidak hanya menambah pengetahuan terutama terhadap sejarah bangsa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sejarah bangsa.
Temuan serta pandangan para narasumber tersebut relevan dengan hasil jajak pendapat Litbang Kompas pada 5-6 September 2015. Hasilnya, rata-rata lama membaca buku warga Indonesia hanya 6 jam per minggu (Kompas 15/9/2015).
Bandingkan dengan warga India yang rata-rata membaca buku 10 jam per minggu, Thailand 9 jam per minggu, dan Tiongkok 8 jam per minggu.
Survei Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) 2012 menunjukkan, hanya satu dari 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca serius. Rata-rata, kurang dari satu buku yang dibaca per tahun.(C05/C06/NAW)
( Sumber dari Kompas, 4/2/2016, Hal 1)
Taman Bacaan Masyarakat Kurang Kekinian
Oleh LUKI AULIA
Siang |
745 dibaca
0 komentar
KARAWANG, KOMPAS — Program dan kegiatan di sebagian besar taman bacaan masyarakat masih sebatas urusan membaca buku, menggambar, atau kegiatan mendasar lain yang kurang kekinian. Hanya sedikit taman bacaan masyarakat yang melahirkan ide sekaligus mempraktikkan kegiatan-kegiatan kreatif inovatif sesuai budaya populer yang sedang tren dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Padahal, taman bacaan masyarakat yang lebih kekinian dalam artian mengikuti tren anak, remaja, atau orang dewasa yang sedang terjadi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pasti akan lebih bisa menarik minat masyarakat untuk ikut berpartisipasi di taman bacaan masyarakat (TBM).
Ini mengemuka dalam diskusi-diskusi di Festival Indonesia Membaca 2015 yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat di Lapangan Karang Pawitan, Karawang, Jawa Barat.
Novelis Heri Hendrayana Harris yang lebih dikenal dengan nama pena Gola Gong menceritakan pengalamannya setelah berkeliling ke TBM di sejumlah daerah. Menurut dia, banyak TBM yang berjarak dengan budaya masyarakat tempat TBM itu berada. Budaya masyarakat setempat belum direspons sehingga program dan kegiatan kebanyakan TBM cenderung monoton. Pengelola TBM seharusnya mempunyai strategi yang progresif untuk memajukan minat baca.
"Pengelola TBM harus terbuka, gaul, dan kreatif memasukkan budaya populer ke kegiatan. Kebudayaan bisa dikaitkan dengan literasi. TBM bisa jadi trendi kalau begitu, sekaligus bisa mendorong gerakan Indonesia membaca. Proses membaca pengelola TBM harus lebih maju dari warga belajarnya," kata Heri.
Iman Soleh dari Komunitas Celah Celah Langit menambahkan, TBM harus bisa melibatkan partisipasi aktif masyarakat di sekitarnya. Tidak perlu menggunakan program atau kegiatan yang muluk-muluk sehingga sulit dilakukan. Cukup kegiatan sederhana tetapi "memuliakan" orang-orang yang ada di sekitarnya. Selain itu, pengelola juga harus bisa dan berani membangun jaringan, baik dengan pemerintah dalam negeri maupun luar negeri, melalui perwakilan di Indonesia ataupun swasta seperti industri. "Jangan takut untuk mengetuk pintu siapa pun," ujarnya.
sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/10/24/Taman-Bacaan-Masyarakat-Kurang-Kekinian
Literapedia Edisi Februari 2016
Literapedia |www.rumahbacakomunitas.org|
Edisi No.1| Feb 2016
Rasa rasanya ada persoalan maha berat yang sulit tertanggulangi untuk menggenjot tradisi literasi di republik ini. Di era menguatnya tekhnologi informasi semakin menggerus kesadaran massal bahwa kekuatan literasi akan berkorelasi positif dengan menguatnya daya saing suatu bangsa juga kedaulatannya.
Sekali lagi ihwal minat baca tidak hanya menambah pengetahuan terutama terhadap sejarah bangsa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sejarah bangsa. Bayangkan, jika kita hidup tanpa kesadaran sejarah dan pengetahuan. Gelaplah bangsa ini tak bisa tengok ke belakang tak pula terarah ke depan.
Temuan serta pandangan para narasumber tersebut relevan dengan hasil jajak pendapat Litbang Kompas pada 5-6 September 2015. Hasilnya, rata-rata lama membaca buku warga Indonesia hanya 6 jam per minggu (Kompas 15/9/2015). Kita di bawah warga India yang rata-rata membaca buku 10 jam per minggu, Thailand 9 jam per minggu, dan Tiongkok 8 jam per minggu.
Survei Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) 2012 menunjukkan, hanya satu dari 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca serius. Rata-rata, kurang dari satu buku yang dibaca per tahun.
Butuh energi dewa dan kekuatan langit untuk mengatasi beban yang nyaris tak tertanggulangi ini. Dengan keyakinan mikroba literasi, "siapa saja dapat menjadi penggerak literasi", kita masih membawa obor di tengah kegelapan[]
Oleh kontributor#de
Friday, December 25, 2015
Inaki Azkuna: Walikota Dunia
Literapedia RBK Edisi Des 2015
oleh Tim Literapedia
Terpicu oleh ‘buruknya’ tata kelola
pemerintahan kota Yogyakarta yang akhir-akhir ini santer
dibincangkan baik di
dunia nyata maupun social media, literapedia edisi ini terpicu untuk memberikan
pandanan alternative bagaimana pengelolaan kota berbasis kebudayaan dan
inklusifisme dapat bekerja baik di belakan bumi lain. Kali ini, salah satu kota
di Spanyol menjadi contoh yaitu kota Bilbao yang dikepalai oleh Inaki Azkuna. Ia
terpilih menjadi walikota terbaik nomor wahid versi The World Mayor Project
2012.
Sebelum menjadi walikota Basque sejak 1999, Azkuna
berpengalaman sebagai pejabat dinas kesehatan provinsi otonomi khusus Basque.
Dia turut berperan mewujudkan transformasi di kotanya, yang mengalami penurunan
industri, menjadi pusat seni dan wisata yang patut dibanggakan.
Walikota Azkuna telah diakui sebagai pemimpin
pemerintahan kota paling transparan di Spanyol. Walikota menekankan pentingnya
melibatkan warga dalam proses pembangunan proyek kota baru dari tahap
perencanaan dan desain dan evaluasi kebijakan kota. Ia berhasil
mentransformasikan dari kota yang berorientasi industry menjadi pusat destinasi
wisata kebudayaan yaitu dengan melalukan revitalisasi museum Guggenheim tahun
1997.
Mengomentari keinginan dari beberapa wilayah Spanyol
untuk kemerdekaan yang lebih luas, Walikota Azkuna, yang merupakan anggota
Partai Nasional Basque (Partido Nacionalista Vasco) mengatakan dalam sebuah
sesi tanya-jawab dengan warga Bilbao bahwa ia disukai saling ketergantungan—ia
sangat percaya bahwa manusia di kota semakin membutuhkan orang lain.
Bilbao di bawah pimpinan Azkuna tetap meneruskan proyek
pembangunan museum yang telah habiskan anggaran publik sebesar US$230 juta
tahun 1990an, bahkan ia mengembangkannya menjadi museum yang megah. Banyak
kritik bertumbangan beberapa saat setelah Museum Guggenheim dibuka.
Kini, setiap tahun jumlah pengunjung ke Kota Bilbao naik
dari 100.000 menjadi lebih dari 700.000 orang sejak 2011. Museum Guggenheim
diperkirakan telah menyumbang pemasukan sebesar US$3,1 miliar kepada Pemerintah
Provinsi Basque sejak dibuka pada Oktober 1997.
Sejak terpilih menjadi walikota, Azkuna memanfaatkan
daya tarik Museum Guggenheim – yang didesain oleh arsitek Frank Gehry – untuk
membangun kembali Kota Bilbao. Museum itu kini menjadi lambang kebanggaan yang
tak kalah prestisius dengan gedung Sydney Opera House di Australia.
Penilaian atas Azkuna sebagai walikota terbaik tidak
hanya dari pemanfaatan museum saja. The World Mayors Foundation mencatat bahwa,
tidak seperti kota-kota besar di Spanyol dan juga Eropa, Bilbao pimpinan Azkuna
kini adalah kota bebas utang lama pada tahun 2011. Hal ini dicapaianya dengan
kerja keras bersama warganya untuk mengembangkan pariwisata. Selain keluar dari
krisis ekonomi, Azkuna juga membebaskan kota ini dari banjir tahunan.
Salah satu kerja kerasnya adalah ditujukan untuk
membangun tata pemerintahan kota yang jujur, transparan, dan non-diskrimantif. Suatu
nilai yang sangat dekat dengan kebudayaan yang diyakini oleh bangsa Indonesia,
wabilkhusus warga Yogyakarta.
Friday, October 9, 2015
Manusia Baru Dari Reruntuhan
Literapedia
Oktober 2015
“Manusia baru
dari Reruntuhan”
Seratus tahun
terakhir baru ada 14 perempuan yang menyabet nobel sastra. Tahun 2015 ini seorang perempuan berkebangsaan
Belarusia disematkan gelar tersebut. Namanya Svetlana Alexievich. Usianya tepat
67 tahun. Dalam buku-bukunya, perempuan ini adalah sebuah kesaksian besar
tentang sebuah penggalan sejarah peradaban dan ketidakberadaban yang bersumber
dari perang dan keruntuhan kemanusiaan. Karya non-fiksinya memperlihatkan
secara jelas penderitaan dan keberanian hidup. Pada tahun 2005 Alexievich juga
memenangkan hadiah bergengsi “Book Critics Cyrcle Award” .
Beberapa karya
tulisnya di antaranya adalah War’s Unwomanly Face (1988) yang memotret korban
pasca perang dunia II dengan menarasikan ratusan perempuan dari desa dan kota
serta pemukiman yang terdampak perang. Buku berikutnya adalah Voice from
Chernobyl: The Oral History of Nuclear Disaster (1986) yang menjelaskan
bagaimana senjata nuklir meluluhlantakkan Chernobyl pada tahun 1986. Ketiga,
adalah bukunya yang diberikannya judul Zinky Boys: Soviet Voice from the
afghanistan war (1992) dimana dalam buku ini dilukiskan drama kemanusiaan yaitu
perang antara Soviet dengan Afghanistan. Semua kisah ini adalah suara-suara
kemanusiaan universal—betapa perang itu sangat pedih dan menyakitkan. Suara-suara
berbasis fakta lapangan ini telah menjadi suara yang gaungnya sangat kuat
(polyphonic). Sebagai perempuan, Alexievich ini sangat penting peran
humanismenya.
Hal ini diperlihatkan dengan bukunya yang diterbitkan ke dalam
beragam bahasa.
Menurut sara Danius
dari Swedich Acedemy, Alexievich berhasil membuat genre baru dalam bidang
sastra yang berbeda dengan meanstream
cara penulisan jurnalistik. Peraih nobel sastra perempuan ke-14 ini
menghabiskan 5-10 tahun untuk mewawancarai korban perang, manusia desa yang
ditemui di berbagai sudut bagian ext-teritori Uni Soviet. Ia memberikan gambar
mengenai identitas yang hilang, bagaimana orang merasa asing di negerinya
sendiri, bagaimana situasi mencekam di saat dan setelah perang. Semua berhasil
dihidangkan kepada pembaca. Pramudya adalah orang yang bisa menyamai talenta
penelisikan dan ketekunan mengelola beragam sumber sejarah (oral history) ke
dalam bentuk kemasan sastra yang membangkitkan ingatan dan kepedulian.
“saya butuh waktu
yang lama untuk menulis buku, dari 5-10
tahun. Dengan hadiah nobel sastra ini, saya bisa membeli kebebasan. Kebebasan untuk
menulis buku.” Ini adalah kata-kata yang sangat kuat dari Svetlana Alexievich untuk
memberikan energi bagi pembaca untuk mengabadikan sejarah secara tertulis
dengan nilai-nilai kejujuran intelektual dan integritas sebagai penulis. Menulis itu harus dimulai dari rasa keadilan. Keadilan
yang disemai sejak dalam pikiran. Demikian literapedia edisi kali ini. Semoga manfaat
[DE].
Thursday, September 3, 2015
Refleksi sekolah literasi: Memaknai Kehidupan
Ahmad
Sarkawi, pegiat RBK
Proses yang dilakukan
bersama dalam sekolah literasi sangatlah membahagiakan, membangun semangat
berbagi merupakan ciri yang penting untuk tidak dilupakan. Dialog setiap
manusia yang berada dalam ruang bersama sekolah literasi tentu saja memberi
makna setiap kita, namun yang menjadi indah dalam sekolah literasi adalah
tumbuhnya cinta dan kasih sayang antar sesama modal dari benih-benih
kepercayaan antar sesama.
Dalam proses yang dilakukan
pada setiap pelatihan atau sekolah kita sering mendengar kontrak belajar dan
pemetaan kekhawatiran. Tetapi bila saya memfasilitasi yang disebut “kontrak
belajar” saya selalu menggantikan dengan kesepakatan bersama sedangkan pemetaan
kekhawatiran saya menggantikan dengan kekuatan kepercayaan. Sederhananya jika
menggunakan pemetaan kekhawatiran itu berangkat dari asumsi kecurigaan
sedangkan menggunakan kekuatan kepercayaan adalah berangkat dari asumsi
kekuatan Trust yang ada pada setiap individu yang mengikuti proses berbagi
pengetahuan dan pengalaman bersama. Penggunaan kontrak belajar ini lebih pada
pilihan kata saja sebenarnya namun saya punya alasan tidak mengunakan kata
belajar, diajar dan sebagainya yang menggunakan kata dasar ajar. Karena menurut
subjektif saya kata ajar menjadi relasi tidak setara. Maka saya menggunakan
kata berbagi pengetahuan dan pengalaman, asumsi saya setiap orang mempunyai
pengetahuan dan pengalaman dengan kekuatan berbagi maka pengetahuan dan
pengalaman setiap individu bisa diramu menjadi pengatahuan dan pengalaman
bersama sebagai proses berbagi dalam kehidupan.
Melalui sekolah literasi mengingatkan saya bahwa berbagi tidak
mesti melihat ke siapa kita berbagi namun lebih pada proses refleksi terhadap
perjalanan kemanusiaan kita semata. Misalnya seperti cerita masa kecilku : pada
hari jumat hampir 20 tahun yang lalu seorang laki-laki datang menuju kerumah
kemudian menyampaikan niatnya pada bapakku bahwa dia mau menginap dirumah
padahal laki-laki itu belum ada yang mengenalnya di tengah keluargaku, semua
anak-anak keberatan jika laki-laki itu menginap di rumah. Tapi saat itu bapak
menyampai dengan suara yang tenang “laki-laki itu adalah malaikat yang akan
menyempurnakan amal ibadah kita”. Akhirnya kita semua menerima, hampir satu
minggu laki-laki itu menginap. Anehnya bapak tidak ada kekhawatiran sedikitpun,
terus aku protes saat itu dengan berbagi kekhawatiranku namun bapak selalu
menang. Bapak memberikan penjelasan kepadaku “kamu harus menghilangkan
kekhawatiran dan kecurigaan kepada siapapun walaupun itu sangat kecil,
belajarlah untuk percaya kepada semua orang bahwa semua manusia di dunia ini
adalah baik”.
Sekolah literasi tidak sekedar mengenal tulisan dan bacaan namun
lebih jauh dari itu semua, yaitu proses memahami setiap makna kehidupan baik
yang tertulis maupun yang tidak tertulis kemudian melahirkan berbagi aksi nyata
sebagai bentuk komitmen terhadap kemanusiaan kita.
Condang catur, 4 September 2015
Sunday, August 9, 2015
"Tatu" Nelson Mandela
Edisi ini tim bermaksud menyajikan sosok pemimpin
dunia kelas wahid. Ia dikenal sebagai pemimpin anti-apartheid yaitu
Nelson Mandela, biasa dipanggil "Tatu" (kakek). Ketika Presiden
Afrika Selatan sakit, di luar tembok rumah sakit, warga berkumpul untuk
memanjatkan doa untuknya.
Mengapa pria yang dicap sebagai "teroris" dan "revolusioner" oleh rezim apartheid dan menghabiskan 27 tahun hidupnya di penjara menjadi simbol perdamaian dan persamaan ras? Ini dia 10 fakta dalam perjalanan hidup Nelson Mandela yang membuatnya dicintai rakyatnya dan disegani lawan-lawan politiknya:
1. Lahir sebagai anak seorang kepala suku Afrika, Rolilahla "Nelson" Mandela tumbuh menjadi pengacara andal dan salah satu pendiri dari Kongres Nasional Afrika (ANC) yang bangkit melawan pemerintah Afrikaaner baru tahun 1948 dan kebijakan apartheid, atau segregasi rasial yang melembagakan kemiskinan dan ketidaksetaraan bagi warga kulit hitam di Afrika Selatan.
2. Sebagai seorang aktivis politik dan seorang pria kulit hitam di bawah pemerintahan ekstrem kulit putih, Mandela bergerak di bawah tanah untuk mencegah ditangkap karena kegiatan-kegiatan anti-pemerintahnya. Ia dikenal sebagai "Black Pimpernel"--merujuk pada tokoh fiksi dalam revolusioner Perancis Scarlet Pimpernel--karena karena kemampuannya untuk menghindari polisi menggunakan penyamaran, yang disukainya mengenakan seragam sopir.
3. Ia membentuk sayap militer ANC, Umkhonto we Sizwe atau MK, pada tahun 1961 dan memimpin kampanye pengeboman terhadap target pemerintah. Ia dituduh berkhianat terhadap pemerintah Afrika Selatan, ditangkap pada tahun 1962 dan didakwa dengan sabotase dan konspirasi untuk menggulingkan pemerintah dengan kekerasan. Dia dibawa ke pengadilan bersama dengan anggota ANC dan pemimpin anti-apartheid lainnya.
4. Pada tanggal 12 Juni 1964, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan dipenjara di Pulau Robben, 12 kilometer dari Cape Town, di lepas pantai Afrika Selatan di mana ia menghabiskan 18 tahun pertama penahanannya. Nomor penjaranya adalah 46664, yang kemudian menjadi simbol dalam kampanye untuk kebebasannya. Saat di penjara, Mandela hanya diizinkan menerima satu kunjungan setahun dengan durasi 30 menit. Dia juga diizinkan untuk menulis dan menerima hanya beberapa huruf saja. Pemerintah tidak merilis foto-foto Mandela selama bertahun-tahun di penjara sehingga hanya sedikit orang yang tahu seperti apa dirinya hingga di hari pembebasannya.
5. Selama ditahan, Mandela terserang tuberkolusis, yang menyebabkan kerusakan paru-paru. Akibatnya, dia rentan terhadap infeksi paru, seperti yang ia derita hari ini. Dia dipindahkan ke penjara lain, Pollsmoor di daratan, selama sembilan tahun terakhir dari penahanannya.
Mengapa pria yang dicap sebagai "teroris" dan "revolusioner" oleh rezim apartheid dan menghabiskan 27 tahun hidupnya di penjara menjadi simbol perdamaian dan persamaan ras? Ini dia 10 fakta dalam perjalanan hidup Nelson Mandela yang membuatnya dicintai rakyatnya dan disegani lawan-lawan politiknya:
1. Lahir sebagai anak seorang kepala suku Afrika, Rolilahla "Nelson" Mandela tumbuh menjadi pengacara andal dan salah satu pendiri dari Kongres Nasional Afrika (ANC) yang bangkit melawan pemerintah Afrikaaner baru tahun 1948 dan kebijakan apartheid, atau segregasi rasial yang melembagakan kemiskinan dan ketidaksetaraan bagi warga kulit hitam di Afrika Selatan.
2. Sebagai seorang aktivis politik dan seorang pria kulit hitam di bawah pemerintahan ekstrem kulit putih, Mandela bergerak di bawah tanah untuk mencegah ditangkap karena kegiatan-kegiatan anti-pemerintahnya. Ia dikenal sebagai "Black Pimpernel"--merujuk pada tokoh fiksi dalam revolusioner Perancis Scarlet Pimpernel--karena karena kemampuannya untuk menghindari polisi menggunakan penyamaran, yang disukainya mengenakan seragam sopir.
3. Ia membentuk sayap militer ANC, Umkhonto we Sizwe atau MK, pada tahun 1961 dan memimpin kampanye pengeboman terhadap target pemerintah. Ia dituduh berkhianat terhadap pemerintah Afrika Selatan, ditangkap pada tahun 1962 dan didakwa dengan sabotase dan konspirasi untuk menggulingkan pemerintah dengan kekerasan. Dia dibawa ke pengadilan bersama dengan anggota ANC dan pemimpin anti-apartheid lainnya.
4. Pada tanggal 12 Juni 1964, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan dipenjara di Pulau Robben, 12 kilometer dari Cape Town, di lepas pantai Afrika Selatan di mana ia menghabiskan 18 tahun pertama penahanannya. Nomor penjaranya adalah 46664, yang kemudian menjadi simbol dalam kampanye untuk kebebasannya. Saat di penjara, Mandela hanya diizinkan menerima satu kunjungan setahun dengan durasi 30 menit. Dia juga diizinkan untuk menulis dan menerima hanya beberapa huruf saja. Pemerintah tidak merilis foto-foto Mandela selama bertahun-tahun di penjara sehingga hanya sedikit orang yang tahu seperti apa dirinya hingga di hari pembebasannya.
5. Selama ditahan, Mandela terserang tuberkolusis, yang menyebabkan kerusakan paru-paru. Akibatnya, dia rentan terhadap infeksi paru, seperti yang ia derita hari ini. Dia dipindahkan ke penjara lain, Pollsmoor di daratan, selama sembilan tahun terakhir dari penahanannya.
6. Sebuah kampanye internasional melobi untuk
pembebasannya. Sebuah lagu Free
Nelson Mandela, ditulis oleh Jerry Dammers dan
dilantunkan band Inggris, AKA, menjadi "lagu kebangsaan" untuk
pembebasannya.
7. Di tengah meningkatnya perselisihan sipil, pemerintah Afrika Selatan membebaskannya pada tanggal 11 Februari 1990. Mandela berjalan dari penjara dengan istrinya saat itu, Winnie, melambaikan tangan dan tersenyum. Dia kemudian berbicara kepada kerumunan sekitar 50 ribu orang, yang telah menunggu berjam-jam untuk melihatnya. Pada kesempatan itu, Mandela mengucapkan terima kasih pada "jutaan rekan-rekan saya dan orang-orang di setiap sudut dunia yang telah berkampanye tanpa lelah untuk kebebasan saya".
8. Mandela menjadi Presiden ANC dan memimpin negosiasi dengan Presiden FW de Klerk untuk menghapuskan politik apartheid dan membangun pemilu multiras tahun 1994. Selanjutnya, ANC meraih kemenangan dalam pemilu.
9. Sebagai presiden kulit hitam pertama negaranya, Mandela membentuk Pemerintahan Persatuan Nasional untuk meredakan ketegangan etnis dan membentuk konstitusi baru yang menghapuskan rasisme. Dia melembagakan penyelidikan pelanggaran hak asasi manusia dan memperkenalkan kebijakan untuk mendorong kepemilikan tanah untuk kulit hitam Afrika Selatan, memerangi kemiskinan, dan menyediakan perawatan kesehatan.
10. Mandela dan de Klerk bersama-sama dianugerahi Nobel Perdamaian 1993 "karena pekerjaan mereka untuk penghentian rezim apartheid serta meletakkan dasar bagi demokrasi baru Afrika Selatan". Mandela mundur dari jabatannya pada tahun 1999. Ia mendirikan Yayasan Nelson Mandela untuk memerangi kemiskinan dan HIV/AIDS. Nelson Mandela telah menerima lebih dari 250 penghargaan internasional, termasuk Presidential Medal of Freedom dari Amerika Serikat dan Soviet Order of Lenin.
7. Di tengah meningkatnya perselisihan sipil, pemerintah Afrika Selatan membebaskannya pada tanggal 11 Februari 1990. Mandela berjalan dari penjara dengan istrinya saat itu, Winnie, melambaikan tangan dan tersenyum. Dia kemudian berbicara kepada kerumunan sekitar 50 ribu orang, yang telah menunggu berjam-jam untuk melihatnya. Pada kesempatan itu, Mandela mengucapkan terima kasih pada "jutaan rekan-rekan saya dan orang-orang di setiap sudut dunia yang telah berkampanye tanpa lelah untuk kebebasan saya".
8. Mandela menjadi Presiden ANC dan memimpin negosiasi dengan Presiden FW de Klerk untuk menghapuskan politik apartheid dan membangun pemilu multiras tahun 1994. Selanjutnya, ANC meraih kemenangan dalam pemilu.
9. Sebagai presiden kulit hitam pertama negaranya, Mandela membentuk Pemerintahan Persatuan Nasional untuk meredakan ketegangan etnis dan membentuk konstitusi baru yang menghapuskan rasisme. Dia melembagakan penyelidikan pelanggaran hak asasi manusia dan memperkenalkan kebijakan untuk mendorong kepemilikan tanah untuk kulit hitam Afrika Selatan, memerangi kemiskinan, dan menyediakan perawatan kesehatan.
10. Mandela dan de Klerk bersama-sama dianugerahi Nobel Perdamaian 1993 "karena pekerjaan mereka untuk penghentian rezim apartheid serta meletakkan dasar bagi demokrasi baru Afrika Selatan". Mandela mundur dari jabatannya pada tahun 1999. Ia mendirikan Yayasan Nelson Mandela untuk memerangi kemiskinan dan HIV/AIDS. Nelson Mandela telah menerima lebih dari 250 penghargaan internasional, termasuk Presidential Medal of Freedom dari Amerika Serikat dan Soviet Order of Lenin.
Wednesday, July 29, 2015
Literapedia RBK edisi Juni 2015
Literapedia RBK edisi Juli 2015--rubrik khusus disiarkan dari kalibedog
Tahukah kamu dunia literasi di Indonesia?
Indeks reading per capita 0,36 % di bawah malaysia dan Vietnam. Jumlah penerbit buku 90% di Jawa. Toko buku hanya sebanyak 1500 artinya jarak antar toko buku sepanjang 1.281 km. 80 %toko buku ada di Jawa. Jumlah perpustakaan di Indonesia sebanyak 61.477 dan 60% di Jawa (36.929). Masih sangat banyak desa yang tak punya perpustakaan. Selamat berjuang kalau begitu dan jangan pernah puas dengan keadaan! @mabacaKomunitas
LiteraPedia edisi juli 2015
-------------------------------
LiteraPedia edisi juli 2015
-------------------------------
Peter Carey dan Diponegoro
LiteraPedia edisi juli 2015
-------------------------------
Peter Carey dan Diponegoro
Dua nama besar ini seolah telah menyatu sebagai peneliti berdedikasi dan pelaku sejarah penting. Peter Carey merupakan sejarawan Inggri yang menghabiskan lebih dari 30 tahun mencari pangeran dipenogoro terkait perang jawa atau perang diponegoro. Pernah mengajar di universitas Oxford dan menjadi profesor tamu di FiB UI, Jakarta.
Buku Takdir: riwayat pangeran diponegoro 1785-1855 merupakan karya dari disertasinya yg diterbitkan serentak dua bahasa di Indonesia dan Inggris. Karya Carey ini dianggap PM Laksono sebagai juru selamat terhdap "monumen kearifan budaya dunia yang nyaris remuk dimakan rayap dan lenyap oleh buta sejarah bangsanya." PangetHuan sejarah Carey thd pangeran diponegoro telah melampaui sejarawan di dunia (menurut Ricklefs). Diponegoro sendiri sebagai sultan Erucokro dinobatkan Ricklefs sebagai tokoh indonesia terbesar abad 19. Carey telah menemukan "takdir" dan apa yang dipahami diponegoro tentang apa itu "takdir" dan bagaimana melakoninya.
----Diolah dan diracik dari berbagai sumber oleh Tim literapedia RBK-----
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tulisan Terbaru
Populer
-
”Gerakan Membaca” merupakan suatu gerakan yang harus dipelopori oleh siapa saja dan lebih dari itu, sebagai visi pencerdasan bangsa maka ...
-
Oleh : David Efendi Direktur Rumah Baca Komunitas Anak-anak adalah manusia masa depan, Jika hari ini kutularkan virus mencintai kupu-...
Hamka For RBK
Sjahrir For RBK








