Oleh Haruki Murakami
Diterjemahkan oleh : Jafar Suromenggolo (羅向茂)
Aku tidak pandai berbohong. Tapi, berbohong itu sendiri bukanlah suatu perbuatan jang aku bentji. Mungkin ini terdengar tjukup aneh, bolehlah aku ungkapkan bahwa meski aku ndak pandai berbohong, terutama berbohong besar, tapi aku senang berbohong ketjil2an, jang tidak berbahaja namun absurd.
Pernah suatu ketika, aku diminta oleh sebuah madjalah untuk menulis satu ulasan buku. Sebagai penulis buku, aku sebenarnja kurang suka menulis ulasan buku en kalau bisa, malah tidak mau menulis ulasan. Namun pada saat itu, entah mengapa, aku djawab, “Baiklah, akan kukerdjakan.”
Menulis ulasan jang biasa2 aza, tentu ndak menarik. Oleh karena itu, aku putusken untuk menulis suatu ulasan serius atas sebuah buku fiktif jang sesungguhnja tidak pernah ada. Djadilah sebuah ulasan atas satu karya biografi tentang seseorang jang sesungguhnja tidak pernah ada.
Ini lumajan mengasjikkan ketika aku memulainja. Memang, membutuhken kerdja otak untuk mengarang-ngarang suatu buku, tapi tentu aku ndak perlu membuang2 waktu untuk membaca buku.
Dan keuntungan lainnja, aku ndak perlu menghadapi ketjaman seperti “Si Anu jang menulis ulasan brengsek itu atas bukuku,” jang dilontarken si penulis jang bukunja aku ulas.
Ketika ulasan buku fiktif itu terbit, aku telah mempersiapken sedjumlah djawaban seandainja ada jang menulis surat pengaduan seperti “Djangan menulis kebohongan matjam ini!” atau pertanjaan seperti “Di mana dapat aku beli buku tersebut?”.
Sajangnja, tidak ada surat sematjam itu dari pembaca. Ini tjukup mengetjewaken namun djuga pada achirnja, melegaken hati. Mungkin memang tidak ada orang jang benar2 membatja ulasan buku itu jang terbit di madjalah bulanan, tapi tentu aku djuga tidak bisa benar2 memastiken hal ini.
Demikianlah, djika achir2 ini di saat wawantjara aku mendjawab pertanjaan2 jang ada dengan bersungguh2 tapi di masa muda, aku sering mendjawab dengan asal2an. Pernah aku ditanja buku matjam apa jang sedang aku batja, aku djawab aza, “Ja, belakangan ini aku sedang membatja sedjumlah novel dari zaman Meidji (1868-1912). Aku menjukai para penulis jang kurang begitu dikenal, jang sebenarnja ikut dalam gerakan menjumbang khazanah penulisan, seperti misalnja karja2 Mudaguchi Shogo atau Osaka Gohei, jang djuga masih tetap relevan dibatja di masa sekarang ini.”
Tentu djuga, kedua penulis itu tidak pernah ada. Mereka itu sepenuhnja hanjalah isapan djempol belaka. Namun tak ada seorangpun jang benar2 memperhatiken hal tersebut. Nampaknja lumajan djuga lontaran2 jang keluar dari mulutku itu, dan setidaknya, aku tidak sampai bersusah-pajah melakuken hal demikian.
Di dalam bahasa Djepun, ada kita kenal ungkapan ‘berbohong semerah2nja.’ Namun apakah saudara paham mengapa disebut demikian? Di masa lalu di zaman Nara (710-784), ada hukuman mengeriken terhadap mereka jang tertangkap melakukan kebohongan jang kedji dan merusak sendi kehidupan masjarakat. Jaitu, dipaksa menelan 12 buah kue mochi besar jang berwarna merah setjara bersamaan sehingga tersedak mati. Tapi tentu, ini hanjalah satu tjontoh kebohonganku djuga.
Ini karena sudah sedjak lama aku bertanja2 mengapa kita mewarnai kebohongan dengan warna merah. Aku sudah merentjanaken untuk menjelidiki hal ini lebih djauh, tetapi selama beberapa dekade terachir ini aku benar2 sibuk tidak memiliki tjukup waktu (bohong lagi!) dan akibatnja, hal ini masih terbelengkalai.
Sementara itu, di dalam bahasa Inggris dikenal ungkapan ‘white lies’. Ini merudjuk pada kebohongan jang tidak berbahaja (kali ini aku sungguh tidak berbohong!) dan karena itu pula, punja warna putih. Ini mirip dengan kebohongan2 jang aku lontarkan sebab aku pertjaja mereka tidak berbahaja, tidak merugikan siapapun. Sebab bagaimanapun djuga, aku tidak akan sanggup bila dipaksa menelan 12 buah kue mochi besar jang berwarna merah setjara bersamaan.
*Diterdjemahken dari “Masshiro no uso” (真っ白の嘘) karja Haruki Murakami (2001)
sumber: https://www.facebook.com/notes/%E7%BE%85%E5%90%91%E8%8C%82/berbohong/10153461006613153, (8 November 2015)
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Friday, November 27, 2015
Wednesday, November 18, 2015
Bidari Langit dan Bumi
By: Hanapi
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
dan Pegiat Rumah Baca komunitas
Badai itu sangat kencang, ombak
membara laksana api neraka yang membakar manusia yang berdosa, dua perempuan
yang sedang berjalan menuju Mall disalah satu kota, satu cantik dengan gaya
yang seksi, layaknya manusia modern yang kehilangan identitas Tuhannya, satu
lagi sholeha yang selalu takwa kepada Allah SWT, selalu berbagi kepada orang
yang tak mampu, mereka berjalan memasuki Mall besar di kota Jakarta, denyuttan
nadi terasa ter-angkat, dinginya ruangan tak terasakan oleh Welma, wanita
cantik yang seksi tak berjilbab ini, si Sri wanita yang sholeha merasakan
betapa dinginnya ruangan ini, bangunan yang tinggi, manusia yang ramai namun
Masjid selalu sepi, ketika lebaran dan puasa Masjid ramai, padahal di zaman
Rasulullah Fungsi dan Eksistensi Masjid sangat penting dalam kehidupan sosial
dan politik, sekarang gedung putih tak lagi menarik, Ia sepi seperti Hutan,
kalau yang ada disitu pasti ditinggalkan, Mall telah menggantikan tempat Tuhan
manusia, seandainya Masjid itu seperti Mall, Apakah orang akan banyak kesana?,
Sri bingung melihat jumlah manusia yang sangat banyak, bukan pertamakalinya Ia
ke Mall Besar akan tetapi jumlah ini tak seperti biasanya, mahlumlah liburan, mereka
melihat baju kesana-kemari, sesak terasa nafas ramainya manusia, Welma berjalan mengajak Sri melihat baju yang seksi,
pandangan manusia mengarah pada Welma, baunya yang wangi, kecantikannya yang
mempesona, kini menjadi perhatian orang-orang disekitarya.
Sri hanya diam melihat sahabatnya
menjadi tatapan para lelaki buaya, ruangan itu terangnya berkilau, berbagai
macam suara yang menawarkan diskon baju, dan lainnya dengan harga yang murah,
wanita disana yang menjadi pelayan memakai pakaian yang seksi sekali dan celana
yang menunjukkan auratnya, pembangunan di indonesia semakin pesat, iman juga
pesat menurunnya, pembangunan fisik dengan model kapitalisme sepertinya telah
memperbudak jiwa manusia, tak ada rasa malu, aurat dipertontonkan, islam
ditengah globalisasi masih dengan dakwah namun tak mencerahkan manusia, seksi
tak berubah, yang kaya tak peduli yang lemah, Welma memilih baju yang sangat
bagus
dengan harga yang sangat mahal, kalau
diimpakkan pasti bisa sangat bermanfaat uangnya, melihat baju yang dipilih
Welma, Sri tak menyetujuinya, Sri ini bagus kan Kata, Welma, muka serih tetap
senyum tak seperti islam garis keras, yang melihat tak sesuai syariat langsung
di kafirkan dan aniayakan, dengan kelembutan dan wajah yang berseri oleh iman,
serih hanya mengatakan, kurang baik untukmu Wel, bukan aku tak setuju tapi
terlalu seksi, lihatlah bagian depannya pasti akan menonjol, dan tipis bahanya
membuat tubuhmu semakin kelihatan, kata, Sri, Wel hanya ketawa mendengar ucapan
sahabatnya, Hadohhhh, Kata Welma, susah ya kalau bicara sama Ustaza ini, maunya
ceramah melulu, hehehe Kata, Welma, kata itu tak menyakitkan hati Sri, Ia
mengerti setiap jalan dakwah harus dijalankan dengan kesabaran dan kelembutan,
Tuhan tak pernah langsung membunuh manusia melainkan memberikan kesempatan
kepada manusia untuk bertaubat, bukankah Tuhan memiliki sifat yang Maha
Pengasih dan Maha Penyanyang, kenapa umat islam harus berperang hanya karena
perbedaan pandangan, peradaban islam turki telah runtuh, tokoh-tokoh muslim
yang hebat, pasti akan jarang muncul seperti dahulu, sekarang Negara Iran yang
kuat dengan berbagai senjatanya, harapan terletak disana, sebagai kekuatan
peradaban islam.
Sri tak bisa lagi melarang pilihan
sahabatNya, Ia berjalan melihat baju putih yang indah, dengan jilbab yang
berseri, baju itu seperti baju para bidadari kayangan, melihat tingkah laku
Sri, Welma tertawa riang, jika kamu ingin ambil saja Sri, lagian warnanya
bagus, buat Ibu-ibu, kata Welma, sambil ketawa, wajah Sri yang berseri dengan
hujan permata-mata turun dari langit, sayangnya dosa manusia merusak permata
dunia, permata dunia adalah kehidupan yang islami namun hidup dalam kedamaian,
keadilan, toleransi bukan peperangan yang seperti sekarang, kecantikan sekarang
diperjualbelikan, harganya sangat mahal bahkan diberbagai kalangan, pertahanan
rakyat memang tak ada lagi, hukum tak pernah memberikan kedudukan yang sama
antara yang punya dan tak punya, keadilan bisa dibeli dengan berbagai kasus di
negeri ini, akhirnya Sri mengambil baju yang indah ini, mereka berdua langsung
pergi ke kasir untuk membayarnya, perjalanan dalam kehidupan memang banyak dinamikanya
terutama bagi mereka yang memegang islam sampai pada tingkat wara kehidupan,
siksa dunia lebih baik dari pada siksa neraka namun tak sanggup manusia
bertahan dalam kesiksaan dunia ini, indahnya kehidupan ketika kebahagian bisa
dicapai antara dunia dan akhirat, di
dunia dengan harta yang berlimpah tapi memiliki ketaatan yang sangat
mengagumkan, membuat malaikat menggelengkan kepalanya melihat kekayaan tak
menggoda iman manusia, iblis tak mampu menggoda, takwa dan harta tak mengurangi
iman umat manusia, Sri dan Welma tiba dikasir, Welma mengeluarkan kartu Atmnya,
Sri bajumu biar aku yang bayar kata, Welma, Sri tetap menolak dengan nada yang
tegas, Welma sangat mengerti sifat Sri yang tak punya pikiran untuk
memanfaatkan temannya sendiri, makanya Welma selalu bahagia bersama Sri
meskipun Ia harus mendengarkan ceramah islamnya Sri, tidak apa-apa kata, Welma,
anggap saja, ini hadiah dari saya bukan ada yang maksud lainnya, jangan menolak
kata Welma dengan tegas, tak bisa lagi dibantah Sri bingung dibuatnya, melihat
cara dan kesungguhan Welma, Sri menerima keinginan Welma yang ingin membayar
bajunya yang sangat mewah, para lelaki disamping mereka mengantri menatap Welma
dengan mata yang tajam, mata yang melihat kancil yang siap langsung ditembak,
pandangan itu sangat mengerikan dalam hati Sri, itu pandangan hawa Nafsu pikir,
Sri, melihat Welma yang tak peduli dengan orang disekitarnya, Sri mengingatkan
jangan kamu tampilkan pesonamu Wel, Lihat disampingmu semua lelaki melihatmu,
Kata Sri.
Nasehat
itu tak dipedulikan oleh sahabatNya Welma, setelah selesai pembayaran, mereka
pergi berdua, para pejaga keamananpun melihat Welma dengan mata yang tajam,
dunia teralihkan oleh kecantikan manusia, yang tertutup dicurigai, yang terbuka
dicintai, apakah begini iman masyarakat bangsa ini, setelah sampai dimobil,
mereka masuk berdua, Welma ingin pergi ke tempat kakaknya, Sri hanya mengikuti
kemana tujuan Welma, ditengah hidupnya mobil, Sri Menasehati Welma, Wel kamu
lihat dari tadi, tubuhmu dipandangi oleh banyak manusia, bagaimana kalau ada
pacarmu, pasti dia akan cemburu, kata Welma, Pacarku tak pernah peduli Sri kata
Welma, bukan begitu saja tapi tubuhmu itu harus dijaga bukan dipertontonkan
seperti fiml dibioskop, saya sebagai sahabatmu hanya ingin menasehati kamu Wel,
saya ingin bercerita kepadamu wel, kata Sri, hanya anggukkan kepada yang
terjadi, perintah boleh berarti disetujui, mobil mewah yang mereka kendarai
maju dijalanan, pajak yang sangat mahal sekali, Wel, ada ulama yang sangat
terkenal bernama Badiuzzaman Said Nursi, sampai menyetir Welma mendengarkan
dengan serius, Said Nursi memberikan Hikmah berjilbab dan menutup Aurat sesuai
perintah agama,
hikmah itu ada empat kenapa Jilbab
harus dipakai dan Aurat harus ditutup, diantara hikmah hijab itu yakni:
pertama, Hijab merupakan Fitrah wanita sehingga memang dibutuhkan untuk kaum
wanita, dengan hijab tubuh wanita bisa terlindungi dari pandangan yang bisa
melecehkan mereka sehingga wanita merasa aman dan nyaman, Lihatlah Wel ketika
kamu dilihat banyak orang maka itu sangat berbahaya untukmu karena memunculkan
hasrat yang buruk yang akan membuat tindakan jahat terjadi, Kedua, Hubungan
cinta yang mendalam dan sangat terikat di antara suami-istri tidak hanya di
dunia melainkan juga di akhirat, cinta di antara dua insan manusia ini harus
membuat hubungan yang cinta yang penuh kasih sayang sehingga tidak ada cinta
yang saling menyakitkan dan merusak pernikahan anatara laki-laki dan perempuan,
ketiga, keluarga yang bahagia dibangun diatas kepercayaan, moral keluarga yang
baik, keharmonisan, dan kecintaan di anatara suami-istri, Hijab yang digunakan
oleh wanita akan membuat laki-laki percaya kepada wanita, kepercayaan ini akan
menjaga hubungan rumah tangga yang baik sehingga tidak ada niat antara dua
insan manusia ini untuk melakukan perbuatan yang merusak pernikahan dan merusak
kebahagian yang diberikan oleh Tuhan.
Keempat, Dampak Negatif dibukanya
Aurat dan tidak menggunakan Hijab, dampak negatif ini sangat banyak kalau
wanita tidak menggunakan hijab maka banyak lelaki yang tidak menikah, hal ini
disebabkan mereka tidak percaya kepada wanita yang membuka auratnya, laki-laki
menginginkan wanita yang terbaik untuk pendampingnya, pilihan ini merupakan
hukum yang alamiah dalam kehidupan, pernikahan yang sedikit maka banyaklah
laki-laki yang terjerumus ke dalam lubang maksiat dan umat islam semakin
lemah dan tidak banyak mempunyai
keturunan, air mata telah membasahi pipi Welma, penjelasan Hikmah Hijab dari
Sri telah membuka hatinya yang tertutup oleh materi dunia, air mata yang
semakin membasahi bumi, membuat Welma meminggirkan mobilnya, Sri ikut
meneteskan air mata melihat Sahabatnya, Sudah jangan menangis Wel, Maaf kalau
kataku menyakitkan untukmu, Kata Sri, tidak Wel, terimakasih untuk nasehatmu
yang sangat indah Sri, Kata, Welma, air mata mereka membanjiri pipi mereka, air
hujan telah menyegarkan tanaman, pencerahan telah mengobati kerusakan hati
manusia, aku akan berusaha untuk berubah Sri tapi aku akan berlubah perlahan,
Kata, Welma, Ya wel, aku tak memaksa, mereka saling berpelukan sedangkan
manusia banyak sibuk dengan dunia.
Bidadari langit yang selalu
menggunakan doa-doa yang ajaib membuat kezaliman di muka bumi semakin
berkurang, bidadari bumi yang melahirkan kecintaan terhadap dunia, akhirnya
banyak hidup hampa dan menyesal, cinta sesama muslim harus diperkuat agar
kehidupan yang beriman bisa diciptakan dalam pencerahan yang lembut,
menyegarkan dan membuka hati, Sri megusap air mata Welma dengan tisu, hubungan
harmonis antara kedua sahabat ini begitu erat, tidak seperti hubungan manusia
dengan lingkungannya, yang banyak terjadi hubungan yang saling merugikan,
manusia banyak membuat kerusakan, alam hanya menjadi tempat untuk kepentingan
dunia dan nafsu manusia, Welma tersenyum dengan bahagia laksana matahari yang
baru bersinar di pagi hari, kamu baik-baik saja kan Wel, kata, Sri, aku
baik-baik saja Sri, jangan khwatir, aku akan berusaha menggunakan hijab untuk
menutupi auratku agar aku bisa menjadi wanita yang dicintai lelaki yang sholeh
Sri, bunga-bunga melati dan mawar telah jatuh dari langit, kehendak Tuhan
memang tak bisa diketahui kapan terjadinya kesadaran di setiap manusia,
mendengar itu Sri langsung bahagia, Terimakasih Welma, aku sangat bahagia
akhirnya kau akan menjadi wanita langit yang memiliki kecantikan wajah dan
kecantikan akhlak sehingga sempurnalah kehidupan dunia kata, Sri.
mobil terus berjalan di kota yang
ramai itu, mobil mereka yang terparkir di tempat yang kurang tepat membuat
adanya peringatan dari pihak polisi agar mereka pergi, ketika suara Klakson
mobil aparat keamanan itu ada, Welma langsung menghidupkan mobilnya untuk
pulang menuju kerumah, beruntung kita Wel aparat itu tidak menilang dan
menangkap kita, soalnya bisa banyak urusan kita, karena aparat sekarang suka
main wanita wel, mentang-mentang kuliahnya cepat dan punya gaji banyak sehingga
banyak yang lupa latar belakang keluarganya wel, kata, Sri, Welma hanya
tersenyum mendengar itu karena dia lebih dulu mengetahuinya tapi dalam hatinya
Ia telah membulatkan tekad dengan sungguh-sungguh agar dia bisa berubah menjadi
wanita yang islami, mobil terus berjalan melewati mobil lainnya, berbagai
pemandangan ada di sudut kota yang megah ini, pandangan penderitaan rakyat
akibat konstitusi Negara yang penuh ilusi dan kebohongan tanpa diterapkan nyata
oleh penjabat-penjabatanya, dengan kecepatan yang tinggi akhirnya Welma dan Sri
sampai dirumah Welma yang megah dengan bangunan yang mempersona.
Tuesday, September 15, 2015
Melawan Angkuhnya Ibu Kota (1)
Gama, relawan PKBI DIY
“Pak,
bangun pak, bangun pak, bangun pak!” nada dering alarm yang kupasang
di HPku membangunkan tidurku yang lelap setelah semalam mencoba
merangkai kata dan kalimat dalam kotak2 form laporan. Adzan Subuh belum
juga berkumandang. Kabut pagi selepas hujan dini hari tadi terasa
melengkapi galapnya malam.
Dini
hari, selepas mandi, aku langsung bergegas berganti baju, mancal sepeda
motor lawasku menuju PKBI Badran. Di sana, sudah menunggu mas Narto
sopir mobil, bersamaku menjemput mas Budhi Hermanto dan membawa kami
menuju Banyumas. Pagi buta ini, kami akan “sowan” di rumah Ahmad Tohari,
seorang tokoh sastra yang cukup lama kukenal lewat buku-buku yang
dikoleksi istriku.
Ahmad Tohari.
Sastrawan
yang (lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni
1948; umur 66 tahun) adalah sastrawan dan budayawan berkebangsaan
Indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Karya monumentalnya,
Ronggeng Dukuh Paruk,sudah diterbitkan dalam berbagai bahasa dan
diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari. Ia pernah
mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun,
Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal
Soedirman,Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu
Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976).
Setelah
sampai di Kotawinangun, kami berhenti untuk sarapan di warung Asli yang
cukup ramai. Di depannya ada 2 orang pedangang sate Ambal yang cukup
terkenal. Sambuil menunggu pesenanku tiba, aku menghabiskan waktu di
depan warung sambil menikmati lalu lalang kendaraan di Jalan itu.
Aku
sudah merangkai banyak kata dan kalimat Tanya kepada pak Tohari, namun
ada satu pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan tentang dirinya. Bukan
bagaimana dia menulis, namun tentang “mengapa masih “setia” tinggal di
rumahnya di Jatilawang Banyumas, sementara sastrawan lain tenggelam
dalam hiruk pikuk dan Angkuhnya Ibu Kota.
Aku
bertanya dalam hati, Perlawanan kah? Melawan Jakarta Centris? Atau
kekalahan bersaing di sana. Langsung saja teringat lagu lamanya Koes
Ploes, “Siapa suruh dating ke Jakarta?” atau sarkasme yang masih saja
sering kudengar paska Film Ari Hanggara, “Kejamnya Ibu Tiri tidak
SEKEJAM Ibu Kota!”.
Hemm, semoga ada kesempatan untuk bertanya, gumamku.
Memasuki
Kebumen, mataku disuguhi dengan pandangan “khas” produk kebanggan kota
itu. Genting Soka. Yang saking terkenalnya, banyak perajin Genting yang
“meniru” merknya. Pengalamanku mencari genting karena sedang membangun
“gubug” untuk berteduh dari panas dan hujan, aku tahu bahwa sekarang
genteng merk SOKA ada beberapa tingkat kualitas, namun yang paling mahal
yang “ASLI” Kebumen.
Dulu aku sering bercanda
dengan kawanku dari Kebumen dan saling “umuk” tentang oleh-oleh khas
kota kami masing-masing. Aku sering menggodanya selepas kami pulang ke
daerah masing2 karena liburan Idul Fitri.
“Whaaa,
ini, (sambil menunjuk kawanku yang dari Kebumen), dia paling enak kalo
bawa oleh oleh, pasti awet, sampai 10 tahun ya awet!” candaku.
“Lho kok?” Tanya kawan-kawanku.
“Lha
nggowo gendheng, sopo sing arep ngrokoti (menggigit}?” kami semua
tertawa termasuk kawanku yang dari Kebumen. Ahh, masa itu.
Memasuki
kota Banyuman, kami berjalan pelan karena mas Budhi yang sudah pernah
ke rumah pak Tohari lupa dengan rumahnya. Meski sudah menelfon dan
dikasih petunjuk, kami berhenti beberapa kali untuk bertanya kepada
penduduk di pinggir jalan. Karena sangat terkenal, petunjuk yang
diberikan memudahkan kami untuk menuju rumah Pak Tohari.
Sejurus
kemudian, kami sampai di Jatilawang. Mas Budhi menelfon Pak Tohari dan
menyampaikan bahwa kami sebentar lagi sampai rumahnya. Benar, tidak
sampai 5 menit, kami sampai. Pak Ahmad Tohari menunggu kami, di pinggir
jalan di depan rumahnya. Rumahnya sangat asri, sederhana namun
bersahaja. Membuatku enggan pulang. Tanaman dibiarkan tumbuh sesuai
dengan keinginan tunas dan pucuk daunnya menggapai sinar mentari.
Bibit-bibit tanaman dibiarkan tumbuh memenuhi halaman rumahnya dan
“sengaja” dibiarkan.
Kami
menyalami dan dipersilakan masuk. Namun, kami memilih untuk
bercengkerama di teras rumah. Sejuk, adem, terasa damai. Sebeleum kami
duduk, Mas Budhi menyodorkan bingkisan yang kami siapkan untuk Pak
Tohari, dalam dialek “Banyumas-an” yang sangat menarik untuk kudengar
pagi itu.
“Walah, kok malah repot-repot gowo oleh-oleh!” ungkap Pak Tohari
“Puniko, sowan Ramane ya bawa oleh-oleh lah, wis suwe ora sowan”, jawab Mas Budhi.
Sang istri tercinta keluar menemui kami dan membawa oleh-oleh ke dalam.
Kami
dipersilakan duduk dan memulai perbincangan kami. Pagi itu, kami
menyampaikan kepada beliau tentang rancana untuk mengajukan program
pertukaran remaja Indonesia – Australia untuk belajar budaya dan sastra
dan hasil akhirnya akan dipentaskan di Indonesia dan Australia. Kami
“meminta” dukungan Pak Tohari untuk menjadi salah satu mentor dalam
produksi karya remaja yang terpilih untuk ikut program tersebut.
Beliau sangat terbuka dan mendukung program tersebut dan bersedia untuk menjadi mentor. Alhamdulillah.
Kami
melanjutkan perbincangan kami. Mulai dari “gugatan” Pak Tohari terhadap
situasi nasional, mulai dari Politik, sastra, dan ekonomi Indonesia.
Sesekali “mengkritik” penguasa dan sesekali membuai kami dengan
“petuah-petuah” yang terkesan sederhana namun sangat dalam.
Kami larut dalam canda dan “kritik” social budaya ala Ahmad Tohari.
Tak
berapa lama, Sang Istri tercinta keluar menemui kami sambil membawakan 3
cangkir the, kacang rebus, pisang rebus dan tempe mendowan hangat khas
Banyumas.
“Monggo!” Pak Tohari mempersilakan kami menikmatinya.
Tempe
mendowannya berbeda dengan yang biasa kumakan di Jogja. Lebih tipis
namun rasanya khas. Aku bergumam, “Ohhh, ini tempe mendowan yang sering
diceritakan bung Jacky!”
Setelah
berboincang ngalor ngidul tentang “situasi Indonesia dan Sastra
Indonesia”, kami undur diri. Sebelum kami berpamitan, saya memberanikan
diri untuk menyampaikan pertanyaan yang kupendam selama dalam
perjalanan.
“Kulo gadah pertanyaan ingkang kulo simpen saking Jogja. Menawi kerso jawab, sembah nuwun”, ungkapku.
“Kok
panjenengan taksih “lenggah” wonten mriki, padahal rencang-rencang
Sastrawan Besar sanesipun sampun “nglurug” dateng Jakarta? Puniko
perlawanan punopo badhe melestarikan Budaya Banyumasan? Kados Rendra lan
sanesipun sampun “pindah” wonten Jakarta?’ tanyaku.
“Begini
mas, tentu banyak unsur. Tetapi yang paling mendasar, hidup saya ini
sangat “terinspirasi” sama hadits Kursi. Yang menceritakan tentang
“dialog” antara “Tuhan” dengan “penghuni neraka! Bukan “Penghuni Surga”
malahan!” lanjutnya.
“Penghuni Neraka “menggugat”, ya Tuhan, kenapa aku Engkau masukkan neraka?
Karena kamu tidak menjenguk tetanggamu, tidak menjenguk Aku (Tuhan) ketika “AKU” “sakit”.
“Bagaimana Tuhan bisa “Sakit”? (Tanya penghuni neraka)
“Itu,
tetanggamu yang sakit dan kamu tidak menjenguknya! Maka kamu berada di
sini (neraka) sekarang! Ini Ulama-ulama, kyai-kyai ortodoks
menerjemahkan secara tekstual, malah skriptual : Kalo ada tetangga yang
saget infeksi, sakit kanker ayo kita jenguk! Itu JELAS tidak salah
penafsiran seperti itu. Tapi ulama-ulama yang memiliki pandangan lebih
luas menafsirkan bahwa sakit itu bisa sakit RAGAWI, sakit EKONOMI, sakit
SOSIAL. Itu harus kamu jenguk! Artinya, kamu harus berpihak ke sana,
kamu punya komitmen ke sana. Jadi, dalam bahasa saya, alamat-alamat
Tuhan, ditulis di punggung-punggung Yatim, fakir miskin…”
Hahahahahaha, …
“Pun, ketemu, ketemu (jawabannya)” kataku…
“Dadi, Sangkan Paraning dumadi (ingat Asal dan Tujuan Hidup)!
Jadi
hidup itu tidak di Menteng, tidak di Mall, tidak di pesta-pesta itu.
Ini tetangga saya ini, penghasilannya Rp. 10.000 per hari per Kapita dan
banyak yang kurang dari itu. Ini harus dibenahi ini. Jadi hidup saya ya
di sini, di desa!”
“Yang kedua, saya lebih banyak berdialog dengan alam!”…
Ohhh… his words almost killed me…
Jatilawang – Jogja, 26/04/15
Monday, September 7, 2015
Ketakwaan Yang Membahagiakan
Oleh: Hanapi
Orang-orang pergi la-lu lantang, pergi dengan kesibukannya
sendiri, baju dengan segala khiasan menempel dibadan semua manusia, pergi
dengan jarak yang jauh. Panas dan hangatnya kota membuat tetesan keringat jatuh dari
kehing ke bumi, kehormatan modern berbeda dengan kehormatan dalam pandangan
Agama Tuhan,
“Allah tidak memandang rupa dan bentuk kalian melainkan hati
kalian”,
berisik suara dijalanan, mobil berkeliaran pergi sesuai
tujuannya, dunia yang fana dicintai orang banyak, jalan yang indah dan sulit
dunia ditinggalkan demi kehidupan yang hina ini, jalan-jalan yang macet, pohon
yang mulai hilang disetiap kota, di kota Jakarta.
Anak ini duduk diam menunggu bus untuk menuju kejalannya,
seorang pengusaha dengan baju yang rapi bernama Pak Kartinius menghampiriNya,
pandangan senyum keluar dari seorang Bapak, Ia duduk bersama Anak kecil itu,
tangan mengulurkan kebaikan, awan terlintas, indahnya lautan langit yang biru,
senyuman keluar dari bibir yang belum mengenal kerasnya dunia dan kehidupan,
Bapak Kartiniuspun dijemput oleh sopirnya,
“Tangan diatas lebih
baik dari pada dibawah”,
Pak Kartinius selalu menerapkan nasehat dalam islam, baik
dari Rasulullah dan ulama terkemuka, dengan derasnya matahari yang bersinar,
bumi yang mulai kiamat dan runtuh oleh kerusakan para kapitalis, ter-sisalah
orang yang takwa sebagai cinta Tuhan kepada alam ini.
Mobil hitam yang ber-merek menuju kantor yang megah, gedung
yang tinggi, kaca yang anti peluru, sekeliling yang sejahtera tak seperti
tempat biasanya, pusat kota yang banyak pinggiran yang pucat.
Kantor Pak Kartinius yang megah, selalu menjaga sekitarnya
dengan memberikan bantuan kepada masyarakat sekitar, dari kalangan yang kurang
mampu sampai yang membutuhkan pertolongan, bangunan yang menjulang tinggi bukan
monster raksasa yang harus ditakuti, ladang uang yang berkeliaran, sesekali
digunakan untuk kebaikan sesama manusia baik muslim maupun non-muslim.
Mobil hitam itu
disambut dengan para karyawan kantor, dengan senyuman keluarlah seorang pemilik
perusahaan yakni Pak Kartinius, ramah dalam tindakan dan sikap membuat para
karyawan merasakan bahwa Ia pemilik perusahaan yang berbeda dikantor-kantor
lain yang sombong dan kaku serta kapitalis, berbagai macam hadiah dikeluarkan
dari mobil bukan untuk sedekah melainkan hadiah.
Rasulullah lebih suka menerima Hadiah dari pada yang
berbentu sedekah, jika sedekah maka Ia akan memberikaNya kepada orang lain,
kalau hadiah baru diterima Rasulullah, hadiah itu sangat banyak, karyawan yang
menonton berlari membantun untuk mengeluarkannya, heran dan perasaan aneh
menyelimuti manusia yang terbiasa bersikap acuh tak acuh, kedatangan seorang
pemilik perusahaan ini memang berbeda tingkahnya, dipanggilnya seorang karyawan
pembersih oleh Pak Kartinius, putih yang berlipat mengulur ke arah karyawanNya,
sipu dan mau serta ucapan bersyukur dalam tindakan dilakukan oleh KaryawanNya,
Pak Karti hanya bilang jangan berlebihan dalam menyikapinya, sudah kewajiban
muslim saling memberi dan tolong menology, gunakan uang itu dijalan yang baik
sesuai kebutuhanmu. Karyawan tadi hanya menjawab Ya.
Hari yang aneh tanpa
hujan, hadiah berkumpul untuk semua karyawan, bermacam-macam omongan yang
menjadi pembiacaraan ada yang tak tahu siapa yang keluar dari mobil, ada yang
heran dengan kebaikanNya.
Pak Kartinius tidak langsung kantor, Ia memanggil semua
karyawan untuk mengikutiNya, ntah bingung, rok mini bergantung ditubuh mereka,
wanita yang menunjukkan keseksian berjalan dengan riang gembira, hadiah
meluluhkan hati mereka, mata Pak Karti hanya tunduk dan bibir yang berucap Istigfar, perusahaan yang
telah maju dan terkenal diberbagai kalangan tak mampu menerapkan islam dalam
hati dan pikiran Pak Karti selalu bertanya-tanya, perusahaan yang Ia tinggalkan
kepada seorang yang dipercaya untuk mengurusnya belum mengarahkan pada sistem
perusahaan yang memegang nilai sesuai di Negara ini, wanita dan karyawan hanya
heran, melihat langkah kaki Pak Karti menuju bangunan putih, sepi, kubah yang
indah melintasi cahaya kelangit tak seindah lagi dengan islam dalam kehidupan
manusia, Ia berjalan masuk ke Masjid, para karyawan hanya heran melihat tingkah
pemilik Perusahaaan ini, bukan pesta yang di adakan malah sholat yang
diajakNya, tak berani menolak para karyawanpun masuk, wanita yang tak memakai
rok panjang mulai bingung, muknah diambil dan dibagikan, untunglah Masjid itu
banyak muknahnya, yang tak biasa sholat akhirnya sholat, yang tak pernah menyentuh
muknah akhirnya menyentuh muknah, senyuman terlintas suci dan berseri dengan
wajah indah dimuka Pak Kartinius, lantunan Adzan Ia lantunkan sendiri, para
karyawan laki-laki dan perempuan pergi berwudhu, indahnya kebersamaan dalam
nuansa islami, lantunan Tauhid menggetarkan relunghati yang mati menjadi cerah.
Tauhid menggetarkan peradaban dunia terutama bangsa
Indonesia, “Jihad Konstitusi” Muhammadiyah berhasil mengubah dan memberikan
kebaikan kepada rakyat Indonesia, deras air, kerasnya hentakan angin membuat
manusia lupa akan TuhanNya, modernisme selalu tak difilter, bukan kebodohan
masyarakat tapi kelalaian para penguasa bangsa ini, “situs dakwah diblokir,
situs gelap atau porno dibiarkan ditonton”, meringis Negara dan jeritan suara
Ibu Pertiwi tak lagi didengar, sholatpun dimulai, Pak Karti memimpin sholat
dengan lantunan indah, tak menggunakan ayat yang panjang namun merdu suaranya
menggoda, membuka kran air yang tertutup, yang karat menjadi mengkilat, yang
berdosa menjadi terhapuskan dosanya, islam datang dengan penuh kelembutan tak
pernah islam hadir dengan pedang untuk menegakkan agama kebenaran di dunia,
masa sulit dihadapi oleh Rasulullah dan Para Sahabat, akhirnya kemenangan yang
umat rasakan, sekarang jumlah umat muslim sangat banyak di indonesia, badai
memang takkan pernah berhenti, cahaya permata tak selamanya berkilau, ditengah
Negara yang mayoritas muslim ini, korupsi dan nepotisme merajalela, hukum tak
memberikan keadilan, persamaan di depan hukum hanya dongeng belaka
Sholatpun selesai. Para karyawan hanya bingung, apalagi yang akan dilakukan
bapak ini sebagai bos kita, kata intan seorang karyawan diperusahaan itu kepada
anggi temannya, sibuk dengan dzikir pak Karti larut dalam keheningan, islam Ia
pegang dengan kebahagian bukan ketertidasan, semua karyawan telah menunggu
diluar, Ia masih sibuk dengan doanya, kasih sayang dan pujian kepada Maha Kuasa
selalu Ia katakana, kesyukuranNya membuat Tuhan memberikan rezeki yang lancar
kepadaNya. Pak Karti keluar dari Masjid, rangga langsung bertanya, mau
kemana lagi kita pak?, pak kartinius menepuk pundak rangga dengan halus, namun
intan berusaha menggoda pak Karti, godaan dan panggilan serta senyuman, intan
berusaha mendekati Pak Karti, wanita yang cantik dan seksi, kalau lelaki lain
melihat tingkahNya langsung jatuh dalam kehinaan dosa kemaksiatan dunia, pak
Karti hanya senyum dan menasehati intan, kamu wanita yang cantik jagalah
kecantikan ini, agar Allah selalu
mencintaimu, dan selalu memberikanmu kebahagian, tutupilah keseksian itu dengan
baju terhormat yang Allah tentukan dalam syariatNya,
mendengar itu wajah Intan marah,
kemerahan diwajahNya layakNya api neraka yang membara, dengan halus Intan
meninggalkan pemilik perusahaan yang terkenal itu, hebat sekali bapak itu tidak
tergoda denganku kata Intan, semua karyawan diajak pak Kartinius untuk makan
bersama, Ia sebagai pemilik perusahaan akan mentraktir para karyawannya hari,
gebuh-gebuh kebahagian melekat pada semua karyawan, seorang yang lama tak ada,
muncul sebagai bintang yang menyinari bumi, masalah kemiskinan Ia selesaikan,
kapitalisme ditolaknya, hukum tak adil dilawanNya, Pak Karti dan semua
karyawannya telah sampai menuju rumah makan, mereka makan dengan sepuasnya,
ketika pak Karti sedang makan, tiba-tiba ada orang yang mengenalinya, orang itu
mendekat, bunga itu mendekat, harumnya tak hilang, seorang penduduk desa yang
merasa kenal dengan pak Kartinius, semua anak karyawanNya merasa heran, kenapa
orang ini bisa mengenal Bossnya pemilik perusahaan yang terkenal.
Wajah yang sederhana serta sikap tawadhu yang terlihat dalam
raut muka pak Karti seorang yang Ia kenal itu menghampiri, ini bapak Karti
kan,? Yang selalu di Masjid di dekat arah menuju desa saya, yang selalu membaca
Al-Qur’an dan Adzan di Masji itu?,
....semua merasa heran
mendengar pertanyaan itu, seorang karyawan bernama intan, malah berfikir tak
mungkin seorang pemilik perusahaan yang kaya raya, sibuk dengan ibadah kepada
Tuhan yang banyak memakan waktu, membuat tak bisa bekerja, wanita ini seperti
telah dirasuki penyakit kehidupan materi dunia, pak Karti menyapa dengan
senyuman bahagia, Ia Bapak, saya yang sering di Masjid.
Mendengar itu, semua karyawan terkejut, SubhanaAllah, bapak
memakai baju yang indah, rupanya bapak seorang pemilik perusahaan ya, saya
mendengar berita ternyata memang ya, kata Seorang Bapak itu, rasa tak percaya
menghinggapi para karyawan, semua terpaku melihat kejadian itu, ini hanya
rezeki Allah bapak, ini hanya titipan semata, ketakwaan yang Allah cintai bukan
materi dunia ini yang akan hancur. Bapak tadi dengan mata berbinar,
merasa bangga. Ia hanya meminta izin untuk pulang kepada pak Kartinius,
tidak lupa, sebuah kebaikan itu berjalan, pak Karti memberikan amplop kepada
Bapak itu sebelum Ia pergi, dengan kata jangan tolak pak, Bapak itu menerimaNya.
Akhirnya bapak itu
pergi dan semuanya merasa terharu.
Friday, June 12, 2015
Jarak....Kau Jahat Sekali!
Karya : Agam Primadi, Pegiat Literasi di RBK
Cerpen ini masuk sebagai 15 karya terbaik lomba menulis teater tangga, UMY
Dibukukan dengan judul buku "AVERY"
"...Asshalatukhoirum minannaum".... Azand subuh berkumandang. Jam menunjukkan pukul 04.35 WIb. Rudi terbangun kemudian bergegas menuju masjid tanpa pamit terlebih dahulu kepada ayah ibu. Sesampainya di masjid yang memang tidak jauh dari rumah, Rudi langsung mengambil wudhu.
".....Iqomah Rud,,,,", perintah Wo Jakfar. Tanpa menjawab Rudi langsung membaca Iqomah untuk melangkapi sunnah dalam sholat berjamaah. Setelah selesai menunaikan ibadah sholat subuh, seperti biasa Rudi pergi ke pasar untuk mengantar jualan ibunya. Dikampung bernama Teladan Rudi memang dikenal sebagai anak yang alim dan rajin membantu kedua orang tuanya berjualan demi membantu kebutuhan pendidikannya.
Sepulangnya dari pasar, Rudi langsung menuju kamar untuk mempersiapkan buku pelajaran. Memang saat itu Rudi duduk di kelas 3 SMA di Bangka. Selesai mempersiapkan buku-buku yang akan dibawakan ke sekolah, Rudi langsung menuju kamar mandi untuk mencuci tubuhnya yang sudah bau dengan keringat sepulang dari pasar.
06.20 WIb, dengan sepeda onthelnya, Rudi mengayuh sepedanya sejauh 5 KM setiap pagi demi menuju sekolah tercinta untuk menuntut ilmu. SMA Negeri 1 Toboali adalah salah satu tempat Rudi menimba ilmu. Dimata guru-guru disekolah Rudi dikenal sebagai anak yang pintar, pasih berbahasa Ingris, oleh karena itu dia begitu dicintai guru dan disegani oleh teman teman sekolahnya.
Bel masuk berbunyi, Rudi segera masuk kelas disusul dengan teman-teman yang lain. Dikelas Rudi duduk sendiri, berbeda dengan teman-teman yang lain duduk berpasang pasangan. Ada yang berpasangan dengan cewek, dan ada juga yang berpasangan dengan sesama cowok.
"Assalamualaikum Wr, Wb.". Selamat pagi anak-anak, ucap Pak Mahmud selaku kepala sekolah. Semua murid yang berada dikelas terheran. Kenapa Pak Mahmud yang masuk kelas, padahal menurut jadwal yang masuk jam pelajaran pertama adalah Bu Muslimah bukan Pak Mahmud.
"Kenapa bapak yang masuk, bukankah menurut jadwal kita akan diajar oleh Bu Muslimah".Letuk Soni dengan lantang selaku ketua kelas.
"Begini Soni, memang menurut jadwal kelas kalian akan diajarkan oleh Bu Buslimah, saya hanya masuk untuk memberi kabar bahwa kelas kalian akan kedatangan murid baru pindahan dari SMA negeri 2 Belitung". Kata Pak Mahmud..
"Nak Shanty silahkan masuk". Panggil Pak Mahmud. Tidak lama kemudian masuklah seorang gadis berdarah cina dengan kulit putih mulus, tinggi 160 cm. Semua mata terpana melihat kecantikan anak baru tersebut, termasuk dengan Rudi yang enggan terpejam melihat kecantikan gadis tersebut.
''Nah sekarang, anak-anak perkenalkan ini teman baru kalian. Nak Shanty silahkan perkenalkan diri kamu ke semua teman teman yang ada dikelas ini". Suruh Pak Mahmud...
''Iya pak, terima kasih kesempatannya. Baiklah, teman teman perkenalkan nama saya Shanty Puspita Rani. Biasa dipanggil Shanty. Saya pindahan dari SMA negeri 2 Belitung. Saya beragama Islam, dan saya akan menjadi bagian dari teman teman dikelas ini. Semoga kehadiran saya disini bisa diterima teman-teman semua''. Ucap Shanty dengan nada gugup.
"Ada yang mau ditanyakan teman teman ?''. Sambung Shanty dengan penuh harap ada yang merespon kehadirannya hari itu.
"Saya mau tanya'', potong Bayu seraya menunjukkan tangannya keatas...
"Iya silahkan''. Kata Shanty dengan senyum merekah. Dalam hatinya, kehadirannya sudah mulai diterima dari anak-anak yang ada dikelas itu.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Bayu, saya wakil ketua di kelas ini. Saya mau bertanya Shanty punya no handpone ga ? sudah punya pacar belum,?? hahaha..". Seketika kelas mendadak ramai dengan tertawaan akibat ulah Bayu.
Dikelas ini, Bayu memang dikenal sebagai anak yang kocak, humoris, penuh canda tawa. Tak heran jika pertanyaan yang dia lontarkan agak menggelitik tawa.
"Sudah Sudah Sudah, hentikan". Gerentak Pak Mahmud seraya menghentikan riuh tawa dikelas saat itu. Atas gerentakan itu, kelas menjadi diam kembali.
"Nak Shanty sekarang kamu duduk di sebelah Nak Rudi, kebetulan sebelah Nak Rudi bangkunya kosong''. Kata Pak Mahmud seraya menunjukan jarinya ke arah Rudi.
''Iya pak, terima kasih''. Balas Shanty sembari berjalan menuju kearah Bangku tersebut.
Sesampainya disamping Rudi, Shanty pun memohon izin kepada Rudi untuk duduk disebelahnya.
Rasa cemburu nampak terpancar di raut wajah beberapa teman laki-laki kelas hari itu, yang ada dibenak mereka kenapa harus cewek secantik itu duduk di sebelah Rudi yang dikenal dengan pendiam dan lugu.
"Teng teng teng''. Bel pagi berbunyi sebanyak 3 kali. Pertanda istirahat pertama. Dengan nafas gugup Rudi mengajak Shanty untuk pergi ke kantin. Shanty pun mengiyakan ajakan Rudi.
''Kamu pesan apa Shan ?.''. Tanya Rudi
''Saya pesan nasi goreng sama es susu putih''. Jawab Shanty
Sembari menyantap makanan yang dipesan tadi. Rudi membuka percakapan. .
"Oh iya, kenalin nama saya Rudi'', seraya mengunyah nasi goreng yang ada dimulutnya. .
''Kamu lucu ya, udah sampai kantin malah baru kenalan, tadi dikelas kenapa diam saja". Ledek Shanty..
''hehe, Iya, soalnya saya tadi grogi dan malu sama kamu, habis kamu cantik sih kayak artis Korea.''. Gombal Rudi...
''Ah kamu bisa aja Rud, saya jadi keggeran nih ''.
''Tapi beneran Shanty, kamu cantik bangetz''..
''Udah udah makan dulu, jangan gombal '', kata Shanty sambil mencolek pinggang Rudi.
Setelah selesai menyantap nasi goreng dikantin, Shanty dan Rudi bergegas menuju kelas untuk melanjutkan proses belajar mengajar dikelas. Seperti biasa Rudi selalu diam jika berada di dalam kelas. Dia selalu fokus dengan apa yang diterangkan oleh guru, begitu juga dengan Shanty.
"Teng,, teng,, teng,, teng". Bel sekolah berbunyi 4 kali, biasanya kalau berbunyi 4 kali pertanda jam waktunya pulang. Anak dikelas terheran kenapa pulang sekolah hari itu cepat sekali. Setelah di usut oleh Soni, ternyata kepala sekolah dan dewan guru akan mengadakan rapat komite sekolah, sehingga sekolah dipulangkan lebih awal dari biasanya.
Satu persatu murid keluar dari kelas menuju pintu gerbang keluar sekolah. Tak lupa Shanty berpamitan kepada Rudi.
Rudi pun pergi keparkiran untuk mengambil sepeda onthelnya. Dikayuhnya menuju pintu keluar, ternyata Shanty masih berada di pintu gerbang keluar.
''Kamu nunggu siapa Shanty ?'', tanya Rudi
''Nungguin sopir bapakku jemput Rud'', balas Shanty
''Oh yaudah, saya pulang duluan ya. .
"iya hati-hati ya dijalan, nanti kapan-kapan boncengin aku pakai sepedamu ya, hehe''. . Pinta Shanty.
Kemudian Rudi pergi meninggalkan Shanty seorang diri di pintu gerbang. Diperjalanan menuju rumah, Rudi tersenyum manis membayangkan wajah Shanty yang mirip dengan artis Korea tersebut.
Hari demi hari berjalan dengan sangat indah. Shanty dan Rudi semakin akrab, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di luar lingkungan sekolah mereka sering menghabiskan waktu berdua, mengerjakan pekerjaan sekolah berdua, bahkan Rudi sering pergi berkunjung kerumah Shanty untuk sekedar bersilaturahmi.
Kehadiran Rudi dirumah Shanty juga disambut baik oleh kedua orang tua Shanty. Maklum Rudi adalah orang yang bisa menempatkan diri ketika didepan orang tua Shanty. Sikap Religius pun sering ditunjukkan Rudi ketika berada dirumah Shanty. Rudi sering menumpang untuk menunaikan sholat dirumah Shanty, tak jarang mereka juga sering melakukan sholat berjamah yang berimamkan ayah Shanty.
Karena sering menghabiskan waktu berdua, dan lampu hijau dari kedua orang tua Shanty, benih cinta di hati keduanya mulai tumbuh. Namun untuk mengungkapkan perasaannya kepada Shanty, Rudi masih mengurungkan niatnya mengingat Shanty adalah keturunan orang kaya, Bapaknya adalah seorang petinggi PT Timah, salah satu perusahaan BUMN ternama di Bangka-Belitung. Sedangkan Rudi adalah anak penjual kue kampung dan ayahnya adalah seorang buruh kampung dengan penghasilan tidak tetap. Selalu yang muncul dalam pikiran Rudi adalah ketidakmungkinan jika Rudi sampai berpacaran dengan Shanty, karena faktor ekonomi yang begitu kokoh menghalangi niat Rudi.
Pada suatu pagi selesai menunaikan sholat subuh, Rudi memanjatkan doa kepada sang Maha Kuasa.
''Ya Allah, Engkau yang maha mengetahui segala isi hati hambamu. Tunjukkan ketabahan yang luar biasa untuk hambamu yang rapuh ini. Jika benar Shanty adalah orang yang engkau utusankan untuk mendampingi hamba, jika benar Shanty adalah calon ibu dari anak-anakku kelak, maka satukanlah kami ya Allah.''..
Bulan demi bulan berlalu, Rudi masih saja belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya, sampai suatu ketika, saat itu ada perayaan hari Kartini di sekolah. Setiap kelas wajib mengirimkan satu pasangan laki laki dan perempuan untuk mengikuti pagelaran Fashion Show yang dilombakan antar kelas. Shanty dan Jonan terpilih mewakili kelas. Perasaan cemburu mulai berkecambuk dibatin Rudi. Batinnya terpukul melihat untuk yang pertama kalinya gadis pujaan hati digandeng cowok lain yang bukan dirinya.
Tepat kala itu 15 September 2010, seluruh siswa kelas tiga dikumpulkan dihalaman basket. Pak Mahmud selaku kepala sekolah memulai pembicaraannya di depan seluruh siswa dengan sebuah pantun. Lalu beliau menyampaikan bahwa tidak lama lagi seluruh siswa kelas tiga akan melaksanakan ujian nasional. Dan mulai minggu depan seluruh siswa kelas tiga akan diberikan jam tambahan untuk persiapan pra ujian nasional.
Beliau juga menambahkan bahwa bulan depan akan dilakukan Try Out pertama. Diharapkan kepada seluruh siswa kelas tiga untuk mempersiapkan diri, belajar dengan maksimal, juga harus mengikuti jam tambahan secara totalitas.
Setelah pengumuman selesai, seluruh siswa diharuskan kembali kelas masing-masing untuk mengikuti proses belajar seperti biasanya. Rudi dan Shanty pun berjalan menuju tempat duduk mereka.
"Shan, selesai SMA kamu masih lanjut kuliah ga ? kalau lanjut mau lanjut kemana ?". Tanya Rudi disela sela proses belajar.
"Insya Allah lanjut di Jakarta Rud, memangnya kenapa ? kok tumben kamu tanya begitu, kalo kamu gimana lanjut kuliah ga ?''. Shanty balik bertanya.
"Engga kok, cuman mau tau aja. Kalau saya Insya Allah kalo ada rejeki Shan. Kamu tahu sendirilah kehidupan orang tua saya gimana. Untuk makan aja pas-pasan, apalagi kuliah".Sambung Rudi dengan nada melemas.
Sejak pertanyaan itu, rasa dilema mulai menghantui Rudi. Perasaan cintanya kepada Shanty juga belum tersampaikan hingga detik ini. Sementara waktu semakin hari semakin berkurang, ditambah lagi dengan pernyataan Shanty yang akan melanjutkan kuliah di Jakarta.
Rudi bingung bukan main, dia tidak mengerti dengan apa yang sedang bergejolak dalam hatinya. Selesai jam belajar, Rudi mengajak Shanty untuk pergi ke depan kolam ikan belakang sekolah, tanpa ragu Shanty pun mengikuti Rudi dari belakang.
Siang hari ditepi kolam, Rudi dan Shanty duduk berdampingan dengan sebungkus cemilan ringan ditangganya. Ikan-ikan berlarian di dalam kolam seakan menjadi saksi bisu kedekatan mereka siang itu. Sepuluh menit berlalu tanpa sepatah kata, mulut Rudi seakan terkunci, tubuhnya berkeringat, perasaannya dag dig dug. Yang ada dipikirannya kala itu adalah hari ini perasaan cintanya harus tersampaikan kepada Shanty. Diterima atau ditolak itu bukan urusannya, terpenting adalah maksud hantinya tersampaikan.
''Shan, saya sengaja mengajak kamu kesini, karena ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan kepada kamu''. Kata Rudi sambil menggaruk kepalanya.
"Haha, memangnya apa sih Rud, kayaknya penting banget kamu nih'', Sambung Shanty dengan tawa.
''Begini Shan, sejak pertama kali saya melihat kamu, saya langsung tertarik dan suka dengan kamu, kamu beda dari cewek cewek lainnya. Kamu mau ga jadi pacar saya ?''. Tembak Rudi dengan nada gugup.
Rudi berdiam sejenak dan mengatur nafas, dia takut jawaban Shanty tidak sesuai dengan harapannya.
''What,, kamu serius Rudi ?,
"Iya Shan, saya serius. Sejak lama saya suka sama kamu, cuman baru sekarang saya berani mengungkapkannya sama kamu. Kamu maukan jadi pacar saya ?"
"Aduh gimana ya Rud, Saya bingung. Jujur saya belum pernah pacaran, tapi sebenarnya saya juga menyimpan rasa sama kamu. Saya juga suka sama kamu, tapi saya takut nantinya kalau pacaran saya sakit hati".
"Shan, saya janji ga bakalan bikin kamu sakit hati, saya janji bakalan jaga hubungan kita baik-baik", sambil memegang kedua tangan Shanty.
"Iya saya mau jadi pacar kamu, tapi kamu harus janji ya ga bakalan nyakitin perasaan saya". Jawab Shanty penuh senyum.
''Alhamdulillah, terima kasih Tuhan engkau sudah mendengar semua doa hambamu ini", gumam Rudi dalam hati.
Akhirnya hati Shanty dan Rudi menyatu. Hari demi hari berlalu penuh dengan kebahagiaan. Inilah kebahagian yang sesungguhnya diinginkan Rudi.Tanpa paksaan dan penuh dengan keikhlasan menerima satu sama lain. Tak lupa pula Rudi menuliskan di depan kolam tanggal jadian mereka. Kelak bila nanti seselai menamatkan diri dari sekolah menegah atas, tulisan kecil dan kolam ikan itu akan menjadi sebuah kenangan yang tidak pernah terlupakan untuk dirinya dan Shanty.
15 april 2011
Selesai melakukan senam pagi, untuk yang kedua kalinya semua anak kelas 3 dikumpulkan di halaman sekolah. Pak Mahmud kembali memberikan siraman motivasi sekaligus mengumumkan bahwa minggu depan seluruh anak kelas tiga akan melaksanakan ujian nasional. Dikarnakan minggu depan akan melaksanakan ujian nasional, maka seluruh anak kelas tiga diliburkan untuk satu minggu kedepan. Pak Mahmud juga menyampaikan kepada seluruh siswa untuk belajar lebih giat lagi, dan mengurangi waktu bermain. Agar waktu libur satu minggu tersebut memang dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional.
Semenjak pengumuman itu, Rudi dan Shanty tidak pernah bertemu. Perasaan rindu semakin melangit di hati kedua sejoli yang baru saja meresmikan hubungan mereka pada bulan lalu.
22 april 2011
Hari berganti begitu cepat, sepekan sudah Rudi dan Shanty tidak bertatap muka. Sedangkan ujian nasional sudah didepan mata. Persiapan ujian nasional sudah maksimal. Setiap hari waktunya dipenuhi dengan lembaran lembaran kisi-kisi ujian nasional.
Pagi itu suasana sekolah berbeda dari biasanya, halaman sekolah dipenuhi para wajah wajah cemas siswa yang akan melaksanakan ujian nasional. Rudi juga merasakan hal yang sama.
"Rudiiiii''...
Rudi terhenyak, matanya mendelik mencari sumber suara tersebut, ternyata Shanty yang memanggilnya dari pojok parkiran. Tanpa pikir panjang Rudi langsung menghampiri Shanty.
''Hallo Shanty, gimana kabarmu ? sudah siap untuk ujian hari ini". Kata Rudi
''Insya Allah siap Rud, kamu gimana ?''. Balas Shanty.
''Siap banget, Satu minggu sudah kita tidak bertemu, saya kangen banget sama kamu Rudi'', kata Shanty dengan nada malu malu.
''Hahaha, yang bener nih, saya juga kangen banget sama kamu Shan'',..
Teng, Teng Teng,, Bel masuk berbunyi, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, menandakan sebentar lagi ujian nasional segera dimulai. Rudi dan Shanty pun langsung berpisah menuju ruangan masing masing sesuai dengan nomor yang tertera di kartu ujian.
''Sukses ya sayang, semangat untuk kita semua'', letuk Rudi sembari meninggalkan Shanty.
Empat hari berlalu, ujian nasional sudah selesai. Semua siswa kelas tiga merasa lega. Keesokan harinya Rudi berkunjung kerumah Shanty memberitahu kabar bahwa hari minggu nanti seluruh siswa kelas tiga akan mengadakan jalan jalan ke salah satu kawasan wisata pantai kerasak yang terletak di Kecamatan Tukak Sadai. Shanty meminta izin kepada kedua orang tuanya. Tanpa ragu kedua orang tua Shanty memberikan izin kepada putri tercintanya untuk ikut serta dalam jalan jalan perpisahan sekolah. Shanty kegirangan bukan main. Maklum, baru pertama ini dia mendapat izin dari kedua orang tuanya. Sebelumnya Shanty hanya pergi berwisata bersama keluarga.
Hari minggu tiba, seluruh siswa berkumpul di depan sekolah. Bersama Bus yang disewakan oleh pihak sekolah, berangkatlah seluruh siswa menuju pantai yang terkenal airnya lautnya yang biru jernih dan pasirnya yang putih.
Semua siswa yang berada di dalam Bus duduk berpasang-pasangan. Sama halnya dengan Rudi dan Shanty. Hari itu, Rudi sangat bahagia karena bisa pergi bertamasya bersama sang pujaan hati dan seluruh siswa kelas tiga SMA negeri 1 Toboali.
Kurang lebih menepuh satu jam perjalanan, sampailah seluruh rombongan SMA Negeri 1 di kawasan pantai tanjung kerasak. Seluruh siswa turun dari Bus untuk selanjutnya menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah.
Dari dalam Bus, sebagaian siswa perempuan langsung berganti baju untuk berenang di pantai. Sementara Rudi dan Shanty masih asyik berdua-duaan sambil menyantap makaanan di tangan keduanya. Tak lupa pula Rudi dan Shanty mendokumentasikan dengan asyik berfoto berdua.
''Mandi yuk Shan ?''. Ajak Rudi
''Yuk, bentar ya saya ganti baju dulu'', kata Shanty
Selesai berganti baju, Rudi dan Shanty berjalan munuju pantai untuk ikut berenang bersama teman-teman yang sudah lebih dulu menikmati asinnya air laut.
Satu jam berlalu, seluruh anak kelas tiga kembali dikumpulkan. Kali ini kegiatan di isi dengan penampilan akustik beberapa anak laki-laki. Di pantai itu, Rudi juga turut menyumbang suara emasnya, Sebelum bernyanyi dia menyampaikan bahwa lagu yang akan dinyanyikannya nanti khusus teruntuk yang sedang ada dalam hatinya.
Keadaan yang romantis itu membuat Shanty bahagia. Berkali kali dia tersenyum dan tertawa malu saat Rudi menyanyikan sebuah lagu. Kebahagian yang entah akan bertahan sampai kapan.
''Saya bahagia banget hari ini, Rud. Karena bisa pergi bersama kamu, tertawa bersama kamu. Dan lebih membahagiakan, saya bisa mendengarkan kamu menyanyikan lagu secara langsung''. Ucap Shanty.
''Saya juga senang bisa jalan sama kamu, senang banget pokoknya,'' Sahut Rudi.
Hingga tanpa terasa waktu sudah menujukkan pukul empat sore, seluruh siswa kembali ke Bus untuk bersiap siap meninggalkan pantai.
Diperjalanan pulang, Shanty memberitahu Rudi bahwa esok hari akan pergi ke Belitung untuk waktu yang lama bersama ibunya. Rudi kaget mendengarkan ucapan Shanty. Tapi apa daya, Rudi tidak punya hak untuk melarang kepergian Shanty. Dia hanya berpesan untuk selalu menjaga hatinya untuk Rudi. Sama halnya dengan Rudi, Shanty juga berpesan demikian kepada Rudi.
Hari esok tiba, bersama keluarga Shanty pergi meninggalkan Bangka menuju Belitung. Sejak kepergian itu, Rudi merasa ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Hari hari yang dijalaninya tanpa semangat. Perasaan rindunya kepada Shanty semakin menggunung. Dia hanya bisa harap bahwa Shanty dalam keadaan sehat dan cepat kembali ke Bangka untuk berkumpul dengan dirinya lagi.
7 mei 2011
Satu bulan kemudian Shanty kembali ke Bangka. Keesokan harinya dia langsung pergi menemui Rudi. Rudi terkaget melihat gadis pujaan yang selama ini dia rindukan tiba-tiba berada di depannya dengan membawa selembar kertas.
''Loh, kamu sudah balik dari Belitung Shan ?''. Kata Rudi dengan perasaan belum percaya bahwa Shanty kini berada di hadapannya.
Belum sempat menjawab pertanyaan Rudi, Shanty langsung memeluk Rudi dengan penuh kegirangan.
"Rudi, Saya dapat beasiswa di Universitas Favorit di Jakarta, besok saya akan berangkat ke Jakarta untuk melakukan daftar ulang''. Kata Shanty kegirangan.
''Benarkah, Selamat ya kalau begitu'', Jawab Rudi ikut senang, walaupun sebenarnya hatinya sedih karena akan berpisah dengan Shanty.
Sejak hari itu, Rudi tidak pernah lagi bertemu dengan Shanty, dan hingga sekarang Rudi hanya bisa mendengar kabar Shanty dari temannya.
Malam begitu indah penuh dengan bintang bintang, sinar bulan pun terasa kurang memancarkan cahaya dihati Rudi yang kosong dan hampa. Ingin rasanya berteriak, tapi apa guna. Shanty tidak akan datang kehadapannya. Rudi hanya bisa berharap suatu hari nanti dia akan dipertemukan kembali dengan Shanty.
Tuhan tolong sampaikan rinduku padanya....
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tulisan Terbaru
Populer
-
”Gerakan Membaca” merupakan suatu gerakan yang harus dipelopori oleh siapa saja dan lebih dari itu, sebagai visi pencerdasan bangsa maka ...
-
Oleh : David Efendi Direktur Rumah Baca Komunitas Anak-anak adalah manusia masa depan, Jika hari ini kutularkan virus mencintai kupu-...
Hamka For RBK
Sjahrir For RBK