Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Monday, April 27, 2015

Penjelasan Sederhana Tentang Gerakan Literasi

Fauzan A Sandiah, Kurator RBK

Jangan heran mengapa hasil survei PISA mengenai tingkat literasi anak di Indonesia pada tahun 2009 berada pada urutan ke 62 dari 72 negara. Dan pada tahun 2012, Indonesia urutan 64 dari 65 negara yang diteliti.[1] Hasil survei tersebut, memang tidak merefleksikan perkembangan kualitas, tetapi cukup untuk membuat kita berpikir tentang paradigma dan berbagai hal yang dianggap sepele selama ini seperti implikasi dari gerakan literasi. Tidak heran juga ketika beberapa anak muda di Yogyakarta yang fokus pada gerakan literasi dicap kurang transformatif hanya karena mereka mengonsolidasi gerakan melalui membaca, menulis, dan berdiskusi. Apalagi kalau gerakan literasi tersebut bergerak pada varian usia anak-anak atau remaja. Soal lainnya tidak perlu diungkapkan secara serius, tetapi bisa diungkap secara intuitif.

Seorang kenalan pernah berkata “gerakan literasi saja tidak cukup!”. Kami yang biasa hidup dalam gerakan literasi sebenarnya tidak kaget ketika mendengar perkataan itu. Daripada kaget dengan komentar itu, yang lebih menarik adalah kami menangkap suatu informasi penting tentang sejauhmana orang memahami gerakan literasi. Apakah gerakan literasi selalu identik dengan TBM?, apakah gerakan literasi identik dengan membaca buku?. Apalagi jika gerakan literasi dikait-kaitkan dengan urgensi transformasi sosial. Masalah itu menjadi pelik karena proses transformasi sosial erat dengan tindakan-aksi bukan komentar anarkis. Jadi ketika orang menuntut lebih kepada gerakan literasi, pernahkah mereka sendiri mencoba memainkan peran lain?. Jawabannya tentu saja relatif. Model gerakan yang menuntut transformasi sosial pada masa dewasa ini tidak bergerak dengan cara mengkonsolidasi elit-cendekiawan, atau aktivis-mahasiswa melainkan berbasis pada “siapa-saja”, seperti sebuah mantra dari seorang pegiat literasi Yogyakarta Alm. Dauzan Farok “siapa saja bisa menjadi penggerak literasi”. Kesadaran bahwa “diri-politis” dalam konteks gerakan transformatif dewasa ini di Indonesia sangat penting. Artinya pencapaian transformatif hanya terjadi jika masing-masing orang memulai peran-perannya dalam lingkup paling kecil. Tidak ada cara lain.  Begitu juga dengan gerakan literasi.

Tulisan ini akan memberikan beberapa komentar terkait dengan gerakan literasi dan relasi fungsionalnya dalam transformasi sosial.  

Portofolio Subjek yang Berubah

Tidak hanya bagi gerakan literasi, untuk gerakan sosial pada umumnya, satu pertanyaan yang cukup menantang adalah apakah ada alternatif lain untuk membentuk transformasi sosial tanpa berangkat dari pemahaman bahwa kondisi masyarakat yang kian kompleks—maksudnya, berkenaan dengan kapitalisme yang telah memperumit gerakan emansipasi?. Pertanyaan itu, tidak hanya ditutup dengan jawaban melainkan pertanyaan berikutnya yakni, dari mana proses transformasi akan dimulai?, dan bagaimana memformulasikannya?. Berkaitan dengan gerakan literasi, sudah pasti muncul tantangan yang berasal dari sub-eksplanasi berbau genealogis yang menyangsikan posisi strategis gerakan literasi dalam membentuk proses transformasi sosial. Tidak berhenti dalam aras demikian, kesangsian itu juga berasal dari argumen aneh bahwa gerakan literasi, merupakan sub-agenda dari sistem kapitalisme, dan politik hegemonial. Untuk yang terakhir, jawaban historis lebih tepat daripada membawanya ke dalam perdebatan substansial dan a priori.

Bisa jadi, kebanyakan perspektif tersebut melihat gerakan literasi sebagai gerakan pemberantasan buta huruf yang identik dengan agenda membentuk spesifikasi pekerjaan dan membentuk formasi sosial kapitalistik. Argumen tersebut terkesan kritikal, tetapi sangat minim dalam kajian-kajian kontemporer mengenai gerakan literasi. Tentu saja, tidak dapat disebut juga bahwa gerakan literasi diidentikkan dengan model taman baca masyarakat, perpustakaan, atau jenis institusi literasi konvensional lainnya sebagai tidak benar. Hanya saja jangan sampai kenyataan itu mereduksi pekerjaan-pekerjaan literasi yang dilakukan oleh pegiat-pegiat literasi berbasis paradigma yang matang untuk menentukan corak emansipatif dalam gerakan literasinya masing-masing. Dalam tataran itu banyak yang lalai melihat penyebab-penyebab baru dari terbentuknya gerakan-gerakan literasi.
Hal tersebut berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai variasi portofolio subjek-subjek gerakan sosial (Situmorang, 2007). Dalam konteks gerakan literasi, hal yang sama juga terjadi. Variasi portofolio subjek-subjek gerakan literasi tidak hanya terbatas pada aparat-aparat negara (misalnya perpustakaan daerah), atau dari kalangan swasta (kios sewa buku), melainkan juga merambah hingga ke aktivis yang tinggal di desa, akademisi, guru, mahasiswa, “ibu rumah tangga”, dan lain sebagainya. Penting untuk melihat variasi portofolio subjek-subjek gerakan literasi kontemporer di Indonesia sebagai cara untuk memahami betapa kompleksnya implikasi paradigma, model kerja, strategi, dan tujuan yang dikehendaki oleh masing-masing gerakan literasi. Melupakan variasi portofolio subjek gerakan literasi berarti nyaris menegasikan keadaan terkini dari gerakan-gerakan sosial. Belum lagi diperkaya oleh kenyataan bahwa topik-topik diskursus seperti demokratisasi, ekologi, politik, HAM, kesetaraan jender menjadi konsumsi sebagai akibat dari keterbukaan akses masyarakat terhadap informasi.      

Tentu saja ketika membahas persoalan portofolio subjek gerakan sosial pada umumnya, kebanyakan dari komentator menjelaskan partisipasi individu dalam gerakan sosial menggunakan teori deprivasi (theory of deprivation).[2] Paling tidak sejak tahun 1960-an, deprivasi fraternalistik telah memberikan penjelasan umum mengenai partisipasi subjek-subjek gerakan literasi. Kerangka tersebut juga telah memberikan jawaban yang berkaitan dengan kemunculan aksi-aksi kolektif. Berkaitan dengan perkembangan teori deprivasi, muncul apa yang disebut oleh Foster dan Matheson sebagaigroup consciousness raising, yang menyatakan kebangkitan kesadaran aksi kolektif sebagai bagian dari kesadaran “the personal is political”. Dengan demikian, penjelasan mengenai variasi portofolio subjek gerakan sosial dapat ditinjau berdasarkan dakuan bahwa individu (personal) dan kelompok (political) adalah kesatuan formasi sosial aksi kolektif.

Kembali menyoal tentang gerakan literasi, dan berbagai kecenderungan pesimistik terhadapnya. Gerakan literasi seringkali dilekatkan dengan suatu strategi untuk berinteraksi dengan negara. Dalam konteks ini, gerakan literasi konvensional membangun interaksi melalui timbali-balik peran. Negara menyediakan fasilitas (uang bantuan, program sosialisasi), dan masyarakat mengambil peran sebagai pelaksana dengan misalnya mendirikan TBM, atau perpustakaan desa. Dengan melihat gerakan literasi melalui operasi tersebut akan memberikan kesimpulan-kesimpulan yang menjebak. Konsep gerakan sosial sebagai cara berinteraksi dengan negara tidak dapat digunakan serta-merta untuk melihat perkembangan gerakan literasi di Indonesia. Di Yogyakarta misalnya, berdiri beberapa komunitas literasi yang tidak bergerak dengan mekanisme tersebut. Komunitas-komunitas literasi tersebut tidak bermaksud membangun gerakan literasi sebagai cara berinteraksi dengan negara. Lebih daripada itu, komunitas-komunitas itu dibangun atas perjuangan kultural yang tidak menegasikan peran formal temporal negara sebagai sistem —yang dengan demikian cukup rumit menjelaskan posisi diametralnya dengan negara—tetapi mempertimbangkan aspek ketersediaan basis sosiologis sebagai cara untuk menentukan peran literasinya. 

Manusia-Literasi (literacy-man) sebagai hasil Evolusi Kognitif

Diringer misalnya melihat salah-satu keuntungan dari kehadiran revolusi industri, kolonialisme, ekspansi ekonomi, atau segala pandangan yang dihasilkan berdasarkan europe-centris yang menyatakan alpabet sebagai kunci dari peradaban manusia telah memberikan dampak bagi karya tulis sebagai suatu penemuan manusia (human being).[3] Dalam cara pandang demikian, karya tulis, buku, pamflet, poster, merupakan sesuatu yang ditemukan—tetapi bukan penemuan eksis, melainkan eksistensial yang mewujud dan menemukan pemaknaan kontekstual. Dibedakan dari penemuan historis yang sebenarnya justru telah mengemuka ketika sistem tulisan China, alphabet Platonian, dan empirisme Barat hadir.

Gerakan literasi dengan demikian bisa saja berkaitan secara genealogis-historis dengan perkembangan industri, tetapi itu sepenuhnya tidak sama, dan bahkan gerakan literasi telah bergeser menjadi sesuatu yang berbeda. Kecuali kalau kita memandang bahwa minat literasi itu sendiri merupakan sebuah “temuan” dan bukan merupakan keniscayaan evolutif manusia sendiri. Artinya, dengan menggunakan cara pandang minat literasi sebagai temuan, maka kecurigaan dibalik agenda-agenda peminatan literasi merupakan selubung genealogis-historis dari kategori kemajuan ala europe-centris. Sedangkan dengan menggunakan cara pandang kedua, berarti minat literasi berasal dari disposisi neural. Artinya, minat literasi muncul sebagai kebutuhan dari perkembangan evolutif-kognitif manusia. Sehingga dengan demikian tanpa menyepelekan aspek historis, minat literasi sepenuhnya adalah bukti evolusi kognitif manusia itu sendiri. Argumen ini terlihat pada manusia awal yang menggunakan benda-benda eksternal (batu, kayu, tanah) pada awalnya untuk sesuatu yang berbeda pada 10-7 Juta silam dengan yang terjadi pada manusia sekarang. Akhirnya, kepemilikan tanah sebagai simbol kekuasaan, eksploitasi batu-batuan sebagai simbol pembangunan, dan penggunaan kayu sebagai simbol penguasaan alam. Kertas atau media tulis-baca lainnya seperti tembok-goa, pelepah daun, kertas-papirus juga demikian, pada awalnya merupakan alat mencatat atau kertas yang berfungsi sebagai pamflet propagandis. Sekarang diafirmasi menjadi medium ilmu pengetahuan.

Kalau kita ingat dengan penjelasan pergerakan sejarah manusia yang bergerak menuju rasionalitas atau kemajuan teknologi dan yang oleh karena itu mengubah secara total letak persoalan mendasar masa ini dan masa-masa sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa komentar sosiolog pasca-era perang dingin seperti Giddens yang misalnya mengamati bahwa masalah manusia kontemporer bertambah rumit dengan kehadiran teknologi. Teknologi telah membawa manusia pada satu kondisi yang disebut Giddens sebagai manufactured uncertainty. Berkaitan dengan hal itu, maka secara niscaya manusia membentuk paling tidak empat topik gerakan sosial; gerakan kebebasan berbicara, gerakan buruh, gerakan perdamaian, dan gerakan ekologi. Formasi dari masing-masing topik gerakan sosial itu bisa mewujud dalam berbagai bentuk, dan disublimasi dalam motif yang berbeda-beda. Gerakan literasi termasuk salah-satu dari formasi topik-topik tersebut. Dan dengan demikian, sublimasi motifnya ditentukan oleh pegiatnya (literacy-man).

Apa Yang Kita Tangkap?

Bagaimana kita mempersepsikan gerakan literasi kontemporer?. Persepsi tersebut berpotensi menghasilkan berbagai spektrum yang berbeda tentang fungsi transformatif gerakan literasi. Pertama, kita harus menyadari bahwa gerakan literasi sudah berkembang jauh jika dilakukan penyelidikan kasuistik pasca era reformasi. Dalam konteksnya yang tidak terlalu jauh misalnya masyarakat tidak lagi sekedar melihat perannya melalui pengembangan kegiatan di sektor ekonomi, melainkan juga pendidikan. Meningkatnya jumlah institusi pendidikan yang dikelola oleh swasta (termasuk masyarakat) dapat menjadi cermin yang cukup baik untuk melihat konteks gerakan sosial kontemporer di Indonesia. Paling tidak berdasarkan aras partisipatif masyarakat dalam mengembangkan pendidikan, meskipun tentu saja kita bisa mempertimbangkan itu sebagai produk umum gejala masyarakat urban dan peningkatan kelas menengah. Tetapi yang lebih penting adalah kesadaran untuk mempertimbangkan kembali alat analisa baru untuk melihat bentuk-bentuk partisipatif dalam setiap perilaku masyarakat.

Kedua, paradigma sebagai rule of game memainkan peran penting dalam cara kita menilai dan mengevaluasi gerakan literasi. Karena paradigma yang menentukan apa yang boleh dianggap penting, apa yang dianggap relevan, dan menentukan “sebagai siapa” orang memandang sesuatu, serta “sebagai apa sesuatu itu hadir”. Fungsi paradigma yang terakhir, contohnya adalah “sebagai apakah gerakan literasi muncul?” atau “gerakan literasi sebagai bentuk dari perlawanan keseharian”, atau “sebagai kumpulan peminat buku?”. Cara kita merefleksikan realitas memperlihatkan paradigma. Jadi tantangan gerakan literasi dan relevansinya dalam konteks transformasi sosial bisa saja sangat bergantung dari kemampuan reflektif kita mengenai gerakan literasi, dan basis data untuk menyimpulkannya. Jadi kalau ada yang berkata bahwa “gerakan literasi saja tidak cukup!?” darimana basis kesimpulannya?.


_________________________________________________________________ 
baca juga hasil penelitian Suhendra Yusuf, “Perbedaan Gender dalam Prestasi Literasi Siswa di Indonesia”,

[2] Lih, Jacquelien van Stekelenburg, dan Bert Klandermans, “Individual in Movements; A Social Psychology of Contention”, dalam Conny Roggeband, dan Bert Klandermans, Handbook of Social Movements Accross Discplines, (New York: Springer, 2010), hlm. 157. 

[3] Albertine Gaur, Literacy and Politic of Writings, (UK: Intellect Books, 2000), hlm. 3.

*53% Naskah ini ditulis di tempat Semedi Sunan Kalibedog. :P

Hari buku sedunia dan Filosofi Rumah Baca Komunitas



Agam Primadi, Pegiat RBK

Unesco telah menetapkan 23 april sebagai hari buku sedunia, penetapan ini menegaskan kepada masyarakat internasional akan pentingnya buku dalam kehidupan manusia. Mengapa buku ? karena dengan membaca buku kita akan mendapatkan pengetahuan dan tambahan wawasan serta melawan segala bentuk penindasan, diskriminasi, seperti slogan yang dipopulerkan Rumah Baca Komunitas.


Di Indonesia dari tahun 2004 hingga tahun 2008, angka melek huruf untuk usia penduduk 5 tahun keatas terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang lajunya mencapai 1,41% per tahun. Namun terlihat mulai tahun 2009 hingga 2013 kemarin, angka melek huruf Indonesia relative berflutuatif. Tahun 2009 dan tahun 2011 tampak turun dari sebelumnya (baca: kompasiana.com dalam artikel Angka melek huruf, PR pemimpin baru Indonesia).

Secara umum, meningkatnya angka buta huruf disebabkan karena, pertama faktor ekonomi yang menyebabkan sulitnya memiiki bahan bacaan, terjadi dilematis dalam memilih bahan bacaan atau kebutuhan pokok seperti beras, dan lauk pauk. Kedua, pepustakaan keliling yang disediakan oleh pemerintah belum beroprasi dengan maksimal. Ketiga, terjadinya diskriminasi terhadap kaum kaum marjinal dalam mengakses buku di suatu lembaga atau perpusatakan daerah yang dikelola oleh pemerintah. Keempat, letak geografis yang tidak menguntungkan, misalnya di dataran tinggi seperti perbukitan dan pengunungan, secara otomatis akses distribusi buku tidak berjalan dengan maksimal. 

Filosofi Rumah Baca Komunitas 

Potret  diatas menerangkan bahwa permasalahan buta huruf di Indonesia semakin kompleks dan harus ada upaya serius dalam memberantasnya. Hadirnya Rumah Baca Komunitas di tengah tengah masyarakat adalah sebagai upaya serius suatu komunitas yang konsen dalam bidang literasi dalam menangani permasalahan buta huruf. Dewasanya, komunitas yang sudah berusia 3 tahun ini memiliki komitmen dalam upaya mencerdaskan generasi penerus perjuangan bangsa. Selain itu, kemunculan rumah baca komunitas adalah jawaban dari semua kegelisahan masyarakat marjinal yang selama ini mengalami diskriminasi ketika hendak mengakses buku dalam suatu lembaga atau institusi yang dikelola oleh pemertintah. Kita tentu sepakat bahwa mengakses buku adalah hak semua kalangan dan elemen masyarakat, artinya buku tidak hanya diperuntukkan kepada kalangan intelektual akademik, tenaga pendidik, dan lain sebagainya. Tetapi buku adalah hak semua manusia. Oleh karena itu semua orang yang hidup dimuka bumi ini berhak mengakses buku termasuk masyarakat marjinal dan masyarakat kelas menengah kebawah.

Monday, February 2, 2015

Kosong

kalau hidup ini bisa terwujud dengan hayalan, saya ingin hidup dengan penuh ekspresi dalam segala hal. Karena saya menyadari bahwa, kehidupan ini butuh ekspresi yang bisa mengubah suasana hati, hati yang tadinya sedih bisa menjadi senang, gembira, bahagia, ceria dan berwarna.

Sunday, September 21, 2014

Urgensi Basis Materialisme Dalam Gerakan Intelektual (Bagian I)

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah
Kurator RBK

Perkembangan mengenai proyeksi dan visi gerakan intelektual tidak berada dalam ruang vakum. Perkembangannya selalu mengalami benturan yang khas dengan berbagai macam varian. Menganalisa perkembangan proyeksi dan visi gerakan intelektual akan menyeret banyak hal dasariah. Tulisan ini akan mempersoalkan salah-satu kecenderungan utama dari visi semu pendekatan romantisme di dalam pengembangan formulasi gerakan intelektual. Tentu saja, gerakan intelektual yang penulis maksudkan di sini adalah gelombang mobilisasi massa pasca-strukturalisme. Ada ciri yang menarik dari gerakan pasca-strukturalisme. Pertama adalah proses mistifikasi subjek radikal. Proses mistifikasi ini berjalan sesuai dengan kecenderungan untuk menghapuskan subjektivitas dengan kebenaran. Penghapusan otoritas subjek berakibat pada keberhasilan membunuh ide metafisika—daya spiritual—sebagaimana Derrida mentenggarai penyebab dukungan Heidegger terhadap Nazi. Kedua adalah berkembangnya kecenderungan untuk mereduksi konflik sosial sebagai persoalan simbolis belaka. Konflik diskriminasi dan kekerasan akhirnya berakhir pada konsolidasi elit dan membuahkan kebijakan serta strategi dalam paradigma emansipasi hanya berhenti pada model deklaratif. Kecenderungan terakhir ini membuat paradigma emansipasi menjadi ladang baru bagi proyek-proyek intelektual di dunia ketiga. Ketiga terjadi proses ketercerabutan basis-basis materialisme di dalam ilmu pengetahuan yang selama ini digunakan oleh gerakan intelektual. Setelah perlawanan sengit dengan dikotomi dari empirisme, gagasan berhenti pada model Derridean.  Tentu saja, gerakan intelektual ini kemudian memproklamirkan distingsi naif antara yang realistis dan yang otentik. Dalam konteks ini, ontologi gerakan ini bersandar pada postulat kekeliruan besar mengenai kesucian ilmu pengetahuan dan keterbatasan manusia. bagi mereka, kesadaran adalah tema utama dari gerakan intelektual, yakni memberikan semacam kesadaran kepada masyarakat yang diasumsikan tidak tercerahkan. Pada kenyataannya, kondisi demikian memang memberikan kesempatan bagus untuk membangun formasi gerakan intelektual yang ril bagi proyek-proyek emansipasi, tetapi menyimpan permasalahan laten.

Tetapi seperti yang sudah nampak dari beberapa perkembangan gerakan intelektual yang sedang dirintis oleh kalangan universitas terjebak pada romantisme. Gerakan intelektual ini mencoba merumuskan dunia dan perjuangan emansipasinya bukan untuk manusia melainkan untuk proyeksi adiluhung seperti memperjuangkan ilmu sebagai bagian yang harus dimasuki oleh manusia bukan sebaliknya. Perjuangan gerakan intelektual ini menempatkan ilmu sebagai sumber pemecahan masalah manusia. tetapi kalau merunut menggunakan sejarah material, sudah ada tanda-tanda bahwa perjuangan mendekati satu abad itu tidak berbuah sebagaimana yang dirasakan pada awal kebangkitannya.

Gerakan Intelektual dan Kapitalisme

Gerakan intelektual bukan agen utama untuk mengkondisikan kapitalisme hidup dan menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru. Tetapi dalam banyak hal, gerakan intelektual menjadi ladang penyesuaian-penyesuaian kapitalisme. Proses demikian terjadi bukan karena kapitalisme masuk ke dalam agenda-agenda gerakan intelektual tetapi masuk melalui keyakinan gerakan intelektual pasca-strukturalisme yang mengaburkan antara basis epistemologi dan ontologi. Kritik keras terhadap hal ini dapat dimulai dengan memperhatikan kritik marxian terhadap marxian yang lain, atau lebih tepatnya kritik terhadap marxian kontemporer terhadap Marxian-Hegelian yang kental dengan Doktrin Relasi Internal seperti Bertell Ollman. Di Indonesia, perspektif marxian kontemporer dibangun oleh Martin Suryajaya melalui buku berjudul Materialisme Dialektis (2012).

Kecenderungan psikologisme dalam gerakan intelektual yang mengembalikan kenyataan “sekedar” sebagai problema realitas berakibat pada kesimpulan yang disederhanakan dalam tataran ontologi-epistemologi. Akibat paling nampak dari kekaburan basis ontologi dan epistemologi ini dalam agenda gerakan intelektual dapat terlihat dari tindakan sarkastik terhadap konsep kapitalisme. Perjuangan emansipasi akhirnya dilihat sebagai bagian dari agenda intelektual muda yang belum mengenal realitas. Kajian-kajian mengenai kapitalisme direduksi sekedar pengejaran hasrat intelektual muda. Padahal, konteks kontemporer terhadap beragam tesa kemunculan fenomena sepeti korupsi, ketimpangan sosial dan kekerasan serta diskriminasi banyak berputar dan terjebak pada analisa simbolisme yang bukannya menyatakan bagaimana cara terbaik untuk menghasilkan solusi tetapi menjadi “tesis penangguhan”. Bagi penulis, ini adalah salah-satu penyebab mengapa ada tuduhan terhadap kelompok intelektual sebagai tangan pembenar represi kapitalisme (bukan negara sebagaimana yang dituduhkan selama ini) bagi rakyat. Kapitalisme berkembang justru ditopang oleh ketersediaan intelektual menara gading yang jumlahnya dibatasi sehingga menjaga ketersediaan rakyat dengan kemampuan-kesadaran praxis yang pada awal kemunculannya berfungsi sebagai buruh sedangkan pada masa ini berfungsi sebagai produsen kecil sekaligus konsumen. Kelompok rakyat ini dipaksa untuk mengeluarkan kemampuan berwirausaha dengan bantuan negara sekaligus dimanfaatkan untuk membantu PDB. Dari agenda ini, ekonomi kreatif yang didukung oleh gerakan intelektual melalui representasi komunitas epistemiknya masing-masing atau melalui akademisi universitas memberikan dukungan utuh atas nama kreatifitas. Tetapi sebagaimana kritik dari lapangan seni realisme, hasil akhir dari babak ini adalah kecenderungan seni kreatif pragmatik karena rakyat didorong untuk ikut bertanggungjawab atas kegagalan pemerintah dan swasta yang menghancurkan bidang manufaktur dalam pertanian dan perkebunan serta sumberdaya kelautan—dan tentu saja—migas dan non-migas.

Materialisme sebagai Basis


Posisi intelektual sebenarnya adalah melawan kecenderungan kehadiran Doktrin Relasi Internal menggunakan materialisme di dalam agenda-agenda keilmuan yang dirintis. Terdengar janggal bagi sebagaian intelektual dari lapangan pasca-strukturalisme mengenai kehadiran materialisme sebagai basis di dalam agenda gerakan intelektual untuk melawan Doktrin Relasi Internal. Alasan yang paling memungkinkan adalah kesadaran mengenai ketidaksesuaian materialisme dengan kondisi temporer paradigma keilmuan. Alasan ini sebenarnya terdengar seperti dongeng dan mitos ditengah kepentingan kita bersama untuk mempelajari dengan cermat penyebab dehumanisasi di dalam aras yang sekarang dinarasikan secara cantik melalui agenda-agenda buntu gerakan intelektual transendensi. Gerakan ini tentu saja hanya memikirkan tentang kerangka pembentukan ilmu yang lepas dari konteksnya dengan masyarakat. Hal yang sama terjadi ketika aras ekonomi tercerabut dari integrasinya dengan lapangan antropologi. Akhirnya kita melihat agenda-agenda yang dijalankan terkesan berputar kepada kepentingan ilmu sebagai dirinya sendiri. Eksistensi manusia sebagai pegulat dan aktor dialektis tercerabut dengan alasan yang tidak dapat diterima. Manusia dan dialektika yang dikembangkannya dianggap melawan narasi progresif. Berlawanan dengan fenomena empirisme di dalam ilmu yang banyak mendasarkan diri pada keadaan yang terinderawi, gerakan intelektual yang menggaungkan ilmu sebagai kesucian sekarang sampai pada tahap yang lebih mengerikan karena melangkahi kesakralan lainnya. Gerakan ilmu seperti ini tidak menempatkan manusia sebagai aktor yang menyentuh ilmu karena dianggap akan memberikan kejumudan. Manusia, ilmu dan alam adalah garis dialektika yang utuh. Memposisikan salah-satu sebagai yang dominan atas yang lainnya adalah kekeliruan fatal. Ilmu adalah bagian integral yang akan menyatu dengan manusia dan alam, bukan sebaliknya. 

Thursday, July 31, 2014

Kalau Mengajak Nietzsche dan Arendt Nonton Film

Oleh: Fauzan Anwar Sandiah
Kurator RBK

Kadang-kadang, kita, penonton, butuh ending. Kita butuh yang meneguhkan kegelisahan setelah dua jam memperhatikan, mencerna, dan menyimpulkan alur film. Begitu yang saya pikirkan saat mengetahui akhir dari film yang saya tonton hanya menyatakan tentang keberlanjutan dari perjalanan tragis manusia. Film itu mengisahkan tentang nasib anak-anak di Jepang, yang tumbuh di luar hukum. Mereka adalah anak-anak hasil hubungan seksual di luar pernikahan, yang akhirnya harus bersembunyi dari dunia sosial, dari masa-masa yang harusnya mereka maknai. Anak-anak tersebut terdiri dari empat orang kakak-beradik beda ayah. Yang tertua (usia 12 tahun, lelaki) adalah anak hasil hubungan si ibu dengan seorang pekerja di Bandara, anak kedua (usia sekitar 11 tahun, perempuan), adalah anak hasil hubungan dengan seorang manajer studio rekaman, anak ketiga (usia sekitar 6 tahun, lelaki) dan keempat (usia sekitar 4 atau 5 tahun, perempuan) tidak dijelaskan. Seperti ciri khas film drama Jepang pada umumnya, atau lebih spesifik lagi yang mulai berkembang setelah tahun 90-an, mencoba menunjukkan hidup secara eksistensialis. Kekuatan filsafat yang secara pribadi saya rasa lebih kuat ke arah Baudelaire daripada Sartre.

Film ini diawali dengan sebuah tawaran bagi penonton. Tawaran itu, adalah bersikap bertanya-tanya. Mengapa film diawali oleh sebuah teks tentang kenyataan si empat bersaudara harus berpindah-pindah tempat tinggal bersama sang Ibu?. Dan mengapa di antara keempat anak tersebut, hanya si sulung yang diperkenalkan oleh sang Ibu sebagai anak kepada pemilik losmen? Mungkin bagi mata sosial, hal itu penting, saya menafsirkan demikian. Anak ketiga dan anak keempat disembunyikan dalam tas koper besar, sedangkan anak kedua menunggu di pusat kota. Intinya, ketiga anak-anak tersebut tidak berada dalam radar sosial pemilik apartemen sebagai anak sang Ibu. Dan pemilik apartemen tidak tahu soal mereka. Hanya pada bagian pertengahan cerita saja, ketika ketiga anak tersebut ketahuan berada di dalam apartemen, memperkenalkan diri sebagai sepupu si anak sulung.

Kembali ke soal ending film. Saya sebagai penonton dibuat membimbang bahkan sampai beberapa saat setelah film tersebut selesai. Konon, cerita tersebut bersumber pada kisah nyata. Kalau menilik kehidupan masyarakat Jepang, hal tersebut memang sukar dibantah. Dan di Indonesia kenyataan demikian dapat juga terjadi, tentu dengan bumbu yang berlainan. Soal ending film, sang Ibu meninggalkan keempat anak tersebut terlunta. Saya bisa menerima ending demikian, sudah hal biasa dalam drama manapun. Tetapi dramatisasi terjadi saat anak keempat meninggal. Setelah dikuburkan di sebuah tanah lapang dekat Bandara, si sulung berkata sambil tertunduk dengan tangis yang ditahan. Dia berkata; “pagi itu, saat saya memegang tangannya yang dingin, beku, kaku. Saya tahu itu sangat mengerikan...”.

Penonton membutuhkan ending film yang melegakan dan menyenangkan bukan karena ingin agar realitas dunia dalam film terlihat baik-baik. Tetapi ini soal kebutuhan untuk percaya. Sama seperti kenapa kita membutuhkan Tuhan dalam penjelasan Nietzsche. Kita menemukan bahwa realitas tidak sepenuhnya terdiri dari sungai firdaus, kadang ada yang menyakitkan, seolah neraka menempati dunia. Dengan realitas yang begitu, kenapa ada yang tetap mempercayai Tuhan?. Hal itu, menurut Nietzsche karena manusia membutuhkan sesuatu yang meneguhkan dirinya, tidak sekedar karena pada diri-Nya terdapat Kebenaran, tetapi karena pada diri yang Ilahi tersebut kita selama ini merawati dan mewaraskan diri. Pada Tuhan kita selama ini mempercayakan kehidupan. Dan Tuhan, kata Nietzsche telah melindungi diri kita selama ini. Dalam karya magnum opus-nya, Zarathustra, pada kisah orang gila, Nietzsche menggambarkan penjelasan itu dengan cara yang bagus. Tuhan bukan soal apakah sebagai yang Ilahi terinderai oleh objektivitas atau validitas kebenaran, tetapi karena kita sendiri sebenarnya adalah manifestasi keberadaan dari yang Kuasa tersebut.

Mengapa kita butuh ending baik-baik dan menyenangkan pada sebuah film?. Karena kita, manusia memang membutuhkannya dan karena sebab utama kita sendiri dalam realitas yang sebenarnya membutuhkan-Nya. Itukah alasan kenapa ada surga dan neraka?.

Kalau Arendt Ikut Berkomentar

Mereka adalah, kata Hannah Arendt sebagai manusia pada umumnya. Kalau kita mencari apakah yang dimaksud oleh paham liberal tentang bentuk kebebasan humanisme yang konkrit, kata Arendt, temui komunitas-komunitas yang ada di kamp Nazi, temui imigran tanpa Negara, atau manusia tanpa ikatan dengan suku apapun, dalam film ini temui keempat bersaudara tersebut. Mereka adalah, manusia pada umumnya. Sebuah komunitas yang bebas secara universal tetapi tidak secara hukum. Dalam konteks ini, Arendt hendak menjelaskan tentang paradoksnya kebebasan universal. Sebuah konsep, yang menurut Arendt tidak dapat ditemukan pada manusia.

Kita, manusia bukan bebas secara universal. Dan kita tidak dapat bebas sepenuhnya menurut definisi tersebut. Kebebasan adalah kepatuhan terhadap hal-hal yang membatasi keinsanan manusia.

Demikian komentar dua filsuf tersebut. Dalam mata yang menghadap TV biasanya komentar-komentar tidak dapat kita tahan.

Tulisan Terbaru

Populer

Hamka For RBK

Hamka For RBK

Sjahrir For RBK

Sjahrir For RBK